Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Dugaanmu Salah


__ADS_3

Pukul satu siang Kharisa sudah standby di lobi, bahkan sudah dari sepuluh menit yang lalu ia berada di sana. Berkali-kali ia melihat jam tangannya yang jarum jamnya terus bergerak, sesekali melihat ke arah pintu lobi, memperhatikan pengunjung rumah sakit yang keluar masuk, siapa tau ada sosok yang menggunakan jas dokter yang mungkin sedang mencarinya. Lima menit berlalu dari waktu yang dijanjikan dengan dokter pengganti dokter Arjuna yang entah siapa penggantinya ia tidak tau. Ia tadi menghubungi staf Yanmed menanyakan siapa dokter penggantinya ternyata stafnya tidak tau, akhirnya ia menitip pesan minta disampaikan kepada dokter yang ditugaskan Yanmed agar standby di lobi pukul satu.


Sepuluh menit berlalu masih belum ada tanda-tanda dokter yang datang ke lobi. Sepertinya ia harus menghubungi Manajer Yanmednya langsung, berarti ia harus menghubungi Rafael, tapi ia merasa enggan, lebih baik menghubungi Pak Andre saja biar Pak Andre yang menghubungi Rafael, pikirnya, ia pun tidak punya nomor kontaknya. Tapi tunggu lima menit lagi, gumamnya dalam hati.


Ia keluar lobi mengecek mobil yang akan mengantarnya, biasanya akan menunggu di parkiran khusus di depan lobi, kemarin ia sudah order mobil inventaris untuk keperluan tim marketing pukul satu siang. Ternyata di tempat parkir khusus ia tidak melihat mobil yang akan mengantarnya.


Huuff.....kemana, ini mobil juga tumben telat begini. Batinnya sambil mengedarkan pandangan, namun tetap ia tidak melihat keberadaan mobil sejuta umat berwarna silver dengan tulisan RS Setya Medika beserta logonya di badan mobil sebelah kanan dan kiri.


Dengan perasaan risau ia menghubungi Pak Anwar, driver yang biasanya memegang mobil yang diorder Kharisa.


"Pak Anwar ini Kharisa, pak Anwar dimana? Saya sudah nunggu di lobi, Pak Anwar kan yang akan nganter saya?" Tanyanya dengan wajah gusar, ia takut terlambat tiba di tujuan, tidak enak kalau datang terlambat dan membuat orang lain menunggu.


"Maaf Mbak, tadi saya dapat tugas mendadak di suruh ngantar direktur ke dinas kesehatan, ini saya masih nunggu, belum selesai kayanya rapatnya."


"Ya Allah Pak Anwar, terus ini bagaimana? Siapa yang mengantar saya? Kenapa bapak gak bilang ke saya, biar saya minta gantinya."Ujar Kharisa dengan kecewa.


"Maaf Mba, tadinya saya pikir cuma sebentar, ternyata lama."


"Ya udah Pak, makasih." Kharisa menutup telponnya dengan kesal. Bagaimana ini, Sudah lewat dua puluh menit, dokternya tidak ada, supirnya juga tidak ada, jangan-jangan mobilnya juga tidak ada, dipakai mengantar direktur. Jantungnya jadi berdebar, bagaimana kalau tidak ada dokter yang bisa mengisi penyuluhan di perusahaan, tidak mungkin ia membatalkan mendadak begini, mereka pasti sudah siap-siap, bahkan sudah mengatur jadwal pesertanya. Akhirnya ia langsung menghubungi Pak Andre.


Belum sempat tersambung dengan Pak Andre, tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna abu metalik buatan Jerman keluaran terbaru berhenti di samping Kharisa yang tengah berdiri di samping pintu masuk lobi.


Tin...tin....


Rupanya suara klakso mobil itu ditujukan kepada Kharisa, namun Kharisa tidak menyadarinya. Jendela kaca mobil sebelah penumpang pun terbuka.


"Risa....Risa.....ayo masuk." Seseorang yang berada di belakang kemudi memanggil Kharisa sambil mendeketkan kepalanya ke arah jendela. Tentu saja Kharisa terkejut melihat laki-laki di belakang kemudi yang memanggilnya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Namun Kharisa tetap bergeming, karena merasa tidak punya kepentingan dengannya.


"Ayo masuk, aku yang menggantikan dokter Arjuna mengisi penyuluhan." Ujarnya sedikit berteriak agar terdengar oleh Kharisa yang masih berdiri di teras lobi.


Kharisa terkejut lagi karena ia akan bersamanya dalam beberapa waktu ke depan. Kenapa harus manajernya yang turun tangan, kenapa gak pelaksananya saja yang menggantikan dokter Arjuna. Batinnya.


Akhirnya Kharisa beranjak dari tempatnya, membuka pintu penumpang belakang, lalu masuk meletakan tas laptopnya di kursi penumpang lalu duduk menghadap ke depan, sama sekali tidak melihat ke arah yang di belakang kemudi


"Kenapa di belakang?" Tanyanya sambil mengernyit.


"Aku di sini saja." Jawab Kharisa, tatapannya masih lurus ke depan.


"Kamu pikir aku driver rumah sakit? Pindah ke depan!" Ujarnya dengan nada tegas.


"Aku bilang aku di sini saja." Ujar Kharisa tak kalah tegasnya.


"Ck....." Dia berdecak, membuka pintu dan keluar dari mobil. Ternyata dia membuka pintu penumpang tempat Kharisa duduk.


"Pindah ke depan atau kita tidak usah berangkat." Ancamnya. Mau tidak mau akhirnya Karisa pindab duduk di kursi penumpang depan dengan wajah merengut. Mobil pun melaju meninggalkan area rumah sakit.


"Kita kemana?" Tanyanya yang memang tidak tau tempat yang akan dikunjungi.


"Belok kiri, lurus terus, setelah melewati gerbang rol belok kiri." Jawab Kharisa. Ia baru ingat kalau ia juga tidak hapal dengan pasti tempat yang akan ditujunya. Ia baru satu kali mengunjungi perusahaan itu bersama Ahmad dan supir, waktu itu ia tidak begitu memperhatikan arah jalannya. Jalan menuju area kawasan industrinya ia hapal tapi lokasi perusahaannya yang tidak begitu hapal. Akhirnya ia menggunakan aplikasi Gmap agar tidak harus keliling-keliling mencari, karena waktu pun sudah paspasan karena terlambat berangkat.


"Kenapa? Gak hapal lokasinya?" Tanyanya, saat terdengar suara pemandu dari Gmap.


"Harusnya berangkat diantar driver rumah sakit, mereka sudah hapal lokasinya." Ujar Kharisa sambil melirik jam di tangannya seolah memberi tanda kalau mereka akan terlambat tiba di tempat tujuan. Dengan penuh pengertian Rafael mengencangkan laju mobilnya namun tetap hati-hati.

__ADS_1


"Kamu gak suka pergi denganku? Kenapa?" Tanya Rafael sambil melirik Kharisa.


"Tidak ada alasan bagiku untuk tidak suka pergi denganmu, aku sedang menjalankan tugas yang mengharuskan pergi dengan dokter rumah sakit untuk mengadakan penyuluhan, jadi berangkat dengan siapa saja tidak masalah bagiku.


"Tapi kamu seperti menghindar dariku, apa kamu tidak ingin bertemu denganku setelah kita berpisah selama lima tahun? Apa kamu sudah melupakanku?" Tanya Rafael dengan nada sedikit meninggi. Ia memang merasa kecewa dengan sikap Kharisa yang seperti menghindarinya, pertemuan kembali dengan Kharisa tidak seperti yang ia banyangkan. Yang ia bayangkan saat mereka bertemu, Kharisa akan bersorak kegirangan, berlari ke arahnya lalu mereka berpelukan melepas kerinduan yang selama lima tahun mereka pendam. Kenyataannya Kharisa bersikap seolah dia tidak mengenalinya, tidak terlihat rona bahagia di wajahnya, hanya ekspresi terkejut yang terlihat di wajahnya. Bahkan ia menolak saat dipeluknya. Bukankah ini malah membuat Rafael menduga apa yang diceritakan ibunya benar adanya.


Ddrrt.....ddrrrrttt.....dddrrtttt...


Belum sempat Kharisa menjawab pertanyaan Rafael, Hp Kharisa dalam genggamannya bergetar tanda ada panggilan masuk. Ia pun menerima panggilan telpon itu.


"Assalamualaikum, selamat pagi Bu Bidan Kemala, ada yang bisa saya bantu." Sapa Kharisa dengan nada ramah.


"........................."


"Kebetulan saya lagi di luar Bu, tapi saya coba bantu hubungi supir ambulannya ya Bu, nanti saya kabari lewat pesan WA ya bu Bidan. Kondisi pasiennya masih menungkinkan untuk menunggu kan Bu?"


"........................"


"Baik, terima kasih Bu Bidan." Kharisa langsung menghubungi seseorang di rumah sakit. Ternyata Bidan Kemala akan merujuk pasien dengan perdarahan post partum atau perdarahan pasca melahirkan, meminta bantuan untuk dijemput dengan Ambulan, kondisi pasiennya sesak jadi tidak mungkin kalau diantar dengan mobil biasa. Rumah sakit memang memberikan fasilitas ambulan untuk menjemput pasien secara gratis dalam batasan wilayah tertentu, tentu saja sangat membantu pasien dan perujuk saat mereka kesulitan mencari ambulan untuk membawa pasien ke rumah sakit.


Ddrrrt...dddrrrtt.....


HP Kharisa bergetar lagi. Kharisa terlihat mengernyit saat membaca nama yang muncul di layar HPnya. Ia pun segera menjawabnya. Kali ini terdengar obrolan Kharisa menggunakan bahasa Inggris membuat Rafael berkali-kali meliriknya, tentu saja ia mengerti apa yang diucapkan Kharisa.


" Ok Mr. Rajesh, I will be waiting for your visit tomorrow, thank you very much." Ujar Kharisa setelah paham maksud Mr. Rajesh menghubunginya, hanya ia merasa heran kenapa selevel GM malah menghubunginya, bukan menghubungi Pak Andre, tapi ia tidak mau ambil pusing. Tinggal nanti ia menyampaikan kepada Pak Andre kalau besok sore Mr.Rajesh dan beberapa orang rekannya akan mengunjungi rumah sakit untuk melihat fasilitas yang sebelumnya telah diinformasikan.


"See you Mr.Rajesh" Kharisa pun mengakhiri pembicaraannya.


Selesai menerima telpon ia membalas beberapa pesan di WAnya.


Saat masuk lobi kantor, ternyata manajer HRDnya sudah menunggu, ia langsung menyambut Kharisa dan Rafael.


"Selamat siang Pak Anton, maaf datang terlambat." Sapa Kharisa dengan perasaan tidak enak.


"Terlambat lima menit gak apa-apa Mba Kharisa." Ujar Pak Anton.


"Perkenalkan ini dokter Rafael yang akan mengisi acara penyuluhan, kebetulan beliau menjabat sebagai manajer Pelayanan Medik."


"Senang bertemu anda dokter Rafael, mari silahkan." Setelah berjabatan tangan Kharisa dan Rafael mengikuti langkah Pak Anton menuju ruang pertemuan.


Hampir satu jam setengah mereka berada di ruang pertemuan. Rafael berhasil membuat yang hadir terpana dengan penjelasannya tentang penyakit stroke, terutama karyawan wanita, mereka berlomba-lomba untuk mengajukan pertanyaan saat sesi tanya jawab. Ada juga yang berani bertanya urusan pribadi Rafael.


"Dokter Rafael ststusnya apa?" Tanya salah seorang karyawan wanita. Rafael yang mengerti maksud pertanyaannya mengarah kemana, ia tidak menjawabnya hanya senyum lebar menghiasi bibirnya, malah perserta lain yang menjawabnya.


"Lihat saja jari manisnya sudah ada cincin di sama, berarti pupus sudah harapan kita...ha...ha....ha...." Ucapan peserta ini membuat yang hadir di sana tertawa, namun menyadarkan Kharisa kalau Rafael milik wanita lain, milik Vania.


Saat di tengah perjalanan menuju pulang, Rafael menepikan mobilnya di pinggir perkebunan pohon Jati yang terlihat sepi.


"Kenapa berhenti di sini?" Tanya Kharisa saat sadar mobil yang ditumpanginya berhenti.


"Kita harus bicara, tadi kamu belum menjawab pertanyaanku, bahkan pertanyaan kemarin belum kamu jawab." Ujar Rafael


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Kharisa tidak berani menatap Rafael, ia menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Apa alasan yang membuatmu pergi meninggalkanku?" Tanya Rafael


"Meninggalkanmu...? Siapa yang meninggalkamu? Bukannya kamu yang pergi meninggalkanku? Kamu berjanji akan segera menghubungiku setelah tiba di tempat tujuan nyatanya sama sekali kamu tidak ada menghubungiku?" Entah kenapa Kharisa sedikit emosi mendengar seolah Rafael menyalahkannya, menuduh ia yang telah meninggalkannya.


"Ck....tidak usah membalikan fakta, apa namanya kalau pergi tanpa kabar berita, tidak ada yang tau kemana kamu pergi, temanmu, gurumu tidak ada yang tau. Bahkan kamu diam-diam telah mengkhianatiku." Ucapan Rafael sontak saja membuat Kharisa geram, kenapa jadi ia yang tertuduh.


"Siapa yang mengkhianatimu?"


"Huh, masih tidak mau mengaku." ucap Rafael dengan sinis.


"Bukannya kamu yang mengkhianatiku, bertunangan dengan wanita lain apa itu bukan berkhianat namanya?" Tanya Kharisa tak mau kalah.


"Tidak usah mengalihkan kesalahan pada orang lain, aku melakukan itu karena ada alasannya."


"Maksud kamu apa...?" Kharisa makin tidak mengerti dengan ucapan Rafael, kenapa dia yang dituduh mengkhianatinya. Bukannya dia yang jelas-jelas telah bertunangan dengan Vania.


"Aku punya saksi yang mengetahui kalau kamu mengkhianatiku."


"Saksi apa? Siapa? Aku tidak pernah mengkhianatimu El." suara Kharisa terdengar bergetar, hatinya mulai kesal dengan sikap Rafael yang menuduhnya berkhianat. Apa dia tidak tau yang dialaminya setelah Rafael pergi ke Amerika? Kenapa ia tidak menanyakan keadaannya setelah ia pergi, kenapa tidak menanyakan putranya, malah menuduhnya beekhianat. Kemana orang tuanya yang sombong itu, yang tidak mau menerima dan mengakui cucunya? Apa mereka tidak memberitahu Rafael?


"Kenapa diam? Kamu gak bisa jawab? Jadi benar kamu mengkhianatiku? Hingga sekarang kamu menghindar tidak mau bertemu aku?"


"Aku tidak mengkhianatimu El." Bantah Kharisa dengan suara lantang.


"Kalau kamu tidak mengkhianatiku, siapa anak laki-laki yang tinggal bersama kamu...?"


Deg.


Kharisa terkejut dengan pertanyaan Rafael. Rafael tau ada anak laki-laki yang tinggal bersama Kharisa tapi tidak tau siapa dia? Dia Rakha....Dia anakmu El. Batin Kharisa.


Berarti Rafael tidak tau Kharisa hamil dan melahirkan anaknya. Dan Rafael menuduhnya beekhianat, berarti mengira Rakha anak dari laki-laki lain. Entah kenapa mulut Kharisa begitu kelu untuk menjelaskan siapa anak laki-laki yang dimaksud Rafael. Hatinya terlalu perih mendengar tuduhan Rafael, hatinya terlalu sakit mengingat perlakuan orang tua Rafael terutama ibunya yang tidak mau mengakui cucunya.


"Kamu tidak menjawab berarti dugaanku benar." Ujar Rafael dengan rahang mengeras.


"Kamu ingin tau alasan aku menghilang?"


Kamu ingin tau alasan aku keluar dari sekolah dan tidak ada temanku juga guruku yang mengetahui keberadaanku?"


"Kamu ingin tau siapa anak laki-laki yang bersamaku?"


"Aku tidak akan menjelaskannya El, kamu tanyakan pada orang tuamu alasannya, kamu tanyakan pada ibumu, mereka tau jawabannya." Kharisa berkata-kata dengan suara gemetar dan mata menggenang.


"Kenapa jadi bawa-bawa orang tuaku?" Tanya Rafael heran.


"Karena mereka tau jawabannya" Jawab Kharisa setengah berteriak.


"Sudah cukup. Aku tidak mau bicara lagi. Aku ingin pulang." Ujar Kharisa sambil menyeka air matanya. Kenapa jadi begini, kenapa Rafael membuatnya kesal dengan menuduhnya berkhianat, padahal ia ingin mejelaskan kepada Rafael tentang Rakha, tapi melibat sikapnya yang seperti itu, bahkan menduga Rakha anak dari laki-laki lain membuatnya enggan untuk menjelaskan siapa Rakha. Biarlah, biarkan Rafael menanyakan pada ibunya, terserah apa nanti yang akan dijelaskan ibunya Rafael.


Yang pasti dugaanmu salah El.


Mungkin ini jalan yang Allah tunjukan agar ia tidak berharap kepada Rafael, karena Rafael milik wanita lain, milik Vania.


bersambung......

__ADS_1


Selamat RehatšŸ¤—


__ADS_2