Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Perjuangan Seorang Ibu


__ADS_3

"Ibu periksa dalam dulu ya Neng, maaf ini nya dibuka dulu yah, gak usah malu, kakinya dibuka bageur....nah gini, Neng nya santai saja, tenang, Ibu periksa sekarang yah.....Tarik nafas Neng.....Bismillah..." Bidan Atikah melakukan pemeriksaan dalam dengan hati-hati, Kharisa terlihat meringis menahan ngilu, ia tidak menyangka proses melahirkan melalui proses seperti ini. Sebelumnya Bidan Atikah melakukan anamnesa, bertanya riwayat keluhan mulesnya sejak kapan dan tanda-tanda persalinan lainnya juga melakukan pemeriksaan tanda vital, tekanan darahnya normal, denyut jantung janinnya pun bagus, memungkinkan untuk dibantu persalinan normal di kliniknya. Untuk riwayat kehamilannya sendiri Bidan Atikah sudah hapal karena Kharisa pernah periksa kehamilan di klinik Bidan Atikah beberapa kali.


"Sudah ada pembukaan, bagus sudah pembukaan lima, mudah-mudahan tidak lebih dari jam sembilan malam bayinya lahir nya bageur." Sekarang pukul empat sore, jadi perkiraan 4 - 5 jam lagi bayinya baru lahir. Perkiraan Bidan Atikah biasanya jarang meleset, karena memang sudah berpengalaman, selain terkenal bidan senior ia juga terkenal bidan yang ramah dan sabar, hingga hampir ibu hamil di desanya ingin ditolong melahirkan oleh Bidan Atikah, bahkan dari luar desa pun banyak yang datang ke kliniknya.


"Masih lama ya Bu Bidan?" Kharisa menoleh ke mamanya yang berada di sampingnya, mama hanya tersenyum, merasakan apa yang dikhawatirkan Kharisa sambil mengelus pucuk kepala putrinya. Membayangkan harus merasakan sakit sampai beberapa jam lagi membuat tubuh Kharisa merasa lemas, rasanya tenaganya sudah habis karena menahan rasa sakit karena kontraksi perutnya.


"Mudah-mudahan lebih cepat dari perkiraan yah Neng geulis." jawab Bidan Atikah menenangkan. "Kalau masih kuat boleh jalan-jalan dulu, tapi di sini saja jalan-jalannya, sudah makan belum bageur?"


"Tadi siang sudah Bu." Kharisa masih bisa menjawab, perutnya sedang tidak terasa sakit.


"Makan sore belum kan? Ibu siapin makan dulu yah, nanti dimakan, biar ada tenaga buat ngedan nanti." Setelah merapihkan alat pemeriksaan dan cuci tangan, Bidan Atikah meninggalkan ruangan tindakannya.


Melihat Bidan Atikah keluar, Bi Nani dan Faisal masuk ke dalam ruangan, untungnya tidak ada pasien lain di ruang tindakan, hanya ada satu pasien di ruang observasi yang bari beberapa jam yang lalu melahirkan dan satu pasien di kamar rawat inap. Kharisa turun dari blankar tindakan, sesuai saran Bidan Atikah ia ingin jalan-jalan agar proses persalinannya bisa lebih cepat, namun baru saja kakinya menginjakan lantai kontraksinya perutnya kembali datang, ia memegang pegangan blankar dengan kuat dengan badan membungkuk menahan rasa sakit.


"Sshhhh......sakit lagi Mah." Dengan wajah meringis Kharisa menahan rasa sakitnya, butiran keringat mulai terlihat di keningnya, kali ini kontraksinya lebih lama dari sebelumnya. Mama dengan setia mendampingi Kharisa sambil mengelus pinggang putrinya, Bi Nani mengelap keringat dengan tisu, sementara Faisal berdiri dekat pintu, tak tega rasanya ia melihat Kharisa yang kesakitan, mungkin karena ia dekat dengan Kharisa bahkan selalu mendampinginya selama kehamilannya, ia pun seolah merasakan sakit yang Kharisa rasakan, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya untaian doa terus terucap di dalam hatinya mendoakan Kharisa diberikan kelancaran saat melahirkan.


"Ya Allah...sakiiit....A Isal....ini sakit sekali, ampun Ya Allah....ampuni Kharisa." Kharisa mulai merasakan kontraksi lagi, semakin cepat jarak kontraksi berikutnya dan semakin lama Kharisa merasakan rasa sakitnya. Faisal berada disamping Kharisa yang tengah duduk di atas blankar, tangan Kharisa mencengkeram besi pengaman blankar di kanan kirinya. Mama dan Bi Nani sedang shalat maghrib, tadi Faisal yang lebih duluan shalat.


"Iya sabar ya Neng, sambil istighfar saja, insya Allah sakitnya akan menjadi penggugur dosa. Astaghfirullah......astaghfirullah...." Hanya itu yang bisa dilakukan Faisal. Ingin rasanya ia mengurangi rasa sakit Kharisa dengan memeluknya memberi kekuatan, mengusap pinggangnya, tapi tak mungkin ia lakukan, ia bukan mahramnya.


"Minum dulu yah, A Isal lupa, tadi ibu bawain air madu." Faisal menawarkan minum saat kontraksinya hilang, Kharisa terlihat kelelahan, pasti dia juga haus. Ia mengambil termos kecil yang berisi air madu disiapkan ibunya di tas selempangnya.


"Ayo minum dulu, masih hangat, biar enak di perutnya, biar tambah tenaga juga." Madu memang terbukti sebagai penambah energi karena hampir delapan puluh persen mengandung gula murni sebagai sumber kalori, selain itu mengandung protein, vitamin dan mineral sehingg bagus untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuh. Kharisa pun meminumnya, lebih dari setengahnya habis karena ia pun merasa kehausan.


Sebelum maghrib Bidan Atikah sudah melakukan pemeriksaan dalam lagi, alhamdulillah sudah pembukaan tujuh, sepertinya perkiraan Bidan Atikah benar tidak meleset, bahkan kemungkinan bisa lebih cepat.


"Aaccchhh....mules lagi, Bu Bidan....aaahhhh sakiiittt, apa ini mau lahir..... sakiiit .... huuu...huuuu...." Teriak Kharisa, dilanjutkan dengan tangisan.

__ADS_1


"Sabar Neng....iya pasti sakit yah, sambil dzikir aja ya Neng." Entah ada keberanian dari mana Faisal mengelus rambut Kharisa yang terlihat acak-acakan, ia tidak kuat melihat Kharisa yang kesakitan, malah ia pun merasa perutnya ikut mules, dan kakakinya terasa lemas.


"Setengah jam lagi nanti ibu periksa dalam lagi bageur...sok sekarang mah kalau sakit tarik nafas panjang....keluarkan.......jangan teriak, nanti cape." Bidan Atikah mendampingi Kharisa sambil memijat pinggang Kharisa. Kharisa pun mengikuti arahan Bidan Atikah dengan ekspresi kesakitan.


"Faisal juga dulu pas lahirnya dibantu sama Ibu, waktu itu Ibu yang yang datang ke rumah Faisal, karena belum punya tempat untuk praktek. Kamu mah cepat prosesnya, Ibu datang kamu langsung keluar, karena kamu anak ke empat yah Sal jadi cepat prosesnya." Ujar Bidan Atikah sambil mengusap punggung Kharisa, sepertinya kontraksinya mulai hilang lagi.


"Iya Ibu juga suka cerita, kalau Isal yang paling cepat lahirnya, mules-mulesnya sebentar. Kata bapak Isal sudah tidak sabar ingin lihat dunia...." Kekeh Faisal.


"Jadi Neng Kharis mulesnya lama karena hamil anak pertama ya Bu Bidan?" tanya Faisal.


"Ya proses persalinan anak pertama dari mulai pembukaan satu sampai sepuluh biasanya 10 -14 jam, tentu saja merasakan sakitnya jadi lebih lama."


"Aahhhh.....mules lagi.....Ya Allah sakiiit....." Kembali Kharisa merasakan kontraksi, frekuensinya semakin sering dengan jarak waktu sepuluh menit.


"Sok tarik nafas Neng.....tarik.......keluarkan......" Bidan Atikah memandu Kharisa untuk mengurangi nyerinya.


"Mah....ini sakit sekali.....ssh...sshhh......Mah aku gak kuat.....sakiiit......ampun Ya Allah...." Kharisa memegang tangan Mamanya, Mama merangkulnya.


"Sabar sayang.....tahan yah, Kharis pasti kuat."


"Maafkan Kharis Mah......Kharis banyak salah sama Mama, ...... banyak dosa....." ucapnya tersengal-sengal karena menahan sakit juga, pipinya sudah basah


"Mama sudah maafkan sayang....kamu pasti kuat Nak" Mama pun ikut berlinang air mata, sesak rasanya menyaksikan putri yang disayanginya berjuang sendiri melahirkan bayinya tanpa ada suami, tapi mama berusaha tegar di depan putrinya.


"Papa.....maafkan Kharis Pah...." Tiba-tiba Kharisa ingat papanya, tujuh bulan sudah ia tidak bertemu papanya, entah bagaimana keadaan papanya setelah dikecewakannya, apa masih marah atau malah membencinya. "Papa....maafkan Kharis....aku kangen Pah....., mau ketemu Papa.....Papa......" Tangis Kharisa di tengah-tengah rasa sakitnya, membuat Mama ikut terisak, begitu juga Bi Nani tak bisa menahan air matanya.


"Neng, Ibu periksa lagi yah....semoga sudah lengkap." Bidan Atikah melakukan pemeriksaan dalam lagi di saat kontraksinya hilang. "Dikit lagi Neng, sudah pembukaan sembilan, sebentar lagi ya Neng, kalau mules lagi jangan ngeden ya Neng, tunggu perintah Ibu."

__ADS_1


"Mules lagi....mau pup.....ahhhhh, Mah gak kuat mau pup....aaachhhh....." Kharisa terlihat mulai mau mengedan.


"Jangan dulu ngedan ya Neng, ikuti perintah Ibu." Bidan Atikah sudah paham, mulas mau melahirkan sama kaya mules mau BAB, tapi kalau pembukaan belum lengkap keinginan mengedan harus ditahan dulu, bisa beresiko terjadi ruptur perineum atau robekan jalan lahir.


"Kita atur posisinya dulu ya Neng, kakinya di tekuk, nanti kalau ngedan pegang pergelangan kakinya ya Neng. Faisal dengan sadar diri menjauh dari Kharisa, ia tahu sebentar lagi Kharisa akan menjalani proses melahirkan bayinya.


"A Isal mau kemana?" tanya Kharisa saat melihat Faisal mau keluar ruangan seolah tidak mau ditinggalkan Faisal.


"A Isal nunggu di luar ya Neng."


"Jangan jauh-jauh.....aahh....sshhh....." Kharisa meringis kesakitan.


"Iya A Isal di luar sini." ujarnya tidak tega melihat Kharisa yang kesakitan.


" Gak kuat Bu..... aacchhh.... Mama..... muless.....Ya Allah ampuni Aku....Mama Aku gak kuat, Mah... titip Rakha kalau aku Gak kuat." Kharisa merasakan sakit yang luar biasa, apa seperti ini sakitnya melahirkan, atau ini karena ia telah dekat dengan ajalnya, apa ini sakit karena malaikat ijroil datang mencabut nyawanya, itu yang terlintas dalam benaknya. Ya Allah, ampuni segala dosa hamba. Kalau umurku hanya sampai disini ya Allah, hamba ridho, tapi selamatkan anak hamba Ya Allah....lindungi dia, sayangi dia ya Allah.


"Sayang, jangan bicara seperti itu..." Mama tidak tahan untuk tidak menangis melihat keadaan putrinya, siapapun yang melihat Kharisa saat itu bila tau seperti apa keadaannya pasti akan tidak tahan untuk meneteskan air mata, gadis malang, karena kesalahannya harus menanggung akibatnya seorang diri.


"Geulis....ini kepalanya sudah kelihatan, ayo mulai pegang pergelangan kakinya, kalau ada mules lagi sekarang boleh mengedan ya bageur, sambil angkat kepalanya lihat ke perut, jangan merem matanya." Bidah Atikah mulai memandu persalinan, peralatan sudah berada didekatnya, ia mulai memecahkan ketuban yang memang masih utuh, kini sudah ada juga asisten yang biasa membantunya, seorang wanita setengah baya yang di kenal sebagai paraji di desa itu dijadikan asistennya, tentu saja dengan dilatih terlebih dahulu.


Bidan Atikah mulai memimpin persalinan saat Kharisa measakan kontraksi hebat, beberapa kali mengedan masih belum kuat untuk mendorong janin keluar dari jalan lahir, dengan sabar dan tenang Bidan Atikah terus memandu Kharisa, asistennya mengelus perut Kharisa yang terlihat tegang sambil merapalkan doa-doa.


"Ayo bageur.....sekali lagi, tarik nafas panjang dorong yang kuat, ini kepalanya sudah mau. keluar....." Dan......


"Oeeee....ooeeee........ooeee......" Terdengar tangisan bayi yang kencang membuat siapapun yang mendengarnya bisa bernapas dengan lega dan mengucapkan "Alhamdulillah."


bersambung........

__ADS_1


__ADS_2