Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Gak Bisa Nahan


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul dua siang, tamu undangan mulai terlihat semakin berkurang, mereka meninggalkan ruang resepsi setelah mencicipi hidangan dan memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.


Kini yang tersisa hanya keluarga dekat dari kedua mempelai, mereka berkumpul di area VIP sambil menikmati hidangan yang khusus disajikan untuk pengantin dan keluarga. Keluarga Faisal pun ikut berkumpul karena sudah dianggap keluarga dekat Kharisa, mama mewanti-wanti agar jangan pulang dulu, bahkan meminta untuk menginap satu malam lagi di rumahnya. Tapi karena besoknya Faisal dan bapaknya harus kembali kerja jadi mereka memutuskan untuk pulang sore ini, mereka harus mampir dulu ke Bandung mengantarkan gadis cilik Khansa ke rumahnya.


Dirga berjalan mendekati kursi kosong disamping Fakhira, lalu menempatinya. Rupanya ia masih penasaran untuk kenal lebih jauh dengan Fakhira, tadi saat ada kesempatan untuk ngobrol terpotong dengan acara foto bersama pengantin.


"Katanya tinggal di Garut? Di daerah mananya? Minggu depan saya ada rencana ke Garut, kebetulan ada teman di sana, dia praktek di rumah sakit daerah." Dirga mulai melancarkan pendekatannya.


"Oh....itu di kota Garutnya, kalau dari tempat saya agak jauh, tempat saya lebih dekat ke Bandung." Jawab Fakhira tanpa melihat ke arah Dirga, ia benar-benar menjaga pandangannya.


" Oooh......berarti kelewatan yah kalau mau ke kotanya ?"


"Ya." Jawab Fakhira singkat. Sebetulnya dalam hatinya ia menggerutu. Mau apa orang ini nanya-nanya, batinnya.


"Saya belum pernah ke kota Garut, teman saya mengundang saya ke sana, ia dokter tapi punya usaha sentra kerajinan kulit, katanya memproduksi tas dan sepatu. Barangkali ada waktu dan berkenan menemani saya berkunjung ke tempat teman saya."


"Haah...." Fakhira terlihat kaget, berani sekali orang ini mengajaknya pergi, padahal baru saling kenalan. Fakhira langsung memasang wajah juteknya.


"Maaf...saya sudah ada acara dan saya tidak mungkin pergi menemani laki-laki yang bukan mahram saya."


Jleb


Dirga terhenyak mendengar ucapan Fakhira, ia sama sekali tidak pernah berpikir ke arah sana, pergi dengan yang bukan mahram mungkin tidak pernah dilakukan oleh gadis yang berada di sampingnya itu, sementara ia bebas pergi bahkan berdua dengan wanita yang bahkan baru dikenalnya. Benar kata Andre kalau mau mendekati Fakhira ia harus berkaca dulu. Ia menelan ludahnya, terdiam bingung mau bicara apa lagi.


"Tapi kalau mau mampir ke tempat kami silahkan, ada acara taklim untuk umum setiap hari Ahad pukul sepuluh pagi." Apa ini berarti Fakhira mengundang Dirga untuk datang ke tempatnya? Tentu saja, tapi Fakhira hanya mengundang Dirga untuk hadir di acara taklim bukan bertemu dengannya, ini bagian dari tugasnya mengajak orang lain mengerjakan kebaikan. Itu yang selalu ia lakukan. Fakhira pun menyebutkan nama pondok pesantren tempatnya juga alamat lengkapnya.


"Oh iya....semoga nanti bisa mampir ke sana." Jawab Dirga, terdengar tidak terlalu bersemangat. Andre yang tengah berdiri di belakangnya menyunggingkan senyumnya mendengar bagaimana ajakan Omnya ditolak oleh Fakhira.


Obrolan Dirga dan Fakhira pun berakhir, bapak dan ibu Fakhira mengajaknya pulang. Fakhira pun beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Maaf, saya harus pergi, permisi." Ujar Fakhira tanpa menoleh ke arah Dirga. Ia pun meninggalkan Dirga yang berusaha melihat wajah gadis yang ditaksirnya, namun Fakhira sudah membelakanginya dan berlalu darinya.


Kedua mempelai sudah mengganti baju pengantinnya, mereka menggantinya di ruang ganti yang berada di belakang pelaminan. Kharisa memang sengaja membawa baju ganti, tidak mau ribet menggunakan baju pengantin keduanya berupa gaun panjang saat kembali ke kamarnya.


"Rakha pulang duluan sama Oma yah, Mommy sama Daddy harus beres-beres dulu di sini." Bujuk mama Kharisa. Kharisa dan Rafael rencananya menginap satu malam lagi di hotel, memang jatah pengantin dari WO mendapat fasilitas menginap di hotel dua malam, kini tinggal satu malam lagi, sayang kalau dilewatkan. Mama Kharisa pun mengerti, ia memberikan kesempatan kepada pengantin untuk menikmati kebersamaan mereka.


"Aku mau sama Mommy sama Daddy aja pulangnya, ya Mommy." Rajuk Rakha, sekarang ia menempel pada mommynya setelah dari pagi tidak bisa dekat-dekat mommynya, untung saja ada Faisal dan Khansa.


Kharisa dan mamanya saling pandang, mamanya mengerti maksud tatapan putrinya, ia tersenyum membayangkan beginilah kalau pengantin sudah memiliki anak, tidak bisa leluasa menikmati untuk berduaan. Tapi Rakha juga tidak bisa disalahkan, wajar di usia lima tahun lebih nyaman bersama orang tuanya, apalagi Rakha begitu dekat dengan Kharisa.


"Nanti Opa mau ngajak Rakha jalan-jalan ke playzone, mau tidak?" Oma mencoba membujuk lagi Rakha. Dengan iming-iming Playzone akhirnya Rakha mau pulang bersama omanya.


Kini kedua mempelai sudah berada di dalam kamar yang semalam mereka tempati, namun kali ini terlihat berbeda, kamar president suite dengan fasilitas dilengkapi ruang tamu, meja makan dan kitchen, tampak lebih rapi dibandingkan saat tadi pagi, bahkan dihias layaknya kamar pengantin, beberapa hiasan bunga menghiasi sudut ruangan. Di atas tempat tidur terdapat hiasan dua ekor angsa dan taburan kelopak mawar berwarna merah dan peach. Kharisa dan Rafael pun takjub melihatnya, akhirnya mereka bisa merasakan suasana kamar pengantin.


"Kakiku pegal banget." Kharisa duduk di atas sofa, meluruskan kakinya.


"Mau kupijit?" Rafael pun duduk di pinggir sofa di pinggir kaki Kharisa.


Tanpa menjawab Rafael mengangkat kaki Karisa, ia menggeser duduknya hingga bisa bersandar di sofa, menempatkan kaki Kharisa di atas pahanya lalu mulai memberikan pijatan dari mulai jari kaki hingga ke betis istrinya.


"Eh....beneran kamu bisa mijit El. Aku jadi gak enak, aku gak nyuruh yah, kamu yang menawarkan diri."


"Sudah diam, kamu nikmati saja pijatanku." Rafael terus memijat kaki Kharisa. "Tapi ini tidak gratis yah." Sambungnya.


"Berapa yang harus kubayar? Sepertinya aku gak akan kuat bayarnya El, tukang pijatnya seorang dokter, lulusan Amrik lagi, he....he...he..."Kekeh Karina.


"Kamu gak harus bayar pake uang." Ujar Rafael dengan senyum jahilnya


"Bayar pake mijat lagi? Aku paling males disuruh mijat, dulu kalau aku disuruh mijat papa aku suka kabur, kalau nginjekin mau, aku injekin kamu aja yah, tapi nanti malam, sekarang aku cape."

__ADS_1


"No....aku tidak mau dibayar dengan itu, aku ingin dibayar dengan ini." Tangan Rafael mulai menyusuri bagian atas kaki Kharisa.


"Ish.... El...." Kharisa langsung bangun dari berbaringnya.


"Nanti malam saja dibayarnya, sekarang kamu pasti lelah? Hari ini sudah selesai kan tamu bulanannya." Rafael mendekatkan wajahnya ke wajah Kharisa.


"Modus kamu mah El." Kharisa hendak memukul dada Rafael sambil mengerucutkan bibirnya, namun Rafael segera meraih tangan Kharisa, lalu mengecup bibir yang menggemaskan didepannya dan berlanjut menjadi ciuman yang semakin dalam.


Setelah mandi dan shalat ashar berjamaah, mereka berbaring di tempat tidur yang masih dipenuhi kelopak bunga mawar, keduanya terlelap sebentar karena lelah, terbangun karena suara alarm waktu shalat maghrib di HP Rafael. Ia memang sengaja mengaktifkan alarm waktu shalat untuk mengingatkannya agar tidak lupa mengerjakan shalat.


"Udah maghrib El..."Suara Kharisa terdengar serak, kepalanya terasa sedikit berat, ia jarang tidur di sore hari, tapi karena tadi ia merasa sangat lelah akhirnya tidak bisa menahan rasa kantuknya.


Tadi Rafael mengajak Kharisa mandi sore bareng, awalnya Kharisa menolaknya.


"Aku malu El...." tolak Kharisa, setelah resmi menjadi suami istri mereka belum pernah mandi bareng, karena Kharisa selalu menolak dengan alasan malu setiap diajak mandi bareng.


"Kalau di tempat tidur gak malu? Ayolah, aku kemarin baca katanya Rasulullah juga suka mandi bareng dengan istrinya, berendam dalam satu bak, berarti kalau kita melakukannya kita mendapat pahala sunah. Iya kan?"


Akhirnya Kharisa pun mengikuti keinginan Rafael. Sebelum berendam berdua di bathtube, Kharisa melakukan mandi besar dulu, tamu bulananya sudah tidak datang lagi. Janji Rafael hanya berendam, saling menggosok punggung, kenyataannyaia tidak nisa menahan dirinya, ia melakukan hal lebih.


"El kita gak boleh melakukannya di kamar mandi."


"Kalau gitu kita ke kamar dulu."


"Katanya nanti malam, kita belum shalat ashar" Tolak Kharisa halus. Waktu shalat ashar sudah mepet, tadi saat masuk ke kamar mandi waktu menunjukan pukul setengah lima.


"Sebentar saja, aku gak bisa nahan Sa kalau harus menunggu sampai malam." Bisik Rafael sambil mengelus bahu dan lengan Kharisa, tubuh Kharisa pun meremang. Laki-laki memang begitu tidak bisa menepati janjinya untuk menahan diri kalau berurusan dengan yang satu ini. Kharisa pun tidak bisa menolak, mereka beranjak menggunakan bathrobe, lalu melanjutkan kegiatan mereka di tempat tidur.


Itulah yang membuat Kharisa kelelahan hingga tertidur setelah shalat Ashar.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2