
Rafael bergegas meninggalkan rumah Kharisa setelah mendapat telfon dari Andre, tadinya ia akan menunggu Kharisa yang belum juga pulang dari rumah sakit, padahal hujan telah reda. Ia mengantarkan Rakha setelah diajak jalan-jalan di mall, lebih tepatnya diajak menemui omanya dari Jakarta yang katanya rindu ingin bertemu dengan cucunya. Tapi setelah mendapat kabar dari Andre kalau kakak sepupunya itu melihat Vania menemui Kharisa di ruangannya dan Kharisa tengah menangis, namun Andre tidak tau apa yang tengah mereka bicarakan karena saat Andre masuk ke ruang marketing ia melihat dua wanita itu tengah duduk berhadapan yang dilihatnya Kharisa sesekali menyeka pipinya yang basah karena linangan air mata, Vania sendiri posisinya membelakangi pintu sehingga Andre tidak bisa melihat wajahnya. Andre pun mengurungkan untuk masuk ke ruangannya, ia memilih keluar ruangan marketing lalu menghubungi Rafael.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, hatinya tidak tenang, pikirannya berkelana membayangkan apa yang terjadi dengan Kharisa. Ia khawatir Vania berbuat macam-macam pada Kharisa, Vania pasti sudah mengetahui siapa wanita yang ia cintai, ibu dari anaknya, maminya pasti yang memberitahu Vania. Bisa jadi Vania melabrak Kharisa, apa yang diucapkan Vania hingga membuat Kharisa menangis? Pasti mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan, semoga saja Vania tidak melakukan kekerasan fisik pada Kharisa. Itu yang ada di benak Rafael selama perjalanan menuju rumah sakit yang terasa lama.
Dengan tergesa-gesa ia masuk melalui pintu samping rumah sakit setelah memarkirkan mobil di tempat parkir biasanya. Dengan tidak sabar ia menunggu pintu lift terbuka bersama pengunjung rumah sakit lainnya. Ia pun harus rela menunggu antrian pengunjung yang telah lebih dulu mengantri untuk menggunakan lift, pengunjung rumah sakit lumayan ramai karena bertepatan dengan jam besuk pasien rawat inap. Akhirnya ia lebih memilih menggunakan tangga menuju lantai enam, dengan sedikit berlari ia melangkahkan kakinya menaiki tangga tiap lantainya hingga sampailah ia di lantai enam.
Dengan terengah ia behenti sejenak untuk mengambil nafas sebelum masuk ke ruang marketing. Ia langsung masuk karena memang pintunya terbuka, ia tidak menemukan siapapun kecuali Kharisa yang tengah duduk di atas sajadahnya sedang melipat mukenanya, Kharisa baru saja selesai shalat maghrib di samping meja kerjanya.
"Sa....kamu gak apa-apa kan?" Rafael menghampiri Kharisa dengan wajah penuh kekhawatiran, sementara Kharisa keheranan melihat Rafael muncul dihadapannya.
"El.....? Ada apa? Kenapa kamu ke sini?" Tanya Kharisa heran.
"Kamu gak apa-apa kan? Vania gak ngapa-ngapain kamu kan?" Kekhawatiran Rafael masih belum hilang, apalagi melihat mata Kharisa yang sembab.
"Vania? Nggak...." jawab Kharisa sambil menggelengkan kepalanya. Ia berdiri, menyimpan alat shalatnya di laci meja kerjanya.
"Syukurlah....dia bicara apa, apa nyakitin kamu?" Tanya Rafael, sekarang ia penasaran apa yang dilakukan Vania pada Kharisa. Ia sedikit lega melihat Kharisa baik-baik saja, secara fisik ia tidak terluka, tapi tidak tau dengan hatinya.
"Kamu tau Vania ke sini?" Tanya Kharisa heran, bukankah tadi Rafael pergi mengajak Rakha jalan-jalan?
__ADS_1
"Bang Andre yang ngasih tau, kamu gak usah pedulikan apa yang diucapkan Vania, gak usah diambil hati, aku nanti akan bicara baik-baik dengan dia." Kharisa mengernyit mendengar ucapan Rafael, pasti Rafael salah sangka, pasti menyangka Vania melabraknya.
"El ngapain kamu ke sini? Gimana kalau ada orang yang lihat kita berdua di sini? Sebaiknya kamu segera keluar, aku juga akan pulang." Kharisa tersadar kalau mereka hanya berdua di ruangan itu dan ia yakin di ruangan bagian lain masih ada staf yang belum pulang, biasanya staf keuangan dan HRD yang terlihat betah berada di kantor sampai malam.
"Aku khawatir sama kamu Sa, Bang Andre lihat kamu nangis saat lagi berdua dengan Vania. Kamu baik-baik saja kan?"
"Aku gak apa-apa. Kami hanya ngobrol berdua. Aku gak bisa cerita sekarang, aku harus pulang, kasian Rakha pasti nungguin aku, oh ya tumben ngajak Rakha jalan-jalan di hari kerja?" Kharisa merapihkan meja kerjanya, menyimpan berkas ke file cabinet, lalu mematikan komputernya.
"Sebenarnya aku mengajak Rakha ketemu omanya, sory aku gak bilang, aku takut kamu gak ngijinin. Mami kangen sama cucunya, kamu harus percaya sama aku Sa, kalau orang tuaku telah menerima Rakha sebagai cucunya mereka sangat menyayangi Rakha." Ujar Rafael meyakinkan. Kharisa tertegun sejenak.
"Aku harus pulang sekarang." Kharisa mengambil tas selempang dan jaketnya dari dalam lemari cabinet, ia tidak menanggapi ucapan Rafael.
"Gak usah El, aku pulang sendiri saja, aku pake jaket kok." Ia memasang jaketnya yang lumayan bisa sedikit melindungi tubuhnya dari dinginnya angin malam. Rafael pun diam menunggunya.
"Tapi Sa di luar dingin banget, habis hujan juga kan, aku anterin." Ujar Rafael tegas.
"Mau aku dulu atau kamu yang duluan keluar, aku gak mau ada orang lain salah sangka melihat kita berduaan." Kharisa tidak menggubris ucapan Rafael, gak mungkin dia diantar pulang oleh Rafael, bagaimana tanggapan karyawan rumah sakit kalau sampai ada yang melihatnya.
"Oh ya kamu belum shalat maghrib kan El? Sebaiknya kamu shalat dulu, aku duluan turun yah. Assalamualaikum." Kharisa bergegas meninggalkan Rafael yang masih diam dengan wajah kecewanya, Rafael pun tidak berusaha mengejar Kharisa, walaupun sebenarnya ia penasaran dengan apa yang dilakukan Vania, apa mereka hanya mengobrol biasa? Lalu apa yang mereka bicarakan? Kalau hanya ngobrol kenapa sampai membuat Kharisa menangis?
__ADS_1
Kharisa tiba di rumahnya pukul tujuh malam disambut oleh putranya yang sejak tadi menunggunya, ia mengendarai motornya pelan-pelan, selain jalanan licin setelah hujan, ternyata angin malam terasa begitu dingin sampai menembus kulitnya, benar kata Rafael, cuaca malam ini begitu dingin, pasti karena habis turun hujan.
"Momy kenapa pulangnya lama? Aku nungguin Momy dali tadi." Ujar Raka dengan wajah cemberutnya.
"Momy menunggu hujan reda sayang, hujannya besar, di sini juga hujan kan?"
"Tadi Dady bilang mau jemput Momy, kenapa Momy nggak sama Dady pulangnya, Dady jadi gak ke sini lagi ya Momy?" Tanya Rakha kecewa. Kharisa pun menjawab satu persatu pertanyaan putranya yang memang sedang masanya ingin mengetahui banyak hal.
Setelah selesai menjawab pertanyaan dan mendengarkan cerita putranya ia menuju kamarnya, kemudian mandi dan makan malam.
Kini ia berada di dalam kamarnya, duduk bersandar di tempat tidurnya, di sebelahnya Rakha sudah tidur pulas setelah dibacakan buku cerita oleh Kharisa. Ia tidak bisa memejamkan matanya, padahal tadi ia sudah mengantuk sampai beberapa kali menguap. Ternyata ia sedang mengingat obrolannya tadi dengan Vania. Ia tidak menyangka sikap Vania benar-benar di luar dugaannya. Ia masih mencoba mencerna dan memahami ucapan Vania, apakah itu berarti Vania mengalah untuknya?
" Kamu yang lebih berhak bersama Rafael, kamu dan anakmu lebih membutuhkan Rafael dibandingkan aku, jadi kembalilah pada Rafael, jadilah keluarga yang utuh untuk putra kalian."
"Kamu jangan pikirkan aku, bohong kalau aku tidak kecewa atau sedih, tapi aku bisa mengatasinya. Aku akan bicara dengan keluargaku, secepatnya, aku akan jelaskan ke mereka, aku yakin orang tuaku akan memahami kondisi Rafael, sehingga tidak berat untuk memutuskan pertunangan kami dibatalkan."
"Janji kamu akan kembali pada Rafael, demi buah hati kalian, percayalah aku akan bahagia melihat kalian bisa bersama menjadi keluarga dan hidup bahagia."
Benar-benar di luar dugaannya, dan ia jadi kagum pada sosok Vania yang rela melepaskan orang yang dicintainya demi kebahagiaan orang lain. Inikah yang disebut mencintai dengan tulus? Lalu apakah setelah pengorbanan Vania haruskah ia kembali menerima Rafael? Siapkah ia hidup bersama Rafael membangun keluarga yang utuh demi putra yang disayanginya. Siapkah ia menghadapi mami Rafael yang belum jelas apakah menerimanya atau tidak sebagai menantunya. Sekarang itu yang harus ia pikirkan dan pertimbangkan dengan baik. Semoga Allah memberikan petunjuk padanya, dan memudahkan segala urusannya. Itu harapan Kharisa saat ini.
__ADS_1
bersambung