
" Van, makasih yah kamu sudah mengerti keadaanku, aku benar-benar minta maaf sudah nyakitin kamu, tapi aku pikir kalau dipaksakan kamu akan lebih sakit lagi, dan aku tidak mau nyakitin kamu lebih dalam lagi. Kamu berhak bahagia Van, aku yakin kamu akan menemukan orang yang tepat, yang sangat mencintai kamu dan kamu juga mencintainya." Rafael tengah berada di rumah mess Vania, setelah kemarin Kharisa menceritakan pertemuannya dengan Vania di ruang kantornya tiga hari yang lalu. Ternyata ia telah salah sangka pada Vania, justru malah Vania berempati pada Kharisa dan malah mendukung Kharisa untuk bersama Rafael, dan Vania akan melepaskan Rafael, juga menerima kalau pertunangannya dibatalkan.
"Besok aku akan bicara dengan orang tuaku, mudah-mudahan mereka juga bisa mengerti." Suara Vania terdengar bergetar, ia ingat orang tuanya juga neneknya yang sedang terbaring sakit, ia membayangkan bagaimana kecewanya mereka, ia sendiri tidak tau bagaimana sikap papanya nanti, apakah akan menerima atau menuntut Rafael untuk mempertahankan pertunangan mereka dan melanjutkan ke jenjang pernikahan. Kini matanya tampak berkaca-kaca. Ia memang sensitif kalau urusan keluarganya, selama ini yang apa pun yang ia lakukan adalah untuk membuat keluarganya terutama orang tuanya bahagia.
" Aku akan menemanimu, aku akan menjelaskan langsung pada orang tuamu, bagaimana pun akulah yang menginginkan pertunangan ini dibatalkan."
"Biar aku saja El, aku khawatir papaku kecewa dan marah sama kamu." Vania tidak bisa membayangkan bagaimana nanti sikap papanya, yang ia tau papanya termasuk orang yang keras juga, ia tak segan menampar seseorang bila sedang marah.
"It's Oke, aku akan terima apapun yang papamu lakukan padaku, jika sampai aku harus dihajar pun aku akan terima, karena aku telah menyakiti putrinya, aku yang salah dalam hal ini, jadi aku siap menanggung resikonya." Ucapan Rafael terdengar seperti seorang ksatria pemberani yang jujur mengakui kesalahannya.
"Tapi Raf......" Vania terlihat ragu, tentu saja ia tidak akan tega melihat Rafael kalau sampai benar dihajar papanya.
"Besok kita pulang bareng, setelah jam kerja selesai kita langsung berangkat." Vania tertegun, baru kali ini Rafael mengajaknya pulang bareng, dan ini yang ia harapkan sebelumnya, sejak berstatus menjadi tunangannya Rafael, Vania belum pernah sekali pun ia pulang bareng ke Jakarta. Dan sekarang di saat hubungan mereka akan berakhir harapannya untuk pulang bareng malah terwujud, haruskah ia bahagia?
Keesokan harinya selepas jam kerja Rafael pulang ke Jakarta bersama Vania, selama di perjalanan mereka tidak banyak bicara, selain fokus dengan jalanan Rafael sibuk dengan pikirannya sendiri. Bohong kalau hatinya tenang saat akan bertemu dengan calon mertuanya, calon mantan mertua tepatnya karena tujuan ia menemuinya adalah untuk membatalkan pertunanganya. Ia harus menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang akan ia terima. Mungkin kemarahan, caci maki atau bahkan tamparan , pukulan fisik, ia harus siap menerimanya. Ayah mana yang akan diam saja melihat anaknya disakiti hatinya, apalagi Vania anak yang sangat disayangi oleh papanya.
__ADS_1
Beberapa kali ia membuang nafas untuk menenangkan dirinya, dan itu tak luput dari perhatian Vania yang duduk disampingnya, dan Vania bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Rafael.
"Raf kalau kamu belum siap, tidak usah malam ini kamu bicara dengan papa, lebih baik kamu pulang saja dulu, istirahat, baru besok kamu bicara dengan papa, kamu juga belum membicarakannya lagi dengan papi mami kamu."
"Aku tidak mau menunda-nunda Van, aku ingin satu-satu masalahku selesai, agar aku tenang, menunggu besok aku gak akan bisa tidur." Ucapan Rafael terdengar tidak enak di telinga Vania, Rafael menganggap pertunangannnya dengan Rafael sebagai masalah, tanpa Rafael sadari kata-katanya telah menyakiti Vania, namun Vania hanya diam, ia sadar dirinya benar-benar tidak diinginkan oleh Rafael. Ia pun memilih diam hingga tak terasa mobil Rafael telah memasuki halaman rumah Vania.
Kadang kita suka berpikir berlebihan akan hal-hal yang belum terjadi pada kita, hingga membuat hati kita tidak tenang. Apa yang dipikirkan Rafael selama di perjalanan ternyata tidak satu pun dialaminya. Tiba di rumah Vania ia disambut oleh mamanya, kemudian papanya keluar dari kamar karena mendengar kedatangan putri kesayangannya. Papa dan Mama Vania terlihat sumringah melihat Vania tidak datang sendiri, ternyata ada calon menantunya juga, ini pertama kalinya mereka melihat Vania diantar oleh Rafael, tentu saja mereka senang melihatnya, bukankah ini sebuah kemajuan, berarri hubungan putri mereka semakin dekat dengan calon suaminua, itu pikiran mereka.
Rafael pun diajak makan malam yang memang sudah disiapkan. Mereka pun makan malam bersama, terlihat dua adik perempuan Vania juga ijut makan malam bareng.
Dan Rafael pun menyampaikan maksudnya, dengan hati-hati ia menjelaskan, menceritakan masa lalunya hingga beberapa bulan kemarin dipertemukan dengan putranya yang baru diketahuinya, tentu saja membuat papa dan mama Vania terkejut.
"Kamu tidak sedang membohongi tante kan Raf?" Tanya mama Vania tidak percaya, selama ini ia sama sekali tidak pernah mendengar apa yang diceritakan Rafael.
"Papi mamimu tidak pernah membicarakan ini pada kami." Tambah mami Vania. Rafael pun menceritakan kalau selama ini papi dan maminya yang justru menyembunyikan keberadaan putranya. Papa Vania hanya diam tidak mengeluarkan satu kata pun.
__ADS_1
"Untuk itu saya datang kemari bermaksud untuk membatalkan pertunangan saya dengan Vania, mohon maaf Om, Tante, saya tidak bisa melanjutkannya. Saya tidak ingin menyakiti hati Vania lebih dalam lagi, saya tau saat ini saya sudah menyakitinya, dan pada kesempatan ini saya memohon maaf pada Om, Tante, juga Vania dan keluarga besar atas tindakan saya ini, sekali lagi saya minta maaf." Rafael berkata-kata dengan merendah, sadar ia dalam posisi yang salah, mungkin saja apa yang ia ucapkan telah menghancurkan martabat orang tua dan keluarga Vania. Pertunangan putrinya yang masih seumur jagung yang baru saja diumumkan kepada keluarga besar, ralasi bisnisnya tiba-tiba harus kandas.
Papa Vania masih bergeming, duduk di sofa dengan menatap wajah putrinya seolah membaca apa yang sedang dirasakan putrinya. Namun Vania terlihat tegar, tidak terlihat ait menggenang di matanya, sepertinya air matanya memang sudah mengering, ia tumpahkan saat dalam kesendiriannya di rumah messnya.
"Pah, Mah aku sudah setuju pertunangan kami dibatalkan, ada yang lebih membutuhkan Rafael dari pada aku, aku ikhlas melepas Rafael, dan Papa Mama tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Vania meyakinkan kedua orang tuanya, sementara papa dan mamanya memandang putrinya yang terlihat tegar.
"Om ingin bicara dulu dengan papi dan mami kamu." Hanya itu yang terucap dari papa Vania. Tidak ada kemarahan atau kata-kata kasar, keluar dari bibirnya, benar-benar jauh dari apa yang Rafael bayangkan tadi saat di perjalanan. Begitu pun dengan Vania, ia tidak menyangka papanya begitu tenang. Dengan penuh rasa syukur Rafael pun pulang dengan hati tenang, walaupun belum jelas papa Vania menerima pembatalan pertunangannya, tapi melihat sikap papa Vania ia yakin Papa Vania akan menerimananya.
Keesokan harinya Rafael kembali ke kota tempatnya berkerja bersama Vania, mereka terlihat lebih akrab dibanding saat mereka berstatus bertunangan. Sebelum Rafael pamit, papa Vania mengatakan sesuatu.
"Om menyetujui permintaanmu kemarin, Om sudsh bicara dengan papamu lewat telfon. Om setuju karena Vania bisa meyakinkan Om kalau dia baik-baik saja. Om hanya ingin melihat putri Om bahagia." Betapa leganya Rafael, akhirnya satu persatu masalahnya bisa terselesaikan. PRnya tinggal meraih kembali hati Kharisa, menyatukan kembali hubungan mereka yang sempat retak, tapi ia yakin Kharisa mau kembali bersamanya demi putra mereka yang membutuhkan keluarga utuh dan kasih sayang dari orang tuanya. Setelah itu mendapatkan restu maminya yang sampai sekarang masih belum mau menerima Kharisa sebagai menantunya. Semalam maminya sempat emosi mendengar kalau Rafael sudah menemui orang tua Vania untuk membatalkan perjodohannya, sampai maminya mengeluh sesak dan nyeri dada, sakit jantungnya kumat lagi, papinya yang dari awal mencoba menenangkan maminya segera memberikan obat untuk serangan jantungnya. Ia sudah bisa menduga kalau istrinya akan mengalami serangan jantung ringan, ia pun bisa menanganinya.
Rafael hanya bisa mengucapkan kata maaf pada papi dan maminya. Dan ia tetap pada pendiriannya untuk mengejar Kharisa. Kini saatnya ia membangun kembali impiannya untuk menjadi ayah yang sesungguhnya untuk Rakha, memberikan keluarga yang utuh untuk putranya. Merajut asa bersama kekasihnya yang sampai saat ini masih sangat dicintainya.
bersambung
__ADS_1