Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

Rafael menepati janjinya untuk datang ke mess Vania yang terhalang delapan rumah mess yang lain, mess Vania berada di ujung. Sebelumnya ia melaksanakan shalat Isya, sekarang dia jadi lebih rajin melaksanakan kewajibannya sebagai muslim walaupun kadang masih ada yang bolong, tapi sudah termasuk kemajuan yang luar biasa, tentu saja ini karena putra kesayangannya yang selalu mengajaknya shalat saat bersamanya.


"Masuk Raf...." Vania mempersilahkan tunangannya masuk. "Kamu sudah makan?" Tanyanya, sebenarnya ia sudah menyediakan makan malam untuk mereka berdua, tapi ia tidak percaya diri kalau Rafael mau makan malam bersamanya karena melihat sikapnya yang semakin menjauhinya. Tapi ia tetap menyiapkan, dan menawarinya, siapa tau Rafael mau makan bersamanya.


"Aku sudah makan, kalau kamu mau makan, makan saja dulu." Rafael mendudukan tubuhnya di sofa.


"Sebentar, aku buatkan minum dulu." Vania tidak berniat untuk makan, ***** makannya pun hilang karena sedikit rasa kecewa yang sudah bisa ia duga, Rafael tidak akan mau makan bersamanya. Ia kembali ke ruang tamu dengan membawa secangkir capucino, ia tau Rafael suka dengan minuman itu. Kemudian ia duduk di sofa berhadapan dengan Rafael.


"Van langsung saja, aku ingin membahas lagi hubungan kita, tepatnya aku ingin menegaskan kalau aku sudah fix tidak bisa melanjutkan hubungan kita." Rafael mengucapkannya dengan penuh keyakinan dan Vania bisa melihat dan merasakan tunagannya itu benar-benar serius dengan ucapannya.


"Apakah wanita itu juga bekerja di rumah sakit ini?" Pertanyaan Vania membuat Rafael mengernyit. Vania memang mulai curiga kalau wanita yang di cintai Rafael adalah Kharisa, sejak memperhatikan Rafael saat morning meeting dua minggu yang lalu. Tapi setelah itu ia tidak menemukan bukti kedekatan antara Rafael dan Kharisa, tapi tadi siang ia melihat Rafael berdua di lift dengan Kharisa membuatnya penasaran dan ingin menanyakannya langsung pada Rafael.


"Siapa wanita itu kamu tidak perlu tau Van, yang jelas aku mencintainya jauh sebelum kita bertemu." Untuk saat ini tidak mungkin Rafael memberitau kalau wanita yang dicintainya adalah Kharisa, Kharisa sendiri belum mau menerimanya.

__ADS_1


"Kalau kanu sudah memiliki wanita yang kamu cintai kenapa kamu terima perjodohan ini? Harusnya kamu menolak, jadi aku tidak perlu lagi berharap sama kamu, kalu sudah seperti ini aku berat ngelepas kamu Raf, bukan hanya karena aku sudah menyukaimu tapi yang kupikirkan adalah keluargaku, aku memikirkan bagaimana perasaan mereka terutama orang tuaku dan nenekku, mereka sudah terlalu bahagia akhirnya apa yang diinginkan oleh kakekku dan kakek kamu terwujud, mereka pasti kecewa kalau pertunangan anaknya harus kandas.Coba kamu pikirkan lagi Raf, kalau kita belum sampai ke tahap tunangan mungkin aku tidak terlalu banyak pertimbangan, tapi ini... keluarga besar, relasi orang tuaku, teman-temanku sudah tahu kalau kita sudah bertunangan, apalagi papamu mengumumkannya di depan karyawan rumah sakit. Kalau kamu memang tidak memikirkan sedikit pun bangaimana perasaanku, aku mohon pikirkan perasaan orang tuaku, dan nenekku yang sedang sakit Raf." Vania mengungkapkan seluruh ganjalan yang ada di hatinya. Matanya tampak berkaca-kaca, wanita mana yang tidak akan sedih, dan perih hatinya saat tunangannya malah meminta membatalkan pertunangan mereka, walaupun karena dijodohkan, dan rasa cintanya belum begitu dalam.


"Mereka akan lebih kecewa saat pernikahan anaknya kandas, mumpung kita belum sampai ke pernikahan Van, aku tidak ingin menyakiti kamu lebih dalam, aku tidak ingin pernikahan kita nanti hanya sebuah sandiwara yang malah menyakitkan bagi kita. Kamu harus bahagia Van, dan aku tidak akan bisa membuatmu bahagia."


"Aku akan bahagia bila melihat orang tuaku bahagia, makanya aku setuju dengan perjodohan ini karena ingin melihat mereka bahagia." Vania memang seorang anak yang baik, sejak kecil ia anak yang penurut, tak heran ia begitu di sayang oleh orang tuanya terutama oleh neneknya. Hingga tumbuh dewasa pun, ia selalu mengikuti keinginan orang tuanya. Saat memilih jurusan perguruan tinggi ia mengikuti keinginan papanya, walau sebenarnya ia tidak terlalu berminat, ia lebih menyukai psikologi dari pada keuangan, tapi akhirnya ia mengikuti keinginan papanya mengambil jurusan manajemen keuangan.


Selain cantik Vania juga gadis yang pintar, banyak teman laki-lakinya yang menaruh hati pada Vania, tapi ia selalu menolak, karena ia sudah tau kalau ia akan dijodohkan dengan cucu sahabat kakeknya, tepatnya saat masuk perguruan tinggi ia diberitahu oleh mama dan omanya. Dan setelah Rafael kembali ke tanah air setelah menyelesaikan sekolah dokternya, barulah ia dipertemukan dengan Rafael. Sebetulnya mereka sudah kenal sebelumnya dan pernah beberapa kali bertemu di acara pertemuan keluarga, karena memang hubungan orang tua mereka begitu dekat. Saat diberitahu kalau yang akan dijodohkan dengannya adalah Rafael, ia mulai membuka hatinya untuk menerima Rafael, memang tidak sulit menerima Rafael sebagai calon suami, siapa yang akan menolak dijodohkan dengan laki-laki tampan dengan tubuh proporsional, calon dokter, dari keluarga terpandang dan kaya tentunya palagi orang tuanya begitu berharap Rafael jadi menantunya, tidak ada alasan bagi Vania untuk menolaknya, bahkan hingga saat ini pun perasaan cinta sudah mulai tumbuh di hatinya.


"Raf, apa tidak ada perasaan sedikit pun di dalam hatimu untukku, apa aku begitu banyak kekurangannya di bandingkan wanita itu?" Vania pun terus berusaha memperjuangkan hubungan mereka, ia tidak rela kalau pertunangannya harus berakhir begitu saja tanpa diperjuangkan.


"Apa dia begitu sempurna hingga kamu lebih memilihnya dibandingkan aku, aku mau melakukan apa saja untuk kamu Raf, kamu mau aku seperti apa, aku akan turuti, aku mohon pertimbangkan dulu hargai perasaan orang tuaku Raf, aku mohon." Kali ini Vania terduduk di lantai memohon kepada Rafael, tentu saja Rafael kaget melihat sikap Vania yang memohon dengan cara seperti itu.


"Van, kamu jangan seperti ini." Rafael meraih Vania, mendudukannya kembali di atas sofa.

__ADS_1


"Maaf kalau aku telah menyakitimu, membuatmu kecewa, ada hal yang begitu berat bagiku yang membuat aku memilih tidak melanjutkan pertunangan ini, ini karena masa laluku, dan aku harus bertanggung jawab atas apa yang telah aku perbuat."


"Apa wanita itu tengah mengandung anakmu?" Tanya Vania dengan suara bergetar. Jantung Vania berdetak dengan cepat, ia takut kalau dugaannya ternyata benar, Rafael lebih memilih wanita itu karena tengah hamil anak Rafael.


"Lebih dari itu....aku sudah memiliki anak darinya."


Ucapan Rafael terdengar bagaikan petir yang menyambarnya, membuat jantungnya berhenti berdetak, matanya membulat, tangannya reflek menutup mulutnya yang terbuka. Ia tidak salah dengar kan?


"A...apa? Anak? Ba..bagaimana bisa...?" Tanya Vania tergagap, ia masih kaget dengan ucapan Rafael.


"Kamu pasti tidak menyangka kan aku sudah memiliki anak, usianya empat tahun lebih, aku pun baru tau tidak lama setelah aku pindah ke sini. Dan aku harus bertanggung jawab atas apa yang telah aku perbuat, pada anakku, pada ibunya yang telah aku terlantarkan. Jadi aku mohon kamu bisa mengerti dan menerima kenapa aku bersikeras ingin memutuskan pertunangan kita." Kini Vania terdiam seribu bahasa,mencoba menerima dan mencerna apa yang diucapkan Rafael. Dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, tetap memperjuangkan pertunangannya atau mundur mengikuti keinginan Rafael karena ternyata ada penghalang yang cukup berat untuk membuat hubungannya tetap bertahan.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2