
Pagi ini matahari tampak malu-malu muncul ke permukaan membuat langit terlihat mendung, memang sih saat ini sudah mulai perubahan musim dari musim kemarau ke musim hujan, dalam satu pekan ini beberapa kali sudah turun hujan di malam hari walaupun hanya sebentar dan tidak terlalu besar.
Ternyata bukan hanya langit yang terlihat mendung, Kharisa pun merasakan hatinya mendung, berbeda dengan putranya yang kembali terlihat ceria dan bersemangat. Ya Rakha begitu bersemangat untuk berangkat ke sekolah, ia ingin menunjukan tugas fotonya kepada gurunya dan kepada teman-temannya. Kemarin Kharisa membuatkan pigura dari kertas karton yang dihias dengan stiker mobil balap kesayangannya, untung saja di toko asesoris ia menemukan stiker bergambar Mcqueen. Rakha pun tidak sabar untuk menceritakan pada teman-temannya siapa saja yang ada di fotonya yang tak lain adalah orang -orang yang sangat menyayanginya.
Melihat putranya bersemangat bukannya membuat Kharisa bahagia, wajahnya memang tidak memperlihatkan kesedihan tapi di dalam hatinya masih terasa perih setiap mengingat Rakha menanyakan dadynya, saat ini mungkin kesedihan Rakha telah terobati dengan kehadiran sosok Faisal yang selalu menjadi dewa penolongnya, tapi bagaimana dengan nanti.
Semalam sebelum tidur Rakha berbicara pada momynya.
"Momy, kenapa bukan Om Isal saja yang jadi Dady aku." ujar Raka sambil berbaring memeluk tugas fotonya.
"Aku mau Om Isal saja yang jadi Dady aku, soalnya nunggu Dady aku lama gak pulang-pulang, kenapa sekolahnya lama?" Saat itu Kharisa hanya diam, memejamkan mata, pura-pura tidur.
"Kalau Om Isal jadi Dady aku, aku diantal sekolahnya sama Om Isal, telus belajal ngaji sama Om Isal, sebelum bobo pasti dibacain celita sampai aku bobo."
"Momy Om Isal mau gak jadi Dady aku?"
"Momy.....momy......yaaah momynya malah udah bobo." Rakha menoleh , melihat Kharisa yang telah memejamkan matanya, tapi tentu saja hanya pura-pura tidur.
"Om Isal mau yah jadi Dady aku." Gumam Rakha sambil memejamkan matanya mengikuti momynya.
Dada Kharisa terasa sesak, hatinya perih, ia bisa merasakan bagaimana putranya begitu merindukan sosok ayah, sampai terpikirkan oleh anak kecil itu menjadikan sosok Faisal sebagai ayahnya, walaupun memang selama ini pun Faisalah yang menjalankan peran ayah bagi Rakha. Perasaan bersalah, rasa sesal kembali menyesakan dadanya, hingga ia tidak bisa menahan air matanya yang membasahi pipinya, untung saja Rakha sudah tertidur. Ia pun bangkit menjauh, duduk di lantai yang beralaskan karpet kecil, memeluk kedua lututnya, menelungkupkan wajahnya, dan isak tangis yang tertahan pun pecah di malam itu.
Di akhir sepertiga malam Kharisa pun menumpahkan segala keluh kesahnya kepada Sang Penciptanya, bahkan ia berdoa dengan sungguh-sungguh agar dipertemukan dengan Rafael, demi putranya yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya.
Dan pagi ini sesak dan perih di dadanya kembali terasa, saat melihat putranya begitu bersemangat hanya karena ada sosok Faisal di dalam tugas fotonya. Matanya sedikit sembab, namun ia menyembunyikan sakit di hatinya dengan senyum lebar di hadapan putranya.
"Momy ayo belangkat, aku sudah selesai salapannya." Rakha telah menghabiskan sarapannya, semangkuk sereal dicampur susu membuat perutnya terasa kenyang.
"Mami ambil tas dulu sebentar." Kharisa mengambil tas di kamarnya, ternyata terdengar nada panggilan telpon dari HPnya, dan Pak Andre yang menghubunginya.
"Assalamualaikum, ya Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Waalaikumsalam. Sory Kharisa, saya mau merepotkan kamu lagi, ini sudah berangkat belum?" tanya Pa Andre
"Belum Pak, baru saja mau berangkat."
"Baguslah, saya mau nitip nasi uduk lagi, gak apa-apa kan? Ini bos Yanmed parah banget, ingin sarapan nasi uduk kaya kemarin."
"Oh....ya sudah Pa nanti saya belikan, dua porsi lagi kaya kemarin?" Tanya Kharisa memastikan.
" Ya, nanti langsung bawain ke mess yah."
"Baik pak."
__ADS_1
Pukul tujuh kurang, Kharisa pun berangkat mengantarkan Rakha ke sekolahnya terlebih dahulu. Tiba di rumah sakit ia memarkirkan motornya di tempat parkir karyawan.
"Mas Ahmad....mau kemana?" Baru saja selesai memarkirkan motornya, Kharisa melihat Ahmad seniornya berjalan menuju mess. Ahmad pun menoleh mendengar seseorang memanggilnya.
"Mau ke mess Pa Andre, ada sesuatu yang harus diambil." Jawab Ahmad.
"Kebetulan, sekalian titip ini yah, pesanan Pak Andre." Kharisa menyodorkan kantong plastik berisi nasi uduk dan lauk pauknya. Ahmad pun menerimanya. Lumayan jadi tidak harus ke mess Pa Andre dulu, batin Kharisa, terus terang ia merasa tidak enak untuk mendatangi mess Pak Andre, khawatir menimbulkan fitnah, apalagi kalau terlalu sering disangkanya nanti ada hubungan khusus, satu minggu ini saja ia merasa ada seseorang yang tengah memantaunya, karena ia sering bersama Pak Andre tugas luar, padahal hanya karena sedang menjalankan tugas, itu pun ia tidak hanya berdua, tapi bertiga dengan Ahmad sebagai tim marketing eksternal.
Kharisa pun langsung menuju gedung rumah sakit, setelah melakukan absensi ia langsung menuju lift yang hampir saja tertutup, ia pun segera masuk saat pintu lift kembali terbuka. Ternyata di dalamnya ada Vania, Meita dan dua orang staf lainnya.
"Assalamualaikum, selamat pagi." Kharisa menyapa sambil menganggukan kepalanya dengan senyum manis di bibirnya. Mereka pun menjawab salam kecuali Meita yang menyunggingkan senyum sinisnya.
"Van pertunanganmu sekalian diumumkan dong di acara penyambutan calon suamimu nanti." Ujar Meita tiba-tiba memecah kesunyian.
"Nggaklah, malu-maluin aja kali kalau diumumkan." jawab Vania sambil memainkan cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya.
"Harusnya diumumkan, biar semua karyawan rumah sakit tau kalau Manajer Yanmed yang baru adalah tunangan kamu, calon suami kamu, biar gak ada pelakor yang berani macam-macam." ujar Meita sambil melirik Kharisa dengan sinis. Kharisa yang memang tengah menatap cermin di dinding lift, mau tidak mau melihat bagaimana ekspresi Meita yang seolah-olah ucapannya itu ditujukan kepadanya, tapi Kharisa tidak mau ambil pusing.
"Kamu ini ada-ada saja Meit." ujar Vania sambil geleng kepala.
Ting.
Pintu lift pun terbuka di lantai enam. Kharisa buru-buru keluar lebih dulu, menghindari kontak dengan Meita yang beberapa hari ini setiap bertemu selalu mengeluarkan kata-kata sindiran pelakor, namun ia tak pernah menanggapinya.
Selasar menuju ruang kantornya terlihat berbeda, ada beberapa meja kecil yang sudah disiapkan, sepertinya untuk menyimpam makanan dan minuman, di depan lift pun tidak terlihat sofa, diganti dengan meja panjang untuk prasmanan. Ya hari ini ada penyambutan Manajer Yanmed baru, apa selalu semeriah ini sampai ada hidangan makanan segala, apa karena Yanmed baru putranya pemilik rumah sakit ini? Tanya nya dalam hati, bisa jadi karena itu.
"Jam berapa kalian berangkat?" Tanya Pak Andre pada Kharisa dan Ahmad.
"Setelah MM ini Pak, janjiannya jam sembilan" Jawab Ahmad, perusahaan yang akan dikunjungi lokasinya tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dalam waktu setengah jam.
"Siapa dokternya, materinya sudah siap?"
"Dokter Arjuna Pak, materinya sudah siap, sudah sy copy ke laptop, dia nunggu di depan IGD"
"Ya sudah, kalian sana berangkat, setelah selesai langsung pulang, trus langsung ke auditorium, nanti mau saya kenalkan ke dokter spesialis yang baru, termasuk ke manajer Yanmed yang baru."
"Kalau begitu, kami berangkat dulu Pak." Ujar Ahmad. Kharisa berjalan mengikuti Ahmad sambil menenteng tas laptop. Di depan pintu IGD dokter Arjuna telah siap untuk tugas luar, wajahnya terlihat berseri karena ternyata ia bisa bersama dengan gadis yang sedang didekatinya.
"Silahkan duduknya di depan saja Dok." Ahmad membukakan pintu penumpang depan untuk Arjuna.
"Aku di belakang saja, terima kasih." Arjuna malah membuka pintu penumpang belakang, tentu saja karena ia tau ada gadis cantik duduk di sana.
"Akhirnya bisa tugas luar bareng Neng cantik, apa kabar Neng?" Sapanya setelah duduk di samping Kharisa.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik Pak Dokter." Jawab Kharisa ramah, walaupun sebenarnya ia merasa tidak enak mendengar panggilan dokter Juna untuknya, apalagi di depan rekannya dan ada driver pula.
Selama di perjalanan dokter Juna lebih banyak aktif bertanya, membuat suasana di dalam mobil terasa hangat dengan obrolan tiga orang yang akan melaksanakan tugas lapangan, driver pun sesekali menimali hingga tak terasa hampir tiga puluh menit berlalu mereka sampai di tujuan.
Penyuluhan kesehatan di PT. Sumi Indo berjalan lancar, hanya membutuhkan waktu satu jam setengah untuk presentasi dan tanya jawab. Pukul setengah dua belas siang mereka sudah tiba di rumah sakit. Sesuai intruksi pak Andre, Kharisa dan Ahmad langsung menuju auditorium yang ternyata telah dipenuhi oleh karyawan rumah sakit yang bisa dengan leluasa hadir tanpa mengganggu pelayanan. Ia bersama Ahmad duduk di kursi paling belakang yang masih kosong, sementara Arjuna ke ruang istirahat dokter untuk menyimpan tasnya, nanti nyusul katanya.
Sekilas ia memperhatikan podium, tampak ketua Komite Medik tengah berdiri di podium menyampaikan sambutannya, tampak barisan berjas putih duduk di sofa paking depan yang hanya terlihat bagian belakangnya saja. Kharisa langsung membuka HPnya untuk mengecek pesan masuk, siapa tau ada pesan penting dari rekanan, biasanya banyak bidan atau dokter dari luar yang menghubunginya untuk menanyakan jadwal praktek dokter spesialis atau fasilitas rumah sakit, tidak jarang juga mereka mengabari Kharisa saat merujuk pasien, biasanya Kharisa akan langsung mendatangi pasiennya di IGD untuk menyambutnya, bila ia sedang berada di rumah sakit.
Acara masih diisi sambutan dari direktur rumah sakit, entah apa yang disampaikan direktur, Kharisa sama sekali tidak mendengarkannya. Saat direktur mengenalkan dokter baru baik pengganti Manajer Yanmed maupun dokter spesialis yang baru bergabung, Kharisa masih fokus dengan HPnya.
"Kharisa selesai penyuluhan jangan kemana- mana, langsung balik ke rumah sakit, langsung ke aula, acaranya baru dimulai." Itu pesan dari Mila, rekan marketingnya setengah jam yang lalu.
"Kalau gak datang bakal rugi banget, Yanmednya kece abis, tampan, gagah, mirip-mirip Pak Andre tapi Pak Andre asli kalah, bakal jadi saingan Pak Andre di rumah sakit ini" Kharisa senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala membaca pesan dari Mila. Memangnya kenapa kalau kece, tampan, gagah? Tanya Kharisa dalam hatinya. Meski gantengnya selangit pun percuma sudah milik orang lain, oh ya Mila belum tau kalau Yanmed baru itu tunangannya Vania staf akunting, Mila harus segera diberi tahu agar dia segera mengurungkan niatnya untuk berhayal tinggi, batin Kharisa sambil nyengir membayangkan kecewanya Mila.
Ternyata ada pesan dari Faisal juga.
"Neng gimana Rakha mau sekolah? Masih ngambek gak?" Rupanya Faisal mengkhawatirkan Rakha. Kharisa memang cerita kalau Rakha sempat bilang tidak mau sekolah karena tidak bisa foto bareng dadynya.
"Alhamdulillah mau sekolah, sudah ceria lagi dan bersemangat, gak ngambek lagi." Kharisa menyempatkan membalas pesan dari Faisal. Apa pun tentang Rakha Kharisa pasti memberitahu Faisal, bukankah Faisal memang sudah seperti menjalankan peran ayah bagi Rakha, pantas saja Rakha berharap Faisal berharap menjadi Dadynya. Lalu akankah Kharisa menyampaikan keinginan Rakha yang diungkapkan tadi malam, yang tidak ia tanggapi sedikitpun? Terlalu malu bagi Kharisa untuk menyampaikannya. Faisal sudah dianggapnya sebagai kakak yang senantiasa hadir saat ia membutuhkannya, sudah banyak pengorbanan Faisal untuk mereka berdua, ia tidak ingin membebaninya lagi dengan keinginan Rakha menjadikan Faisal menjadi Dadynya.
Hingga acara berlanjut dengan serah terima jabatan dari Manajer Yanmed lama ke Yanmed baru, Kharisa baru mengangkat kepalanya, memperhatikan podium.
Saat menatap ke depan, betapa terkejutnya ia, jantungnya seakan berhenti berdetak, tubuhnya kaku dengan mata membulat, saat matanya tertuju pada sosok laki-laki berparas tampan dengan jas putih khas dokter bertengger di tubuhnya. Lalu jantungnya tiba-tiba saja berdenyut cepat, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang hampir saja menyebut namanya. Ia menajamkan lagi penglihatannya dengan perasaan tidak percaya, pasti matanya salah lihat, mungkin hanya mirip, atau mungkin ia terlalu terobsesi untuk bertemu dengan dia, seseorang yang dicarinya selama hampir lima tahun, sejak kejadian hari Sabtu kemarin, dimana Rakha menanyakan kapan Dady pulang, dan ia sangat berharap bisa bertemu dengannya hingga ia pun meminta dengan sungguh-sungguh kepada Sang Khalik di akhir sepertiga malam tadi agar segera dipertemukan dengannya. Dan kini sosok itu bisa dilihatnya.
Kharisa menggelengkan kepalanya, masih dengan rasa tidak percaya. Tubuhnya masih kaku dengan jantung berdetak cepat. Laki-laki yang ditunggunya masih sekolah kedokterannya di Amerika, bukankah sekolah kedokteran biasa ditempuh selama enam tahun? Ini baru lima tahun, ya tidak mungkin salah hitung. Tentu saja yang di depan itu bukan kekasihnya, wajahnya memang mirip, ia pun masih ingat matanya, tatapannya yang dingin saat bersama orang lain, tapi begitu hangat saat menatapnya, hidungnya yang mancung, garis rahangnya yang tegas, bibirnya yang kaku sulit untuk tersenyum, semua itu masih jelas dalam ingatannya, tapi kenapa semua itu ada pada laki-laki yang berdiri di depan sana.
Keraguannya memudar saat MC menyebut namanya "Dokter Rafael Juliana Prasetya". Nama itu.....nama itu juga sangat dikenalnya, nama yang sama dengan laki-laki yang diharapkan kehadirannya bahkan nama Prasetya ia sematkan pada nama putranya.
"El , apakah itu kamu?" Batinnya. Tangannya terasa dingin dan gemetar. Kedua matanya terasa hangat seiring dengan pandangannya yang memburam.
"Benarkah itu dia?"
Benarkan itu Rafael kekasihnya, laki-laki yang selama ini dinantinya, ayah biologis dari putranya?
bersambung.......
Huuuuffff.....kok berat sekali yah. Akhirnya Kharisa bisa melihat orang yang selama ini dinantinya. Akankah mereka bertemu?
Kawal terus yah.
Eits, mumpung Othor lagi semangat nih, jangan lupa like, komennya, kirim cemilan kembang atau kopi gitu, biar cenghar, siapa tau malam bisa Up lagi (tapi gak janji yah).😁
Oke...Thanks untuk semua supportnya. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan, dilancarkan semua urusan, dilapangkan rejeki ..... aamiin.
__ADS_1
Salam hangat🤗
Umi Haifa😘😘