Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Saling Memaafkan


__ADS_3

"Papa...." Spontan Kharisa memanggil papanya saat kedua matanya menemukan sosok laki-laki yang ingin ditemuinya. Ia berdiri dari duduknya lalu menghampiri papanya yang masih berdiri di teras. Sontak mama yang tengah membuka bungkus snack Rakha terkejut mendengar Karisa memanggil papa, pandangan matanya mengikuti Kharisa yang mendekati papanya.


" Papa..." Kharisa meraih tangan papanya, mencium punggung tangannya, kemudian memeluk papanya yang juga membalas memeluknya penuh kerinduan. Rindu pada putri kebanggaannya, setelah putrinya sempat mengecewakannya karena hamil di luar nikah, lebih parahnya lagi malah pergi meninggalkannya. Kini kebanggaan pada putrinya tumbuh lagi setelah Rendi menceritakan bagaimana kehidupan Kharisa saat ini yang menjadi tulang punggung bagi mama dan putranya, berhasil menjadi sarjana dengan berjuang keras mendapatkan beasiswa dan lulus dengan predikat cumlaude, tentu tidak mudah .eraih semua itu. Orang tua mana yang tidak bangga melihat kesuksesan putrinya yang diraih melalui perjuangan dengan sungguh-sungguh.


"Kenapa tidak masuk ke dalam, malah di luar." Ujar papa setelah melepas pelukannya. "Ayo masuk."


"Pah, aku datang ke sini bersama Mama, dan Bi Nani, bersama anakku juga." Kharisa menatap papanya yang terlihat begitu tenang, sementara jantungnya berdetak lebih cepat. Papa membalas tatapan Kharisa dengan lembut, masih terlihat pancaran kerinduan di mata papanya, kerinduan pada putrinya, mungkin juga pada istri keduanya. Kharisa menoleh ke belakang dimana mamanya berada, diikuti oleh pandangan papanya yang terhenti pada wanita dengan tampilan berbeda dari sebelumnya saat terakhir kali papa melihatnya. Namun wajahnya tidak banyak berubah, masih tetap cantik dan menarik di matanya. Hijab yang dikenakannya malah membuat terlihat lebih anggun.


Papa dan mama sama-sama bergeming, saling menatap dari jarak yang tidak terlalu dekat. Tidak ada kemarahan di wajah papa, yang ada tatapan kerinduan setelah bertahun-tahun mereka berpisah. Papa teringat obrolannya dengan istri pertamanya setelah Rendi mengatakan bahwa ia mengundang Kharisa dan mamanya.


"Mas anggap saja ini permintaan terakhirku kalau memang waktuku tidak lama lagi. Maafkan Dewi, ajaklah dia pulang bersama Kharisa juga putranya, cucu kita. Lupakan masa lalu Mas, kita sudah tua, sudah bukan waktunya lagi mempertahankan ego masing-masing." Kata-kata istri pertamanya masih jelas terngiang di telinganya.


"Maaf bukannya mau mengguruimu Mas, aku hanya merasa waktuku tidak lama lagi, aku tidak ingin saat aku pergi, Mas sendirian, Rendi sudah mau menikah dan setelah menikah ia akan pindah ke rumahnya, aku ingin sebelum aku pergi Mas sudah berkumpul lagi dengan Dewi dan Kharisa." Kondisi kesehatan mama Lisna memang mengalami penurunan, sel kangker yang dulu dinyatakan telah clear ternyata kembali menggerogoti organ penting di tubuhnya. Kini menjalar ke livernya, beberapa bulan ini ia melakukan terapi lagi di Singapura, hanya sekarang semangat untuk memerangi penyakitnya sudah kendor, mungkin karena ia sudah merasa lelah, hingga merasa hidupnya tidak akan lama lagi.


"Kalau Dewi dan Kharisa datang saat pernikahan Rendi, Mas harus minta maaf pada mereka dan ajak mereka pulang. Mas mau kan?" Saat itu Papa Kharisa hanya menganggukan kepalanya dihadapan istrinya yang tengah terbaring lemah.


Dan kini istri dan putrinya telah ada di hadapanya, akankah ia menepati janjinya?


"Ajak mamamu ke dalam, belum pada makan kan?" Kharisa lega mendengar ucapan papanya, berarti papa menerima kedatangan mereka. Ia pun menganggukan kepala, dengan senyum menghiasi bibirnya. Dengan perasaan berdebar ia menghampiri mama yang tengah tertegun.


"Mah, ayo kita masuk." Ajak Kharisa, " Ayo Bi, Rakha, ayo kita masuk, nanti salam sama Opa sama Oma yah." Walaupun merasa diterima oleh papanya, namun jantung Kharisa terasa berdebar, selain tujuannya ingin menyatukan mama dengan papanya, ia pun ingin mengenalkan Rakha pada Papanya dan berharap papanya mau menerima Rakha sebagai cucunya.


Suasana di dalam rumah sudah terlihat sepi, keluarga dekat sudah pulang ke rumahnya masing-masing, hanya ada beberapa petugas dari WO yang tengah merapihkan peralatan. Kharisa, Mama berhenti di ruang tamu, tidak berani masuk lebih dalam, tentu saja mereka merasa asing dan canggung.


Rendi yang telah diberitahu papanya akan kedatangan Kharisa dan mamanya langsung mencari keberadaan Kharisa.


"Om Lendi......" Teriak Rakha memanggil omnya.


"Hai....keponakan Om sudah datang ternyata." Rendi menghampiri Rakha, mencium pucuk kepalanya, bersalaman dengan mama , Kharisa dan Bi Nani. Penampilannya kini sudah menggunakan baju biasa, celana panjang dan kemeja, rambutnya masih basah, wajahnya terlihat segar, terlihat baru selesai mandi.


"Mas Rendi maaf yah kita datangnya telat, gak bisa lihat prosesi siramannya, semoga besok acaranya lancar ya Mas." ujar Kharisa.

__ADS_1


"Gak apa-apa De, makasih udah datang ke sini dulu." Rendi mengusap kepala adiknya.


"Mah Uwi, makasih ya sudah datang ke sini." Mama hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Ren, mama ingin ketemu mamamu." Yang diingat mama tentu saja istri pertama suaminya, yang telah berbaik hati berbagi suami dengannya, dia wanita hebat yang dikenalnya, disaat ditempa ujian dengan penyakit kanker rahim, dia malah memintanya untuk menjadi istri dari suaminya, menjadi madunya.


"Mama ada di kamarnya, setelah acara selesai mama langsung ke kamar, sekarang kondisi kesehatannya menurun lagi."


"Oh... bukannya mamamu sudah sehat, kangkernya sudah bebas kan? Ya udah biar mamamu istirahat saja dulu." Ujar mama, ia tidak ingin mengganggu.


"Gak apa-apa Mah Uwi, ayo kita temui mama, dia pasti senang ketemu Mah Uwi dan Kharisa, tadi juga sudsh nanyain terus."


Mereka pun menemui mama Lisna di kamarnya, di ruang tengah tidak terlihat papa, hanya ada anak tertua papa, Reza dan istrinya yang tengah duduk di sofa sambil menikmati hidangan yang masih tersaji, mereka sempat saling menyapa. Entah dimana keberadaan papa, padahal tadi dia yang meminta mereka masuk.


Di dalam kamar Mama Lisna tengah duduk bersandar di tempat tidur. Ia langsung menoleh saat mendengar pintu kamarnya terbuka. Terlihat Rendi masuk menghampirinya.


"Mama Uwi dan Kharisa sudah datang." Ujar Rendi, otomatis mama lisna menoleh ke arah pintu, dan benar saja disana telah berdiri wanita yang menjadi madunya bersama putrinya, di belakangnya Bi Nani menuntun seorang anak kecil yang saat terakhir bertemu masih berada dalam gendongan.


"Kamu kemana saja Wi....?" Tanya Mama Lisna dalam isak tangisnya.


"Maafkan aku Mbak......maafkan aku yang tidak peduli dengan Mbak Lisna." Air mata mama tidak bisa dibendung lagi, betapa sedihnya ia melihat keadaan wanita yang dikaguminya, wajahnya terlihat pucat, tubuhnya menjadi kurus, beda sekali dengan keadaan sebelum ia pergi lima tahun yang lalu. Ia pikir setelah operasi pengangkatan rahim dan terapi lanjutan hingga dinyatakan sel kangkernya bersih, istri pertama suaminya telah benar-benar sembuh, tapi ternyata dugaannya salah, kini ia melihat sendiri kondisinya malah terlihat lebih parah dari sakitnya dulu.


Sementara itu Rendi mengajak Rakha keluar kamar, agar tidak melihat kesedihan kedua omanya, Bi Nani pun ikut keluar meninggalkan Kharisa yang beranjak mendekati mama dan mama sambungnya.


"Mbak....mbak sakit lagi?" Tanya Mama setelah melepaskan pelukannya, dan menyeka air matanya, kini menggenggam kedua tangan mama Lisna.


"Sepertinya Allah masih ingin menguji kesabaranku, dan sekarang aku telah ikhlas menerima semuanya, bahkan aku ikhlas kalau Allah tidak memberikan kesempatan lebih lama lagi......"


"Mbak....Mbak jangan bicara seperti itu, bisa saja Mbak berumur panjang, sakit tidak menjamin seseorang lebih cepat dipanggil Allah, bisa saja aku yang lebih dulu Allah panggil." Mama menggenggam tangan Mama Lisna semakin kuat, seolah memberikan kekuatan.


"Fungsi liverku sudah mengeras dan sel kangker di tubuhku mungkin sudah menjalar ke organ lain, dan waktuku mungkin tidak akan lama lagi. Aku senang kamu datang, sepertinya Allah memang telah merencanakan semuanya dengan sempurna." Mama Lisna menghela nafasnya, menghirup udara sebanyak-banyaknya karena dadanya terasa sesak. Akhir-akhir ini memang sering mengeluh sesak, tabung dan selang oksigen pun telah disiapkan di samping tempat tidurnya.

__ADS_1


"Kenapa Mbak, sesak?" Mama terlihat khawatir, begitu pun dengan Kharisa.


"Mama Lisna sebaiknya istirahat saja, oksigennya mau dipasang?" Tanya Kharisa yang sudah tidak asing lagi dengan peralatan medis. Ia sering melihat bagaimana dimter dan perawat menangani pasien yang sesak di IGD.


"Tidak usah." Mama Lisna menggelengkan kepalanya.


"Wi, Kharis.....tolong maafkan Papa yah, pulanglah kembali ke rumah, dan berkumpul lagi dengan Papa."


"Dia juga menyesal dengan apa yang dilakukannya dulu, lupakan masa lalu, kalian harus bahagia bersama papa." Mama Lisna bicara begitu tulus, ia memang sangat berharap madunya bisa kembali bersama dengan suaminya lagi.


Ceklek....


Terdengar pintu kamar yang tertutup dibuka oleh seseorang, mereka bertiga pun menoleh ke arah pintu yang terbuka. Tampak papa dengan tubuh tegapnya berdiri tertegun menatap tiga wanita yang disayanginya.


"Pah...."


"Mas...." Mama Lisna memanggil suaminya dengan suara yang terdengar pelan. "Kemarilah Mas."


Kharisa menggeser posisi berdirinya memberi kesempatan papanya berada di dekat mama Lisna dan mamanya. Papa pun berdiri di dekat kedua istrinya. Wajah mama terlihat pucat, bukan karena kekurangan darah, tapi berada di hadapan suami yang dulu ditinggalkannya membuat aliran darahnya terasa terhenti, tapi jantungnya terasa berdetak lebih cepat.


"Mas...." Dengan bibir bergetar mama menyapa suaminya, diiringi anggukan kepalanya.


"Wi....." Papa balas menyapa istrinya yang tega meninggalkannya.


"Kharis, bisa antar Mama ke ruang tengah dengan kursi roda? Mama ingin bertemu cucu mama." Tentu saja ucapan Mama Lisna hanya akal bulusnya saja untuk memberikan kesempatan kepada suaminya agar bisa leluasa bicara berdua dengan istri keduanya.


"Oh ya, bisa Mah." Kharisa pun langsung mendekatkan kursi roda ke dekat tempat tidur, Mama Lisna beranjak dari duduknya, dibantu oleh Papa, menurunkan kakinya dan berpindah duduk ke kursi roda. Mama hanya diam berdiri memperhatikan mama Lisna hingga Kharisa membawa mama Lisna keluar kamar. Kini tinggal mama dan papa yang berada di dalam kamar.


"Wi....aku minta maaf." Kata maaf begitu mudah keluar dari mulut papa, membuat mama tertegun tidak percaya menatap wajah suaminya, kesungguhan terpancar di wajahnya. Akhirnya seorang Dewantara yang dikenalnya berhati keras, kepala batu, ternyata dengan mudah mengucapkan kata maaf, padahal mama mengira ialah yang harus mengucapkan permohonan maaf pada suaminya. Apa yang membuat papa dengan mudahnya bersikap seperti itu. Padahal lima tahun yang lalu begitu keras hatinya papa ingin Kharisa menggugurkan kandungannya, apa karena lima tahun berpisah bisa membuat papa berubah?


bersambung

__ADS_1


__ADS_2