
"Kharisa...." Kharisa menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Kamu beneran gak ikut kumpul? Mobilku masih kosong kalau kamu mau ikut." ujar pemuda berbadan tegap dan wajah yang bisa dibilang ganteng, namanya Reza teman sekelas Kharisa, salah satu dari sekian laki-laki di kampus yang menaruh hati pada Kharisa. Siapa yang tidak tertarik dengan Kharisa, gadis cantik berkulit putih, dengan hijabnya menambah penampilannya semakin terlihat sempurna. Ditambah keramahannya, dan kemampuannya berkomunikasi di depan umum, termasuk kemampuannya berbahasa Inggris dengan lancar memperlihatkan kalau ia gadis yang cerdas. Sayangnya Kharisa selalu menarik diri dari teman-remannya, termasuk dari kegiatan di kampus kalau tidak terlalu penting ia tidak mengikutinya. Berusaha tidak terlalu dekat dengan teman kelasnya, bicara seperlunya namun tetap bersikap ramah, dan akan menghindar dari laki-laki yang berusaha mendekatinya. Tidak ada yang tau alasannya kenapa, yang pasti Kharisa merasa berbeda dari teman mahasiawi lainnya, tentu saja karena ia seorang mahasiswi yang telah mempunyai seorang putra tanpa pernikahan. Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Faisal sahabat yang setia mendampinginya.
"Maaf aku gak bisa ikut ya Za, ada urusan penting mendadak." Hari ini Reza ulang tahun, dia mengundang teman satu kelasnya makan-makan di sebuah resto di Bandung, sengaja memilih tempat di Bandung karena teman-temannya ingin sekalian jalan-jalan di mall terbesar di kota Bandung. Kebetulan jadwal kuliah mereka hanya sampai tengah hari, ini hari ke empat mereka masuk kuliah setelah libur semester ganjil, kegiatan kampus pun belum terlalu padat.
"Aku duluan yah." Kharisa berlalu meninggalkan Reza, Reza hanya bisa memandangi Kharisa yang makin menjauh, terlihat gurat kekecewaan di wajahnya, tentu saja niatnya mentraktir teman-temannya agar bisa pergi bareng dengan Kharisa, yang diharapkannya malah tidak bisa ikut. Tadinya Kharisa akan ikut, sekalian ia ingin ke toko buku membeli beberapa buku yang menunjang mata kuliahnya yang dianjurkan oleh dosennya. Tapi tadi ia mendapat pesan di HPnya dari Bi Nani kalau ada orang yang tidak dikenal mendatangi kontrakannya, tentu saja membuat Kharisa tidak tenang dan ingin segera pulang.
Ia berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju gerbang kampusnya, bis dan mobil angkutan mahasiswa yang lewat di depan fakultasnya terlihat penuh, kalau menunggu bis selanjutnya belum tentu datang lagi dalam waktu cepat, makanya ia memilih berjalan kaki walaupun jarak ke gerbang kampus lumayan agak jauh. Sambil berjalan di tengah teriknya matahari ingatannya terus pada putra kecilnya, siapa kira-kira orang yang tak dikenal yang mendatangi kontrakannya. Kata Bi Nani di pesannnya, yang datang dua orang laki-laki menanyakan dimana Rakha untungnya Rakha sedang tidur di kamar, jadi hanya Bi Nani yang menghampiri tamu yang tidak dikenalnya itu, karena takut, Bi Nani langsung masuk dan mengunci pintu tanpa menanyakan siapa tamunya.
Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin? Tanya Kharisa dalam hatinya.
Dua hari yang lalu Kharisa menerima panggilan telfon dari nomor tidak dikenal, dengan perasaan ragu Kharisa menekan tombol hijau di layar HPnya dan terdengar suara wanita yang mengaku sebagai ibu Rafael, ia mengajak Kharisa untuk bertemu dan meminta alamat tempat tinggal Kharisa. Antara senang dan bingung akhirnya Kharisa bersedia bertemu dengan ibunya Rafael tapi tidak dirumahnya, tidak mungkin Kharisa membawa ibu Rafael ke kontrakannya yang sangat sederhana, tepatnya sebuah rumah petak. Ibu Rafael pun sepakat bertemu esok harinya sepulang Kharisa kuliah, untuk tempatnya ditentukan lagi nanti.
Dan keesokan harinya setelah selesai kuliah, Kharisa langsung menuju tempat yang ditentukan oleh Ibu Rafael, sebuah hotel yang tidak jauh dari kampusnya, kurang dari sepuluh menit menggunakan angkot Kharisa sudah sampai di hotel yang yang ditentukan Ibu Rafael.
Mereka bertemu di resto hotel tersebut, dan ternyata Ibu Rafael tidak sendiri, ia ditemani seorang wanita muda, cantik, dengan tubuh semampai, usianya sekitar tiga puluh tahun, dan wajahnya mirip dengan Ibu Rafael, sepertinya itu putrinya yang berarti kakaknya Rafael.
"Bagaimana kabar putramu? Tanya ibu Rafael membuka percakapan, suaranya terkesan dingin, tapi membuat hati Kharisa sedikit berbunga karena Ibu Rafael menanyakan kabar Rakha, berarti ia peduli dengan cucunya.
"Alhamdulillah Rakha sehat." jawab Kharisa dengan senyum ramah, walaupun sebenarnya Rakha agak demam sejak tadi malam, namun tadi pagi suhunya sudah turun jadi 37°C yang awalnya diangka 38-39°C.
"Kamu pasti repot dan lelah mengurus putramu, kuliahmu baru semester dua kan?"
"Ya tante, tapi aku tidak merasa repot apalagi lelah, ada Bi Nani yang membantu mengasuh Rakha." Jawab Kharisan jujur. Memang benar ia tidak merasa kerepotan apalagi kelelahan merawat putranya, lelahnya akan hilang saat melihat putra kecilnya bermain dengan ceria atau saat tidur dengan lelapnya.
" Saya akan membantu meringankan bebanmu agar kamu fokus dengan kuliahmu." Kharisa mengernyitkan alisnya, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ibunya Rafael.
__ADS_1
"Ini Arlita anak tertua di keluarga kami, biarkan dia yang merawat putramu, ia punya banyak waktu luang untuk merawat dan membesarkan putramu, ia sangat mengharapkan keturunan setelah menikah lima tahun yang lalu, jadi ia pasti akan sangat menyayangi putramu."
"Maksud tante apa?" Kharisa semakin bingung dengan ucapan ibunya Rafael.
"Putramu membutuhkan keluarga yang utuh, orang tua yang lengkap. Arlita dan suaminya akan mengadopsi putramu, mereka akan merawatnya dengan kasih sayang, memberikan pendidikan dan kehidupan yang baik, saya pastikan putramu terjamin sampai ia dewasa nanti."
"Sebentar...sebentar....." Kharisa tertawa sekejap, bukan tertawa bahagia, tapi sedih mendengar ucapan seorang wanita yang tadinya disangka akan membawa kabar bahagia untuknya, tapi ternyata malah melemparnya ke dasar jurang kepedihan. Matanya mulai berair, namun ditahannya jangan sampai membasahi pipinya. Hatinya terasa pedih, tidak menyangka wanita yang sebenarnya adalah nenek dari putranya bermaksud untuk memisahkannya dengan putranya yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya.
"Maksud tante? Tante akan memisahkanku dari Rakha? Yang tidak diakui oleh keluarga ayah biologisnya, bahkan dengan entengnya dulu meminta menggugurkannya? Maaf tante, jangan pernah berpikir aku akan memberikan Rakha apalagi diadopsi, ha...ha...ha....aneh sekali tante dan keluarga tante ingin mengadopsi cucunya sendiri, itu tidak akan pernah terjadi."
"Dan perlu tante ketahui, Rakha tidak pernah kekurangan kasih sayang walaupun tidak ada sosok ayah disampingnya, banyak orang disekelilingnya yang tulus menyayanginya, bahkan sangat menyayanginya, jadi tante tidak perlu khawatir Rakha akan bahagia bersama kami. Tolong sampaikan kepada Rafael, aku dan Rakha tidak akan menuntut kalau dia tidak mau bertanggung jawab dan tidak mau mengakui putranya. Sampaikan juga aku menunggu penjelasannya, aku rasa tidak akan sulit untuk bertemu denganku kalau ia sungguh-sungguh mencariku dan putraku." Kharisa berdiri dari duduknya, rasanya ia ingin segera pergi dari hadapan wanita yang menurutnya tidak punya hati itu.
"Aku kira cukup sampai disini pertemuan kita, maaf saya permisi." Tanpa basa basi lagi Kharisa pun pergi meninggalkan Ibunya Rafael dan kakaknya yang masih terdiam menatap Kharisa pergi.
Mengingat kejadian itu Kharisa yakin kalau yang datang ke kontrakannya adalah suruhan ibunya Rafael, mungkin saja mereka akan mengambil paksa Rakha.
Kharisa mempercepat langkahnya, agar bisa segera sampai ke rumahnya memastikan putra kesayangannya baik-baik saja. Akhirnya sampai juga ia di pintu gerbang, ia berjalan lagi menuju tempat pemberhentian angkot, namun tiba-tiba ada seseorang yang menghalangi langkahnya.
" Ikut kami sebentar." ucap salah seorang laki-laki tinggi berbadan tegap. Tentu saja Kharisa terkejut dengan keberadan dua laki-laki didepannya yang tidak dikenalinya. Ingatannya langsung pada pesan Bi Nani kalau ada dua laki-laki datang ke rumah, apakah orangnya sama yang ada didepannya.
Dengan perasaan waswas ia mengikuti langkah laki-laki di depannya, satu orang lagi menjaganya di belakang agar Kharisa tidak kabur, sampailah mereka di depan sebuah mobil van mewah berwarna putih yang terparkir di halaman sebuah rumah makan yang lumayan luas, suasananya pun tidak terlalu ramai.
"Masuk." Perintah salah seorang laki-laki yang membukakan pintu mobil. Benar saja di dalamnya ada ibunya Rafael dan kakaknya duduk di kursi belakang.
"Mau apa lagi tante?" tanya Kharisa setelah ia duduk di jok di sebelah ibunya Rafael.
" Oh jadi tante yang menyuruh orang datang ke rumah saya, tante menyuruh orang untuk membawa Rakha? Tante mau menculik Rakha? Tante tidak takut saya laporkan ke polisi" Tanyanya lagi dengan berani dan penuh keyakinan kalau orang yang datang ke rumahnya adalah suruhan Ibunya Rafael.
__ADS_1
"Dengarkan saya." Kali ini wajah Ibunya Rafael terlihat merah, seperti yang menahan amarah, mungkin karena sikap Kharisa yang berani terhadapnya.
"Berikan putramu pada kami, sebagai gantinya kami akan menanggung biaya kuliah dan biaya hidupmu sampai kuliahmu selesai, dan kamu tidak perlu tinggal lagi di rumah petak yang sesak itu, kamu bisa tinggal di apartemen yang nyaman, dan apartemen itu akan jadi milikmu."
"Dan kami pastikan putramu akan hidup terjamin dan bahagia bersama kami, tidak seperti sekarang tinggal di petak sempit, kotor dan mungkin saja banyak sumber penyakit" Ibunya Rafael mengatakannya dengan nada sinis.
"Tante, sudah saya bilang, saya tidak akan pernah menyerahkan putra saya apalagi ditukar dengan sebuah apartemen....ha...ha...ha... yang benar saja tante, tante salah duga ternyata, tante pasti mikirnya saya murahan bisa silau dengan kekayaan. Aku tekankan tante salah besar, perlu tante ketahui, aku malah meninggalkan kesenangan materi untuk putraku yang tidak diakui oleh ayah kandung dan keluarganya. Jadi jangan pernah berharap tante bisa mengambilnya dariku. Aku jadi kasihan sama tante, tante wanita terhormat, cantik, kaya, berpendidikan tapi tidak punya hati nurani." Entah ada kekuatan dari mana Kharisa berani berkata-kata seperti itu, memang untuk melindungi anaknya seorang ibu akan bisa melakukan apa saja, begitu pun dengan Kharisa, tidak ada rasa takut sedikit pun berhadapan dengan ibunya Rafael, termasuk dengan dua laki-laki yang tampilannya mirip bodyguard.
"Saya permisi tante, terima kasih sudah jauh-jauh datang ke sini." Kharisa menekan tombol pembuka pintu, dan segera turun dari mobil saat pintu terbuka, dengan setengah berlari ia meninggalkan mobil mewah itu.
"Neng...Neng....." Kharisa menoleh ke belakang saat mendengar suara yang tidak asing memanggilnya.
"Ayo naik." Tanpa berpikir panjang Kharisa duduk di jok, di belakang Faisal, Faisal pun melajukan motor maticnya ke arah rumah kontrakan Kharisa.
Dalam perjalanan menuju rumahnya akhirnya bening kristal jatuh membasahi pipi Kharisa, sambil terus berpikir sebenarnya kemana Rafael, apakah dia benar-benar tidak mau bertanggung jawab, sampai ibunya tega ingin mengadopsi cucunya sendiri, apakah Rafael sudah tidak mencintainya lagi padahal yang ia tau Rafael sangat takut kehilangannya. Bagaimana caranya ia bisa menghubungi Rafael....?
bersambung.....
Assalamualaikum readers ku tercinta. Alhamdulillah novel keduaku ini telah melewati 20 episode walaupun berjalan lambat. Tapi Othor pastikan ceritanya akan terus berlanjut sampai tamat dengan happy ending tentunya, walaupun belum tau happy nya seperti apa, yang jelas Kharisa pasti akan bahagia bersama keluarga kecilnya. Trus siapa yang akan mendampingi Kharisa dan yang membuatnya bahagia? Apakah Rafael yang masih diakui sebagai kekasihnya(secara mereka belum putus) plus ayah dari putranya? Atau Faisal? Malaikat penolongnya yang selalu disampingnya dan mendukungnya? Atau laki-laki lain seperti Reza misalnya, atau ada tokoh baru lagi, laki-laki yang mencintai kharisa?
Readers kira-kira pilih yang mana? Ayo kasih masukannya yah, kasih komen mau dukung Kharisa bahagia dengan siapa?
Jangan lupa like dan komennya yah, kali-kali kirim bunga buat Kharisa, pasti senang dia. Thanks yah.🤗🙏
Salam hangat🤗
Umi Haifa
__ADS_1