
Musim hujan tahun ini sepertinya belum akan berganti dengan musim kemarau, beberapa tahun ini memang mengalami pergeseran waktu musim, kalau dulu bulan Januari itu sudah mulai pergantian ke musim kemarau, tapi beberapa tahun kemarin juga tahun ini justru di bulan Januari sedang tinggi-tingginya curah hujan. Entah apa penyebabnya, mungkin karena faktor pemanasan global juga faktor lainnya, atau karena mengikuti bergesernya tahun baru Imlek? Entah memang begitu ketentuannya atau suatu kebetulan, tahun baru Imlek identik dengan turunnya hujan. Bila turun hujan lebat pada hari Imlek tahun itu akan penuh keberkahan, itu keyakinan dari sebagian besar orang keturunan Cina.
Seperti sore ini hujan turun dengan lebatnya, waktu sudah menunjukan pukul setengah enam, baru saja Kharisa akan pamit pulang pada Vania tiba- tiba hujan turun tanpa memberi tanda-tanda sebelumnya.
Kharisa dan Vania baru saja selesai berbicara dari hati ke hati di messnya. Kharisa semakin kagum dengan sosok Vania yang dengan ikhlas menerima takdirnya kalau Rafael bukan jodohnya.
"Kamu jangan merasa bersalah seperti itu Kharisa, aku sungguh tidak apa-apa. Aku malah senang mendengar kalian sudah menikah, beneran aku ikut bahagia." Ujar Vania sambil menggenggam tangan Kharisa. Kharisa baru saja menceritakan kalau kemarin ia telah melangsungkan akad nikah dengan Rafael, di luar rencana mereka hingga tidak memberitahu banyak pihak termasuk Vania. Ia pun minta maaf karena tidak memberitahu Vania, dan pasti akan mengundangnya di acara resepsi bulan depan.
"Tenang saja, tidak ada sedikit pun sakit hati yang aku rasakan, yah awal-awal mungkin ada rasa kecewa tapi sekarang aku sangat berharap kalian bahagia, juga Rakha. Anak kamu pasti senang sekarang bisa bersama ayahnya." Ucap Vania tulus. Kharisa tertegun dengan ucapan Vania.
"Mungin karena aku belum terlalu dalam mencintai Rafael, mungkin juga belum cinta hanya rasa suka. Wanita mana sih yang tidak akan suka sama Rafael, kalau ditawarkan untuk dijodohkan sepertinya sayang untuk ditolak, walaupun tidak cinta....he...he...he...Sepertinya kamu harus benar-benar menjaga suamimu dengan baik Kharisa. Di luar sana pasti banyak yang menggodanya." Vania terkekeh dengan ucapannya, tapi sepertinya ia berkata jujur, Rafael memang memiliki pesona hingga ia pun tidak menolak saat dijodohkan. Dalam hatinya Kharisa mengakui, memang waktu masa SMA juga banyak yang terang-terangan mendekati Rafael.
Hati Kharisa terasa plong, ia bisa pulang dengan tenang, sayangnya hujan baru saja mengguyur dengan derasnya. Tentu saja Vania menyuruhnya menunggu hingga hujan reda, apalagi Kharisa pulang dengan menggunakan motornya.
"Kalau mau pulang bareng Rafael saja, dia masih di rumah sakit kan?"
"Eh Rafael pulang ke rumah kamu kan, tidak nginap di mess?" Pertanyaan Vania membuat wajah Kharisa merona.
"Eh..oh..iya Mbak." jawab Kharisa gugup.
"Gak usah gugup gitu....he...he..." Kekeh Vania. "Aku nanya karena takutnya kalian kan menyembunyikan status kalian sampai tinggal pun masing-masing, syukurlah kalau kalian tinggal bareng, gak baik suami istri tinggal terpisah, kecuali kepepet." Kekehnya lagi.
"Ya sudah pulang bareng Rafael saja, nanti aku antar kamu ke mobilnya, jadi kalau ada yang lihat mereka tau kamu bareng Rafael sepengetahuanku, kecuali kamu mau nunggu hujan sampai reda." Ujar Vania meyakinkan.
Kharisa mengeluarkan HPnya untuk menghubungi Rafael, baru saja membuka layarnya HPnya berdering, ada panggilan masuk dari Rafael, Kharisa langsung membukanya.
"Sa, kamu masih di tempat Vania?" Langsung terdengar suara Rafael tanpa mengucapkan salam.
"Ya aku masih di tempat Vania." Jawabnya.
"Jangan pulang dulu, hujannya deras banget. Kecuali mau pulang sekarang bareng aku."
"Ya udah aku pulang bareng kamu, kamu pulang sekarang kan." Kharisa merasa tidak enak kalau lama-lama di mess Vania, takut mengganggu mungkin mau istirahat.
__ADS_1
"Aku ke luar sekarang, mobilnya aku deketin ke mess Vania."
"Ya udah aku tunggu." Obrolan pun diakhiri.
"Aku pulang bareng Rafael sekarang, takutnya hujannya lama redanya." Ujar Kharisa pada Vania.
"Ya itu lebih baik, dari pada kamu pulang pake motor, nanti aku anter sampai kamu masuk mobil Rafael."
"Terima kasih banyak ya Mbak." Rasanya ucapan terima kasih Kharisa tidak akan cukup untuk membalas segala kebaikan Vania. Vania menganggukan kepalanya dengan senyum tulus di bibirnya.
Tidak berapa lama kemudian terdengar suara klakson mobil di depan mess Vania, dengan lampu depan mobil menyala terang.
Kharisa bersama Vania keluar dari ruang tamu, mereka berjalan ke arah mobil Rafael dalam naungan payung besar yang dipegang Vania. Kharisa segera masuk dan duduk di kursi penumpang di sebelah Rafael.
"Makasih ya Mbak, maaf merepotkan." Ucap Kharisa setengah berteriak sebelum menutup pintunya.
"Iya sama-sama, hati-hati El." Ujar Vania setengah berteriak juga. Rafael melambaikan tangannya tanpa membuka jendela karena hujan masih cukup deras. Vania bisa melihatnya dari kaca depan, ia pun membalas lambaian tangannya. Kemudian segera masuk ke dalam messnya setelah mobil Rafael berlalu.
Ternyata di dalam sebuah mobil yang sedang terparkir di area parkir karyawan ada seseorang yang memperhatikan aktivitas di depan mess Vania. Dengan membalikan badannya, dari kaca samping mobilnya ia bisa melihat jelas Kharisa diantar Vania masuk ke dalam mobil Rafael. Mobil itu pun meninggalkan parkiran setelah mobil Rafael melaju menuju gerbang keluar area rumah sakit.
"Kenapa lurus? Mau kemana?" Saat di perempatan lampu merah Rafael tidak membelokan mobilnya ke arah jalan menuju rumah Kharisa. Tapi kurus ke arah kota.
"Kita sekalian makan malam dulu, sekakian shalat maghrib, di rumah juga gak ada untuk makan malam kan? Ada tempat makan yang rekomended gak?"
"Gak apa-apa gitu kita keluar bareng? Kalau ada yang lihat atau ketemu karyawan rumah sakit gimana?" Kharisa terlihat ragu, ia tidak ingin dulu orang lain mengetahui hubungannya dengan Rafael, bukan apa-apa ia hanya tidak ingin mendengar orang lain membicarakannya atau menuduhnya pelakor.
"Hujan gede gini orang akan malas keluar rumah Sa, apalagi pulang kerja mending istirahat di rumah." Jawab Rafael, dalam hati Kharisa mengiyakan, hujan besar begini orang akan memilih berada di rumah. Dan semoga ia tidak bertemu dengan orang yang dikenalnya.
"Makan steak mau gak? Di depan sana ada cafe, steaknya enak." Kharisa teringat cafe tempat ia makan bareng dengan Faisal, juga saat makan bareng dengan rekan satu divisinya, steak di sana lumayan enak.
"Boleh, ada musholanya kan?" Kharisa merasa senang Rafael menanyakan mushola berarti ia ingat kewajibannya untuk melaksanakan shalat, Bisa dilihat memang Rafael mengalami banyak perubahan, menjadi lebih taat menjalankan ibadahnya, ini yang Kharisa harapkan.
Setelah sampai di tempat parkir cafe, Rafael lebih dulu keluar dengan membawa payung yang memang disimpan di mobilnya. Mereka berdua berjalan ke dalam cafe, tanpa disadari tangan Rafael merangkul bahu Kharisa membuat tubuh mereka berdekatan, bahkan menempel. Kharisa pun membiarkan karena ia pun tidak ingin basah terkena air hujan, karena payung yang mereka gunakan tidak terlalu besar.
__ADS_1
Mereka memesan makanan dan minuman lalu menuju mushola untuk melaksanakan shalat maghrib. Benar saja dalam kondisi hujan seperti ini, cafe itu terlihat sepi, hanya ada satu dua pengunjung yang tengah menikmati minuman hangat untuk menghangatkan tubuh mereka.
Selesai shalat magrib mereka duduk di tempat yang berada di sudut ruangan, tidak lama kemudian pesanan mereka datang, dua porsi sirloin steak dan lemon tea hangat menu ynag mereka pilih untuk makan malam.
"Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini, makan bareng kamu, jalan bareng seperti dulu, hanya berdua, aku dan kamu." Ujar Rafael disela-sela makannya.
"Ingat, sekarang ada Rakha diantara kita, gak mungkin kita hanya berdua pergi kemana-mana." Kharisa ingat putranya yang selalu berada di dekatnya. Belum sehari ia berpisah, sudah kangen dengan bocah menggemaskan itu.
"Pastinya, aku juga gak mungkin mengabaikan dia, bahkan aku ingin ngajak dia jalan-jalan setiap hari liburnya. Tapi quality time kita berdua juga penting, kita harus atur waktu untuk kita berdua, hanya ada aku dan kamu. Kamu setuju kan?" Kharisa tidak menjawab, ia asyik menikmati steak yang terasa enak di mulutnya.
"Pokonya nanti kita atur waktunya, itung-itung kita menikmati masa pacaran kita, kamu bilang kan kemarin-kemarin gak boleh pacaran, haram kamu bilang, nah sekarang kita pacaran halal, iya nggak?"
"Bukan aku yang bilang haram, memang aturan di agama kita gak ada yang namanya pacaran, yang kita lakukan dulu adalah sebuah kesalahan." Wajah Kharisa kini terlihat sendu, rupanya ia teringat masa lalu, saat pacaran dengan Rafael, banyak hal yang dilarang yang mereka lalukan, yang bagi sebagian orang mungkin itu hal biasa, termasuk menurut Kharisa dulu, sebelum ia paham dengan aturan pergaulan antar lawan jenis. Sekarang ia sudah menyesalinya, bahkan sudah taubat.
"Ya, dulu kita salah. Maafkan aku, tapi sekarang aku sudah menyesalinya, aku juga sudah taubat, bersyukur aku ketemu Mario dan Kang Farhan, sekarang aku ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi, aku ingin menjadi ayah yang baik untuk Rakha, menjadi suami yang baik untuk kamu, istriku." Rafael menatap Kharisa yang ternyata tengah menatapnya juga, sesaat Kharisa menghentikan mengunyah makanannya, ia terharu mendengar kata-kata Rafael.
"Aku ingin membayar kesalahanku dulu, membiarkan kamu dan Rakha menjalani hidup tanpa aku di sisi kalian. Aku ingin membayar waktu yang berlalu tanpa kamu dan Rakha, walaupun aku tak akan bisa membayarnya. Tapi ijinkan mulai saat ini aku selalu berada bersama kamu dan Rakha, ijinkan aku membahagiakanmu dan anak kita, hanya itu yang sekarang aku inginkan." Kini mata Kharisa tampak berkaca-kaca, suasana terasa menjadi sendu, saat masa lalu tanpa ada Rafael di sisinya muncul dalam ingatannya. Dalam hatinya ia percaya Rafael akan membuktikan ucapannya.
"Jangan menangis." Rafael menyeka bening kristal yang jatuh di pipi Kharisa, membuat Kharisa mengerjap. Ia menepis tangan Rafael yang masih terulur di pipinya. Ia mengedarkan pandangannya takut ada orang lain melihatnya. Syukurlah sepertinya tidak ada orang lain di area itu selain ia dan Rafael.
"Aku jadi kangen sama Rakha, dari tadi belum menghubunginya." Ujar Kharisa menghilangkan kecanggungannya.
"Nanti saja pas di rumah kita vidio call dia, biar lebih santai, sekarang kita habiskan makanan kita dulu." Mereka pun menghabiskan makanannya yang masih tersisa setengahnya tanpa ada suara sedikit pun.
Selesai menghabiskan makanan dan minumannya, mereka beranjak meninggalkan cafe. Di luar hujan lebat telah berhenti menyisakan gerimis yang masih ingin membasahi bumi. Mereka berjalan menuju mobil dibawah naungan payung yang dipegang tangan kanan Rafael, sementara tangan kirinya merangkul bahu Kharisa. Mereka masuk ke dalam mobil. Tanpa mereka sadari sejak mereka masuk kafe sampai keluar kafe, ada seseorang yang terus memperhatikan gerak gerik mereka.
bersambung
Hai readerku tersayang๐ค
Aku usahakan up nih malam ini. Inginnya bisa up tiap hari. Doakan segala urusanku dilancarkan yah, dan dimudahkan juga dalam menuangkan kehaluanku ini.
Yang nunggu MP Kharisa dan Rafael sabar yah, di next episode, jadi pantengin terus. Sok atuh kirim kembang setaman, atau kopi biar Othornya chenghar dan semangat.๐ค
__ADS_1
Thanks untuk dukungan selama ini.๐๐๐