
Akhirnya hari yang dinanti oleh keluarga besar Kharisa dan Rafael tiba. Memilih hari libur untuk acara resepsi agar keluarga, sanak saudara dan relasi yang diundang bisa hadir. Acara resepsi sendiri digelar di sebuah ballroom hotel bintang lima yang berada di kawasan jalan MH Thamrin Jakarta Pusat.
Pukul sembilan pagi kedua mempelai sudah siap dengan pakaian dan dandanan pengantin adat Sunda. Kharisa yang memilihnya karena ia memang keturunan Sunda dari keluarga mamanya dan beberapa tahun ke belakang ia tinggal di tanah Sunda, hingga ia pun mengenal seni budaya Sunda.
Kharisa terlihat menjadi pengantin yang sempurna dengan kebaya brokat panjang menjuntai di bagian belakang, berwarna putih dengan payet yang terlihat indah menghiasi di bagian depan kebaya memberikan kesan mewah. Dipadukan dengan kain batik berwarna coklat membuat Kharisa terlihat anggun.
Ditambah sebuah siger berhiaskan batu permata bertengger di kepala yang tertutup hijab berwarna putih berpadu dengan untaian bunga melati membuat Kharisa terlihat seperti seorang ratu dari sebuah kerajaan. Siapa pun yang melihat akan terpukau dengan penampilan pengantin wanita, auranya benar-benar terpancar.
"Kamu cantik sekali." Ujar Rafael, ia berdiri di belakang Kharisa yang tengah duduk di kursi meja rias di kamar hotel yang disediakan untuk pengantin. Kharisa dan Rafael menginap di hotel dengan keluarga besarnya, mereka hanya berdua di kamar itu, petugas MUA telah keluar membantu merias pendamping pengantin, mama Kharisa dan mami Rafael di kamar lain, sementara Rakha bersama Faisal di kamar yang disediakan untuk keluarga Faisal, rupanya Rakha betah dibsana karena ada Khansa, sahabat kecilnya.
Kharisa dan Rafael saling memandang lewat cermin di depannya.
"Kamu juga terlihat tampan dan gagah menggunakan baju itu El." Ujar Kharisa sambil menyunggingkan senyumnya. Penampilan Rafael memang terlihat berbeda, ia seperti seorang priyayi di jaman dulu. Ia menggunakan beskap berwarna putih dengan asesoris silver dipadukan dengan kain batik bermotif sama dengan kain yang dipakai Kharisa, ditambah blangkon membuat ia terlihat berwibawa.
"Jadi kalau gak pakai baju ini gak tampan?"
"Kalau gak tampan aku gak bakalan mau sama kamu. Sekarang lebih tampan dan lebih gagah." Kharisa berdiri dari duduknya, kemudian membalikan badannya menghadap Rafael. Senyumnya masih terukir di bibirnya membuat Rafael gemas ingin menyentuhnya.
"Apa aku harus ngasih hadiah karena kamu sudah muji aku?"
"Apa aku harus muji kamu dulu untuk mendapatkan hadiah dari suamiku?" Kharisa malah balik bertanya pada suaminya.
"Hmm...begini nih kalau berhadapan dengan ahli komunikasi, pandai membalikan pertanyaaan. Aku bingung harus jawab apa. Tapi sepertinya tanpa memujiku aku akan memberikan hadiah tiap hari untuk kamu." Tampak senyum jahil di bibir Rafael.
"Hadiah apa? Permen?"
"No...memangnya Rakha dikasih hadiah permen." Kekeh Rafael.
"Trus hadiah apa? Aku gak mau bunga, mubadzir." Sepertinya Kharisa menganggap serius ucapan suaminya yang akan memberi hadiah tiap hari.
"Ini sebagai permulaan, sekarang aku kasih hadiahnya." Rafael mendekatkan wajahnya ke wajah Kharisa, dengan cepat ia mengecup bibir Kharisa yang sejak tadi terlihat menggoda.
"Ish......El, nanti luntur." Kharisa mendorong dada Rafael.
"Itu hadiah permulaan, nanti tiap hari hadiahnya lebih dari itu." Ujar Rafael dengan senyum jahilnya.
"Itu bukan hadiah El." Kharisa mengerucutkan bibirnya. " Itu mah enak di kamu."
"Yang penting kamu juga suka kan?" kekeh Rafael.
__ADS_1
"Tapi benar Sa, kamu terlihat cantik sekali." Kini Rafael meraih pinggang Kharisa, tubuh mereka saling berdekatan. Rafael mengelus pipi Kharisa, membuat darah Kharisa berdesir, jangan ditanya jantungnya tanpa kompromi berdetak dengan cepat.
"Kapan tamunya pergi, sudah tujuh hari loh aku puasa. Harusnya hari ini selesai, jadi nanti malam kita bisa menikmati kamar ini...."
"Aw.....aduh sakit Sa." Tiba- tiba Rafael mengaduh, ternyata Kharisa mencubit punggung tangannya.
"Habis kamu mah bicaranya mesum terus. Sempat-sempatnya membahas itu. Udah Ah, ayo kita ke bawah." Kharisa mundur menghadap ke kaca, mengecek riasan wajahnya, jangan-jangan rusak karena ulah Rafael. Untunglah lipstik yang digunakan tidak luntur, masih terlihat utuh.
Bersamaan dengan itu, bel pintu kamar berbunyi, Rafael langsung membuka pintu kamarnya, tampak seorang petugas WO memintanya untuk turuh ke ballrom, karena rangkaian acara resepsi akan dinulai. Kharisa dan Rafael pun turun ke bawah berjalan bergandengan menuju tempat resepsi.
Mereka berdua disambut keluarga yang sudah berkumpul di depan ballroom.
"Mommy.....Daddy......" Rakha berjalan cepat menghampiri Kharisa dan Rafael, maksudnya ingin berlari tapi, kain yan dipakainya membuat ia kesulitan untuk berlari, rupanya Rakha menggunakan baju yang sama seperti Daddynya, menggunakan beskop putih dan kain batik juga blangkon di kepalanya.
"Waaaah...anak mommy cakep sekali." Kharisa yang baru melihat penampilan putranya, sedikit menunduk lalu mengecup gemas pipi putranya.
"Mommy cantik sekali sepelti seolang putli." Ujar Rakha kagum melihat mommynya.
'Yeeeh...baju aku sama kaya Daddy, aku milip sama Daddy kan Mommy?" ujarnya lagi, ia terlihat bangga berpenampilan sama seperti daddynya yang dulu pernah dinanti kehadirannya.
"Offcours, because you are my boy." Malah Rafael yang menjawabnya sambil merangkul putranya.
Tepat pukul sepuluh MC mulai membuka acara. Suara iringan alat musik tradisional Sunda terdengar mengiringi penari dan lengser menjemput pengantin, prosesi ini disebut dengan 'mapag panganten'. Tampak lengser dengan penampilan seperti kakek tua namun bertingkah lucu dengan gerakannya tubuhnya membuat yang hadir tertawa termasuk Rakha yang berdiri di depan pengantin terlihat tergelak namun terlihat takut saat lengser mendekatinya bahkan menjembel pelan pipinya. Khansa yang berada di sampingnya malah tertawa keras melihat Rakha yang ketakutan.
Setelah penari dan lengser beraksi akhirnya lengser mempersilahkan pengantin untuk menuju pelaminan. Di belakang pengantin tampak orang tua mempelai diikuti keluarga dekat ikut mengantar mempelai menuju pelaminan. Ketiga kakak sambung Kharisa ikut berbaris di belakang pengantin bersama istrinya, Faisal dan keluarganya pun tampak berada dalam barisan di belakang pengantin.
Tamu undangan yang telah hadir tampak berbaris di pingging karpet merah seolah menyambut kehadiran pengantin. Mereka sebenarnya penasaran ingin melihat langsung pengantin dari dekat. Mereka pun penasaran dengan sosok bocah laki-laki yang berpenampilan seperti pengantin laki-laki, bahkan wajahnya sangat mirip dengan pengantin pengantin laki-laki. Mereka hanya bisa menduga-duga kalau itu adalah keponakan Rafael atau keluarga dekatnya.
"Kharisa....kamu cantik sekali." Teriak Meli sambil melambaikan tangannya saat Kharisa melewatinya, ternyata ia dan beberapa karyawan rumah sakit telah lebih dulu sampai, termasuk rekan satu divisi marketing, Ahmad, Zaki juga Siska tampak berdiri berjajar menyambut pengantin.
Zaki tampak mengernyit saat melihat bocah laki-laki di depan pengantin. Ia merasa megenalnya.
Bukankah anak itu yang waktu di sekolah TK yang pernah dikunjungi bersama dokter Rafael? Kenapa ia ada di sini menjadi pengiring pengantin? Tanyanya dalam hati.
Akhirnya kedua mempelai bersanding di pelaminan di dampingi kedua orang tuanya masing-masing. Wajah mereka terlihat berseri, dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Rakha yang mengerti tidak bisa bersama mommy dan daddynya di pelaminan lebih memilih bersama Faisal dan keponakannya Khanza. Kemarin Khanza ingin ikut saat tahu kakek neneknya akan pergi ke Jakarta ke tempat Rakha. Kang Farhan dan Teh Moza sendiri tidak bisa hadir karena kesibukan mereka. Sepertinya hari ini Faisal akan sibuk mengasuh dua bocah yang menjadi perhatian undangan yang hadir, banyak yang penasaran dengan Rakha yang wajahnya mirip Rafael, termasuk karyawan rumah sakit. Mereka hanya bisa menduga kalau Rakha adalah keponakan Rafael, kecuali Zaki yang belum bisa menduga siapa bocah yang membuatnya penasaran itu.
Setelah kedua mempelai berada di pelaminan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari kedua pihak keluarga mempelai. Kemudian tamu undangan disuguhi penampilan rampak gendang dan tari jaipong yang dibawakan oleh enam orang penari yang sangat memukau semua yang hadir, mereka memang penari profesional yang telah melanglang buana ke berbagai negara.
Kini saatnya tamu undangan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, tampak antrian mengular panjang. Sebagian tamu undangan memilih untuk menikmati aneka hidangan yang telah disediakan yang begitu menggugah selera. Alunan musik mulai terdengar yang dibawakan oleh group band profesional yang biasa mengisi acara wedding.
__ADS_1
"Harusnya Vania yang bediri disamping dokter Rafael, aku gak habis pikir, tega banget si Kharisa itu." Ujar Meita kepada Siska dengan suara berbisik, mereka sedang antri untuk mengambil zupa soup.
"Vania pasti sedih, walaupun ia tidak menunjukan kesedihannya tapi aku yakin dia sakit hati melihat tunangannya menikah dengan wanita lain, apalagi dengan Kharisa yang sudah dianggap sebagai temannya. Coba sekarang saja ia tidak kelihatan." Sambung Meita, Siska pun mengiyakan. Sepertinya hanya dua orang ini yang tidak senang dengan pernikahan Kharisa dan Rafael.
"Eh tapi itu seperti Bu Vania." Ujar Siska, saat ia mengedarkan pandangan mencari rekan yang lainnya. Benar saja, Vania tampak berjalan menuju antrian tamu yang akan mengucapkan selamat.
"Eh iya itu Vania....dia gak sendiri, bukankah itu dokter Keanu? Sejak kapan mereka dekat?" Meita mengernyitkan keningnya melihat sahabatnya berjalan berdua, berdekatan dengan dokter Keanu.
Wajah Vania terlihat berseri, sama sekali tidak terlihat sebagai mantan yang ditinggal tunangannya menikah dengan wanita lain. Sesekali Keanu terlihat membisikan sesuatu kepada Vania. Vania pun menyapa karyawan rumah sakit yang ditemuinya sedang menikmati hidangan.
Kini Vania terlihat sudah berada di pelaminan, tampak mami Rafael menyambut manntan calon menantunya dengan melebarkan kedua tangannya, mereka saling berpelukan
"Terima kasih yan Van, hanya itu yang bisa tante ucapkan. Maafkan kami semua, semoga kamu segera menemukan jodohmu, dan segera menyusul Rafael. Kamu harus bahagia ya Van." Ujar mami Rafael masih memeluk Vania. Lalu mereka melepaskan pelukannya. Vania menoleh pada Keanu yang berdiri di sampingnya.
"Siapa ini? Ini calonmu Van?" Mami Rafael beralih pada Keanu, sosok yang baru dilihatnya, entah kenapa filling mami Rafael kalau laki-laki disamping Vania ini orang yang spesial bagi Vania.
"Mohon doanya tante."
"Ah syukurlah, tante ikut senang, semoga kalian segera menyusul Rafael dan Kharisa."
"Makasih tante." Ujar Vania, kemudian ia beralih pada papi Rafael. Papi Rafael sama seperti istrinya meminta maaf dan mengucapkan terima kasih.
"Selamat yah untuk kalian......." Kini Vania berada di hadapan Rafael dan Kharisa. setelah bersalaman dengan Rafael, ia berpelukan dengan Kharisa.
"Terima kasih ya Mba......" ucap Kharisa dengan mata berkaca-kaca. Entah yang keberapa kali ia mengucapkan terima kasih pada Vania.
"Hei jangan nangis....kamu harus bahagia. El, awas kalau kamu menyia-nyiakan Kharisa."
"Tidak akan.....yang ada aku akan terus berada disampingnya." Jawab Rafael meyakinkan.q
"Oh ya aku juga mau ngucapin terima kasih." Vania menoleh ke sebelah kirinya, Kharisa pun melihat ke arah seseorang di samping Vania.
"Terima kasih Kharisa, berkat kamu, akhirnya kami bisa bersama, dan maafkan saya sudah berpikiran negatif tentang kamu." Ucapan Keanu terdengar tulus.
"Aaaahhhh......beneran ini? Mbak Vania....?" Kharisa terlihat bahagia, sampai tanpa sadar ia berteriak kegirangan, akhirnya usahanya membuahkan hasil, menyatukan dua hati yang memiliki cinta di masa lalu dan kini bersemi kembali. Mereka pun saling berpelukan lagi. Sayangnya Vania tidak bisa berlama-lama di atas pelaminan, karena tamu undangan lain sudah menunggu untuk bersalaman dengan mempelai.
"Mbak, nanti kita foto bareng yah, jangan langsung pulang." Ujar Kharisa sebelum Vania dan Keanu meninggalkannya.
bersambung
__ADS_1
Hai readerku, mohon maaf baru bisa Up. Terima kasih masih setia menunggu resepsi Kharisa dan Rafael, mangga ditunggu yg mau ngucapin selamat🤗😘