
Seperti biasa hari-hari Kharisa disibukan dengan kegiatan program marketing eksternal yang kini telah terjadwal dengan rapi dan tim yang semakin kompak. Hari Senin dan Selasa jadwal kunjungan ke perusahaan, Rabu, Kamis, Jumat jadwal kunjungan ke Puskesmas, klinik dokter dan klinik praktek bidan. Hari Sabtu digunakan untuk kegiatan administrasi. Jadwal tersebut tentu saja fleksible, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan, tidak jarang di luar jadwal kunjungan perusahaan ia harus menemani Andre mengunjungi perusahaan atas permintaan pihak perusahaan, biasanya ia gantian dengan Ahmad, namun beberapa hari ini Andre selalu meminta Kharisa menemaninya hingga muncul rumor kalau Kharisa dan Andre sedang PDKT. Dan ini membuat Meita sebagai penggemar sejati Andre geram, hingga ia menghembuskan isue kalau Kharisa menggoda Andre.
"Aku gak ada hubungan apa-apa sama Pak Andre, aku pergi bareng Pa Andre ya karena urusan kerjaan." Jawab Kharisa saat Arjuna mengklarifikasi langsung isue tersebut.
"Ah syukurlah Neng, A Juna hampir saja patah hati."
"Ih apaan sih dokter Juna." Tentu saja Kharisa menganggap ucapan Arjuna hanya candaan belaka, seperti biasanya kalau bertemu pasti selalu menggodanya.
"Cuekin saja, anggap saja angin lalu, nanti juga gosipnya menguap sendiri." Ujar Zaki saat Kharisa mengeluh merasa tidak nyaman dengan isue yang beredar. "Pasti itu ulah penggemar Pak Andre yang merasa tersaingi." tambahnya. Sebenarnya Kharisa ingin membicarakannya dengan Andre, namun melihat sikap atasannya yang terlihat santai membuatnya mengurungkan niatnya. Sepertinya ia juga harus bersikap seperti atasannya menghadapi gosip tentang mereka.
Isue itu pun sampai di telinga Rafael, tentu saja ia tidak percaya dengan rumor itu, tapi tetap saja membuatnya penasaran.
"Bang, abang gak macam-macam kan sama Kharisa." Tanya Rafael tadi malam saat mereka selesai menikmati makan malam di mess.
"Macam-macam gimana?" Tanya Andre sambil mengernyit, ia bukannya tidak tau dengan gosip yang tengah memberitakannya, namun ia menganggapnya angin lalu, kadang ia sengaja menanggapinya seolah gosip itu benar bila di depan para pengagumnya termasuk Meita.
"Abang sama Kharisa lagi PDKT." Ujar Rafael
"Dan kamu percaya?" Tanya Andre santai
"Ya nggak sih....."
"Ya sudah, kenapa pake nanya segala." Andre melengos menuju lemari es mengambil minuman dingin, udara malam itu terasa panas, sepertinya akan turun hujan. Dalam hatinya ia menertawakan sepupunya, pasti ia sedang cemburu. Ada perasaan iba juga mengingat nasib percintaan adik sepupunya itu, dan membuatnya ikut pusing saat memikirkannya.
Ia sendiri akan merasa bingung bila berada dalam posisi Rafael.
Beberapa hari setelah kedatangan Rafael ke rumah Kharisa, hubungan mereka pun semakin membaik, komunikasi mereka lancar walaupun seringnya lewat chat WA karena Kharisa selalu menolak untuk bertemu langsung. Di rumah sakit mereka hanya berpapasan dan hanya saling menyapa dan melemparkan senyum, seolah meteka tidak terlalu saling mengenal, seperti itu yang diinginkan Kharisa, ia tidak ingin muncul lagi rumor kalau ia dekat dengan manajer yanmed yang telah memiliki tunangan, pasti ia yang akan digosipkan yang menggodanya, walau kenyataannya justru manajer yanmed yang sedang berusaha mendekatinya, lebih tepatnya meraih hatinya lagi.
Biasanya di malam hari Rafael akan menghubungi Kharisa lewat chat Wa, mereka lebih banyak membahas Rakha, lebih tepatnya Rafael yang lebih sering bertanya tentang Rakha, pernah juga satu kali vidio call atas permintaan Rafael dengan alasan ia kangen dengan Rakha sementara Kharisa tidak mengijinkan Rafael datang bertemu Rakha tiap hari, khawatir Rakha akan banyak pertanyaan, pasti Rakha akan bertanya kenapa Om Dokter datang ke rumahnya tiap hari, sementara Kharisa belum siap memberitahu Rakha siapa Rafael sebenarnya.
Dan Rafael harus puas dengan menanyakan kabar Rakha lewat chat WAnya, seperti malam ini, setelah klarifikasi pada Andre tentang gosip yang beredar antara Andre dan Kharisa ia merebahkan tubuhnya di sofa, sambil mengirimkan pesan pada Kharisa.
"Hari ini Rakha nanyain aku gak?" Rafael sangat berharap Rakha akan menyukainya dan mulai merindukan kehadirannya, mungkin ini terlalu cepat ia berharap seperti itu, secara baru dua kali mereka bertemu, bisa saja dimata Rakha Rafael hanya seorang teman biasa bagi ibunya.
"Nggak." sebuah pesan pendek balasan dari Kharisa langsung dibacanya, membuat hatinya langsung menciut, namun membuat darahnya terasa panas. Kalau saja Rakha sudah mengetahui kalau ia dadynya mungkin Rakha akan merindukannya dan menginginkan bersamanya. Ia pun segera menuliskan pesan lagi untuk Kharisa.
"Kapan Rakha akan tau kalau aku dadynya?"
"Beri aku waktu El." Selalu itu jawaban Kharisa, batin Rafael.
" Besok weekend, boleh aku menemui Rakha? Sekalian aku ingin bicara sama kamu."
Besok Rafael berencana akan pulang ke Jakarta, ia ingin minta penjelasan orang tuanya, terutama maminya yang telah membuat cerita versi berbeda tentang Kharisa, namun ia ingin bertemu dengan putranya dulu.
"Datang saja ke rumah." Balasan Kharisa membuat hatinya lega, senyum tipis terbit di bibirnya.
"Oke, besok sore aku kesana."
"Rakha sedang apa?" Rafael mengirim pesan lagi
"Baru saja tidur." Balas Kharisa
"Fotoin dong, aku ingin lihat kalau dia sedang tidur."
Tidak lama kemudian Rafael pun memandangi sebuah foto yang dikirim Kharisa, tampak Rakha tengah tertidur dengan posisi miring, wajahnya begitu damai, tangannya tengah memegang sebuah mainan yang ditempelkan ke dadanya, sebuah mobil balap berwarna merah, mobil balap itu sepertinya mainan kesayangannya, sayangnya bukan mainan yang dibelikan Rafael beberapa hari yang lalu.
Tak apa, besok ia akan menanyakan mainan apa yang disukainya dan akan membelikannya untuk Rakha.
*****
POV Faisal
__ADS_1
Sesuai janjiku, hari ini aku akan menemui Kharisa dan putranya, Rakha yang sudah kuanggap sebagai putraku. Ha...ha...ha...jangan menertawakanku, tak apa kan aku menganggapnya anakku? Walau tak ada hubungan darah atau saudara, hubunganku dengan Rakha sudah terjalin sejak ia baru lahir, dari mulai menunggu detik-detik kelahiranny, mengadzaninya, menenangkannya dengan menggendongnya saat ia rewel, menyuapinya, kadang memandikannya, bukankah aku sudah seperti ayahnya? Bahkan hubungan kami terjalin sejak ia masih di dalam kandungan ibunya eh momynya. He...he...iya momy, Kharisa inginya dipanggil momy oleh putranya, biar keren katanya, trus anaknya pasti nanti lucu manggil momy....momy...... momy...... Ah terserah Kharisa deh, walaupun di telingaku terdengar aneh yang penting dia bahagia.
Ya aku ingin melihat Kharisa dan Rakha bahagia. Setelah perjalanan hidupnya yang berliku dia jalani, kini saatnya dia bahagia. Kini ingatanku berkelana ke masa lima tahun yang lalu saat pertama kali melihat gadis yang datang dari kota dalam keadaan terpuruk, frustasi dan lebih parahnya dalam kondisi sedang hamil, sementara dia belum menikah, itu yang membuat dia bersedih penuh penyesalan.
Dan tak terasa selama hampir lima tahun aku menemaninya, menghiburnya, memberi kekuatan agar ia bisa menjalani ujian yang Alah berikan, memberi keyakinan kalau ia bisa melewati fase yang terasa berat baginya, dan ia bisa membuktikannya ia bisa melewati itu semua. Dari awalnya dia hanya seorang gadis yang frustasi akan mimpinya, kini ia bisa meraih impiannya, dulu ia sangat membenci kehamilannya bahkan ingin menggugurkan janinnya kini ia sangat mencintai janin yang dilahirkannya yang kini tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat dan cerdas, juga menyenangkan. Dulu ia menjadi anak yang menyalahkan diri sendiri kini ia menjadi seorang ibu yang hebat, ibu yang kuat, membesarkan dan mendidik putranya dengan penuh kasih sayang. Dan kini saatnya aku melihatnya bahagia.
Perjalananku kali ini terasa lebih santai, ya aku pergi ke kota tempat Kharisa tinggal menggunakan travel dari Bandung, setelah selesai menghadiri resepsi pernikahan rekan dosenku. Berharap bisa tidur untuk mengistirahatkan mata dan pikiranku, ternyata saat kupejamkan mata, pikiranku masih terus berkelana mengingat saat pertama kali Kharisa mengatakan kalau ia telah bertemu dengan Rafael, laki-laki yang selama ini dinantinya , ayah kandung Rakha yang selama ini mereka tunggu kedatangannyan. Harusnya aku senang mendengar ia memberi tahu kabar itu, karena ternyata doa yang selama ini Kharisa panjatkan telah Allah kabulkan tapi kenapa aku malah merasa kecewa dan merasa tersisihkan? Dan aku begitu bahagia mendengar Kharisa mengatakan akan mengikhlaskan Rafael karena ia telah bertunangan dengan wanita lain.
Astaghfirullah.....
Ada apa denganku, kenapa aku punya perasaan picik seperti ini? Bahagia di atas kesedihan orang lain? Padahal aku sering mengingatkan Kharisa agar menjaga hati jangan sampai senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang, namun kini aku sendiri yang tidak bisa menata hatiku. Mungkin karena ada perasaan aku takut kehilangan Kharisa, aku takut kalau ia kembali pada Rafael aku tidak bisa lagi dekat dengannya begitu juga dengan Rakha. Aku sendiri tidak paham dengan perasaanku terhadap Kharisa, selama ini aku menganggapnya sebagai adik, seperti amanat dari Abah yang memintaku untuk menganggap Kharisa sebagai adik, tapi kadang muncul perasaan tidak suka kalau ia berdekatan dengan laki-laki lain, semacam perasaan cemburu.....Tidak bukan cemburu, aku hanya takut kalau Kharisa akan disakiti oleh laki-laki yang dekat dengannya. Ah entahlah yang jelas aku tidak suka kalau ada yang mendekati Kharisa.
Kadang aku juga bertanya sebenarnya bagaimana perasaan Kharisa terhadapku, soalnya aku merasa dia juga tidak suka kalau aku dekat dengan perempuan lain, seperti dengan teman kuliahku, adik tingkat atau teman aktivis DKM di kampusku. Pernah saat dia melihatku berdua dengan teman akhwat di DKM, ia menatap teman akhwatku dengan sorot mata tajam, dan saat aku bermain ke kontrakannya dia memberondong dengan banyak pertanyaan.
"A yang tadi akhwat yah? siapa? teman sejurusan?"
"Ya iyalah akhwat, kalau ikhwan gak mungkin pakai hijab." Jawabku saat itu dengan terkekeh, ia terlihat cemberut mendengar jawabanku.
"A Isal lagi taaruf sama dia?" Tanyanya dengan wajah muram.
Pernah juga saat aku jalan bareng dengan Kharisa menuju gerbang keluar kampus, tiba-tiba ada adik tingkat menghampiriku kemudian sambil jalan mengajakku diskusi tentang bahasan materi kuliah, tiba-tiba Kharisa berjalan cepat meninggalkanku, dan saat sampai di kontrakannya, ia sama sekali tidak menyapaku, akhirnya aku hanya bermain-main dengan Rakha. Aku pun bertanya dalam hatiku, menduga-duga apakah Kharisa sedang cemburu? Tapi dugaan itu langsung terkikis saat ia mencurahkan perasaannya, kalau ia berharap bertemu lagi dengan Rafsel, dan akan selalu menantinya, laki-laki yang selama ini dicintainya. Akhirnya aku pun membuang jauh-jauh rasa yang tumbuh di hatiku untuk wanita yang selama ini dekat denganku selain ibu dan kakak perempuanku. Rasa itu tidak pantas tumbuh di hatiku, cukup rasa sayang dari seorang kakak kepada adiknya, itu yang pantas untuk membuatnya bahagia.
Perjalanan menggunakan travel memang terasa lebih nyaman. Terdengar alunan lagu yang tidak asing di telingaku, walaupun aku tidak terlalu begitu menyukai musik, tapi lagu ini sering ku dengar di ruang kantorku, salah satu rekanku yang senang musik, sengaja memutar koleksi lagu-lagu di laptopnya, agar tidak sepi katanya. Aku pun mengikuti lirik lagunya yang kedendangkan di dalam hatiku
Aku mengerti
Perjalanan hidup yang kini kau lalui
Ku berharap
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau t'lah berjuang
Biar ku menemanimu
Membasuh lelahmu
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
Lirik lagu ini terasa nyambung dengan apa yang ada di hati dan pikiranku saat ini, seolah pas ditujukan untuk seseorang yang ada dalam benaku, seseorang yang aku sayangi dengan tulus, yang ingin kulihat ia bahagia dengan hidupnya kini, ya aku ingin melihat Kharisa dan Rakha bahagia, walau nanti aku tidak bisa membersamainya.
Aku di sini
Walau letih, coba lagi, jangan berhenti
Ku berharap
__ADS_1
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau t'lah berjuang
Menaklukkan hari-harimu yang tak indah
Biar ku menemanimu
Membasuh lelahmu
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia, ha-ha
Ha-ah, ha-ha
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
Judul lagu : Melukis Senja
by Budi Doremi
Ah andai aku bisa bernyanyi dan memainkan alat musik, ingin rasanya aku menyanyikan lagu ini di depannya.
Dan tak terasa aku telah tiba di kota tempat Kharisa dan Rakha berada, aku turun di pool travel dan langsung memesan ojek online untuk menuju rumah Kharisa, waktu sudah menunjukan pukul setengah lima sore, ternyata hanya satu jam lebih perjalanan yang kutempuh dari Bandung ke kota ini. Hanya sepuluh menit dengan ojek aku tiba di gerbang perumahan, aku berhenti di di sana karena akan mampir ke mini market, membeli sesuatu untuk Rakha, makanan dan minuman kesukaannya. Dengan menenteng kantong plastik berlogo mini market yang aku kunjungi, aku berjalan menuju rumah Kharisa yang tidak terlalu jauh dari gerbang, hanya berjarak sekitar dua ratus meter sudah terlihat rumah berpagar putih yang sudah sangat kukenali. Kulihat ada mobil sedan mewah terparkir di depan rumahnya, sepertinya tamu ke rumah Kharisa, kulihat pintunya terbuka.
"Assalamualaikum......." Kulihat Rakha bersama seseorang di ruang tamu.
"Waalaikumsalam... Om Isal.....yeeehh Om Isal datang......" soraknya, ia mencium tangannku, aku berjongkok memeluknya dan mencium keningnya.
"Om Isal ini ada Om Doktel.......temannya Momy."
__ADS_1
bersambung.......