
"Sal...." Seseorang menepuk bahu Faisal, membuatnya menoleh ke belakang.
"Ya Mas......" Ternyata Rendi kakaknya Kharisa, ia duduk di kursi sebelah Faisal. Mereka duduk di area VIP yang disediakan untuk tamu undangan khusus. Tampak Rakha dan Khansa duduk di depan Faisal, terhalang meja bundar tengah asyik menikmati es krim dan sosis panggang sambil saling bercerita, entah apa yang mereka bicarakan, terlihat seru, sesekali mereka tertawa cekikikan.
"Mana gandengan kamu?" Tanya Rendi, ia mencomot cake yang ada di meja yang disediakan Faisal untuk dua keponakannya.
"Belum kepikiran Mas, mau kejar karir dulu."
"Yaaah....gak seru, sambil dong, jalan dua-duanya, buat penyemangat." Faisal hanya nyengir menanggapi ucapan Rendi. Jelas prinsipnya berbeda dengan kakaknya Kharisa. Baginya tidak ada istilah pacaran atau tunangan. Kalau memang nanti dia sudah siap nikah, ia akan ikhtiar mencari pasangannya melalui ustad atau mungkin keluarganya, lalu taaruf, kalau cocok langsung dilamar lalu nikah, seperti itu rencananya, tapi tidak sekarang. Sekarang ia akan fokus dengan karirnya, fokus pada impiannya mendapatkan beasiswa S2 di luar negeri. Tidak mungkin juga ia mendahului kakak perempuannya Fakhira yng belum menikah, ia harus menjaga perasaan kakaknya yang beberapa waktu lalu gagal menikah.
"Kamu itu tampan, baik, pinter, pasti banyak gadis yang suka sama kamu kan? Aku kalau punya adik perempuan satu lagi akan aku jodohkan sama kamu." Sambung Rendi, sepertinya ia memang menyukai Faisal, bahkan kalau Kharisa memilih Faisal ia akan mendukungnya.
"Mas terlalu berlebihan, aku masih banyak kekurangannya Mas." Ujar Faisal sambil terkekeh. Faisal merasa masih jauh dari kriteria laki-laki yang mendekati sempurna, apalagi secara materi.
"Itu yang aku suka dari kamu, selalu rendah hati. Eh Sal pokoknya nanti kalau kamu nikah kabari aku yah, ada kado spesial untukmu."
"Ha...ha...ha...masih lama Mas."
"Hey, siapa yang tau, tahun depan kamu nyusul Kharisa." Rendi beranjak dari duduknya. Faisal terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
"Oke, aku mau cari istriku dulu, dari tadi dia hunting makanan terus. Yok Sal, sukses yah, jangan lupa kabarin."
"Siap Mas." Faisal mengacungkan jempolnya, pandangannya mengikuti arah Rendi sampai menghilang, kemudian netranya berhenti di pelaminan. Terlihat Kharisa dan Rafael yang masih terlihat sibuk menerima ucapan selamat daei tamu undangan, wajah mereka terlihat bahagia. Sesekali terlihat Rafael membisikan sesuatu pada Kharisa, Kharisa pun terlihat tertawa. Segurat senyum terbit di bibir Faisal saat melihat Kharisa tertawa bahagia.
Sementara Fakhira tampak tengah menemani ibunya mengantri prasmanan, ibunya ingin makan nasi untuk mengisi perutnya, katanya kalau belum makan nasi serasa belum makan walaupun sudah mencicipi hidangan lain untuk mengganjal perutnya yang lapar. Ia terlihat mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang yang sejak tadi tidak dilihatnya.
Apa dia tidak menghadiri acara resepsi adiknya? Apa dia sudah kembali ke Amerika?
Fakhira menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh yang ada di benaknya. Kenapa ia jadi mencari orang yang justru ingin dihindarinya? Dan kenapa malah orang itu selalu diingatnya?
Wa Dini melambaikan tangan ke arahnya, ia pun mengajak ibunya menuju tempat VIP dimana Wa Dini berada.
" Duduk sini aja....nih bareng anak-anak." Ternyata Wa Dini duduk satu meja dengan Faisal dan dua bocah yang masih asyik saja berceloteh, sesekali faisal menimpali menggoda dua keponakannya. Ada dua kursi kosong di sana, Fakhira dan ibunya pun duduk lalu menikmati makanan mereka.
Di area VIP itu tampak juga keluarga dari Rafael, ada Andre dan keluarga yang lainnya, termasuk direktur rumah sakit yang tak lain adalah om nya, adik bungsu dari ayahnya Andre juga papinya Rafael.
"Dre....kamu lihat gadis berhijab yang duduk di meja tempat Rakha, kamu tahu siapa dia?" Sang direktur menyenggol lengan Andre yang duduk di sebelahnya. Andre pun menoleh ke arah meja dimana Rakha berada.
"Yang pasti keluarga Kharisa, cuma siapanya aku gak tau, pas akad nikah juga dia ada, sepupunya mungkin. Kenapa Om? Jangan bilang Om naksir dia. Kalau iya Om harus ngaca dulu."
"Ciiih....kamu itu, belum apa-apa sudah menurunkan semangatku untuk menikah. Katanya disuruh cepat nikah, giliran mau cari calon istri kamu mematahkannya."
"Ha..ha..ha..ya iyalah Om, kalau yang mau Om dekati adalah gadis itu, sebaiknya Om introspeksi dulu. Gadis itu tidak hanya cantik, tapi terlihat sholehah, mana mau sama laki-laki player seperti Om, aku pun pasti akan memperingati gadis itu untuk berhati-hati sama Om, gak tega aku."
"Ish ....awas saja kamu menghalangi aku mendekati dia. Gini-gini juga kalau untuk istri aku ingin dapat wanita baik-baik, siapa tau dia mau membantuku menjadi laki-laki yang baik. Ada kan contohnya seorang laki-laki brengsek, penjahat lagi, jodohnya wanita sholehah, akhirnya laki-lakinya taubat dan jadi orang baik. Nah siapa tau aku juga seperti itu."
"Ha...ha...akhirnya ngaku jadi laki-laki brengsek." Sang keponakan terlihat puas menertawakan Om nya.
"Sst....sudah, sekarang kamu panggil anaknya Rafael ke sini, aku kan belum kenal sama dia."
"Sekalian yang di depannya panggil ke sini." Canda Andre
"Ish...ngeyel, cepetan."
__ADS_1
"Hai Rakha....wah lagi asyik nih sama gadis cantik, siapa namanya?" Sapa Andre setelah ia berada di samping Rakha. Sebelumnya Andre menganggukan kepala sambil tersenyum kepada tiga orang dewasa yang duduk di sana.
"Om Andle......ini sahabatku, namanya Khansa." Jawab Rakha dengan suara kencang karena suara musik di ruangan itu nengalahkan suaranya. Saat ngobrol dengan Khansa pun suaranya dikeraskan.
"Nama yang cantik sama kaya orangnya." Khansa yang memang anak dengan percaya diri tinggi tersenyum bangga.
"Kata Uma, Abi yang ngasih nama Khansa karena sejak lahir hidungku mancung, dan Abi ingin aku jadi anak yang baik." Celoteh gadis kecil yang membuat Andre gemas. Nenek, om dan tantenya hanya senyum-senyun mendengar ucapan Khansa, entah yang ke berapa kali mereka mendengar penjelasan nama Khansa.
"Oh iya Rakha, Om mau ngenalin Rakha sama Opanya Rakha, ke sini sebentar yuk."
"Opanya aku?" Tanya Rakha heran, soalnya yang ia tau sudah punya dua Opa, sekarang ada Opa yang lain.
"Iya, tuh...." Andre menunjuk ke arah Omnya yang duduk tidak jauh dari tempat mereka. Rakha pun turun dari duduknya, mengikuti langkah Andre.
"Ini Opa nya Rakha, namanya Opa Dirga." Ujar Andre sambil duduk di kursi, sementara Rakha menatap heran laki-laki yang duduk di depannya. Laki-laki itu tidak terlihat tua, itu yang membuat Rakha heran. Ya usia Opa Dirga memang masih bisa dikatakan muda, namun usia yang termasuk matang untuk ukuran laki-laki, 35 tahun, beda tujuh tahun dengan Andre.
"Apaan Opa....Om, panggil Om ya Rakha." Bantah Om Dirga, tidak mau dipanggil Opa, berasa tua.
"Sama aku manggil Om, jadi sama Om ya manggilnya Opa dong."
"Ini pengecualian karena opanya belum tua, jadi panggil Om saja ya Rakha." Rakha terlihat bingung harus memanggil opa atau om. Namun ia meraih tangan opa yang ingin disebut Om, lalu mencium punggung tangannya. Anak yang sholeh.
Ternyata opa Dirga ini punya maksud tertentu mendekati Rakha, ia ingin mengetahui siapa gadis yang tadi dibicarakannya dengan Andre yang tak lain adalah Fakhira. Dan Dirga salah sasaran, karena Rakha tidak banyak mengetahui siapa Fakhira, namanya juga anak-anak. Ia hanya tahu kalau Fakhira adalah saudaranya.
"Wa Ila tinggal di lumahnya sama aki sama enin." Jelas Rakha, ia tidak bisa menjelaskan dimana rumah tempat tinggalnya.
"Rumahnya dimana?" Rupanya Dirga penasaran, sepertinya ia seriis ingin mendekati Fakhira.
"Rakha mau kembali ke sana? Ayo Om antar." Ternyata Dirga benar-benar tidak mau dipanggil Opa. Rakha pun menganggukan kepalanya. Dirga meninggalkan mejanya juga Andre yang sedang menerima panggilan telphon.
"Selamat siang...." Sapa Dirga saat ia berada di meja tempat duduk Rakha tadi. Ia menganggukan kepala dengan senyum di bibirnya.
"Saya Om nya Rakha....eu maksudnya Om nya Rafael, adik dari ayahnya." Ia mengulurkan tangannya bersalaman dengan Faisal dan ibunya, nanun saat mengulurkan tangan pada Fakhira, Fakhira tidak menyambutnya, hanya menangkupkan kedua tangan di dadanya, menatap sekilas Dirga dengan wajah ramah, kemudian menundukan kepalanya.
"Nama saya Dirgantara, biasa dipanggil Dirga."
"Saya Faisal, ini ibu saya dan itu kakak saya Fakhira. Duduk Mas....Rakha sini sama Om Isal duduknya." Kursi di sana hanya ada lima kursi yang sudah terisi. Rakha pun beranjak hendak menuju Faisal, namun Fakhira meraihnya. " Sama Wa Ira saja sini." Akhirnya Rakha duduk dipangku Fakhira.
"Maaf saya jadi mengganggu yah." Dirga duduk di kursi yang kini kosong di sebelah Fakhira.
"Nggak lah Mas, malah senang jadi kenal dengan keluarga dari Rafael." Ujar Faisal, ia memang humble, senang berinteraksi dengan orang lain. Dan terjadilah obrolan diantara mereka, tepatnya antara Faisal dan Dirga. Dirga mulai bertanya hubungan kekerabatan Faisal dengan Kharisa. Fakhira sendiri asyik bercanda dengan dua bocah keponakannya.
"Rakha nih Om Richan, mau bicara sama Rakha." Tiba-tiba Andre menghampira Rakha, ternyata ia sejak tadi ia menerima panggilan telphon dari sepupunya yang sudah kembali Amerika. Richan tadi menghubungi maminya, tapi tidak diangkat, jelas saja karena sedang menerima tamu undangan, lalu ia menghubungi Andre untuk menanyakan jalannya acara resepsi adiknya yang tidak bisa ia hadiri karena harus kembali bekerja, masa cutinya sudah habis.
"Mana Om Lichan...." Rakha terlihat antusias menerima HP milik Andre. Ternyata mode nya sudah berubah menjadi vidio call.
"Hallo Rakha, how are you?" Sapa Richan, wajahnya terlihat di layar. Fakhira yang posisinya di belakang Rakha sempat melihat wajah itu, wajah yang sejal tadi dicarinya, namun segera memalingkan mukanya agar wajahnya tidak terlihat oleh Richan.
"Hallo Om Lichan.....Om Lichan lagi dimana? kenapa gak ada di sini?"
"Om sudah balik lagi ke Amerika, Om kan harus kerja, liburannya sudah selesai." Jawab Richan di sebrang sana, sepertinya ia sedang afa di apartemennya, duduk bersandar di sofa.
"Yaaahhh...tadi di sini selu loh, ada lengsel, kakek-kakek ompong, lucu, tapi aku takut...hi...hi...." Rakha tertawa menutup mulutnya dengan satu tangannya me gingat tadi ia ketakutan dijembel pipinya.
__ADS_1
"Mommy sama Daddy sepelti putli dan laja, Om gak lihat sih."
"Iya Om sedih nih di sini sendirian." Richan memasang wajah sedih, padahal pura-pura. Entah kenapa setiap bertemu Rakha dan ngobrol dengan keponakannya itu ia jadi banyak bicara, padahal biasanya ia irit bicara, bahkan dikenal laki-laki dingin.
"Makanya Om keljanya jangan jauh-jauh, di sini aja. Daddy aku juga sekalang gak jauh lagi."
"Iya nanti Om pulang deh. Eh Rakha itu lagi sama siapa?" Sepertinya tadi Richan tidak terlalu memperhatikan yang di belakang Rakha, padahal wajah Fakhira sempat muncul di layar HPnya.
"Aku dipangku Wa Ila."
"Wa Ila?" Richan mengerutkan keningnya.
"Iya Wa Ila, niiih. Wa Ila ini ada Om Lichan." Rakha mengarahkan layarnya ke depan wajah Fakhira. Fakhira terlihat kaget, wajah Richan begitu jelas dilihatnya. Jantungnya pun berdebar lebih cepat, padahal ia baru saja menenangkan debaran jantungnya. Entah kenapa setiap melihat Richan, jantungnya langsung berdebar. Padahal ia selalu menjaga hatinya terhadap lawan jenis.
"Oh Fakhira....apa kabar?"Richan tersenyum melihat Fakhira dari layar HPnya.
"Eh...iya....baik." Jawab Fakhira gugup.
"Acara resepsinya ramai yah?"
"I...iya."
"Sayang, aku harus kembali kerja."
Fakhira bergeming, ingin rasanya ia bertanya pada Richan, tapi ia menahanya, tidak ingin terkesan sok akrab.
Dirga yang sejak tadi ngobrol dengan Faisal namun menguping obrolan Fakhira terlihat mengernyit mendengar suara
keponakannya mengucapkan kata 'sayang aku harus kembali kerja'. Suara Richan terdwngar jelas di telinganya, bahkan ia sempat melirik ke arah ponsel yang dipegang Rakha.
Ada hubungan apa Richan dengan Fakhira? Tanyanya dalam hati. Sepertinya ia salah persepsi, kata sayang disangkanya panggilan untuk Fakhira.
Tenang saja, tidak mungkin mereka ada hubungan apa-apa, bukankah Richan itu jeruk makan jeruk? Batin Dirga, ia sedikit merasa lega.
Terdengar suara MC memanggil keluarga mempelai untuk berfoto bersama di pelaminan dengan pengantin.
Seorang petugas WO mendatangi mereka mengarahkan agar segera menuju pelaminan. Tanpa banyak bicara mereka pun meninggalkan meja VIP berjalan menuju pelaminan.
Tampak keluarga besar Kharisa dan Rafael tengah mengantri untuk berfoto bersama pengantin. Sudah diatur oleh pihak WO siapa saja yang akan berfoto bersama, sehingga acara foto bersama bisa cepat dilaksanakan mengingat tamu undangan masih banyak yang ingin mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
Karyawan rumah sakit Setya Medika pun mendapat giliran berfoto bersama pengantin tiap divisinya.
Arjuna naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat, juga untuk berfoto bersama. Sudah ada dokter Keanu dan empat dokter lannya.
"Selamat dokter Rafael, semoga langgeng pernikahannya." Ucap dokter Arjuna sambil menyalami Rafael, kemudian beralih pada Kharisa .
"Selamat ya Neng. Semoga sakinah , mawadah, warohmah. Ini benar-benar surprise." Arjuna tersenyum getir, hatinya merasa kecewa, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Merasa langkahnya mendekati Kharisa memang terkesan lambat karena belum yakin dengan perasaannya juga masih ada cerita masa lalu yang bersemayam di hatinya.
bersambung
Hai readerku tercinta, up lg nih, walau telat, semoga selalu maklum🤗
Terima kasih atas kesabarannya menanti, jangan lupa like yah, komen jg dong😁
__ADS_1