
"Dady kenapa lama datangnya? katanya mau ajak aku jalan-jalan." Rakha langsung menyerbu dadynya saat melihat dadynya berdiri di teras rumahnya
"Wooww.....My boy, you look handsome and cool." Rafael mengangkat tubuh Rakha ke dalam gendongannya kemudian mencium kedua pipinya. "Hmm...wangi banget sih." Rafael terus mencium pipi kanan kiri Rakha bergatian, ia terlihat gemas dengan putranya.
"Dady tulun.. aku gak mau digendong, aku sudah besal....." Rakha menggerakan tubuhnya meminta turun.
"Tapi dady pengen gendong Rakha." Rasanya Rafael ingin sering menggendong putranya, sebelum nanti badannya bertambah besar, untuk mengganti masa-masa yang terlewatkan saat Rakha bayi, ya Rafael belum pernah merasakan menggendong Rakha saat bayi.
"Dady....tulun...." Akhirnya Rafael menurunkan putranya. Kemudian merapihkan baju putranya , putranya terlihat keren menggunakan celana jeans, t shirt yang dipadukan dengan rompi berbahan wol, rambutnya tersisir rapi menggunakan pomade yang sengaja dibelikan dadynya. Sepatu sneaker putihnya pun sudah ia kenakan.
"Mana Momy....She's ready to go?"
"Tadi Momy sudah siap, tapi nunggu Dady lama jadi ke kamal lagi." jawab Rakha merengut, ia juga tadi sudah bosan menunggu dadynya di kursi teras.
"Ayo panggil Momy, kita berangkat sekarang." Rakha pun masuk ke dalam rumah memanggil momynya. Rafael melihat jam di layar HPnya menunjukan pukul delapan lebih seperempat, padahal ia berjanji akan datang pukul tujuh pagi, rencananya Rafael akan mengajak Rakha jalan-jalan di kota Bandung, tentu saja mengajak Kharisa juga. Sekarang Kharisa sudah tidak menghindari Rafael lagi setelah dua minggu yang lalu Rafael memberitau kalau pertunangannya dengan Vania sudah dibatalkan, awalnya ia tidak percaya dan merasa bersalah pada Vania, namun setelah Vania juga menjelaskan, ia baru percaya. Sekarang malah hubungan Kharisa dan Vania semakin dekat. Mereka sering terlihat ngobrol bareng bila ketemu saat makan siang di kantin, saling menyapa akrab saat bertemu. Begitu pun hubungan Rafael dengan Vania, setelah statusnya tidak bertunangan lagi malah semakin akrab layaknya seorang teman, sahabat malah. Tidak ada yang tau kalau pertunangan mereka dibatalkan kecuali Kharisa dan Andre. Meita pun yang sahabat Vania taunya Rafael dan Vania masih bertunangan, malah ia merasa ikut bahagia melihat kedekatan sahabatnya dengan tunangannya.
"Kirain gak jadi berangkat." Terdengar suara Kharisa yang sudah berdiri di depan pintu, Rafael yang sedang membalas pesan di group yanmed menoleh ke sumber suara.
"Sory...tadi dari jam enam aku bantu di IGD dulu, ada kecelakaan di tol, sepuluh korban dibawa ke rumah sakit kita, dua dalam kondisi parah, makanya aku gak sempat hubungi kamu." Ternyata itu yang membuat Rafael datang terlambat. Begitulah Rafael, ia tidak akan membiarkan anak buahnya babak belur sendiri menangani pasien disaat dia memungkinkan untuk membantu. Ia baru saja selesai olah raga pagi, joging ke luar kingkungan rumah sakit, saat memasuki parkiran ia melihat di depan IGD ada dua buah ambulan membawa beberapa pasien, petugas rumah sakit dari mulai dokter jaga, perawat, sampai OB terlihat sibuk memindahkan pasien ke ruang IGD, dan ia pun langsung ikut membantu mendorong pasien sekaligus ikut membantu menangani pasien.
"Trus kita jadi berangkat?" Tanya Kharisa sambil melihat jam di tangan kirinya.
"Jadilah, lihat jagoan kita udah siap begitu masa dibatalin." Rafael melihat putranya yang telah siap berangkat menenteng tas gendongnya yang berisi perbekalannya.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang, aku pamit mama dulu." Kharisa masuk kembali ke dalam rumah menemui mamanya yang tengah berada di dapur.
"Aku juga, tadi belum ketemu mama." Rafael mengikuti Karisa, kini rumah Kharisa sudah seperti rumah kedua untuk Rafael, ia tidak merasa canggung lagi berada di sana, bahkan ke kamar mandi pun tidak mita ijin lagi. Setelah pamit, mereka pun berangkat menuju kota Bandung.
"Momy nanti kita mau ke lumah Khanza?" Tanya Raka saat mereka mulai memasuki kota Bandung. Anak kecil itu teringat teman bermainnya yang tak lain adalah keponakan Faisal.
" Nggak sayang, kita hanya jalan-jalan saja, katanya Rakha mau main trampolin?" Kharisa paham Rakha akan mengira kalau ke Bandung itu biasanya mereka mampir ke rumah Kang Farhan kakaknya Faisal.
"Telus nanti kita metemu Om Isal gak Momy?" Tanya Rakha lagi, Rakha taunya Om Isalnya itu tinggal di Bandung.
"Om Isal kan lagi pulang ke rumah Aki sama Enin." Kharisa mengingatkan Rakha, padahal kemarin Faisal sudah memberitahu Rakha kalau ia tidak bisa menemuinya.
"Yaaah gak ketemu Om Isal deh." Rakha terlihat kecewa. Rafael memperhatikan putranya yang duduk di belakang dari kaca spion dengan perasaan tidak suka. Sampai saat ini walaupun hampir setiap hari bertemu Rakha, tetap saja ia belum bisa menggantikan posisi Faisal di hati Rakha. Begitu pun dengan Kharisa, masih saja intens kontak dengan laki-laki yang ditakutkan menjadi saingannya, buktinya Kharisa sampai tau kalau hari ini Faisal sedang pulang ke rumah orang tuanya berarti sebelumnya mereka saling berkomunikasi.
Saat ini Kharisa memang tidak pernah menjauhi Rafael lagi, tapi saat Rafael membahas hubungan mereka, Kharisa selalu saja mengalihkan pembahasan. Saat Rafael bicara serius ingin menjalin lagi hubungan serius sebagai orang dewasa, bukan hubungan percintaan kaum remaja, Kharisa menjawabnya belum siap, ia ingin berjalan seperti ini dulu. Rafael merasakan Kharisa banyak sekali pertimbangan. Tentu saja karena Kharisa ingin kehidupan ke depannya berjalan tenang. Saat ini masih ada PR yang harus ia selesaikan yaitu menyatukan kembali mama dan papanya. Ia dan Rendi, kakaknya memang sudah merencanakan untuk mempertemukan mama dan papanya di acara pernikahan Rendi dua minggu lagi.
"Kita mampir ke rumah Bang Andre dulu." ujar Rafael saat mobil mereka tengah berada di jalan layang Pasupati.
__ADS_1
"Hah...? Kamu gak bilang sebelumnya mau ke rumah Bang Andre, memangnya Pak Andre pulang ke Bandung?" Sepertinya Kharisa enggan untuk mampir ke rumah atasannya, lagi pula untuk apa ia datang ke sana, di rumah sakit juga ketemu tiap hari.
"Aku ingin ngenalin Rakha ke saudara aku, boleh kan?" Rafael menoleh, wajah Kharisa tampak merengut.
"Biar Rakha kenal sama saudara-saudaranya, selama ini kan taunya keluarganya itu cuma kamu, mama, sama Wa Dini, keluarga dadynya belum dia kenal, malah lebih kenal sama orang lain."
"Orang lain?" Kharisa nengerutkan keningnya.
"Ya itu, yang tadi ditanyain Rakha, sama siapa itu Aki, Enin....." Rafael selalu enggan menyebut nama Faisal, ia benar-benar menganggap Faisal sebagai saingannya.
"Dia bukan orang lain, dia sudah seperti keluarga bagi aku dan Rakha." Bantah Kharisa.
"Iya...iya...keluarga ketemu gede." Balas Rafael sedikit menyindir.
"Ck..." Karisa memalingkan wajahnya ke jendela di sampingnya, malas menanggapi lagi, ia tau kalau Rafael tidak suka melihat kedekatannya dengan Faisal, tapi Kharisa tidak mungkin menjauhi Faisal, baginya Faisal sudah seperti kakaknya, tempatnya mencurahkan keluh kesahnya dan selalu bisa membuat hatinya tenang.
"Dady kita mau ke lumah Om Andle? Yeeaaah mau ketemu Om Andle lagi." Rupanya Rakha mendengar obrolan momy dan dadynya.
"Yap, nanti di sana ada Oma, ada Opa juga, sama ada tante Anggi, nanti Rakha kenalan sama tante Anggi yah." Jawab Rafael senang melihat Rakha yang antusias bertemu saudara sepupunya. Rakha memang lebih mudah dekat dengan laki-laki dewasa dibandingkan dengan perempuan, mungkin karena sejak bayi terbiasa dekat dengan sosok Faisal.
Tiba di rumah Andre di daerah Dago, mereka disambut oleh Andre dan keluarganya. Papa dan Mamanya Andre sangat ramah bahkan berusaha mendekati Rakha dan memperlakukan seperti cucunya, mereka sudah tau bagaimana kisah Rafael, Kharisa dan Rakha, tentu saja Andre yang menceritakan. Dan mereka tidak menyangka kalau adiknya sendiri yang tega menyembunyikan keberadaan Rakha.
Dari rumah Andre mereka menuju Paris Van Java, sesuai keinginan Rakha ingin bermain di Play Zone tapi yang ada trampolinnya. Setelah gooling, mereka menemukan tempat bermain yang cocok sesuai keinginan Rakha, tempatnya ada di PVJ Paris Van Java di daerah Sukajadi atas.
Tidak hanya bermain, setelah shalat dan makan Faisal mengajak Kharisa dan Rakha belanja keperluan Rakha.
"Gak usah beli baju El, baju Rakha masih banyak yang bagus-bagus." Tolak Kharisa saat mereka berada di kids fashion store.
"Aku baru sekali beliin Rakha baju." Ujar Rafael sambil memilih beberapa baju yang cocok untuk putranya, Kharisa sejak tadi hanya melihat-lihat tapi enggan untuk memilihnya.
"Ini bagus gak...?" Rafael memperlihatkan kemeja bermotif pesawat. Kharisa hanya menganggukan kepala. Rafael pun memilihnya, memasukannya ke dalam kantung plastik berisi beberapa baju dan celana yang telah dipilihnya.
"Kamu ingin beli apa?" Tanya Rafael pada Kharisa.
"Nggak ada." Jawab Kharisa sambil menggelengkan kepalanya.
"Perasaan dulu, kamu paling seneng belanja. Ayo kamu butuh apa, aku yang traktir."
"Gak ada.... kalau udah selesai kita pulang saja, Rakha kayanya udah kecapean." Rakha terlihat berjalan gontai dituntun Rafael. Tenaganya sudah habis di tempat bermain, lompat- lompat di trampolin, climbing, bersepeda, mandi bola, pantas saja kalau sekarang kecapean.
"Aku beliin sepatu atau tas buat kamu yah, nanti Rakha aku gendong." Rafael memasuki outlet sepatu yang juga menyediakan tas wanita. Kharisa hanya bisa mengikutinya.
__ADS_1
"Kamu pilih mau yang mana? Kalau nggak aku yang pilihin."
"Aku bilang gak usah El." Kharisa keukeuh menolak.
"Ayolah Sa, anggap ini hadiah dari aku untuk wanita yang telah merawat anakku. Kamu pilih tas sama sepatunya yah, setelah ini kita pulang. Aku nunggu di kursi itu sama Rakha." Rafael menuntun Rakha meninggalkan Kharisa yang diam mematung, akhirnya Kharisa memilih sebuah tas dan sepatu dengan warna senada, karena Rafael tidak bisa dibantah. Dengan ragu ia menunjukan tas dan sepatu pilihannya kepada Rafael, sudah lama ia tidak membeli barang-barang branded, ia ragu apakah barang yang dipilihnya tidak kemahalan, tapi ia tadi memilih yang harganya tidak terlalu mahal, karena barang -barang di sana memang harganya lumayan mahal bagi Kharisa saat ini. Rafael pun membawanya ke kasir untuk membayarnya.
Setelah puas jalan-jalan di PVJ mereka pun kembali ke kota tempat tinggal mereka saat ini. Rakha benar-benar kelelahan, tidak lama berada di dalam mobil ia langsung merebahkan tubuhnya dan tertidur pulas di kursi penumpang belakang
Sepanjang perjalanan di jalan tol Kharisa dan Rafael tidak banyak bicara, Kharisa lebih memilih menghadap ke jendela di samping kirinya dengan tangan bersedekap di atas perutnya sambil mencerna ucapan Rafael sebelum mobil mereka memasuki jalan tol.
Tadi saat memasuki jalan Pasteur jalanan lumayan padat dengan kendaraan roda empat yang akan memasuki pintu tol Pasteur, pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi di hari Minggu. Kendaraan pun beberapa kali sampai berhenti total sampai lebih dari sepuluh menit, di saat itulah Rafael memanfaatkan kesempatan untuk bicara dengan Kharisa.
"Sa......" Rafael meraih tangan Kharisa. Sontak saja membuat Kharisa terkejut dan menarik tangannya, sayangnya pegangan tangan Rafael begitu kuat kuat hingga ia tidak bisa melepaskannya.
"Lepas El, jangan seperti ini." Kharisa masih berusaha menarik tangan kanannya.
"Kenapa sih Sa, aku hanya ingin pegang tangan kamu, aku gak akan ngapa-ngapain." Kini Rafael malah menggenggam dengan kedua tangannya.
"Kita bulan mahram El, gak boleh seperti ini."
"Ck.....masa pegang tangan saja gak boleh."
"Emang gak boleh El, lepasin...." Kharisa menatap tajam Rafael.
"Ssttt....jangan keras-keras nanti Rakha bangun."
"Makanya lepas El..." Akhirnya Rafael melepaskan genggaman tangannya.
"Kalau gitu ayo kita jadi mahram, kita temuin papa kamu, aku siap ngelamar kamu, statusku sekarang bukan tunangan siapa pun, bukankah itu dulu yang menjadi alasan kamu nolak aku, sekarang tidak ada lagi alasan untuk menolak bukan?" Tanya Rafael dengan percaya diri. Kharisa hanya diam, ia tidak menyangka Rafael akan membahas ini lagi, setelah sebelumnya Kharisa selalu menjawab belum siap.
"Kenapa diam? Apa masih ada alasan lain yang membuatmu menolak aku...pasti laki-laki itu yang membuatmu berat ngambil keputusan nerima aku, kamu menyukai dia?" Nada Rafael terdengar penuh kecemburuan.
"Bukan gitu El......aku hanya ingin menyelesaikan dulu urusan dengan keluargaku, aku juga belum yakin apa ibumu nerima aku atau menolakku."
"Sa kalau mami aku belum bisa nerima kamu, aku akan berjuang dengan cara apapun agar mami nerima kamu, sekarang mami telah menerima Rakha sebagai cucunya bahkan ia bisa menyayangi Rakha, aku yakin nantinya mami akan nerima kamu juga, yang penting kitanya dulu memperjelas hubungan kita." Kharisa masih diam mendengarkan ucapan Rafael
"Coba kamu pikirkan baik-baik, pikirkan Rakha, mau sampai kapan kita seperti ini, walaupun kamu tidak membatasiku bertemu Rakha tapi tetap saja akan lebih baik kalau kita bisa bersama-sama menemani dia, mendidik dia, dia pasti akan lebih bahagia kalau kita bisa tinggal bersama."
Dan selama di perjalanan Kharisa memikirkan ucapan Rafael. Ia pun sebenarnya tidak ingin menunda-nunda, tapi entah kenapa masih ada keraguan dihatinya belum mantap menerima Rafael.
bersambung
__ADS_1