
Malam semakin larut, sebagian besar penduduk bumi mungkin sudah terlelap di alam mimpinya, namun tidak dengan Kharisa, semakin larut matanya malah semakin sulit untuk dipejamkan. Waktu sudah menunjukan lewat tengah malam, ia duduk di tempat tidur dengan lutut ditekuk, pandangan matanya terlihat kosong, sudah tidak ada lagi air mata yang mengalir di pipinya, sepertinya sudah kering di sumber mata airnya.
"El....kamu kemana....kenapa belum ngabarin?" gumamnya.
"Aku hamil El.....kamu bohong El, kamu bilang aku gak akan mungkin hamil, tapi ternyata aku hamil." Terlihat penyesalan di wajah Kharisa, ia menelungkupkan kepalanya di atas lututnya.
"Kenapa jadi begini El, aku butuh kamu El....apa kamu sengaja menghindar dariku El? Apa orang tuamu sudah memberitahu kalau aku hamil dan kamu tidak mau bertanggung jawab? Pastinya kamu sudah sampai tujuanmu, kamu bilang akan langsung menghubungiku kan, tapi kenapa belum juga menghubungiku?"
Dalam hatinya ia merutuki nasibnya yang menyedihkan, kenapa nasibnya jadi seperti ini, harus menanggung kesalahan yang dilakukannya seorang diri, entah seperti apa nasibnya nanti, bagaimana sekolahnya nanti, bagaimana dengan teman-temannya kalau tau ia hamil, bagaimana dengan kehamilannya apa akan lanjut sampai bayinya lahir atau akan diakhiri dalam waktu dekat ini seperti yang dikatakan oleh ayahnya Rafael.
Ya tadi sore Kharisa bersama papa mamanya mendatangi rumah Rafael untuk meminta pertanggungjawaban pihak keluarga Rafael. Masih terbayang dalam ingatan Kharisa saat Kharisa bersama Mama Papanya tengah berada di dalam mobil yang terasa begitu mencekam, semuanya diam, tidak ada obrolan apalagi canda seperti biasanya kalau mereka pergi bersama. Hingga mereka berhenti di depan sebuah rumah besar berlantai dua bercat putih yang dikelilingi pagar tembok putih. Papanya meminta supirnya untuk turun dan menanyakan ke post security yang berada di dekat pintu pagar untuk menanyakan apakah rumah di depannya ini rumah dokter Birawan Hartadi. Ternyata benar rumah ini rumah yang akan dituju.
Papa mengajak istrinya dan Kharisa turun, menghampiri pos security menyampaikan maksud kedatangannya untuk bertemu dengan pemilik rumah, ia pun menyampaikan kalau ia orang tua dari teman Rafael. Setelah memberitahu tuannya, petugas security mempersilahkan mereka masuk.
Begitu terkejutnya orang tua Rafael saat mendengar penjelasan Papa atas apa yang terjadi pada gadis yang disebut sebagai pacar Rafael, pasalnya Rafael tidak pernah bercerita kalau ia punya pacar, apalagi mengenalkan Kharisa sebagai pacarnya, namun ayahnya Rafael terlihat begitu tenang saat melihat hasil pemeriksaan USG Kharisa, ia mengenal dokter yang mencantumkan tanda tangan di hasil pemeriksaan itu, bahkan ia hapal betul logo klinik yang tertera di covernya yang tak lain adalah klinik miliknya. Berarti hasil USG ini tidak mungkin bohong.
"Kalau anda tidak percaya silahkan hubungi putra anda, kami pun ingin mendengar penjelasanya." suara Papa Kharisa terdengar tegas, ia tidak ingin pihak keluarga Rafael berkilah apalagi menolak kenyataan kalau anak laki-laki mereka telah menghamili Kharisa.
"Baik, anggap saja saya percaya kalau anak kami yang telah menghamili putri anda, lalu apa yang anda inginkan? Anak kami baru saja kemarin berangkat ke Amerika untuk melanjutkan studi disana, mungkin sudah nyampe, tapi kami belum bisa menghubunginya." Ayah Rafael terlihat begitu tenang, sepertinya tidak menganggap ini masalah besar.
"Tentu saja kami minta pertanggungjawaban putra anda." jawab Papa dengan sedikit nada tinggi. Kalau Rafael ada di depannya ingin rasanya ia menghajarnya karena sudah berani menghancurkan kehormatan putrinya dan keluarganya.
__ADS_1
"Pertanggungjawaban seperti apa? Apa anda akan meminta anak kami menikahi putri anda? Apa anda sudah pikirkan bagaimana masa depan mereka kalau mereka dinikahkan di usia muda, bahkan putri anda belum lulus SMA? Bagaimana dengan sekolah dan cita-cita mereka?" Ujar ayah Rafael santai.
"Tentu saja anak anda harus bertanggung jawab atas janin yang sedang dikandung putri kami, tidak mungkin nanti lahir tanpa ayah." Papa Kharisa terlihat tidak suka dengan ucapan ayah Rafael.
"Kami pasti akan bertanggung jawab, tapi tolong dipikirkan lagi kalau anak-anak kita harus menikah apakah tidak akan berpengaruh pada masa depannya, Rafael mungkin tidak akan masalah, setelah menikah ia bisa kembali melanjutkan studinya, tapi putri anda, apakah siap kalau harus berhenti sekolah, saya rasa tidak mungkin putri anda pergi ke sekolah dengan perut yang semakin membesar, kalaupun pihak sekolah mengetahuinya pasti akan mengeluarkan siswanya yang hamil di luar nikah. Jadi tolong anda pertimbangkan lagi."
"Jadi tanggung jawab seperti apa yang anda maksudkan?" tanya Papa Kharisa heran, pihak keluarga Rafael akan bertanggung jawab tapi minta dipertimbangkan lagi kalau anak-anak mereka harus menikah.
"Saya punya rumah sakit dengan fasilitas lengkap dan dokter spesial kandungan yang berpengalaman, usia kandungan putri anda juga baru menginjak 7-8 minggu, jadi masih memungkinkan kalau kita lakukan terminasi kehamilan atau putri anda tidak melanjutkan kehamilannya, rumah sakit saya bisa melakukannya, tentu saja dengan tindakan yang legal dan aman untuk putri anda."
"Astaghfirullah........" ucapan Ayah Rafael membuat Mama Kharisa terkejut, ia tidak menyangka akan mendengar saran yang bodoh dan keji menurutnya.
"Maksud anda aborsi dengan keadaan janin hidup? Apa itu bisa dikatakan legal? Saya tidak setuju, itu sama saja dengan membunuh bayi yang tidak berdosa." Tambah Mama Kharisa, ia membulatkan matanya. Ia tidak menyangka ayahnya Rafael yang seorang dokter yang tugasnya menolong orang bahkan menyelamatkan nyawa pasien tega membunuh calon cucunya sendiri, darah dagingnya sendiri. Papa Kharisa diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba pintu kamar Kharisa terbuka membuyarkan ingatan Kharisa akan kejadian di ruma Rafael kemarin sore. Kharisa menoleh melihat siapa yang masuk kamarnya, ternyata mamanya.
"Kamu belum tidur sayang?" Mama menghampiri Kharisa dan duduk di sisi tempat tidur. Kharisa menggelengkan kepalanya.
"Gak bisa tidur." Kharisa meluruskan kakinya, matanya terlihat bengkak, wajahnya pun terlihat pucat.
"Mama sendiri kenapa belum tidur?"
__ADS_1
"Mama sudah memikirkan langkah yang akan kita ambil. Mama akan mengajak kamu pergi dari sini, kita akan menjalani hidup baru berdua." ucap mama pelan sambil mengusap kepala putri sematawayangnya.
"Maksud mama?" Tanya Kharisa bingung
"Kita tinggalkan rumah ini, mama tidak mau kalau kamu menggugurkan kandunganmu. Mama tidak ingin kamu menanggung dosa untuk kedua kalinya, mama juga tentu akan ikut berdosa, kita bukan pembunuh, kita masih punya rasa takut akan pembalasan Allah nanti di akhirat, walaupun kita belum menjadi hamba Allah yang baik."
"Kita pergi ninggalin Papa?" Kharisa masih terlihat bingung.
"Papa setuju dengan usulan ayah Rafael untuk menggugurkan kandunganmu." Mata Mama mulai berkaca-kaca, ia menghela nafas panjang, hatinya terasa sakit, ia masih tidak menyangka suaminya yang ia anggap sebagai pelindung keluarganya mengambil keputusan ingin menggugurkan keturunannya sendiri, yang jelas-jelas itu perbuatan dosa sama dengan membunuh.
Sebelum Papa Kharisa pulang ke rumah istri pertamanya ia sempat menyampaikan keputusannya menyetujui usulan ayah Rafael untuk menggugurkan kehamilan putriya dengan alasan untuk masa depan putrinya dan tentu saja demi nama baik keluarganya. Mau dikemanakan harga dirinya kalau orang lain tau ternyata putri yang dibanggakannya hamil di luar nikah.
"Gugurkan janin itu, kita ikuti usulan mereka." Ucapan suaminya tentu saja membuat Mama kaget.
"Aku gak setuju, bagaimana pun bayi itu tidak berdosa, dia punya hak untuk hidup dan aku tidak mau dosaku terus bertambah, sadar Mas kita berdosa kalau melakukannya."
"Gugurkan! Kamu tidak usah membantah, keputusanku sudah bulat, gugurkan bayi itu. Kharisa putriku menjadi tanggung jawabku. Toh ini terjadi juga karena salah kamu yang tidak bisa mengawasi anakmu."
"Astagfirullah al adzim.....iya ini salahku, maka dari itu aku tidak ingin kita melakukan kesalahan yang kedua kalinya. Mas ini sama saja dengan kita menjadi pembunuh."
"Bukan saatnya lagi membantah, aku pemimpin di sini, kamu tinggal patuh pada suamimu, hari Senin kamu antar Kharisa ke rumah sakit."
__ADS_1
"Dan aku tidak akan patuh pada suami yang mengajak melakukan perbuatan dosa."
bersambung......