Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Papa


__ADS_3

Kharisa dan laki-laki di depannya masih bergeming di posisinya masing-masing. Tidak ada yang berani menyapa terlebih dahulu.


"Papa......." Akhirnya keluar juga suara yang terdengar bergetar dari mulut Kharisa memanggil laki-laki setengah baya di depannya. Bening kristal pun jatuh di pipinya, sementara wajah laki-laki yang dipanggil Papa terlihat dingin, namun tatapannya memancarkan kerinduan yang mendalam. Ya laki-laki yang berada di depan Kharisa adalah papanya, papa Dewa. Lebih dari tiga tahun ini mereka tidak pernah berjumpa setelah terakhir saat Rakha hampir berusia satu tahun ia menemui papanya di rumahnya, namun sayangnya terjadi salah paham hingga Kharisa segera meninggalkan papanya tanpa bicara panjang lebar, tanpa meninggalkan nomor kontak, hingga setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi.


Kharisa meraih tangan kanan papanya, lalu mencium punggung tangannya cukup lama hingga punggung tangan itu basah oleh air mata Kharisa yang tak bisa dibendungnya. Tidak ada penolakan dari papanya, namun ia tetap bergeming.


"Pak Dewa...." Laki-laki di sebelahnya yang tak lain adalah asisten pribadinya, menyadarkan papa Kharisa yang sejak tadi hanya diam, entah apa yang ada di benaknya, yang jelas ia tidak menolak dan tidak merespon apa yang dilakukan putrinya. Putrinya yang lima tahun lalu mengecewakannya, putri satu-satunya yang ia banggakan telah mencoreng muka dan harga dirinya, menentangnya bersama mamanya, kemudian pergi meninggalkannya, kini tiba-tiba ada di hadapannya. Rasa kecewa itu masih ada di hatinya, tapi rasa rindunya pun begitu membuncah di dalam hatinya, hingga tak terasa air matanya pun menggenang, air mata kerinduan yang tertahan sekian lama, namun egonya pun ternyata masih menguasai hatinya, hingga ia hanya diam, menguatkan benteng pertahanannya.


Berbeda dengan putrinya yang tidak bisa lagi menahan kerinduannya, setelah puas mencium punggung tangan papanya ia memeluk tubuh papanya, sangat erat seolah tidak ingin berpisah lagi dengan papanya, membenamkan wajahnya di dada bidang papanya yang masih terlihat tegap. Kini isak tangisnya pun tidak bisa ditahan lagi.


"Papa....Kharis kangen sama Papa...." Ucapnya di sela isak tangisnya.


" Maafkan Kharis Pah, maafkan Kharis......" Kali ini Kharisa berharap papanya benar-benar memaafkannya. Ia yang salah, telah melakukan perbuatan dosa yang akan menyeret orang tuanya juga, ia telah mengecewakan laki-laki yang ia banggakan, papanya.


Saat papanya masih saja bergeming, ia meluruhkan tubuhnya bersimpuh di kaki papanya. "Maafkan Kharis Pah." Sontak saja membuat Papanya terhenyak melihat apa yang dilakukan putrinya. Dengan cepat ia meraih tubuh putrinya untuk berdiri, dibantu oleh Pak Herman asisten pribadinya.


"Berdiri Nak...." ujar Pak Herman, sambil mencoba mengangkat bahu Kharisa, namun kedua tangan Kharisa begitu kuat memegang kedua kaki papanya.


"Kharis gak akan berdiri sebelum papa maafin Kharis." Tiba-tiba Kharisa bertekad kalau ia harus mendapatkan maaf dari papanya saat ini juga, sudah terlalu lama hubungan mereka dalam kondisi tidak baik karena kesalahannya, walaupun papanya juga ikut bersalah karena keputusannya yang malah menjerumuskan ke lubang dosa. Tapi walau bagaimana pun, sebesar apa pun kesalahan orang tua, di mata anak tetaplah orang tua, yang harus dihormati, dengan ridhonya bisa membawa keselamatan di dunia dan akhirat. Ia yakin papanya masih menyayanginya, dan pasti memaafkannya, hanya ego papanya terlalu tinggi, jadi ialah yang harus mengalah, merendahkan hati serendah-rendahnya untuk meraih ampunan papanya.


Kharisa malah semakin mengeratkan tangannya merangkul kedua kaki papanya, saat papanya dan Pak Herman meraih tubuhnya untuk berdiri.


Akhirnya runtuhlah pertahanan papanya, melihat putrinya bersimpuh di kakinya dengan isak tangis dan linangan air mata. Ia pun meluruhlan tubuhnya, berjongkok sambil meraih putrinya ke dalam pelukannya. Ya ...akhirnya papanya memeluk Kharisa, mengecup pucuk kepala putrinya yang ternyata dirindukannya.


"Maafkan Papa sayang......." Terdengar jelas suara papanya di telinga Kharisa, sangat jelas, tidak mungkin ia mengalami halusinasi dengar. Kharisa mengangkat wajahnya memastikan apakah benar papanya yang bicara barusan? Dan kini tatapan mereka bertemu, tatapan yang saling merindu. Kedua tangan papa bergerak menangkup pipi Kharisa yang basah. "Maafkan Papa Nak....." Mereka kini saling berpelukan, berdiri di atas lutut mereka, sungguh pemandangan yang mengharukan. Untung saja di area itu tidak terlalu ramai, hanya terlihat beberapa orang dari jauh yang memperhatikan dua insan beda usia yang saling berpelukan, termasuk Andre yang ternyata menyusul Kharisa karena khawatir Kharisa tidak segera kembali dari toilet dan acara pun akan segera dimulai.


"Kharis yang minta maaf sama Papa, maafin Kharis Pah, Papa gak salah."


"Papa sudah memaafkanmu sayang." Kini Papa Kharisa yang memeluknya dengan erat. .Pak Herman kini ikut berjongkok. "Pak, maaf......Pak Wijaya sudah menunggu di dalam." Pak Herman mengingatkan papa Kharisa kalau ia harus segera meeting dengan relasinya.


Kharisa dan papanya berdiri namun masih saling berpelukan, tidak ada yang ingin melepaskan.


"Papa ada meeting sampai siang, bisa kita ketemu lagi." Papa mengusap pipi putrinya yang basah.


"Kharis di sini sampai besok Pah, nginep di sini juga."


"Herman, siapkan makan siangku dengan Kharisa, di resto hotel ini." Ujar papa pada asisten pribadinya.


"Baik Pak." Pak Herman menganggukan kepalanya, ia sudah paham apa yang selanjutnya harus ia lakukan.


"Bisa kan kita makan siang bersama?"

__ADS_1


"Bisa Pah." Tentu saja Kharisa tidak akan menolak, toh tempatnya masih di hotel ini juga, ia akan minta ijin pada bosnya Andre, pasti bosnya akan mengerti. Ia juga belum puas melepaskan rasa rindu pada papanya dan tidak ingin melewatkan kesempatan untuk dekat dengan papanya lagi, apalagi papanya sudah memaafkannya, siapa tau menjadi jalan ia bisa bersama lagi dengan papa dan mamanya.


"Papa tunggu di resto hotel ini di jam istirahat." Ujar papa lalu mengecup kening putrinya begitu dalam. Kharisa menganggukan kepalanya. Dengan berat hati papa meninggalkan putrinya masuk ke salah satu meeting room yang tidak jauh dari tempat Kharisa berdiri.


"Kharisa......" Andre berjalan mendekati Kharisa


"Eh.....oh Pak Andre." Kharisa mengusap kedua mata dan pipinya, lalu merapihkan hijabnya.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Andre, ia masih menduga-duga apa yang terjadi dengan Kharisa, kenapa Kharisa sampai bersimpuh di kaki laki-laki setengah baya.


"Gak apa-apa Pak, maaf barusan saya ketemu papa saya. Acaranya sudah di mulai ya Pak?" Kharisa jadi merasa tidak enak, ia jadi terlambat mengikuti kegiatannya.


"Baru di mulai, paling baru acara sambutan. Ya sudah ayo kita masuk, atau kamu mau ke toilet dulu?" Ujar Andre saat melihat wajah Kharisa yang sembab.


"Ah ...saya kelihatan habis menangis ya Pak?" Kharisa sadar pasti wajahnya terlihat jelas habis menangis.


"Ya, sebaiknya kamu cuci muka dulu, biar terlihat segar. Saya duluan masuk yah, nanti kamu langsung masuk juga." Sepertinya Andre terlihat khawatir karena ia belum paham ada apa sebenarnya dengan Kharisa.


Kharisa pun pergi ke toilet dulu, untung saja ia membawa tas selempangnya, ada peralatan make up di dalamnya, jadi bisa sekalian touch up make up nya yang luntur karena air mata.


Ia masuk ke meeting room dan duduk di kursi paling belakang, acara masih diisi sambutan dari Direktur Rumah Sakit Setya Medika Pusat. Ia sedikit lega, bisa masuk tanpa menarik perhatian peserta lain, ia pun mulai menyimak apa yang tengah disampaikan, melupakan sejenak tentang papanya dan berkonsentrasi dengan tujuan awal ia datang ke tempat ini.


*****


Hari ini aku mengatur pekerjaanku seefisien mungkin, agar aku bisa pulang tepat waktu, karena aku ingin segera bertemu dengan jagoanku. Aku sudah berjanji pada Kharisa kalau hari ini dan besok aku akan menemani Rakha. Rakha pasti sedih ditinggal momynya, makanya aku harus segera menemaninya.


Satu per satu pekerjaanku telah kuselesaikan, sebagian ku delegasikan kepada stafku, tinggal meeting untuk koordinasi dengan Penanggung jawab Rawat Inap, Rawat Jalan dan IGD, setelah itu aku akan langsung menemui jagoanku. Semoga saja tidak ada meeting dadakan dengan direktur.


Dan syukurlah, tepat pukul satu siang aku bisa keluar rumah sakit. Aku langsung saja menuju rumah Kharisa untuk menemui Rakha yang pasti sedang menungguku, karena ia tau aku akan datang siang ini.


Ternyata benar ia sedang menungguku di teras, duduk di kursi dengan pandangan kosong, hingga tidak menyadari aku datang dan berada di sampingnya, entah apa yang ada di pikirannya.


"Halo....jagoanku lagi apa? Kenapa melamun?"


"Dady......." Rakha terlihat terkejut dengan kedatanganku. Ia langsung turun dari kursi lalu memelukku.


"Hey kenapa Boy?" Aku gendong tubuhnya, kupeluk dan kucium pipinya yang lembut.


"I miss you Dady." ujarnya sambil mengalungkan kedua tangannya di leherku.


"I miss you too."Kuusap kepalanya dengan penuh sayang. Hatiku berbunga-bunga mendangar Rakha merindukanku, senang, berarti dia telah merasakan keberadaanku dan mengharapkan aku disampingnya.

__ADS_1


"Kenapa Rakha sendirian di luar, Oma sama nenek dimana?" Aku duduk di kursi, Rakha duduk di atas pangkuanku, ternyata lama-lama berat juga menggendongnya. Jadi terbayang bagaimana dulu Kharisa menggendong Rakha, pasti ia menggendongnya kalau Rakha rewel, sementara aku melewatkan masa-masa itu. Aku cium lagi kedua pipi dan kening Rakha untuk menghilangkan rasa penyesalanku.


"Dady...jangan cium-cium telus, aku sudah besal." Rakha mengelap pipinya dwngan kedua tangannya membuatku tersenyum melihat tingkahnya yang tidak mau dikira anak kecil lagi.


"Siapa bilang Rakha sudah besar, Rakha masih anak-anak." ujarku, kucubit pelan dagunya dengan gemas.


"Momy bilang aku sudah besar kalena momy gak kuat lagi gendong aku." Ah ya tentu saja, badan Rakha termasuk bongsor dibandingkan dengan teman seusianya, pasti Kharisa sudah keberatan menggendongnya.


"Makanya Rakha jangan minta di gendong momy yah, biar Dady saja yang gendong Rakha, kalau Dady masih kuat gendong Rakha."


"Tapi kalau Dadynya gak ada gimana? Kalau aku ketidulan di kulsi, momy yang gendong aku mindahin ke kamal. Halusnya Dady tinggal saja di sini sama aku, bial Dady yang gendong aku ke kamal kalau aku ketidulan, temen aku sama ayahnya tinggal baleng, kenapa Dady gak tinggal di aini baleng aku sama momy ." ujar Rakha dengan polosnya, mungkin ia sudsh mengerti harusnya seorang ayah tinggal bersama dengan anak dan ibunya.


"Rakha mau Dady tinggal bareng sama Rakha sama Momy?" Tanyaku dengan semangat.


"Mau..mau..." jawabnya sambil menganggukan kepalanya.


"Nanti Rakha bilang sama Momy yah kalau Rakha ingin tinggal bareng sama Dady sama Momy. Oke...bisa kan bilang sama Momy."


"Bisa Dady." ia menganggukan kepalanya lagi.


"Giman coba bilangnya." Tantang Rafael.


"Momy aku mau tinggalnya baleng Momy sama Dady." Rakha mempraktekan ucapan yang diperintahkan dadynya.


"Good job my Boy."


"Eh Oma sama Nenek ada di dalam gak?" Aku baru sadar kalau aku belum menemui mama Kharisa.


"Oma di dapul lagi bikin kue, buat dikilim ke Abah, Nenek lagi nyeltika baju." Aku mengernyit saat Rakha menyebut nama Abah, siapa Abah, apa kakeknya Kharisa?


"Rakha mau gak ikut Dady ke Jakarta, jemput Momy? Dady mau ajak Rakha jalan-jalan trus besoknya jemput Momy, mau gak?"


"Mau...mau Dady. Yeeeaahhh aku mau jalan-jalan lagi sama Dady." Rakha turun dari pangkuanku, kemudian ia lompat-lompat kegirangan.


"Kita minta ijiin dulu sama Oma yah, trus siap-siap." Rakha pun menarik tanganku masuk ke dalam rumah. Aku pun senang melihatnya wajah bahagianya, tidak lagi cemberut seperti yang kulihat saat datang.


Ya, aku akan mengajak Rakha ke Jakarta dan memberi kejutan untuk Kharisa dengan menjemputnya, dia pasti swnang dinemput oleh Rakha. Semoga mama Kharisa mengijinkan.


bersambung....


Hai readerku tercinta, mohon maaf baru bisa up malam ini, karena ada kesibukan lain di dunia nyata😁 (alasan😡).

__ADS_1


Terima kasih yang sudah setia menunggu. Jangan bosan untuk like dan komen yah, yang punya vote mingguannya boleh tuh kirim buat Rakha aja deh, yang mau jemput Momynya ke Jakarta biar semangat. Hatur nuhun sadayana.🙏🤗


__ADS_2