
"Aku kira kamu tinggal di Jakarta." Ujar Richan setelah melihat Fakhira pamit pada keluarga Kharisa yang tengah berkumpul di ruang tangah. Fakhira hendak membawa bingkisan di meja makan, aneka kue dan makanan yang menunya disajikan di prasmanan yang sengaja disiapkan untuk dibawa ke Garut. Mama Kharisa ingin keluarga Abah di Garut yang tidak bisa datang hari ini bisa menikmati juga jamuan di acara akad nikah Kharisa.
"Eh...oh...aku tinggal di Garut." Jawab Fakhira grogi, ia sedikit terkejut saat Richan tiba-tiba ada di sebelahnya dan bertanya padanya. Entah kenapa setiap bertemu Richan Fakhira merasa salah tingkah, malu lebih tepatnya, mungkin karena kejadian di lobi apartemen Kharisa. Selalu jadi teringat saat begitu dekatnya tubuh dan wajah mereka saat itu. Mungkin bagi Richan itu biasa saja, tapi tidak bagi Fakhira, ia merasa kejadian itu aib dan hal yang memalukan baginya. Selama ini ia belum pernah bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya dan ia begitu menjaga pandangannya.
"Jauh yah dari Jakarta?"
"Mmm, lumayan, kurang lebih 4 sampai 5 jam perjalanan." Jawab Fakhira. " Maaf saya harus ke depan, keluarga saya menunggu." Fakhira segera mengakhiri pembicaraan, kalau tidak bisa panjang obrolan mereka, dan Fakhira akan tidak nyaman dengan jantungnya yang terus berdebar. Ia pun segera meninggalkan ruang makan menuju teras dimana keluarganya sudah berkumpul di sana.
"Barangnya sudah semua kan tidak ada yang tertinggal? Kalau sudah kita berangkat sekarang biar gak terlalu malam." Ujar Kang Farhan yang ternyata ia yang menjadi supir membawa rombongan keluarganya.
"Nanti sekali-kali ikut kajian di Bandung sama Kang Rio, sekalian kita silaturahim, sayang Kang Rio sekarang gak bisa hadir, sudah hampir satu bulan saya tidak bertemu Kang Rio." Ujar Kang Farhan pada Rafael
"Insya Allah Kang nanti saya agendakan dengan Mario, hari ini dia sedang di Semarang, menghadiri pernikahan sepupu istrinya."
"Sekali lagi terima kasih Kang sudah menyempatkan hadir ke sini, suatu kebanggaan bagi saya Kang Farhan bisa hadir." Ujar Rafael saat Kang Farhan berpamitan.
"Tentu saja akan menyempatkan hadir, Kharisa sudah kami anggap seperti keluarga kami sendiri, kalau kata ibu mah si bungsu, ya Bu?"
"Iya si bungsu." Jawab ibunya. Bahkan harapannya Kharisa bisa jadi menantunya, ucapnya salam hati, tapi rupanya Allah berkehendak lain. "Dan ini cucu Enin yang selalu ngangenin." Tambah Ibunya Faisal sambil mencium gemas Rakha yang bergelayut manja di lengan Faisal, seolah enggan berpisah dengan om kesayangannya.
"Ya udah ayo pada masuk ke mobil, gak akan pulang-pulang kalau terus berdiri di sini." Ujar bapaknya Faisal sambil membuka pintu penumpang depan. Dan satu persatu masuk ke dalam mobil Alphard putih milik Kang Farhan yang biasa dipakai teh Moza.
"Khanza nanti aku main ke lumah kamu sama Daddy aku yah." Ujar Rakha saat putri Kang Farhan dan Teh Moza akan masuk ke dalam mobil.
"Janji yah nanti main ke rumahku." balas gadis kecil yang juga menggemaskan. "Nanti kita main sama Om Isal, ya kan Om?" ujarnya pada om nya yang masih digelayuti Rakha.
"Iya." Jawab Faisal.
"Anak kecil ayo cepet masuk, Khanza sama Arsyad duduk di belakang lagi yah." Teh Moza terlihat gemas melihat putrinya yang malah ngobrol dengan Rakha.
"Uma, aku bukan anak kecil." cicit Khanza sambil masuk ke dalam mobil, bibirnya terlihat mengerucut. Bocah itu memang sok dewasa, mungkin karena sering berinteraksi dengan orang dewasa.
"Iya....maksud Uma Arsyad yang anak kecil." kekeh Teh Moza.
"Om pulang dulu yah, Rakha baik-baik sama Momy sama Dady, harus jadi anak yang sholeh yah." Kini Faisal pamit pada anak asuhannya.
"Iya, tapi nanti Om Isal main ke lumah aku yah, vidio call juga, aku mau setolan hapalan lagi." Sepertinya Rakha memang tidak bisa berpaling dari Faisal walaupun sudah ada daddynya.
"Iya, nanti Rakha yang vidio call Om Isal yah." Faisal mencium kening Rakha, mungkin kebersamaan mereka tidak akan seperti dulu lagi, dan Faisal pasti akan dangat merindukan kebersamaannya dengan anak asuhannya itu. Faisal pun duduk di kursi penumpang belakang bersama Fakhira dan dua keponakannya, Ibu Faisal duduk di tengah bersama teh Moza dengan putra ketiganya dalam pangkuannya.
Mobil yang membawa keluarga Faisal pun melaju dengan perlahan, mereka saling melambaikan tangan, termasuk Rakha yang terus melambaikan tangannya.
"Daaah Khanza.....Daaahh Om Isal, Daaah Enin Aki......" teriaknya.
__ADS_1
Setelah keluarga Faisal meninggalkan rumah Kharisa, disusul oleh Mama Lisna bersama Rendi dan istrinya yang pamit untuk pulang, kakak sambung Kharisa yang pertama dan kedua sudah pamit sejak siang tadi setelah mereka makan siang.
Kini orang tua Rafael dan kedua kakaknya pamit pulang juga. Sebetulnya mami Rafael masih betah berada di sana, ingin bercengkrama dengan cucunya, tadi ia hanya sebentar berinteraksi dengan Rakha, karena menemani beberapa kerabat dan tamu, Rakha juga asyik bermain dwngan teman sebayanya.
"Rakha nanti main dan nginep di rumah Oma yah, sama Momy sam Daddy." Ujar mami Rafael pada cucunya. Rakha langsung menoleh ke arah Daddynya.
"Iya nanti pas libur kita nginep di rumah Oma." Jawab Rafael paham maksud tatapan putranya.
"Ya Oma nanti aku ke lumah Oma sama Momy dan Daddy." Tegas Rakha memastikan ucapan Daddynya.
Kini rumah Kharisa kembali sepi, hanya tinggal papa, mama, Kharisa, Rafael, Rakha dan Bi Nani. Rumah sudah kembali rapi seperti semula. Hanya ruang tengah yang sedikit penuh oleh barang-barang seserahan pemberian Rafael untuk Kharisa. Dan beberapa buket bunga yang masih segar menghiasi beberapa sudut ruangan.
Senja pun berlalu berganti malam dengan langit hitam tanpa dihiasi bintang-bintang. Rembulan pun enggan menampakan dirinya, membuat malam terasa semakin pekat, seperti akan turun hujan namun air hujan pun sepertinya enggan untuk membasahi bumi, membuat udara menjadi lebih panas, namun di rumah Kharisa tentu saja tidak terasa panas karena menggunakan mesin pengatur suhu ruangan.
Selesai shalat Isya dan makan malam, Papa, mama, Kharisa, Rafael dan Rakha berkumpul di ruang tengah. Rakha tampak sedang membulak balik bubu cerita bergambar, sesekali ia membaca tulisan yang ada di tiap lembarnya.
"Jadi rencana kalian bagaimana, mau kembali ke sana atau pindah ke Jakarta?" Tiba-tiba papa bertanya tentang rencana Kharisa dan Rafael. Kharisa menoleh pada suaminya, ia memang belum sempat membahasnya dengan Rafael.
"Kalau saya untuk beberapa bulan ke depan masih di sana Om, sampai selesai akreditasi rumah sakit, mudah-mudah nanti segera dapat gantinya, rencananya mau ambil spesialis juga di Jakarta. Untuk Kharisa saya serahkan pada keoutusan Kharisa Om, saya akan mendukungnya." Ujar Rafael sambil menoleh pada istrinya, disaat yang sama Kharisa pun menoleh pada suaminya, dan tatapan mereka bertemu. Terus terang Kharisa sendiri jadi bingung, satu sisi ia tidak ingin berjauhan dengan Rafael, tapi keputusannya untuk pindah ke Jakarta sudah bulat, selain karena akan bekerja di perusahaan papanya, ia juga tidak ingin mendengar omongan orang-orang di tempat kerjanya saat ini yang pasti akan membicarakannya setelah mereka tahu kalau ia menikah dengan Rafael. Berita tentangnya pasti akan menghebohkan sejagad Rumah Sakit Setya Medika.
"Manggilnya jangan Om lagi dong, saya kan sekarang ayah mertuamu." Rupanya papa memperhatikan ucapan Rafael yang memanggilnya Om.
" Eh...iya Om, eh.....Papa." Ujar Rafael tersipu.
"Nanti aku bicarakan sama Rafael dulu Mah, Pah." Kharisa pun paham dengan statusnya sekarang tidak bisa mengambil keputusan sendiri.
"Jadi besok kalian akan masuk kerja?" Tanya mama lagi.
"Ya Mah, aku gak enak sudah dua minggu gak masuk, walaupun sudah di acc resign tapi masih ada dua minggu lagi kewajibanku yang harus diselesaikan." Jawab Kharisa. Mama dan papa pun mengerti dengan tanggung jawab putrinya.
"Ya sudah besok kalian berdua saja yang pergi, biar Rakha sama Mama di sini, nanti hari Rabu besok baru ke sekolah Rakha sekalian ngurus perpindahan sekolahnya." Rakha memang sudah fix akan pindah sekolah ke Jakarta mengikuti momynya. Beberapa hari yang lalu sudah survey dan mendaftar di sekolah TK IT yang lokasinya masih di lingkungan kompleks perumahan Kharisa.
"Rhaka mau gitu ditinggal aku di sini?" Kharisa tidak yakin kalau Rakha mau ditinggal oleh ia dan daddynya, tadi malam saja ia menanyakan Rafael kenapa tidak tidur dengannya, dan setelah shalat Isya tadi ia mewanti-wanti untuk tidur bareng momy dan daddynya.
"Nanti mama yang bicara sama Rakha."
Mereka pun melanjutkan obrolan seputar rencana resepsi yang akan dilaksanakan satu bulan ke depan. Mama menjelaskan secara garis besar hasil pembicaraannya dengan pihak WO, Kharisa dan Rafael pun menyetujui apa yang disampaikan mama.
Kemudian mama merayu Rakha agar mau tinggal di Jakarta, tidak ikut momy daddynya dengan modus Rakha masih harus istirahat karena baru pulih dari sakitnya, agar hari Rabu nanti bisa bertemu dengan teman-temannya di sekolah. Rakha pun setuju mau tinggal dengan omanya, Kharisa dan dan Rafael pun merasa lega.
"Ya sudah, sekarang kalian istirahat, besok pagi-pagi harua berangkat kan. Rakha tidur sama Oma yah, nanti Oma bacain buku cerita." Bujuk Omanya, rupanya mama memahami kalau Kharisa dan Rafael adalah pengantin baru, mungkin saja mereka ingin menikmati malam pertama hanya berdua saja.
"Gak mau, aku mau tidul sama Momy sama Daddy." Rakha langsung mendekat menempel pada momynya. Papa tersenyum melihat tingkah cucunya yang tidak bisa diajak kerja sama oleh Omanya.
__ADS_1
"Sama Opa tidurnya, besok Opa ajak jalan-jalan ke Play Zone." Rayu opanya.
"Gak mau, besok kan Momy sama Daddy mau pelgi, jadi sekalang aku tidulnya sama Momy sama Daddy aja, besok sama Oma sama Opa." Pintar juga bocah itu mencari alasan, sepertinya tidak akan bisa dibujuk lagi.
"Iya sekarang Rakha tidurnya sama Momy. Ayo kita ke kamar." Kharisa berdiri meraih tangah putranya.
"Sama Daddy juga tidulnya." Cicit Rakha saat daddynya tidak disebut oleh Kharisa.
"Iya sama Daddy." Balas Kharisa
"Daddy ayo ke kamal." Rafael pun beranjak berdiri. "Pah, Mah, kami duluan istirahat." Pamitnya pada mertuanya.
"Selamat menikmati malam pertama kalian bertiga dengan Rakha." Goda papa sambil terkekeh. Rafael hanya nyengir sambil mengusap tengkuknya.
Kini mereka bertiga sudah berada di tempat tidur. Rakha berbaring diapit oleh momy daddynya yang duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Rakha minta dibacakan buku cerita yang dibelikan opanya. Rafael kali ini yang membacakan bukunya, Kharisa ikut mendengarkan. Belum sampai lima menit, Rakha sudah tertidur pulas, sepertinya ia kelelahan, tadi tidak semoat tidur siang karena asyik bermain dengan Khanza dan Arsyad.
Kharisa menoleh ke suaminya saat tidak terdengar lagi suaranya membacakan buku cerita, lalu melihat putranya yang sudah tertidur lelap.
"Cepet sekali tidurnya." ucapnya, tidak biasanya Rakha bisa cepat tidur seperti ini.
"Sepertinya kecapean, atau dia pengertian ngasih kesempatan momy dan daddynya untuk....."
"Apa.....?" Potong Kharisa dengan mata mendelik.
"Ssstt....jangan keras-keras, nanti dia bangun." Ujar Rafael dengan suara berbisik.
"Aku juga cape mau tidur." Kharisa merebahkan kepalanya di bantal, menarik selimut menutupi sampai dadanya, lalubneniringkan tubuhnya membelakangi Rafael dan Rakha. Rafael terkekeh melihat tingkah istrinya, tapi ia tidak tinggal diam, tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melepaskan kerinduannya pada wanita yang sangat dicintainya.
Rafael memindahkan Rakha dengan hati-hati ke pinggir tempat tidur yang seharusnya menjadi tempatnya tidur, dihalanginya pinggir tempat tidur dengan bantal guling. Ia sendiri membaringkan tubuhnya di tengah tempat tidur, memudahkannya untuk memeluk istrinya.
"El....?" Kharisa terkejut saat merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang, jantungnya tanpa kompromi berdetak lebih kencang saat sebuah tangan kokoh menempel di atas perutnya.
"Sstt....tidur saja, aku tidak akan mengganggumu, aku hanya ingin memelukmu, seperti ini, biarkan seperti ini. Tidurlah." Bisik Rafael tepat disamping telinganya.
Bagaimana tidak akan mengganggu, sentuhan tangan dan pelukannya membuat jantung Kharisa berdetak kencang, bagaimana ia bisa tidur, matanya pun yang tadi terasa ngantuk kini bersinar lagi.
"Tapi El...Rakha....." Kharisa menggerakan tubuhnya melonggarkan pelukan Rafael.
"Ssttt....Rakha aman, tidurlah, atau kalau kamu ribut terus aku akan berbuat lebih dari pada ini." Ancam Rafael, Khatisa pun diam berusaha memejamkan matanya sambil merasakan jantungnya yang masih berdebar. Padahal Rafael sendiri sedang mengkondisikan denyut jantungnya yang sama menggila, ditambah gelanyar aneh yang dirasakannya saat tubuhnya menempel dengan punggung Kharisa, semoga saja yang si bawah sana tidak ikut meronta.
Ya, biarlah malam ini ia menikmati malam pertamanya dengan tidur bertiga, seperti ini juga cukup, ia masih bisa memeluk istri tercintanya, walaupun entah ia akan bisa tidur dengan nyenyak atau malah terjaga. Masih ada hari esok yang akan ia lalui hanya berdua dengan istri tercintanya.
Tidak sampai tengah malam, mereka berdua pun terlelap, suhu kamar terasa semakin dingin bersamaan dengan turunnya hujan yang lumayan lebat membasahi bumi, membuat sepasang pengantin saling mengeratkan pelukannya tanpa mereka sadari, dan mereka benar-benar terlelap ke alam mimpi mereka masing-masing.
__ADS_1
bersambung.