
Pukul setengah tujuh Faisal sudah datang untuk menjemput Kharisa dengan mobil yang disewa beserta supirnya, sesuai rencana mereka akan berangkat ke Jakarta pukul tujuh pagi. Bi Nani menyiapkan bekal cemilan kue basah dan beberapa macam keripik untuk menemani perjalanan, tak lupa bekal makan untuk Rakha nasi tim ayam brokoli yang disimpannya dalam termos penghangat ukuran mini. Rakha sedang belajar makan nasi, tapi kalau makan tim makannya pasti lebih banyak, tim ayam adalah makanan kesukaannya.
Rakha sudah ada dalam gendongan Kharisa, seperti yang paham momynya akan pergi, ia tidak mau lepas dari gendongan Kharisa, takut kalau ia ditinggal. Tapi melihat Faisal datang langsung saja ia ingin turun dan minta digendong Faisal.
"Wah anak siapa ini sudah cakep, pake baju bagus, mau kemana? Gaya euy pake sepatu, eh sepatunya nyala...."
"Mamamama......gi......gi.......om...om." Rakha minta turun dari gendongan Kharisa, kakinya sudah menjuntai ke bawah. Kini ia mengira Faisal akan mengajaknya jalan-jalan, seperti yang biasa Faisal lakukan di hari libur, mengajak Rakha naik motor bebek maticnya walau hanya keliling kampung tapi membuat Rakha senang dan ketagihan, kalau melihat Faisal dengan motornya di depan rumah pasti langsung ngajak pergi.
" Om....gi....gi......" ucapnya sambil menunjuk motor mengajak pergi. Lucunya kalau sudah berceloteh, walaupun baru beberapa kata yang bisa ia ucapkan. " Mama....Om....gi...Nen.....Mam, Bin." Baru itu yang bisa diucapkannya.
"Iyalah sama Om Isal dulu sana, ayo jalan ke Om Isal, momy mau beresin bekal Rakha dulu." Rakha diberdirikan di depan Faisal, sudah bisa berdiri agak lama, tapi takut untuk melangkah akhirnya merangkak menuju Faisal. Usianya telah menginjak sebelas bulan, sudah waktunya untuk belajar jalan, Rakha pun semangat kalau jalan sambil dipegang tangannya, apalagi sambil mengejar ayam pasti ingin jalan terus, sayangnya kalau pegangannya dilepas ia malah jongkok, tidak mau melangkah, mungkin karena pernah mengalami jatuh hingga dahinya kejedot lantai, ia jadi takut untuk melangkah.
"Udah siap? Gak ada yang ketinggalan?" Faisal membuka pintu mobil saat melihat Kharisa dan Bi Nani keluar rumah dan mengunci pintunya.
"Udah, cuma perbekalan Rakha kok." Kharisa memperlihatkan travel bag milik Rakha, isinya bekal Rakha semua, baju ganti, diapers, tisu basah, biskuit untuk cemilan Rakha, dan fidak ketinggalan beberapa mainan kesukaan Rakha.
Kharisa dan Bi Nani masuk ke dalam mobil.
"Rakha duduknya di depan sama Om yah...nanti kita lihat banyak mobil, ada mobil bis." Faisal duduk di kursi penumpang di samping supir dan Rakha duduk di pangkuannya. Pa supir pun melajukan mobilnya menuju jalan raya ke arah pintu tol Cileunyi.
"Bin....bin......mamama...bin...." Sepertinya Rakha sedang menginginkan sesuatu.
__ADS_1
"Mau apa? Mobil? Tuh lihat banyak mobil." Faisal menunjuk mobil yang ada di jalanan.
"Ma..ma..ma....bin..."
"Oh....mainan mobil?" Faisal menoleh ke belakang.
"Neng, mainan mobil Rakha dibawa gak?"
"Ada." Kharisa memang sudah persiapan membawa mainan kesukaan Rakha, siapa tau di perjalanan merasa bosan, dan benar saja baru saja berangkat Rakha sudah ingat dengan maianan mobil kesayangannya. Mobil sedan warna merah yang dibelikan Faisal, "McQueen" namanya, karakter fiksi dari film kartun 'Cars'. Rakha sangat menyukai mainan mobil itu, selain warnanya yang merah menarik perhatiannya, mobil itu memiliki mata, mulut, sehingga terlihat hidup, setelah rodanya ditarik ke belakang mobil itu akan melaju. Kadang ia tidur sambil memegangi mainan mobilnya itu.
Di tengah perjalanan Rakha mulai rewel, ini pertama kalinya perjalanan jauh bagi Rakha, satu jam setengah berada di dalam mobil ternyata membuatnya bosan, padahal Faisal tak henti-hentinya bercerita, nyanyi lagu anak-anak sambil menyuapinya buah potong sebagai cemilan Rakha, hingga membuat Kharisa dan Bi Nani senyum-senyum sendiri mendengarnya.
"Sini sama momy." Langsung saja Rakha mencari sesuatu yang diinginkannya.
"Ne**n......." Rakha menyingkirkan hijab yang menutupi dada momynya, terlihat tidak sabar, sementara Kharisa tengah membuka kancing bajunya.
"Sebentar sayang.....ditutup yah, malu sama Om sama Pak supir." Rakha sudah terbiasa ditutup kepalanya dengan hijab momynya kalau sedang menyu** di tempat umum. Kharisa menggunakan hijab sejak mulai kuliah, awalnya ia merasa tidak percaya diri menggunakan hijab, namun Faisal selalu mendorong dan mendukungnya.
"Aku merasa gak pantas pakai hijab A, malu, kelakuan masih belum bener, shalat aja masih harus diingetin sama mama sama A Isal, ngaji juga belum lancar, malu kan, masa pake hijab gak pinter ngaji." Ujar Kharisa waktu beberapa bulan belum berhijab.
"Menutup aurat itu tidak ada hubungannya dengan gak bisa ngaji, kelakuan belum benar, shalatnya belum benar, masing-masing berdiri sendiri. Menutup aurat sama dengan shalat hukumnya wajib, kalau tidak dikerjakan berarti dosa. Bayangkan dari sejak baligh sampai sekarang kalau kita tidak melaksanakan kewajiban kita sebanyak apa dosanya. Sudah mah kelakuan belum benar, shalat masih bolong-bolong ditambah gak nutup aurat ya tambah banyak lagi dosa kita, dengan menutup aurat berarti kita sudah mengurangi dosa kita. Dan jangan sampai nanti ayah kita terjerumus ke dalam neraka karena anak perempuannya melalaikan kewajiban menutup auratnya."
__ADS_1
Waktu itu Faisal mengingatkan Kharisa untuk menutup auratnya di depan yang bukan mahram, pasalnya saat itu seperti biasa pulang sekolah Faisal selalu mengunjungi Kharisa dan Rakha, Kharisa sedang duduk di teras dan Rakha ada dalam pangkuannya, saat Faisal semakin dekat terlihat dengan jelas ternyata Kharisa tengah menyu**i Rakha, dan tentu saja Faisal melihat pemandangan yang tidak seharusnya dilihatnya.
"Astaghfilullah al adzim....." Faisal langsung membalikan badannya sambil menutup kedua matanya.
"Ada apa A...." Kharisa terlihat bingung dengan sikap Faisal, ia menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang, namun tidak ada apa-apa, tapi kenapa Faisal menutup matanya dan membalikan badannya?
"Neng kalau lagi menyu**i sebaiknya di dalam, di luar nanti ada orang lewat, auratnya jadi kelihatan." Kharisa baru tersadar, ternyata sikap Faisal karena melihat auratnya tanpa sengaja. Kharisa pun jadi malu sendiri, ia langsung masuk ke dalam rumah.
"Habis tadi di dalam gerah banget, Rakha juga rewel, jadi di luar deh." Ujar Kharisa saat kembali menghampiri Faisal di teras setelah selesai menyu**i Rakha, Kharisa nyengir menahan malu.
"Makanya Neng mending pake hijab, kalau pakai hijab saat menyu**i kan bisa ditutupin, kaya bu ustadzah Rahma kalau nyusuin ditutupin pakai kerudungnya. Jadi aman kan."
"Insya Allah deh, pas kuliah aku pake hijab, sekarang aku siapin mental dan bajunya dulu." Kharisa nyengir lagi karena masih belum bisa mengiyakan langsung untuk berhijab tidak seperti para wanita saat jaman Rasulullah, saat turun ayat perintah menutup aurat, mereka langsung mencari dan menggunakan apapun di dekatnya yang bisa digunakan untuk menutup auratnya. Tapi akhirnya janjinya dipenuhi, hari pertama masuk kampus ia menutup auratnya, menggunakan hijab.
Tidak terasa mobil mereka sudah memasuki tol lingkar luar Jakarta, tadi mereka beristirahat sebentar di rest area daerah Karawang , memenuhi panggilan alam ke toilet, dan membuka bekal yang disiapkan Bi Nani, aneka kue basah dan keripik. Faisal membeli satu gelas kopi instan untuk pak supir dan dua gelas coklat hangat untuknya dan untuk Kharisa. Perjalanan mereka terhitung lancar tidak ada kepadatan yang berarti. Untungnya pak supir biasa membawa penumpang ke Jakarta jadi hapal daerah Jakarta. Pak supir mengarahkan mobilnya ke kiri saat terlihat petunjuk pintu keluar tol Cipete/Pondok Labu, kemudian bergabung ke jalan TB. Simatupang, belok ke jalan Fatmawati. Kharisa mulai mengarahkan pak supir menuju alamat rumah Rafael, ia tidak hapal dengan pasti alamatnya, tapi ia masih ingat belokan jalannya karena saat ke rumah Rafael dengan papa mamanya, waktu itu ia betul-betul memperhatikan jalanan, dan sekarang ia masih mengingat kemana arahnya hingga saat mobil mereka melewati sebuah masjid yang cukup besar bertuliskan nama sebuah yayasan, ia yakin rumah Rafael di daerah itu.
"Stop Pak, dipinggir yah...." Kharisa memastikan lagi kalau ia tidak salah, ia memperhatikan rumah berpagar tinggi, bercat putih, di depannya ada pos security, tidak salah lagi itu rumah Rafael.
"Pak, ke rumah yang ada pos securitynya yah." Pak supir pun menganggukan kepalanya dan mengarahkan mobilnya ke rumah yang ditunjuk Kharisa. Dan kini mobil yang ditumpangi Kharisa sudah berada di depan rumah besar yang setahun setengah yang lalu pernah ia datangi bersama papa dan mamanya.
bersambung......
__ADS_1