Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Perasaan Mama


__ADS_3

Pukul sembilan malam Rakha sudah tidur lelap, sepertinya ia kelelahan pulang dari Jakarta. Rafael mengantar Kaharisa dan Rakha sampai rumah, mereka tiba pukul delapan malam, perjalanan dari Jakarta lumayan lancar, apalagi dengan adanya tol layang dari Bekasi sampai Karawang membuat perjalanan mereka lebih cepat, benar-benar bebas hambatan.


Rafael pun tidak berlama-lama di rumah Kharisa, ia langsung pulang ke messnya. Sebenarnya Kharisa yang menyuruh Rafael segera pulang, Kharisa tidak ingin berlama-lama lagi bersama Rafael, walaupun Rakha masih ingin bersama dadynya.


"Kasihan Dady cape, besok kan Dady harus kerja, jadi Dady pulang sekarang biar bisa istirahat, Rakha juga setelah mandi langsung istirahat yah, besok kan sekolah." Ujar Kharisa secara tidak langsung mengusir Rafael. Selain masih kesal dengan Rafael, Kharisa juga menjadi canggung, tepatnya malu, pasalnya saat di perjalanan Rafael sempat membahas kejadian lima tahun lalu, kejafian yang menyebabkan Rakha ada di dunia ini. Waktu di perjalanan Rakha tertidur, Rafael dengan leluasa mengingatkan kembali kejadian itu yang membuat wajah Kharisa memerah dan memanas.


"Sa, saat tadi di depan rumah kamu, aku jadi teringat saat itu, saat kita berdua di kamar kamu dan melakukannya. Aku tidak menyangka apa yang kita lakukan ternyata membuatmu hamil, padahal aku sangat yakin tidak mungkin membuatmu hamil. Orang kita melakukannya juga coba-coba kan? Sory ya Sa." Ujar Rafael santai, dengan pandangan tetap ke jalanan di depannya.


"Sebenarnya aku gak niat melakukannya Sa, aku hanya ingin mencium kamu, tapi suasana begitu mendukung waktu itu, rumah mu sepi, di luar hujan, niat itu terlintas begitu saja hingga terpikir kalau aku mendapatkan kesucianmu, kamu tidak akan bisa berpaling dariku."


"Kenapa jadi bahas ini sih El, aku gak mau membahasnya, itu sudah masa lalu." Mengingat itu tentu saja membuat Kharisa jadi teringat akan kebodohannya dengan mudah menyerahkan kesuciannya pada Rafael tanpa berpikir panjang. Waktu itu ia terlena oleh sentuhan dan kata-kata manis Rafael, diam-diam ternyata Rafael mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata cinta yang romantis, padahal selama mereka menjalin hubungan pacaran, tidak pernah rafael mengucapkan kata-kata seromantis saat itu, mungkin karena ia merasa berat berpisah dengan Kharisa dan takut Kharisa berpaling darinya saat berjauhan.


"Kamu cinta pertamaku dan aku ingin kamu menjadi yang terakhir untukku."


"Jangan pernah berpaling dariku walaupun aku tidak bisa melihatmu, aku pun akan melakukan hal yang sama tidak akan berpaling darimu, berjanjilah."


"Dan aku akan membuatmu tidak bisa berpaling dariku. Walaupun kita berpisah, kita akan selalu saling mengingat. Walau raga kita berjauhan, hati kita akan selalu dekat. You're always in my hurt, forefer."


Itulah beberapa kalimat yang diucapkan Rafael saat itu sebelum mereka melakukan perbuatan terlarang.


"Iya aku tidak akan membahasnya lagi, tadi tiba-tiba saja teringat. Tapi aku tidak menyesal Sa, semoga saja karena kejadian itu kamu tidak berpaling dari aku, apalagi sekarang ada Rakha, kamu gak bisa berpaling dari aku, karena aku ayahnya." Rafael jadi merasa ada celah untuk membahas hubungan mereka.


"Ish....yang kita lakukan adalah perbuatan dosa, sudah seharusnya kita menyesal melakukannya, kita harus meminta ampun dan bertaubat El."


"Berarti kamu menyesal hamil dan melahirkan Rakha." Nada suara Rafael terdengar kecewa.

__ADS_1


"Rakha adalah anugrah terindah yang Allah berikan untukku, karena dialah aku bisa kuat menjalani semua ini. Dia segalanya bagiku. Yang harus kita sesali adalah kita dengan mudah tergoda bujuk rayu setan, dan kita harus bertaubat El, meminta ampun pada Allah." Rafael pun terdiam, mencermati ucapan Kharisa.


"Ya aku akan meminta ampun pada Allah." ujarnya. "Tapi kita masih bisa menjalin hubungan kan? Kamu masih jadi pacar aku Sa, ingat! aku gak pernah mutusin kamu.


"El diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Aku sudah mengikhlaskanmu sejak tau kamu sudah bertunangan dengan Vania, Hubungan kita hanya sebatas ibu dan ayahnya Rakha.


"Sa....apa sudah tidak ada cinta untukku?" Tanya Rafael sambil terus konsentrasi dengan jalanan, mobilnya berada di tol layang dengan kecepatan 100 KM/jam. Kini jantungnya berdetak cepat, ia begitu khawatir Kharisa benar-benar menolaknya.


"Bukankah cinta tidak harus memiliki? Tapi rela melepas untuk kebahagiaan orang yang kita cintai, itulah Cinta. Pertunanganmu dengan Vania lebih kuat dibandingkan hubungan kita, kalau kamu masih menganggap kita pacaran. Ingat El, kamu sudah melamar Vania."


"Kalau begitu aku akan melamar kamu, agar hubungna kita lebih kuat." Rafael malah merasa tertantang dengan ucapan Kharisa.


"Sudahlah El, aku tidak mau bahas ini." Kharisa pun hanya diam menatap jalanan di depannya yang terlihat karena sorotan lampu mobil Rafael, tidak menanggapi ucapan Rafael lagi sampai tiba di rumahnya.


Kharisa tidak bosan memperhatikan Rakha yang tidur dengan nyenyak. Entah kenapa matanya tidak mengantuk, padahal selama di perjalanan ia tidak tidur. Ia jadi ingat pertemuan dengan papanya, dan ingin memberitahu mamanya. ia pun beranjak dari kamarnya menuju kamar mamanya. Tadi mamanya dan Bi Nani satu jam lebih dulu sampai di rumah dari perjalanan ke Garut.


"Belum tidur Mah." ujar Kharisa serasa mendekati mamanya, lalu duduk di sisi tempat tidur.


"Mama lagi mau namatin ini." Mama mengangkat bukunya dan memperlihatkannya pada Kharisa.


"Kamu sendiri belum tidur? Istirahatlah, kamu pasti lelah kan." Kharisa hanya menyunggingkan senyumya.


"Belum ngantuk Mah, Kharis mau cerita sama Mama."


"Cerita apa? Sini duduk di sini." Mama menggeser duduknya. Kharisa pun duduk bersandar di tempat tidur.

__ADS_1


"Ma...mama gak kangen sama Papa?" Tanya Kharisa hati-hari takut mamanya tidak suka dengan pertanyaannya.


"Kamu mau cerita atau bertanya?" Mama malah balik bertanya, sepertinya enggan menjawab pertanyaan Kharisa.


"Kemarin Kharis ketemu Papa, di hotel tempat kegiatanku berlangsung." Mama menatap Kharisa tidak percaya, ia melihat mata Kharisa menunjukan kejujuran.


"Kharis minta maaf sama Papa dan Papa memaafkanku."


"Kami makan siang bersama di restoran hotel."


"Papa menanyakan kapan kita pulang, dan aku jawab akan pulang kalau Mama juga pulang." Mama masih diam tertegun mendengarkan suara putrinya. Kharisa pun diam menjeda ceritanya.


"Trus papamu bilang apa?" tanya mama penasaran.


"Papa gak bilang apa-apa." Jawab Karisa.


"Berarti Papa tidak menginginkan Mama pulang. Papa masih kecewa dengan tindakan Mama membawamu pergi" Wajah Mama tampak kecewa.


"Ma, Kharis yakin papa telah memaafkan kita dan berharap kita kembali sama Papa, berharap kita pulang. Kharis tadi lihat rumah kita mah, sebelum pulang Rafael mengajak ke sana. Rumahnya bersih dan terawat Mah, sepertinya Papa memang mengharapkan kita kembali ke rumah itu."


"Kalau Papa minta kita kembali ke sana, gimana Mah? Mama mau kan kembali bersama Papa. Aku tau Mama tersiksa berpisah dangan Papa, dan semua itu karena Kharis. Maafin Kharis ya Mah. Kharis ingin Mama kembali lagi dengan Papa, dan bahagia seperti dulu lagi.


"Mama mau kan kembali lagi dengan Papa?"


Mama hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan putrinya, ia memang masih mencintai suaminya, namun ia juga kecewa dengan sikapnya lima tahun yang lalu. Saat ini hatinya merasa tenang dengan keadaan sekarang, walau harus memendam kerinduan yang mendalam.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2