Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Restu Orang Tua


__ADS_3

"Assalamualaikum....." Kharisa lebih dulu mengucap salam saat berada di depan pintu ruang tamu, ia menenteng tas gendong Rakha dan goodie bag yang berisi oleh-oleh dari Turki dan dari Arab Saudi yang diberikan Mario dan Dita


"Waalaikumsalam...." Serempak mama dan papa yang tengah duduk di sofa ruang tamu menjawab. Kharisa mencium kedua tangan mereka, sementara Rafael yang ada di belakangnya hanya menganggukan kepala dan memasang senyum di bibirnya, ia kesulitan untuk bersalamam karena menggendong Rakha yang masih saja terlelap.


"Langsung tidurin di kamar saja El." Ujar Mama, Rafael menganggukan kepalanya langsung mengikuti Kharisa ke kamarnya. Setelah menidurkan Rakha, sejenak menarik nafas panjang.


"Sa...doakan aku yah." ujarnya sambil mencoba menenangkan dirinya, tapi detak jatungnya masih tidak bisa dikondisikan. Kharisa menganggukan kepalanya. "Semoga Allah melembutkan hati papa." Ujarnya. Mereka berdua keluar kamar menuju ruang tamu.


Dengan jantung yang berdebar, Rafael menghampiri mama Kharisa, tangannya terasa dingin tapi tadi ia belum bersalaman, ia meraih tangan mama Kharisa dan mencium punggung tangannya, kemudian beralih ke laki-laki setengah baya yang duduk di sebelah mama Kharisa namun dengan jalan memutar melewati meja. Ia menghampiri laki-laki yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa terbaca, namun tidak terlihat kemarahan di wajahnya membuat Rafael percaya diri meraih tangannya dan menyalaminya dengan penuh takzim.


"Saya Rafael Om." Tiba-tiba Rafael duduk bersimpuh di lantai betumpu pada kedua lututnya, kedua tangannya memegang kaki Papa Kharisa. Sontak saja membuat Papa Kharisa kaget, begitu juga Kharisa dan mamanya.


"Saya minta maaf Om atas apa yang telah saya perbuat pada Kharisa di masa lalu, saya tidak bermaksud menyakiti dan membuat Kharisa dan keluarga menderita. Saya memang salah telah merusak kehormatan Kharisa, tapi saya melakukannya karena saya mencintainya." Ujar Rafael dengan nada penuh penyesalan.


"El....bangun El, jangan seperti itu." Kharisa mendekati Rafael berdiri di belakangnya.


"Om, saya pantas mendapat hukuman apapun dari Om, saya siap menerimanya tapi saya mohon maafkan saya Om. Saya akan bertanggung jawab atas perbuatan saya, dan saya akan memperbaiki segala kesalahan saya." Papa Kharisa masih bergeming, ia sama sekali tidak menanggapi ucapan laki-laki yang telah memporak porandakan hatinya lima tahun yang lalu hingga membuatnya salah mengambil keputusan, dan membuatnya berpisah dengan istri dan putrinya.


"El...duduklah...." Mama meraih bahu Rafael, namun Rafael tetap bergeming, malah kedua tangannya makin kuat memegang kaki papa Kharisa.


"Saya tidak akan bangun sebelum Om memaafkan saya Tante."


"Mas...." Mama mengusap tangan suaminya yang diam terpaku, berusaha melembutkan hati suaminya yang sepertinya masih berat untuk memaafkan Rafael, padahal tiga minggu yang lalu mama telah menceritakan yang sebenarnya apa yang membuat Rafael terkesan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya pada putri mereka. Mama pun memberikan gambaran seperti apa sosok Rafael dimatanya.


"Rafael sebenarnya laki-laki yang bertanggung jawab, selama ini ia tidak pernah muncul karena tidak mengetahui apa yang terjadi pada Kharisa, orang tuanya yang telah menutupinya, entah kenapa orang tuanya tidak memberitahu Rafael, malah menutupinya." Ujar Mama saat itu.


"Rafael pun berusaha mencari Kharisa saat ia pulang liburan kuliahnya, ia tidak meninggalkan Kharisa. Dia juga sangat mencintai dan menyayangi putri kita, juga Rakha. Tanpa ragu ia mengakui Rakha setelah tau kalau Rakha adalah putranya."


"Mas, jangan membuat putri kita menderita lagi, sudah cukup Kharisa menderita dengan penyesalan dan penantiannya, sekarang saatnya Kharisa bahagia, biarkan dia bahagia dengan laki-laki pilihannya, dia sangat mencintai Rafael, jadi maafkanlah Rafael, restuilah mereka untuk hidup bersama,membangun sebuah keluarga, menjadi orang tua yang utuh untuk cucu kita." Saat itu Papa Kharisa masih memendam kemarahan kepada laki-laki dianggapnya tidak bertanggung jawab, yang telah membuat putrinya menanggung sendiri hasil perbuatan mereka, namun Mama Kharisa dengan sabar terus memberi pengertian, hingga suaminya berjanji akan memaafkan Rafael dan merestui mereka hidup bersama.


Namun saat ini Papa Kharisa tidak menunjukan sikap kalau ia akan memafkan laki-laki yang tengah bersimpuh dikakinya. Entah apa yang dipikirkan papa, apa ia berubah pikiran setelah bertemu langsung dengan Rafael?

__ADS_1


"Mas....." Mama kembali mengingatkan suaminya dengan tatapan memohon, rupanya papa mengerti maksud tatapan istrinya. Sebenarnya papa sendiri sedang meyakinkan diri untuk memafkan Rafael, apalagi melihat apa yang dilakukannya saat ini ia makin yakin kalau Rafael bersungguh-sungguh meminta maaf, dan terlihat kalau Rafael adalah laki-laki yang baik, hanya saja Papa sepertinya masih ingin menguji kesungguhan Rafael.


"Ekhem....." Papa berdehem, ia menggeser duduknya, menggeser kakinya, melepaskan dari pegangan tangan Rafael.


"Om saya mohon maafkan saya, beri kesempatan saya untuk membayar kesalahan saya, juga membahagiakan putri Om. Saya sungguh-sungguh mencintai Kharisa Om." Rafael masih terus saja berusaha mendapatkan maaf dan restu dari Papa Kharisa, masih dengan posisi bersimpuh di lantai.


"Apa buktinya kalau kamu sungguh-sungguh mencintai putri saya dan bisa membahagiakannya?" Tanya Papa dingin, entah sedang menguji Rafael atau memang sebenarnya tidak yakin dengannya.


"Saat ini juga saya meminta kepada Om sebagai wali Kharisa untuk menerima lamaran saya kepada Kharisa untuk menjadi pendamping hidup saya, saya berjanji akan membahagiakannya juga Rakha putra kami, jika nanti ternyata saya tidak memenuhi janji saya, saya serahkan kepada Om apapun yang akan Om lakukan akan saya terima." Rafael terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Kharisa yang masih berdiri di belakangnya hanya bisa tertegun sambil terus berdoa di dalam hatinya semoga papanya dilembutkan hatinya.


"Lalu bagaimana dengan orang tuamu, bukankah mereka tidak menerima Kharisa? Saya tidak ingin putri saya menjadi menantu yang tidak diinginkan, saya tidak akan merestui kalau orang tuamu tidak menerima Kharisa, cukup penolakan mereka selama ini yang telah membuat putri saya terluka." Papa memandang putrinya dengan tatapan penyesalan, ia sadar bukan hanya orang tua Rafael yang telah menyakitinya, tapi ia sendiri telah menyakiti putrinya.


"Papi saya telah menerima Kharisa Om , bahkan ia sangat menyesal dengan sikapnya dulu, saya juga akan pastikan mami saya menerima Kharisa, mereka juga telah menerima Rakha sebagai cucu mereka bahkan sangat menyayangi Rakha."


"Ok, saya tunggu kabar baiknya kalau orang tuamu benar-benar menerima Kharisa." Sejenak papa tertegun seperti tengah memikirkan sesuatu. "Terutama ibu kamu harus benar-benar menerima Kharisa dengan tulus, setelah itu saya harus bertemu mereka." Ujar Papa lagi, lalu berdiri dari duduknya.


"Jadi Om telah memaafkan saya?" Rafael masih ragu dengan sikap papa Kharisa. Semua tidak seperti yang ia bayangkan, tidak ada tamparan atau pukulan, tidak ada kata-kata kasar atau caci maki yang sebenarnya layak ia terima. Apakah ini berarti Papa Kharisa memaafkannya?


"Setiap orang punya kesalahan, termasuk saya juga memiliki kesalahan. Saya telah memaafkan kamu dengan catatan jangan pernah menyakiti putri saya lagi."


"Terima kasih Om telah memaafkan saya." Rafael langsung mencium punggung tangan papa. dengan peradaan lega dan bahagia. "Saya janji tidak akan menyakiti Kharisa, saya akan menyayanginya sepenuh hati saya." Papa Kharisa menganggukan kepalanya dan menepuk bahu Rafael. " Saya pegang janji kamu anak muda."


"Kharis Papa pulang dulu, Mama ikut Papa, gak apa-apa kan kamu sama Bi Nani?" Kini Papa meraih Kharisa ke dalam pelukannya, dikecupnya kening putrinya dengan penuh sayang, bagi Papa Kharisa tetap menjadi putri kecilnya yang manja, walaupun sekarang tumbuh menjadi wanita dewasa dan mandiri.


"Aku gak apa-apa Pah, Papa nikmati saja waktu berdua dengan Mama." Canda Kharisa dengan senyum jahilnya.


"Pastinya dong, apalagi tidak ada gadis kecil papa yang mengganggu." Papa malah menanggapi candaan putrinya. "Sayangnya Papa gak ketemu cucu Papa dulu, padahal Papa kangen main sama dia. Libur besok kamu pulang yah, Papa tunggu. Papa juga masih menunggu jawaban kamu atas tawaran Papa, kamu jangan khawatir Papa yang akan bayar finalti perjanjian kontrak kerja kamu."


"Iya Pah, masih Kharis pikirkan." Rupanya Papa menawarkan pekerjaan untuk Kharisa di perusahaannya, biar bisa bareng dengan kakaknya Rendi yang saat ini masih membantu di perusahaan papanya, beda dengan kakak pertama dan kedua yang telah memegang perusahaan sendiri yang merupakan anak perusahaan milik papanya.


Setelah papa dan mama Kharisa meninggalkan rumah menuju Jakarta, Rafael terlihat masih belum mau meninggalkan rumah Kharisa, ia numpang shalat Ashar yang telah memasuki akhir waktu, Kharisa pun pamit untuk bersih-bersih sekaligus shalat Ashar di kamarnya. Sementara Rakha masih terlelap di tempat tidur, anak itu sepertinya betul-betul kelelahan.

__ADS_1


Selesai mandi dan shalat Ashar, Kharisa membawa minuman teh hangat untuk Rafael.


"Sa...rasanya seperti mimpi, papa kamu telah memaafkanku, bahkan ia tidak memarahiku sama sekali, aku pun masih mulus, lihatlah tidak ada babak belur di wajahku." Rafael tertawa masih dengan perasaan tidak percaya.


"I'm a lucky man, right?"


"Itu karena pertolongan Allah, Allah yang melembutkan hati papa untuk maafin kamu."


"Ya betul pertolongan Allah." Rafael jadi teringat kata-kata Kang Farhan kalau selain memberikan ujian Allah akan memudahkan segala urusan orang-orang yang berhijrah. Ia jadi tambah yakin akan niatnya untuk berhijrah memperbaiki diri seperti sahabatnya Mario


"Padahal tadi aku sudah membayangkan kamu akan mengobati lukaku setelah aku dihajar papamu, gak jadi deh." Rafael memasang wajah pura-pura kecewa.


"Jadi mengharapkan babak belur?" Kharisa mencebikan bibirnya.


"No...just hope you touch my face." Jawab Rafael sambil nyengir.


"Jangan mulai deh, udah sore, pulang sana."


"He..he..Just kidding Sa." Kekeh Rafael. " Aku mau nunggu Rakha bangun, aku masih kangen sama dia." Tentu saja ini juga modus biar bisa berlama-lama dengan Kharisa, ia masih ingin mebahas rencana ke depannya, rasanya Rafael sudah tidak sabar untuk bisa bersama Kharisa dan putranya.


"Tinggal satu langkah lagi Sa, mendapatkan restu dari mami."


"Kalau mami kamu tetap tidak nerima aku gimana?" Tanya Kharisa, hatinya diliputi keraguan.


"Aku akan tetap bersamamu walau tanpa restu Mami." Jawab Rafael tegas.


"Tapi papaku tuga tidak akan memberikan restu, kalau mami kamu tidak nerima aku." ujar Kharisa sendu. Ia menganggap restu orang tua sangatlah penting untuk kelangsungan keluarganya nanti.


"Kita harus optimis, positif thingking Sa, bukankah Allah sesuai prasangka hambanya?" Rafael teringat kata-kata sahabatnya Mario, dan ia pun percaya dengan kata-kata sahabatnya itu. Ya ia harus optimis bisa mendapat restu dari maminya menjadi orang tua yang utuh untuk Rakha, menjadi suami untuk Kharisa seperti yang selalu ia impikan.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2