
Keesokan harinya, seperti biasa Kharisa mengantar Rakha ke sekolahnya sebelum berangkat kerja. Beberapa hari ini Rakha tidak pernah menanyakan Dadynya lagi, keberadaan sosok Faisal walaupun mereka berjauhan rupanya bisa membuat Rakha melupakan kerinduannya pada Dadynya. Setiap malam Faisal menghubungi Rakha lewat vidio call, kalau diperhatikan mereka seperti seorang ayah dan anaknya. Rakha akan bercerita tentang pengalaman di sekolahnya dan teman-temannya, lalu Faisal akan menyisipkan pesan-pesan positif untuk membentuk karakter Rakha.
"Wah teman-teman Rakha baik-baik semuanya, jadi Rakha juga harus baik sama temannya, kalau punya makanan jangan lupa untuk berbagi yah, kalau temanya punya kesulitan harus diban...tu." Rakha pun manggut-manggut mengiyakan ucapan Om kesayangannya.
Faisal juga mengecek hapalan surat-surat pendek Al Quran, setelah hapal satu surat Faisal akan menambah surat berikutnya dengan mencontohkannya terlebih dahulu kemudian Rakha mengikutinya, kemudian mengulangnya bersama -sama. Rakha termasuk anak yang cerdas, ia bisa menghapal dengan cepat.
Kadang Rakha meminta diceritakan cerita Nabi dan Rosul atau sahabat Rosul. Pernah Faisal menceritakan kisah Uwais Al Qorni seorang pemuda yatim pada jaman Rasulullah yang tidak terkenal di bumi tapi terkenal di langit , bahkan belum pernah bertemu dengan Rasulullah tapi Rasulullah mengetahui sosok pemuda yang sangat menyayangi ibunya ini. Sampai Rasulullah sempat berpesan kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib untuk mencari Uwais.
"Carilah ia (Uwais al Qarni), dan mintalah kepadanya agar memohonkan ampun untuk kalian." (HR.Shohih Muslim)
Karena rasa sayangnya yang begitu besar pada ibunya yang lumpuh, ia memenuhi keinginan ibunya untuk menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki menggendong ibunya dari negeri Yaman ke kota Mekkah, karena ia seorang yang miskin. Selama melaksanakan ibadah haji ibunya terus berada dalam gendongannya bertawaf mengelilingi Kabah, melaksanakan Sa'i berjalan dari bukit Safa ke bukit Marwah, menggendongnya menuju Arafah, Mina, Muzdalifah, hingga kembali ke negrinya ibunya berada dalam gendongannya. Karena kesolehannya itu ia disebut sebagai penghuni langit, orang surga yang hidup di dunia.
Rupanya cerita Uwais ini memberi kesan yang mendalam bagi Rakha. Faisal pun seperti biasa menyisipkan nasehat buat Rakha.
"Rakha harus sayang sama Momy, Oma juga Nenek yang sudah merawat Rakha, mereka juga sangat menyayangi Rakha." Rakha pun manggut-manggut mengiyakan.
"Iya aku sayang sama Momy, Oma, dan Nenek." Ujarnya.
"Aku juga sayang sama Om Isal, kalena Om Isal baik sama aku."
"Kalau udah besal aku mau sepelti Uwais Al Qolni." Ucapnya dengan bangga.
Keesokan harinya saat bangun tidur ia langsung memeluk Kharisa dan menciuminya.
"Momy, aku sayang sama Momy." ujarnya saat itu, tentu saja membuat Kharisa heran namun membuatnya terharu.
"Momy aku gak mau jauh dari Momy, aku mau sama Momy telus. Nanti kalau aku udah besal aku mau bawa Momy pelgi haji, nanti kalau Momi cape aku gendong Momy keliling Kabah." Ujarnya lagi, Kharisa pun begitu terharu mendengarnya, ia langsung paham, pasti ini efek cerita penuh keteladan yang disampaikan Faisal pada putranya. Kharisa begitu bersyukur, kehadiran Faisal banyak membantunya dalam mendidik Rakha hingga Rakha menjadi anak yang baik, menyenangkan dan menyejukan hatinya.
Seperti pagi ini, Rakha menjadi anak yang begitu manis, saat Kharisa mengantarnya ke sekolah, sebelum Rakha berbaris masuk kelasnya, ia mendekati Kharisa dan meminta dipeluk.
"Momy aku mau peluk Momy dulu." Kharisa pun membungkuk, mensejajarkan tubuhnya dengan putranya, kemudian memeluknya.
"Momy nanti jangan lupa makan, tadi malam Momy gak makan, kalo gak makan nanti Momy bisa sakit, nanti aku sedih kalo Momy sakit. Momy juga gak boleh sedih yah, kalo sedih Momy jadi gak cantik." Kharisa tertegun mendengar ucapan putra kecilnya, bagaimana bisa Rakha berkata seperti itu, apa ia memperhatikannya tadi malam? Kharisa memang tidak makan malam karena ia benar-benar tidak bernafs* untuk makan, ia pun tidak banyak bicara seperti biasanya, bahkan sebelum tidur ia sempat meneteskan air mata saat menidurkan Rakha sambil mengelus keningnya. Apa Rakha melihat itu semua?
"Momy gak sedih kok, tadi malam memang Momy gak lapar karena Momy banyak makan waktu di rumah sakit, jadi sampai malam kenyang deh." Ujar Kharisa sedikit berbohong.
"Udah ayo baris, teman-temanya sudah pada baris tuh." Kharisa melepaskan pelukannya.
"I love you Momy." Ucap Rakha kemudian mencium kedua pipi Momynya.
"I love you too my boy." Balas Kharisa sambil mencium kening Rakha. Bagaimana Kharisa tidak terharu dengan sikap Rakha, ia bisa dengan mudah menunjukan rasa sayang pada Momynya.
Dengan perasaan lega ia meninggalkan Rakha di sekolahnya, melajukan motor maticnya menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang sibuk bagi Kharisa, selesai MM ia akan menemani Zaki melakukan kunjungan ke klinik dokter dan bidan, pukul satu siang ia akan mendampingi dokter Arjuna mengisi penyuluhan kesehatan di sebuah perusahaan yang berada di kawasan industri yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah sakit, perusahaan yang memproduksi aneka macam permen. Sepertinya Kharisa dan Arjuna sudah menjadi tim yang solid untuk program penyuluhan ke perusahaan rekanan. Seolah gayung bersambut saat tim marketing menawarkan program ini, banyak perusahaan rekanan yang tertarik mengadakan program penyuluhan kesehatan untuk karyawannya, dan langsung direspon oleh tim marketing rumah sakit dengan mengatur jadwalnya.
Hanya butuh waktu dua puluh menit dari sekolah Rakha, Kharisa sampai di rumah sakit tempatnya mencari nafkah, ya sekarang ia menjadi tulang punggung keluarga, dan ia pun senang menjalaninya, ada suatu kebanggaan tersendiri ia mampu membiayai kehidupan keluarganya tanpa sosok kepala rumah tangga, walaupun hidup sederhana ia tidak pernah kekurangan dan senantiasa mensyukurinya.
Tanpa ia sadari sejak berangkat dari rumah ternyata ada seseorang yang mengikutinya menggunakan mobil, siapa lagi kalau bukan Rafael. Setelah kemarin Kharisa meninggalkannya di ruang kerjanya, ia merasa belum tuntas bicara dengan Kharisa karena terpotong oleh Arjuna yang ingin menghadapnya untuk membahas pengaturan jadwal dinasnya dan tambahan tugas membantu tim marketing. Ternyata benar kata Bang Andre enaknya bicara di luar jam kerja dan mencari tempat yang nyaman, tidak di rumah sakit. Ia pun memutuskan akan meminta waktu Kharisa sepulang kerja untuk bertemu. Setelah selesai urusannya dengan Arjuna ia menghubungi Andre minta dikirim no HP Kharisa.
"Bang kirim nomor Kharisa yah sekarang, aku mau mengajaknya bicara, tadi belum tuntas." ujarnya di telpon.
"Kapan rencananya?" Tanya Andre waktu itu.
"Ya sekaranglah Bang, aku gak mau menunda-nunda, kirim sekarang ya Bang." Ujar Rafael, hampir saja ia memutus sambungan telponnya.
__ADS_1
"Hey Raf ini sudah pukul empat lebih, sudah waktunnya jam pulang, dia juga barusan turun untuk pulang." Rafael langsung melihat jam ditangan kirinya, benar waktu menunjukan pukul empat lebih dua belas menit.
"Bang, dia biasa pulang pake apa?" Tanya Rafael.
"Pake motor, parkir di belakang." Jawaban Andre membuat Rafael mengernyit.
"Aku akan menyusulnya, makasih Bang." Rafael pun segera menyusul Kharisa. Di lantai satu ia tidak menemukan Kharisa, dengan setengah berlari ia langsung menuju tempat parkir khusus karyawan di belakang gedung rumah sakit. Dan terlihat Kharisa baru saja melajukan motornya menuju pintu keluar parkir. Rafael berlari menuju mobilnya yang terparkir disana juga. Ia memutuskan untuk mengikuti Kharisa, niatnya untuk mengajaknya bicara ia urungkan, ia berubah pikiran, sepertinya mengetahui rumah Kharisa lebih penting saat ini agar ia bisa dengan mudah menemuinya di rumahnya kalau ia menolak diajak bertemu. Beruntung ia masih bisa mengejar motor yang dikendarai Kharisa dan bisa mengikutinya dari jarak lumayan dekat, sepertinya Kharisa memang tidak sadar kalau ia diikuti oleh Rafael.
Betapa terkejutnya Rafael saat Kharisa menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang bisa dibilang sederhana, apakah itu rumahnya atau ia mampir dulu ke rumah seseorang? Sebelumnya ia pun merasa
heran, melihat Kharisa menggunakan motor, ia sangat tau keluarga Kharisa termasuk keluarga berada, di Jakarta tinggal di perumahan elit, berangkat sekolahpun diantar jemput oleh supir menggunakan mobil. Jadi kalau sekarang ia menggunakan motor terlihat aneh rasanya.
Ia melihat Kharisa membuka pintu pagar besi, memasukan motor dan memarkirkannya di carport, tidak ada garasi di rumah itu, dan tidak terlihat ada mobil terparkir di depan rumahnya. Rafael memajukan mobilnya, memarkirkan mobilnya persis di depan rumah Wa Dini, dari sana ia bisa melihat teras rumah sederhana itu. Ia menajamkan pandangannya saat melihat seorang anak laki-laki keluar rumah, mencium tangan Kharisa, Kharisa memeluknya dan mencium pipi dan kening anak laki-laki itu, kemudian masuk ke dalam rumah. Darahnya terasa mendidih, jantungnya bedegup kencang, ia mencengkeram kemudi mobil dengan kuat, terlihat pancaran emosi di wajahnya.
Apa benar yang diucapkan mami?
Apa anak itu anaknya Kharisa.
"Aakkhhh......" Ia memukul kemudi dengan sekuat-kuatnya. Rasanya ia tidak rela kalau apa yang diceritakan maminya benar. Hati kecilnya terus menyangkal kalau itu tidak benar, ia tidak percaya Kharisa bisa dengan mudah berpaling darinya, setelah kebersamaan yang mereka lalui bersama, setelah Kharisa menyerahkan kesuciannya tidak mungkin dengan mudah ia bisa berpaling darinya. Mungkin orang lain akan mengira hubungan mereka hanya cinta monyet belaka, cinta dua orang anak SMA yang dengan mudah bisa putus lalu melupakannya, tapi tidak bagi Rafael, cintanya pada Kharisa adalah cinta pertamanya yang begitu dalam, tumbuh hingga mengakar kuat di dalam hatinya, selama lima tahun ini ia tidak bisa berpaling, termasuk kepada Vania tunangannya, jahat memang, ia menerima pertunangan dengan Vania tapi hatinya tidak bisa berpaling dari Kharisa. Ia pun bertekad tidak akan berpaling dari Kharisa sebelum membuktikan sendiri kalau yang diceritakan maminya itu benar.
Kalau Kharisa dijodohkan oleh orang tuanya, pasti laki- laki yang dipilih orang tuanya adalah laki-laki yang mapan, bisa juga perjodohan itu adalah karena bisnis. Tapi kenapa sekarang Kharisa tinggal di rumah yang sederhana, bahkan bekerja di rumah sakit, kenapa tidak bekerja di perusahaan milik papanya, atau kalau sudah memiliki suami yang mapan kenapa Kharisa masih harus bekerja? Bukankah harusnya ia tinggal bersenang-senang di rumah sambil merawat anaknya? Banyak sekali pertanyaan yang ada di benak Rafael yang membuatnya penasaran.
Lalu siapa laki-laki yang telah mengambil kekasih hatinya itu? Siapa ayah dari anak laki-laki itu? Ia harus memastikannya, ia memutuskan untuk tidak beranjak dari tempatnya, berharap menemukan jawabannya, ia hanya memundurkan mobilnya agar tidak terlalu kelihatan sedang mengawasi rumah yang ditempati Kharisa. Namun setelah satu jam ia disana tidak ada tanda-tanda ada seseorang yang datang, padahal ia mengira akan ada seorang laki-laki yang datang pulang dari kerjanya disambut oleh Kharisa dan putranya, namun hingga adzan Maghrib berkumandang rumah itu terlihat sepi, tidak ada satu orang pun yang datang. Akhirnya ia memutuskan kembali ke rumah sakit, pulang ke mess tanpa mendapatkan jawaban apapun.
Dan pagi tadi ia kembali ke rumah yang kemarin dipantaunya. Ia benar-benar penasaran dengan sosok laki-laki yang telah merebut kekasih hatinya. Pukul enam pagi ia sudah berada diposisi seperti kemarin, sudah rapi dengan tampilan kerjanya, hanya jas putihnya tidak ia pakai, menggantung di belakang sandaran tempat duduknya.
Dari belakang kemudinya, ia mengawasi rumah itu. Motor yang kemarin dipakai Kharisa masih terparkir di tempat seperti kemarin, berarti Kharisa benar tinggal di rumah itu, pikirnya. Pintu rumahnya terbuka tapi tidak ada tanda-tanda orang keluar masuk, hingga pukul tujuh ia melihat Kharisa keluar, menyalakan motornya yang memanaskan mesinnya. Ia sudah siap dengan tampilan kerjanya, stelan rok dengan blazer berwarna moca dipadukan dengan hijab motif abstrak membuatnya terlihat dewasa namun masih terlihat wajah manisnya membuat hatinya berdesir, wajah cantik itu selalu berhasil membuat jantungnya berdebar.
Muncul anak laki-laki keluar dari dalam rumah yang kemarin dilihatnya sudah menggunakan seragam sekolah TK, sepatu dengan tas di belakang punggungnya, dan seorang wanita menggunakan hijab rumahan, sepertinya itu mamanya Kharisa, ia pernah melihat mamanya beberapa kali saat menjemput Kharisa di sekolah tapi belum sempat dikenalkan oleh Kharisa. Ternyata Kharisa tinggal dengan mamanya juga, kenapa mamanya tinggal bersama Kharisa? lalu bagaimana dengan papanya? Apakah mamanya berpisah dengan papanya? secara ia adalah istri kedua. Muncul pertanyaan lagi dalam benak Rafael.
Setelah memarkirkan mobilnya Rafael tidak langsung turun, ia membiarkan Kharisa lebih dulu masuk ke gedung rumah sakit. Namun ia segera keluar dari mobilnya saat melihat seorang laki-laki menenteng jas putih mendekati Kharisa. Ia berjalan mengikuti Kharisa dan laki-laki yang berjalan di sampingnya
"Neng cantik kok terlihat lesu sih, dopingnya sudah habis yah." Tanya Arjuna setelah ia bisa menyusul Kharisa dengan setengah berlari. Kharisa hanya tersenyum, tidak menjawabnya.
"Dopingnya sudah habis yah? Nih A Juna sudah siapin dopingnya." Arjuna mengambil sesuatu dari saku kemejanya, apalagi kalau bukan coklat yang bungkusnya berwarna ungu yang sepertinya sudsh disiapkan untuk Kharisa.
"Nih ambil." Arjuna menyodorkan coklatnya.
"Gak usah dokter, yang kemarin juga masih ada." Kharisa menolaknya, ia tidak enak kalau tiap hari menerima coklat pemberian Arjuna.
"Jadi yang kemarin belum dimakan? Hmm pantesan sekarang terlihat lemas gitu, berarti sekarang dosisnya harus habis dua, ayo ambil." Arjuna menyodorkan lagi coklat di tangannya.
"Ha...ha....ha...dokter Juna mau bikin aku diabetes." Kharisa pun terkekeh, mana mugkin dalam satu hari ia menghabiskan dua batang coklat ukuran besar, namun dengan perasaan tidak enak Kharisa pun menerima coklat dari tangan Arjuna, terserah dia nanti mau diapakan coklatnya, paling dikasihkan ke Meli, dia pasti senang menerimanya.
"Tuh terbukti kan kalau coklat itu bikin bahagia, baru memegangnya saja Neng cantik sudah bisa tertawa, apalagi setelah memakannya, percaya deh gak bakalan bikin diabetes." Arjuna terlihat senang akhirnya Kharisa mau menerima coklatnya.
"Dokter Juna jangan lupa nanti siang jam satu aku tunggu di lobi yah, jangan telat." ujar Kharisa saat mereka akan masuk ke gedung rumah sakit dari pintu samping.
"Siap Neng cantik, A Juna gak akan membuat Neng cantik menunggu." ujarnya dengan senyum lebar di bibirnya.
"Panggil Kharisa dokter, Kha....ri...sa..." ujar Kharisa dengan wajah merengut.
"Ya kalau banyak orang nanti A Juna panggil Kharisa." ujarnya lagi sambil nyengir. Mereka pun telah berada di gedung rumah sakit area poliklinik. Tanpa mereka sadari di belakang mereka ada seseorang yang mendengarkan percakapan mereka dan membuat hatinya geram, sesekali ia mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Dokter Arjuna....." Arjuna menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Oh ....dokter Rafael." Sapa Arjuna sambil menganggukan kepalanya. Kharisa pun ikut berhenti dan membalikan tubuhnya mendengar Arjuna menyebut nama Rafael.
Deg.....
Rafael menatap tajam Kharisa , tatapannya sulit diartikan, Kharisa langsung mengalihkan pandangannya, dan tanpa kompromi jantungnya berdetak cepat.
"Selamat pagi dok." Sapa Arjuna, membuat Rafael tersadar kalau ia tadi memanggil Arjuna.
"Oh ya, pagi. Dokter Arjuna tadi dokter Reta menghubungi saya, dia tidak bisa masuk karena ayahnya harus masuk rumah sakit di Bandung, terkena serangan jantung, harusnya masuk shift siang di rawat inap. Jadi dokter Arjuna nanti lanjut dua shift menggantikan dokter Reta." Ujar Rafael dengan penuh wibawa, mungkin usianya lebih muda dibandingkan dokter Arjuna, bahkan Rafael baru beberapa bulan saja lulus menjadi dokter, tapi terkesan Rafael lebih senior dari Arjuna, dan Arjuna pun menghormati Rafael sebagai atasannya.
"Tapi Dok, siang nanti saya ada tugas penyuluhan ke perusahaan." Arjuna berharap atasannya itu merubah intruksinya, tentu saja ia tidak ingin melewatkan kebersamaan tugas luar bersama Kharisa.
"Soal itu nanti saya atur lagi, dokter bangsal yang lain posisinya sedang di luar kota, jadi hanya dokter Arjuna yang bisa menggantikan, surat lemburnya nanti saya buatkan." Tambah Rafael.
"Oh...baik dok, saya nanti lanjut dua shif." Ujar Arjuna dengan sedikit kecewa, gagal rencananya untuk bisa berlama-lama dengan Kharisa. Arjuna dan Kharisa saling berpandangan, seolah Kharisa pun merasa kecewa, ia sudah nyaman bertugas dengan Arjuna, pasti ia akan canggung dengan dokter yang lain yang baru dikenalnya.
"Rafael......." Terlihat Vania sedikit terengah-engah sambil menenteng paper bag, rupanya ia setengah berlari mengejar Rafael dari arah area parkir belakang.
"Aku dari tadi nyari kamu, Bang Andre juga gak tau kamu pergi kemana, tadi aku nganterin buat sarapan, akhirnya kubawa saja ke sini, kamu pasti belum sarapa kan?" Ujar Vania masih sedikit terengah.
"Nih kamu harus sarapan dulu." Vania menyerahkan paper bagnya kepada Rafael.
"Maaf, saya duluan, dokter Arjuna saya duluan ke atas yah." Kharisa yang sebenarnya sejak tadi ingin pamit akhirnya pamit karena merasa tidak ada kepentingan berada di sana. Ia pun beranjak menuju ruang absent.
"Sebentar Neng." ujar Arjuna
"Maaf dokter apa ada yang lain?" Tanya Arjuna pada Rafael.
"Oh....tidak ada." Ujar Rafael yang tadi tengah menatap kepergian Kharisa.
"Kalau begitu saya permisi." Pamit Arjuna sambil membungkukan badannya. Arjuna pun berlalu mengejar Kharisa, meninggalkan Rafael dan Vania yang berjalan beriringan namun saling diam tanpa kata.
bersambung.......
Selamat siang.....π£
Selamat beraktivitas, semoga pekerjaannya dilancarkan.
Aku Up nya siang-siang nih, hayo ada yang nyuri-nyuri waktu saat kerja buka NT/MT. (hi...hi...pengalaman Othor).
Jangan bilang ngegantung yah, karena bukan jemuran....he...he..
jangan bilang muter-muter juga karena bukan komedi putar...he...he.
Memang sengaja alurnya dibuat seperti itu, biar readerku tercinta penasaran kan, kalau gak penasaran lagi nanti gak lanjutin bacanya. Please sampai tamat bacanya yah. Kita kawal sama sama Kharisa, Rafael, Faisal, Rakha sampai mereka bahagia. Okeπ
Terima kasih atas dukungan reader semuanya, terima kasih like, komennya, hadiah dan votenya juga. Terus terang itu yang membuat Othor semangat menuliskan kehaluannya.π
Sekali lagi terima kasih banyak.....πππ
Salamπ€
__ADS_1
Umi Haifa