Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Dukungan Faisal


__ADS_3

"A Isal kalau anakku lahir tapi aku belum ketemu Rafael gimana? Anakku akan lahir tanpa ayah." Terlihat bening kristal jatuh di pipi Kharisa. Selama tiga bulan Kharisa berusaha mencari kontak Rafael melalui media sosial dan beberapa teman Rafael yang bisa dihubungi lewat medsos, namun hasilnya nihil. Akun medsos Rafael tidak aktif, dan tidak pernah ada menghubungi Kharisa lewat IG, FB atau akun medsos lainnya. Beberapa teman Rafael yang dikenal Kharisa pun mengatakan hilang kontak dengan Rafael, tidak ada komunikasi sama sekali lewat telfon, WA atau SMS. Setelah berangkat ke Amerika enam bulan yang lalu Rafael seolah-olah hilang dari peredaran. Cara yang paling ampuh untuk mencari Rafael adalah mendatangi rumahnya di saat liburan tahunan, Rafael pernah cerita kalau ia berencana pulang ke Indonesia satu tahun sekali saat liburan semester atau akhir tahun, berarti itu nanti setelah anaknya lahir.


"Neng gak usah banyak pikiran, banyak berdoa saja agar Allah memberi jalan kita bisa bertemu Rafael sebelum bayi Neng lahir. Masih ada waktu satu bulan kan, siapa tau Allah ngasih keajaiban Rafael datang sebelum Neng melahirkan, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah kalau Allah sudah berkehendak, kalaupun ayahnya belum datang, A isal akan dampingin Neng terus, Neng gak usah banyak khawatir." Faisal selalu mendampingi Kharisa disaat Kharisa sedih. Dan akhir-akhir ini Kharisa sering terlihat sedih, sering menyendiri di dalam kamar.


Saat ini kehamilan Kharisa menginjak bulan ke delapan, bersyukur kehamilannya dalam keadaan sehat, tidak ada keluhan yang berarti, terakhir periksa kehamilan dua minggu yang lalu kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik dan sehat. Mama mengajak Kharisa periksa kehamilan ke dokter spesialis kandungan yang ada di Rancaekek Kabupaten Bandung, agak jauh memang tapi di sanalah fasilitas yang terdekat dibandingkan kalau harus ke kota Garut. Dari hasil pemeriksaan USG posisi kepala janin sudah di bawah, sudah mulai masuk pintu atas panggul, kemungkinan kecil untuk berubah posisi lagi sehingga memungkinkan untuk lahir dengan persalinan normal. Taksiran persalinan menurut hasil USG empat minggu lagi sekitar pertengahan bulan, kalau tidak ada penyulit persalinan bisa dibantu oleh bidan terdekat, kata dokter spesialis kandungannya. Keperluan untuk persalinan dan untuk bayi sudah disiapkan Mama dan Bi Nani. Bi Nani pun ikut sibuk meyiapkan keperluan bayi, ia membeli sendiri dengan tabungan yang dimilikinya dari hasil kerja selama di keluarga Kharisa. Dengan penuh bahagia Bi Nani membeli baju bayi, kain pernel, kasur bayi dan beberapa pernak pernik lainnya, ia merasa akan punya cucu sendiri, Mama pun tidak melarang Bahkan ikut senang Bi Nani menganggap Kharisa dan janinnya seperti putri dan cucunya sendiri. Tinggal mental Kharisa yang harus disiapkan.


Sayangnya semakin mendekati waktu persalinan, mental Kharisa terlihat tidak stabil, ia sering menyalahkan dirinya yang membuat mama dan papanya harus berpisah, menyalahkan Rafael yang sampai saat ini tidak ada kabar beritanya. Ia menganggap Rafael tidak bertangggung jawab, dan telah membohonginya. Kharisa menyesali dirinya yang menjadi hina, hingga harus hadir seorang anak yang sebentar lagi akan lahir tanpa ayah.


"Harusnya waktu itu aku nurut kata Papa, aku gugurkan bayi i........."


"Astaghfirullah....Neng Kharis jangan bicara seperti itu geulis...." Bi Nani memotong ucapan anak asuhannya. Saat ini Bi Nani sedang menemani Kharisa di kamarnya, Bi Nani baru saja membujuk Kharisa untuk makan siang, beberapa hari ini Kharisa sulit untuk makan, harus dibujuk baru mau, itu pun hanya makan beberapa suap, kadang Bi Nani harus memanggil Faisal untuk membujuk Kharisa agar mau makan. Mama Kharisa hanya bisa memberikan nasehat setiap pagi agar putrinya mau makan karena kalau siang hari ia membantu yayasan pondok pesantren mengurus administrasi keuangan.


"Neng Kharis harus ingat nasehat Mama, Neng harus percaya ini yang terbaik untuk Neng Kharis, sebentar lagi bayi ini akan lahir, pasti banyak yang sayang sama bayinya Neng, termasuk bibi." Bi Nani mengusap perut Kharisa yang terlihat bulat kalau sedang duduk.


"Sekarang Neng Kharis makan dulu yah, kasian. bayinya pasti kelaperan." Bibi mengambil nasi yang sudah tersaji dengan prekedel jagung, tempe oreg dan semangkuk sop ayam di atas meja. Kharisa menggelengkan kepalanya. "Aku belum lapar Bi."


"Ini udah jam dua, Neng Kharis tadi pagi sarapannya juga sedikit, kasian dede bayinya pasti kelaparan, sop nya ini udah bibi angetin lagi. Makan nya geulis......." Bi Nani terus membujuk Kharisa agar mau makan.


"Bentar lagi Bi...." Kharisa malah merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, akhirnya Bi Nani keluar dari kamar Kharisa. Ia keluar rumah menuju rumah Faisal, Faisalah yang menjadi harapan terakhirnya untuk membujuk Kharisa agar mau makan.


"A Isal...Assalamualaikum....." Bi Nani mengetuk pintu rumah Faisal.

__ADS_1


"Waalaikumsalam...." Tampak Bu Aisyah ibunya Faisal yang membukakan pintu.


"Eh Bi Nani, masuk Bi."


Di sini saja Bu Aisyah, maaf A Isalnya ada?"


"Ada Bi, saya panggilkan, Bi Nani masuk saja dulu." Bu Aisyah memanggil Faisal yang baru selesai makan siang. Faisal lebih senang makan di rumah dari pada makan bareng santri lain di ruang makan pondok, tentu saja karena masakan ibunya dirasakan lebih enak, pas di lidahnya, hingga rela menunggu makan siangnya setelah jam sekolah selesai. Faisal pun menghampiri Bi Nani.


"Ada apa Bi...?"


"Maaf A Isal, bibi mau minta tolong, Neng Kharis masih belum mau makan, tolong dibujukin sama A Isal, biasanya suka mau kalau sama A isal."


"Maaf ya Bu Aisyah jadi merepotkan terus." Ujar Bi Nani saat melihat Bu Aisyah ke ruang tamu.


"Gak apa-apa Bi Nani, jangan sungkan, kasihan Neng Kharisa butuh dukungan, semoga Faisal bisa memberikan semangat."


"Iya Bu...saya permisi dulu Bu, terima kasih banyak. Assalamualaikum."


"Iya Bi, waalaikumsalam"


Faisal sudah berada di ruang tamu tempat tinggal Kharisa, ia tidak berani masuk ke kamar dimana Kharisa berada. Kharisa pun keluar dari kamar dengan mata sembab dan rambut kusut tergerai sebahu. Ia menggunakan dress pendek di bawah lutut.

__ADS_1


"Hai Neng....kok lemes gitu, pasti belum makan yah, A Isal baru saja makan sama ikan nila goreng, sambel, lalap, goreng tahu tempe anget, meni nikmat. Neng udah makan belum?" Faisal pura-pura tidak tau kalau Kharisa belum makan. Kharisa tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya.


"Beneran belum makan? Tau gitu tadi kita makan bareng, sekarang atuh makan dulu yah, A Isal temenin."


"Aku gak nafsu makan." jawabnya singkat


"Neng kita bisa saja gak nafsu makan, tapi tubuh kita, organ-organ penting di tubuh kita perlu nutrisi, apalagi si dede bayi butuh nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan otaknya, katanya Neng mau anaknya pinter kaya ayahnya, ya harus didukung oleh nutrisi agar perkembangan otaknya bagus. Sekarang makan yah, mau makan sama ikan pake sambel, A isal ambilin ke rumah yah." Faisal berdiri hendak beranjak ke rumahnya.


"Gak usah A...., aku makan sama sop aja." Sebenarnya Kharisa tertarik ingin makan sama ikan goreng pake sambal, panas-panas sepertinya enak, tapi ia tidak enak dan malu selalu merepotkan keluarga Faisal.


"Ya udah A isal ambilin dulu makanannya." Faisal menuju ke dapur, ternyata Bi Nani sedang menyiapkan makanan untuk Kharisa, makanan yag tadi disiapkan diganti dengan yang baru, Kharisa pasti tidak mau makan kalau makanannya dingin.


Akhirnya Kharisa mau makan juga, dan makannya lumayan, nasi dan sopnya habis, karena memang dia sebenarnya lapar, ditambah Faisal selalu cerewet saat Kharisa akan menyisakan makanannya.


"Mubadzir nasinya kalau gak dimakan."


"Kasihan petani cape-cape nanam padi, udah jadi nasi malah dibuang-buang."


"Di luar sana banyak yang tidak bisa makan karena gak ada makanan, ini ada makanannya malah gak dimakan." Akhirnya Kharisa pun mengahabiskan makanannya. Itulah Faisal selalu bisa mengambil hati Kharisa. Bi Nani yang sengaja menguping di ruang tengah senyum-senyum sendiri mendengar keakraban Kharisa dan Faisal, ia bersyukur, di saat papa Kharisa dan keluarga Rafael tidak menginginkan kehamilan Kharisa, masih ada orang baik dan mendukungnya. Andaikan ayah bayi yang dikandung Kharisa ada disampingnya mendampinginya tentu Kharisa akan bahagia.


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2