Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Saatnya Memperjuangkan


__ADS_3

"Sayang ayo salam dulu sama Oma dan Opa." Ujar Rafael sambil membungkukan badannya agar sejajar dengan Rakha.


"Oma...Opa?" Rakha pun mengernyit keheranan, menatap beegantian dua orang yang duduk dikursi di hadapannya baru sekarang dilihatnya.


"Iya ini Oma dan Opa, ibu dan ayahnya Dady." Ujar Rafael meyakinkan putranya. Rakha pun mengangguk-anggukan kepalanya. "Sepelti Oma mamanya Momy?" Tanyanya menegaskan. Rafael menjawabnya dengan anggukan kepala dan senyum di bibirnya.


Sementara ayah Rafael tampak tertegun melihat sosok anak kecil yang mirip dengan putranya, dalam hatinya mengakui, tak perlu diragukan lagi, tak perlu tes DNA, sudah bisa dipastikan kalau anak kecil itu adalah cucunya. Bola matanya bergerak-gerak, lidahnya terasa kelu ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak keluar satu kata pun. Ini pertama kalinya ia melihat cucunya. Cucu yang dulu tidak diinginkannya, saat masih berbentuk janin ia yang minta agar digugurkan, tapi ternyata kini janin itu menjelma menjadi makhluk yang membuatnya kagum saat melihatnya. Ia ulurkan tangannya saat anak kecil itu mengulurkan tangannya terlebih dahulu. Terasa hangat saat tangan kecil itu menyentuh telapak tangannya dan punggung tangannya mendapat kecupan dari mulut kecil yang menggemaskan. Ia pun tersadar saat tangan kecil itu beralih meraih tangan wanita di sampingnya, hingga ia pun punya kekuatan untuk bertanya pada anak kecil yang kini bergelayut manja pada putra bungsunya.


"Namamu siapa Nak?"


"Laka Athaillah Plasetya." jawab sang cucu, masih bergelayut manja pada dadynya.


"Oh....Laka?" Papi Rafael mengusap kepala cucunya.


"Bukan Laka Opa.....tapi Lrrlaka." Sanggah sang cucu, karena cadelnya selalu saja membuat orang lain salah persepsi saat ia menyebut namanya.


"Oh ya..Raka," ujar papi Rafael tersenyum, ternyata mami Rafael pun tersenyum tipis melihat tingkah cucunya yang sejak dulu diabaikannya. Entah apa yang dirasakannya saat ini, ekspresinya terlalu datar untuk ditebak apakah ia senang melihat cucunya atau sebenarnya tidak mengharapkan bertemu cucunya.


Rafael mengajak Rakha duduk di kursi bersebelahan dengannya.


"Maaf tadi aku ijin tidak masuk kerja karena ada kegiatan di sekolah Rakha." Ujar Rafael merasa bersalah mengabaikan orang tuanya.


"Sampai telpon pun tidak diangkat? Mami, Vania nelpon kamu berkali-kali tidak diangkat." Protes maminya.


"Iya maaf Mih, HP ku silent dan gak sempat ngecek sampai kegiatan selesai." Ujar Rafael berbohong, padahal ia tau banyak panggilan masuk ke Hapnya, obrolan pun terjeda bersamaan dengan datangnya pesanan makanan yang diantar oleh beberapa pelayan. Ternyata Andre yang telah memesan makanannya, ia sudah tau selera Om dan tantenya karena sering makan bersama seperti ini.


"Kita makan dulu, setelah itu papi ingin bicara sama kamu." Ujar papi Rafael.


Mereka pun menikmati makan siang dengan hidangan yang menggiurkan. Papi, mami Rafael dan juga Andre sambil menyuapkan makanannya mereka memperhatikan bagaimana Rakha makan sendiri dengan tenang, dari mulai meminta diambilkan lauknya, berdoa sebelum makan, hingga memotong ikan, menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tak lepas dari perhatian mereka bertiga.


"Dady, aku mau ikanya lagi." ujar Rakha saat ikan di piringnya habis sementara nasinya masih ada sedikit lagi. Ia memang lebih suka makan ikan dibandingkan dengan ayam atau daging, persis seperti Faisal. Apalagi ikan gurame bakar yang dimakan saat ini terasa memanjakan lidahnya hingga ia lebih banyak menyuapkan ikannya dari pada nasinya. Rafael pun mengambilkan gurame bakar hampir setengah dari badan ikan ke piring Rakha.


"Kamu suka sekali ikan yah? Bagus biar pintar banyak makan ikan." Ujar Rafael, ia mulai tau makanan kesukaan Rakha.


"Kalau di lumah Aki sama Enin aku seling makan ikan, Om Isal yang mancing ikannya di kolam, dapat banyak, ada yang gede, ada yang keciiil." Celoteh Rakha dengan wajah cerianya. Rafael terlihat tidak suka saat Rakha menyebut nama laki-laki yang selama ini dekat dengan Kharisa dan putranya.


"Kalau ini ikannya langsung dimakan, tidak usah dipancing dulu. Ayo habiskan, kalau kurang masih ada tuh, nanti habiskan sama Rakha yah.


Rakha pun menghabiskan makanan di piringnya hingga tidak ada yang tersisa.

__ADS_1


"Mau tambah lagi?" Tanya Rafael. Rakha menggelengkan kepalanya. "Uda, kenyang." jawabnya.


"Dady, aku belum sholat dhuhul." Ujar Rakha setengah berbisik, mencondongkan badannya ke arah dadynya. Rafael tertegun sejenak, Ya Tuhan anaknya yang baru berumur empat tahun saat seperti ini masih ingat shalat, sementara ia tidak sedikit pun teringat untuk melaksanakan kewajibannya.Ketiga orang di depannya pun tertegun mendengar ucapan anak kecil yang baru pertama kali mereka lihat, walaupun sedikit berbisik namun jelas terdengar di telinga mereka.


"Dady habisin makan Dady dulu yah habis itu kita shalat." Rafael mempercepat makannya, ia tadi menambah porsinya karena lapar dan makanannya memang terasa enak di mulutnya.


"Pih, Mih, aku ke belakang dulu sebentar." Rafael pamit setelah menghabiskan makanannya, ia mengajak Rakha ke mushola.


"Setelah itu kita harus bicara El." Ujar maminya mengingatkan. Rafael menganggukan kepalanya kemudian berlalu menuju mushola.


Lima belas menit kemudian Rafael dan Rakha kembali ke tempat makan, di meja sudah tidak terlihat lagi makanan dan piring kotor, hanya ada gelas berisi air teh hangat, jus buah dan satu mangkuk kecil es krim rasa coklat dan strawberi dengan toping saus strawbery dan dua buah crepe roll coklat.


"Om Andre sudah pesankan es krim buat Rakha, kita makan di sana yuk, di ayunan, dadynya mau ngobrol dulu sama oma sama opa." Bujuk Andre, papi Rafael tadi minta tolong Andre agar menemani Rakha dulu di luar ruangan, agar pembicaraan mereka tidak terganggu, selain itu tentu saja yang akan dibicarakan adalah tentang Rakha dan kedua orang tuanya. Rakha pun dengan mudah mau mengikuti Andre membawa es krimnya.


"Pih, Mih anakku mirip sekali denganku kan? Akhirnya aku menemukannya setelah lima tahun aku tidak tahu sama sekali kabar mereka, dan saatnya sekarang aku membayar semuanya, walaupun yang aku lakukan nantinya tidak sebanding dengan perjuangan dan pengorbanan Kharisa." Rafael membuka pembicaraan langsung ke inti, ia yakin orang tuanya ingin membicarakan hubungannya dengan Kharisa juga pertunangannya dengan Vania.


"El...papi sudah membicarakan semuanya dengan mamimu, papi minta maaf karena memang papi yang meminta Kharisa menggugurkan janinnya karena papi berpikir waktu itu kalian masih sangat muda, papi tidak ingin cita-citamu hancur di tengah jalan, Kharisa juga masih harus menyelesaikan sekolah SMAnya, tapi selama itu Papi juga tidak mengetahui cucu papi, mami kamu tidak pernah memberitahu papi kalau ternyata Kharisa mempertahankan janinnya, papi kira dia tidak datang ke rumah sakit, mungkin ke tempat lain untuk menggugurkan kandungannya." Terlihat ekspresi menyesal di wajah papi Rafael.


"Sudah lah Pi, itu sudah berlalu, apa pun alasan papi atau mami, aku benar-benar kecewa sama papi dan mami. Tapi aku sudah memaafkan Papi dan Mami. Sekarang aku hanya minta Papi dan Mami merestui pembatalan pertunanganku dengan Vania dan restui aku untuk menikahi Kharisa, biarkan kami bahagia bersama anak kami." Niat Rafael untuk memutuskan pertunangannya dengan Vania sepertinya sudah bulat dan ia menunjukannya dengan sungguh-sungguh, mengatakan langsung di depan orang tuanya untuk yang kedua kalinya."


"El dengarkan papi dulu. Kami...papi mami kamu menerima kalau Rakha itu anak kamu, cucu kami, karena kami pun sudah lama mengharapkan kehadiran seorang cucu, dan ternyata kamulah yang lebih dulu memberikan kami cucu. Tapi bukan berarti kamu dengan seenaknya membatalkan pertunanganmu dengan Vania. Kamu juga harus pikirkan perasaan dia, keluarganya juga harga diri keluarga kita." Suara papi terdengar tegas.


"Justru Papi ingin kamu sekarang bertanggung jawab, pada anakmu, pada keputusanmu bertunangan dangan Vania." Ujar Papi tidak mau disalahkan oleh putranya.


"Aku terpaksa bertunangan dengan Vania, karena Mami yang memaksanya."


"Tapi kamu menyetujuinya El." Akhirnya mami bersuara juga.


"Karena waktu itu aku tidak punya alasan untuk menolaknya, sekarang aku memiliki alasan untuk membatalkannya."


"Tidak bisa begitu El, kamu jangan mempermalukan Mami di depan keluarga Vania."


"Mami sendiri yang membuatku mengambil keputusan seperti ini, Mami membuatku merasa bersalah, kenapa Mami menyembunyikan kehamilan Kharisa dariku? Kenapa Mami tidak memberitahuku tentang anakku, malah Mami memfitnah Kharisa mengkhianatiku dan memiliki anak dari laki-laki lain, kenapa Mih? Karena Mami ingin menjauhkanku dengan Kharisa kan? Lalu aku menerima bertunangan dengan Vania, begitu kan Mi? " Entah kenapa Rafael begitu emosi, matanya begitu tajam menatap maminya, jelas sekali terlihat kemarahan di wajahnya. Sementara maminnya menjadi salah tingkah karena apa yang diucapkan putranya benar adanya, tapi ia hanya diam tidak berniat untuk menjawab.


"El jaga sikapmu pada Mamimu." Bentak papinya. Suasana di Vip room restoran itu terasa panas padahal terpasang AC. Di luar Andre tampak mendengarkan celotehan keponakan barunya, sesekali Andre memperhatikan keadaan Vip room dimana sepupu dan Om tantenya berada, pintu dan dinding kaca yang tidak tertutup apapun dengan jelas memperlihatkan ketegangan di sana. Ia hanya bisa menghela nafas, bukan urusannya untuk ikut campur, ia hanya bisa mendoakan semoga diberikan jalan keluar untuk sepupunya.


"Pih, Mih, selama ini aku sangat menghormati Papi, Mami, bahkan keinginan Papi pun selalu aku turuti, Papi ingin aku jadi dokter, aku turuti, padahal sebenarnya aku menyukai bidang yang lain. Tapi untuk kali ini aku minta maaf kalau tidak bisa menuruti keinginan kalian, aku tetap pada pendirianku, akan membatalkan pertunangan dengan Vania dan menikahi Kharisa....."


"El dengarkan papi dulu, kamu bisa tetap bertanggung jawab pada Rakha tanpa harus menikah dengan Kharisa. Kamu bisa tangggung biaya hidup mereka, kalau perlu belikan rumah, kendaraan yang layak, Papi bisa bantu membelikannya, kamu juga bisa ikut mengasuh dan mendidiknya, kalau Rakha belum memiliki status, bisa kita masukan ke dalam kartu keluarga kita atau setelah kamu menikah dengan Vania sekalian saja kamu ambil saja hak asuh Rakha, Vania pasti tidak akan keberatan Rakha diasuh oleh kal........"

__ADS_1


"Jangan pernah terpikir oleh Papi untuk memisahkan Rakha dari ibunya." Belum selesai papinya berbicara, Rafael segera memotongnya.


"Aku menikah dengan Kharisa buka semata-mata karena rasa tanggung jawab karena adanya Rakha, tapi karena aku mencintainya, sejak aku masih duduk di kelas dua SMA, aku mencintai Kharisa, dan sampai saat ini aku masih sangat mencintainya. Dan aku akan memperjuangkannya walaupun Papi Mami tidak merestuiku." Ujar Rafael dengan tegas.


"El.... dengarkan Mami du....."


"Aku rasa pembicaraan kita cukup Mi, Pih, nanti aku kabari saat yang tepat untuk bertemu keluarga Vania, kalau Papi, Mami tidak mau menemaniku, tidak masalah, aku bisa sendiri bicara baik-baik dengan mereka." Rafael beranjak berdiri.


"Maaf aku pamit duluan, kasihan Rakha terlalu lama menunggu di luar." Rafael pun meninggalkan papi maminya yang hanya saling diam menatap kepergian putranya.


Rafael menghampiri Rakha yang tengah main ayunan ditemani Andre.


"Bang aku duluan pulang, ayo Rakha kita pulang." Rakha langsung turun dari ayunan mendengar dadynya mengajak pulang.


"Sudah selesai urusannya?" Tanya Andre ragu, melihat wajah sepupunya yang masam, sepertinya masih memendam amarah dan kecewa.


"Aku menganggapnya sudah selesai, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku pamit ya Bang, terima kasih sudah menemani Papi dan Mami."


"Ayo Rakha..." Rafael mengulurkan tangan kanannya disambut oleh tangan kecil putranya, amarah di hatinya langsung mereda melihat wajah tampan menggemaskan dan tatapan matanya yang bening milik putranya.


"Aku belum salim sama oma sama opa." Rakha menghentikan langkahnya saat melewati ruangan dimana oma opanya berada. Namun Rafael terus melangkah tak menghiraukan ucapan putranya hingga pegangan tangan mereka terlepas.


"Dady, aku mau salim dulu sama Oma sama Opa." Rakha pun masuk menghampiri Oma dan Opanya.


" Opa, Oma aku pulang dulu yah." Rakha mengulurkan tangannya untuk salam kehadapan opanya, disambut dengan uluran tangan, langsung saja punggung tangan opanya dicium oleh Rakha. Dengan kesadaran penuh opanya menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya dengan mata berkaca-kaca dan wajah penuh penyesalan. Ia mencium pipi dan kening Rakha. Rakha pun beralih mencium tangan omanya, tapi Omanya tidak memeluknya hanya mencium pucuk kepala cucunya. Rafael menyaksikan adegan itu dari balik dinding kaca, satu sisi ia bersyukur orang tuanya kini mau menerima Rakha sebagai cucunya. Siapa yang tidak akan luluh melihat wajah tampan nan polos namun terlihat smart dan menggemaskan milik putranya, ditambah kebaikan hatinya. Ia pun selalu merindukan wajah putranya itu, kalau bisa setiap hari ia bersama dengan putranya, dan itu yang akan dia perjuangkan. Ya sekarang saatnya ia memperjuangkan.


"Dady, ayo kita pulang, momy pasti sudah menungguku, Momy pasti sudah pulang kelja kan?" Rakha menarik jari tangan dadynya dan melangkah meninggalkan restoran yang tentunya memberi kesan untuknya karena di tempat inilah pertama kali ia bertemu dengan Oma Opanya.


bersambung....


Hai Readerku tercinta. Terima kasih selalu menunggu kisah Kharisa dan Rafael. Mohon maaf kalau belum bisa Up tiap hari, sebenarnya Othor selalu mengusahakan tipa hari Up, tapi apa daya kalau otak dan jempol belum bisa berjalan seiringan, jadi ada bolongnya😁


Mohon dukungannya dengan like dan komennya, yang mau sedekah hadiah bunga atau kopi, juva vote mingguannya, dengan senang hati Othor terima (Jiwa miskinnya lagi On)😁🤗


Percayalah itu yang membuat Othor semangat buat nulis, walau masih tahap belajar.


So....thanks atas dukungannya.


Salam sayang😘😘

__ADS_1


Umi Haifa


__ADS_2