Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Sambut Bahagiamu


__ADS_3

Sore ini langit di kota Bandung terlihat mendung, bahkan terlihat gelap, padahal waktu masih pukul setengah lima sore, sepertinya hujan akan segera turun. Faisal duduk di kursi tunggu area penjemputan penumpang di bandara Husen Sastranegara, di sebelahnya duduk seorang laki-laki berkacamata, yang terlihat tidak muda lagi, dia adalah Prof. Apandi Sumadipraja, Ph.D, salah satu guru besar di fakultas tempat Faisal mengabdi di sana. Di usianya yang telah melewati setengah abad, ia masih terlihat sehat dan bugar. Hanya rambutnya yang mulai terlihat warna putih tidak bisa membohongi kalau usianya tidak muda lagi.


Sepertinya mereka sedang menunggu seseorang, mungkin juga menunggu jemputan. Sesekali Prof Apandi melihat jam di tangannya, dengan wajah sedikit cemas, sudah hampir setengah jam mereka menunggu di sana. Ternyata benar mereka tengah menunggu jemputan, lebih tepatnya Prof Apandi yang menunggu jemputan, Faisal sendiri tinggal order taksi online, rencananya ia akan pulang ke rumah kakaknya Kang Farhan, tapi tidak mungkin ia meninggalkan guru besarnya, jadi ia pun ikut menunggu menemani orang yang sangat dihormatinya itu.


"Anak itu membuat khawatir saja." Gumam Prof Apandi.


"Ada apa Prof?" Tanya Faisal, ia mendengar gumaman Prof Apandi.


"Ternyata yang jemput bukan Mang Ujang, tapi putri saya. Mang Ujang mendadak tidak bisa jemput karena sakit, padahal tidak usah dijemput, saya bisa naik taksi." Istri Prof Apandi memberi kabar kalau yang jemput adalah putri bungsunya.


"Tapi sudah berangkat Prof?" Tanya Faisal lagi.


"Dari satu jam yang lalu, harusnya sudah sampai kan, belum lancar juga dia nyetirnya, matak ngahariwangkeun budak teh (membuat khawatir saja anak itu)." Kini Prof Apandi terlihat lebih khawatir. Ditambah hujan yang tiba-tiba turun dengan lebatnya membuatnya semakin mengkhawatirkan putrinya.


Tiiin...tiiin.....


Bunyi klakson mobil yang berhenti tidak jauh dari tempat mereka menunggu seolah mencari perhatian dua laki-laki beda usia yang duduk bersebelahan. Faisal yang mengenali mobil sedan hitam yang lagi-lagi menyalakan klaksonnya langsung berdiri.


"Prof itu mobilnya yah?" ujarnya memastikan.


"Oh....syukurlah, akhirnya nyampe juga tu anak." Prof Apandi pun langsung beranjak menuju mobilnya, Faisal mengikuti membawakan koper dan satu kemasan dus oleh-oleh.


"Kamu cari parkir saja dulu, nanti kita pulang setelah hujan reda." Ujar Prof Apandi sedikit berteriak pada putrinya yang berada di balik kemudi. Walaupun jendela kaca pintu depan terbuka namun suara hujan yang lebat membuat suaranya nyaris tidak terdengar jelas oleh putrinya.


"Ayo Ayah masuk." Teriak putrinya.


"Kamu cari parkir saja, nanti ke sini lagi kalau hujan reda." Ulang Prof Apandi, tentu saja membuat putrinya heran, begitu pun Faisal yang berdiri di depan pintu penumpang belakang, hendak memasukan barang ke dalam mobil.


"Kenapa harus nunggu reda Ayah?"


"Hujannya lebat, lihat gelap juga." Prof Apandi rupanya tidak percaya dengan kemampuan menyetir putrinya, lebih baik menunggu sampai hujan agak reda dari pada beresiko terjadi yang tidak diharapkan di jalan. Ia sendiri sudah tidak berani membawa mobil sendiri.

__ADS_1


"Tapi pasti akan lama Ayah, ini sudah sore." Rengek putrinya. Sang Ayah malah menggelengkan kepalanya, mundur dua langkah sedikit menjauh dari mobilnya.


"Prof, kalau diijinkan biar saya yang bawa mobil, saya antar Prof dulu, nanti saya pake taksi online dari rumah Prof, kebetulan searah juga, saya pulang ke rumah kakak saya di daerah Cibiru." Faisal yang memahami keraguan guru besarnya terhadap putrinya mencoba memberikan solusi.


"Wah, boleh juga. Tapi kamu benar tidak apa-


apa mengantar saya dulu?" Wajah Prof Apandi terlihat cerah, tentu saja karena ia jadi tidak peelu menunggu hujan reda di bandara.


"Tidak apa-apa Prof." Jawab Faisal senang bisa membantu orang yang selama ini banyak membantu mengawali karirnya.


Akhirnya Faisal duduk di balik kemudi menembus guyuran hujan yang lebat dan jalanan yang menggelap, ia menjalankannya dengan hati-hati.


Namun ada yang menggelitik hatinya setelah ia berhadapan langsung dengan putrinya Prof Apandi, karena ternyata ia mengenalnya dan ia tidak mengetahui kalau gadis yang sekarang duduk di sebelahnya ternyata putri guru besarnya.


Aini panggilan gadis itu, adik tingkatnya yang sering menunggunya saat jam kuliah terakhir hanya untuk berdiskusi atau sharing materi kuliah. Karena sering jalan bareng saat keluar gerbang kampus, gadis itu yang pernah membuat Kharisa cemberut dan mendiamkannya karena alasan tidak jelas, Faisal sampai mengira kalau mungkin Kharisa cemburu pada adik tingkatnya itu, ia pun menjaga jarak, hingga ia lulus hampir tidak pernah berhubungan dengan gadis itu lagi.


Dan sekarang ia bertemu lagi dengan status gadis itu sebagai putri dari guru besar di fakultasnya.


"Kang Faisal, kata Ibu jangan pulang dulu, ibu sedang membuatkan minuman jahe, ayo masuk dulu." Ujar Aini setelah Faisal mengeluarkan barang-barangnya dari mobil. Baru saja terpikir untuk memesan taksi online, akhirnya ia tunda.


"Silahkan diminum Kang, lumayan membuat tubuh lebih hangat." Ujar Aini sambil menyodorkan secangkir minuman berwarna coklat bening, masih mengeluarkan asap.


"Kalau sudah habis baru boleh pulang, kata Ibu." Sambungnya lagi, tampak senyum jahil di bibirnya. Faisal pun mengambil cangkir di depannya dan penyesapnya perlahan, terasa hangat di tenggorokannya juga di perutnya.


Mereka berdua berbincang sebentar hingga Faisal pun pamit setelah taksi online yang dipesannya memberi kabar sudah di lokasi.


Setelah setengah jam perjalanan, Faisal tiba di rumah kakaknya Kang Farhan, ternyata sudah ada kakak perempuannya Fakhira yang baru pulang dari Singapura. Dari bandara Soeta Fakhira langsung menggunakan travel menuju kota Bandung, walaupun sudah dirayu Kharisa agar jangan pulang sampai hari pernikahan Kharisa, tapi tetap Fakhira memutuskan pulang dengan alasan ada yang harus ia kerjakan di pondok, Ia pun berjanji akan datang saat hari pernikahan Kharisa bersama keluarganya.


Kedatangan Faisal disambut oleh kericuhan dua bocah yang cerewet tapi menggemaskan, siapa lagi kalau bukan Khanza dan adiknya.


"Hore ada Om Isal....Om Isal bobonya sama atu yah, atu mau dengar cerita nabi yang masuk perut ikan." Arsyad terlihat senang dengan kedatangan om nya.

__ADS_1


"Om Isal, kata Uma Ahad besok mau ke Jakarta, Om Isal ikut juga kan?" Khanza gadis cilik berusia hampir enam tahun namun terlihat lebih dewasa itu langsung menyerbu Omnya membawa berita.


"Mau jalan-jalan ke Jakarta?" Tanya Faisal.


"Bukan....kata Uma ke rumah omanya Rakha, mau ada syukuran." Jawab Khanza polos, sesuai yang dijelaskan Umanya. Faisal mengernyitkan keningnya, otomatis ia menoleh ke Fakhira yang duduk di sebelahnya meminta penjelasan.


"Oh itu, Bi Dewi mengundang kita ke sana." Jawab Fakhira. "Acara akad nikah Kharisa dan Rafael." Sambungnya dengan suara setengah berbisik. "Kamu bisa ikut kan? Bapak sama Ibu juga akan datang, lusa mereka ke sini, kita berangkat bareng Kang Farhan, Teh Moza." Faisal masih terdiam mendengar ucapan kakaknya, mencermatinya kalau-kalau ia salah dengar, tapi sepertinya pendengarannya tidak salah.


Bukankah ini yang diharapkan? Kharisa, Rakha bisa bersama Rafael dalam keluarga yang utuh ? Ini yang sejak dulu diikhtiarkan, mencari kabar Rafael, mencoba menghubunginya, sampai menyusul ke rumahnya tapi saat itu belum membuahkan hasil, mensupport Kharisa agar tidak patah semangat untuk bisa bertemu lagi dengan ayah biologisnya Rakha. Setelah Rafael datang ia mendukung Kharisa untuk menerimanya walaupun Kharisa sendiri sempat gamang, ia tetap meyakinkan Kharisa kalau Rafael yang terbaik untuknya.


Dan kini, saat itu akan datang, saat dimana ia benar-benar melepas Kharisa, melepas bayang-bayangnya di dalam hatinya, ada yang lebih berhak atasnya, juga Rakha. Kini saatnya ia menyaksikan kebahagiaan wanita yang ternyata dicintainya dalam diam.


Sambutlah bahagiamu Kharisa, kini saatnya kamu dan Rakha bahagia selamanya. Ujarnya tulus di dalam hatinya.


Tak kan ada sakit hati, yang ada ikut merasakan bahagia saat orang-orang yang kita cintai bahagia.


***


Hari-hari yang dilalui Kharisa terasa cepat berlalunya, tiga hari mempersiapkan pernikahannya ternyata lumayan melelahkan juga. Dari mulai mencari baju pengantin, belanja barang-barang seserahan karena mami Rafael tetap ingin memberikan seserahan walaupun acaranya hanya akad nikah, akhirnya satu harian penuh Kharisa ditemani mami Rafael belanja untuk keperluan seserahan. Hubungan mereka sepertinya semakin membaik, tentu saja setelah mereka saling memaafkan dan mami Rafael menerima Kharisa, ia begitu memanjakan calon menantunya itu.


Hari ini H-1, rumah Kharisa terlihat ramai oleh petugas yang memasang tenda di halaman rumah dan menghiasnya dengan dekorasi yang terlihat sederhana tapi elegant. Aneka macam bunga hidup turut menghiasi sepanjang area outdor dan indor , tampak lebih dominan bunga mawar berwarna peach, atas permintaan Kharisa sesuai dengan warna kesukaannya. Walaupun acaranya hanya akad nikah, tapi tetap papa Kharisa mengundang kerabat dekat baik dari pihak keluarga papa maupun dari pihak keluarga mama, termasuk sahabat dan beberapa orang kepercayaan di kantornya.


Demi kelancaran acara, mama menggunakan jasa wedding organizer saat pernikahan Rendi, tentu saja atas rekomendasi mama Lisna, katanya kerjanya bagus dan memuaskan. Apalagi waktunya mepet hanya ada tiga hari untuk persiapan.


Dan hari yang dinanti pun tiba. Rasanya seperti mimpi bagi Kharisa kalau hari ini adalah hari yang akan mengubah hidup kedepannya, walaupun ia sendiri masih bingung dengan langkah ke depannya akan seperti apa. Tapi kini ia tak sendiri, ada seseorang yang akan menjadi tempatnya berbagi, berbagi cerita, berbagi suka dan duka.


"Pengantin laki-laki sudah datang." Fakhira masuk ke kamar Kharisa memberitahu agar Kharisa siap-siap. Tampak Kharisa tengah duduk di depan meja rias, wajahnya terlihat tegang walau sudah di make up hingga membuatnya pangling, tetap saja ketegangan di wajahnya masih terlihat. Jangan ditanya jantungnya pun berdetak kencang


"Hei Neng....tenang, jangan tegang gitu. Tarik nafas panjang, tahan, keluarkan pelan, bagu" Fakhira mencoba menenangkan Kharisa. Kharisa pun diminta untuk keluar dari kamar, kemudian duduk di area ruang makan.


Tidak lama setelah acara dibuka, rangkaian acara akad nikah pun dimulai. Setelah khutbah nikah yang disampaikan oleh bapak dari kementrian agama, Rafael mulai menegakkan duduknya. Inilah saatnya ia mengucapkan kalimat sakti yang hanya dalam sekejap akan mengubah statusnya menjadi suami. Dan beberapa menit kemudian terdengar ijab kabul keluar dari bibir Papa Kharisa dan Rafael.

__ADS_1


"Sah...Sah...." Terdengar suara lantang dari dua orang saksi dengan wajah berseri penuh kelegaan.


bersambung


__ADS_2