Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Hijrah


__ADS_3

Khanzaaaa....." Tiba - tiba Rakha berteriak manggil seseorang yang dikenalnya. Ia turun dari kursi yang didudukinya, menghampiri gadis kecil berhijab yang menenteng tas bayi milik adik kecilnya.


"Uma ada Rakha." Teriak gadis kecil itu kegirangan.


"Loh...kok Rakha ada di sini?" ujar wanita berhijab syar'i yang tak lain adalah teh Moza.


"Aku sama Momy sama Dady aku Uwa." Rakha menunjuk ke belakang ke arah tempat duduk Kharisa dan Rhafael. Teh Moza pun langsung menemukan sosok Kharisa yang tengah duduk menatap ke arahnya, di sebelah laki-laki yang baru pertama kali dilihatnya.


"Teh Moza...." Kharisa pun berdiri, menghampiri Teh Moza, mereka saling bersalaman dan cipika cipiki.


"Hei...De Arkhan makin ndut aja ini....." Kharisa menjembel pelan pipi bapau milik putra bungsu Teh Moza yang belum genap satu tahun.


"Kang Farhan, apa kabar?" Sapa Kharisa sambil menganggukan kepalanya dan menangkupkan kedua tangan di dadanya.


"Alhamdulillah baik, Kharisa berdua saja sama Rakha? Kok bisa di sini?" Tanya Kang Farhan heran, tatapan matanya beralih pada Mario meminta penjelasan.


"Wah rupanya sudah saling kenal." Mario pun terlihat heran melihat keakraban Kharisa dengan keluarga Kang Farhan.


"Khansa ayo sini, aku kenalin sama Dady aku." Tiba-tiba Rakha dengan semangat menarik Khansa menerobos Teh Moza dan Kang Farhan yang ada di depannya menuju dadynya yang masih duduk di tempat makannya.


"Khanza ini Dady aku." Ucap Rakha bangga. "Dady ini temen aku, sodala aku juga." Tingkah Rakha menjadi perhatian Teh Moza dan Kang Farhan, mereka saling berpandangan kemudian sama-sama menoleh ke arah Kharisa dan membuat Kharisa kikuk. Sementara Rafael menyambut uluran tangan gadis kecil yang hendak mencium tangannya. " Wah cantik sekali temannya Rakha." ujarnya sambil mengusap kepala gadis kecil yang terus memperhatikannya. Kemudian gadis kecil itu berbisik di telinga Rakha. "Kamu mirip ayah kamu." Ternyata gadis kecil berumur lima tahun lebih itu begitu memperhatikan wajah Rafael dan bisa membuat sebuah kesimpulan.


" Iya dong milip, di sekolah aku juala satu milip ayah." Bisik Rakha dengan bangga di telingan Khansa, Rafael tersenyum melihat tingkah dua anak yang menggemaskan itu. Ternyata Mario dan Dita pun ikut tersenyum memperhatikan Rakha dan Khansa.


"Eu....eh.....Kang Farhan, Teh Moza, kenalkan ini Rafael, eu....ayahnya Rakha." Entah kenapa Kharisa terlihat gugup mengenalkan Rafael, padahal Kang Farhan dan Teh Moza termasuk orang yang sudah dianggap saudaranya, bahkan mereka tau kisah hidup Kharisa dan Teh Moza adalah salah satu yang selalu memberikan semangat dan motivasi kepada Kharisa.


"Alhamdulillah....akhirnya Rakha ketemu dengan ayahnya." Kang Farhan mengucap syukur, berbeda dengan Teh Moza yang terlihat diam, seperti ada yang sedang dipikirkan.

__ADS_1


"Kang, Rafael ini sahabatku sejak jaman SMA, baru beberapa bulan ini bertemu lagi" Mario menambahkan. Rafael menganggukan kepalanya, dengan senyum ramah mengembang di bibirnya. Kang Farhan pun menganggulan kepalanya dan tersenyum.


"Oh ya Kang, gak apa-apa kan gabung di sini? Maaf sampai lupa mempersilahkan duduk. Silahkan Kang, Teh...." Mario menarik kursi yang belum terisi.


"Eh maaf saya jadi ganggu makannya nih, sok atuh dilanjut lagi makannya." Ujar Kang Farhan sambil duduk, Teh Moza duduk disampingnya dengan baby Arkhan tetap dalam pangkuannya. Sementara Rakha, Khansa dan adiknya Arsyad malah jongkok dan duduk di lantai memainkan mainan Arsyad sambil cekikikan, sampai Rakha lupa kalau ia sedang makan.


Mereka pun menikmati makan bersama dalam satu meja, suasana terasa hangat, diselingi obrolan ringan dan candaan, tepatnya lebih banyak menggoda pengantin baru yang baru pulang umroh plus honeymoon. Dan Teh Moza yang lebih dominan menggoda Dita yang terlihat malu-malu.


"Kang, inget gak waktu mereka taaruf, Dita tuh kelihatan juteeeek banget, tapi sekarang lihat kayanya nempel terus nih sama Kang Rio." Kekeh Teh Moza dan diiyakan oleh suaminya.


"Itulah jodoh, mau segimana pun menolak, kalau sudah jodoh Allah yang akan menggerakan, tapi salut deh buat Kang Rio , ikhtiarnya luar biasa, percayalah dengan hijrah akan mempermudah segalanya."


"Alhamdulillah, ini juga berkat arahan Kang Farhan, impian jodoh saya Allah wujudkan." Tanpa malu-malu Mario menggenggam tangan istrinya, lalu mengecupnya.


"Raf, mumpung ada Kang Farhan, mau bahas pertanyaan kemarin gak?" Tanya Mario.


"Kalau Kang Farhan ada waktu dan berkenan." Tentu saja Rafael tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan Kang Farhan. Mario pernah cerita, Kang Farhan ini ilmu agamanya luar biasa, ia bukan ustad seperti kebanyakan, dan ia tidak pernah mau disebut ustad, ia seorang pengusaha di bidang kontraktor, tapi sering mengisi kajian di beberapa majelis. Di bawah bimbingan Kang Farhanlah, sahabatnya itu menjadi manusia yang lebih baik.


"Saya ada waktu sampai sebelum Ashar." Kang Farhan melirik jam tangannya yang menunjukan pukul dua siang, berarti ada waktu satu jam lagi.


"Wah terima kasih Kang." Rafael tersenyum sumringah, Kharisa yang duduk di sampingnya mengernyit, Rafael mau bahas apa dengan Kang Farhan, tanyanya dalam hati.


"Enaknya kita ngobrol di ruangan lain, sebentar saya cek dulu ruang sebelah." Mario beranjak mengecek tempat VIP di sebelahnya. Setelah dipastikan kosong, mereka bertiga berpindah tempat, kini tinggal para wanita dan anak-anak yang tengah asik menonton Nusa dan Rara di layar ipad milik Rakha.


"Kharisa....Faisal sudah tau kalau ayahnya Rakha sudah pulang?" Tanya Teh Moza.


"Sudah Teh ...bahkan sudah dua kali bertemu.

__ADS_1


"Tanggapan Faisal gimana, maksudnya responnya gimana?"


"A Isal mendukung Rakha ketemu dadynya, dia juga support aku untuk memaafkan dan menerima Rafael kembali." Jawab Kharisa jujur.


"Syukurlah....." Teh Moza terlihat menghela nafasnya, entah apa yang dipikirkannya.


Di ruang sebelah Rafael benar-benar mencurahkan segala rasa takutnya, kecemasannya akan balasan atas perbuatan dosa, ia juga menceritakan kisah hidupnya saat berpisah dengan Kharisa hingga bertemu dengan putranya yang tidak diketahui olehnya.


"Allah itu Maha Pengampun dan Allah menyukai orang-orang yang bertaubat." Dan ucapan Kang Farhan membuatnya merasa lega.


"Sudah saya masukan Kang Rafael ke group komunitas hijrah, kita belajar sama-sama memperbaiki diri."


"Allah akan memberikan rahmatNya bagi orang- orang yang berhijrah, Insya Allah segala persoalan akan selesai dengan bimbinganNya." Ujar Kang Farhan lagi setelah Rafael menyampaikan niatnya untuk menjalani hidup bersama Kharisa dan putranya namun masih mendapatkan kendala, belum mendapat restu dari maminya.


"Semoga Kang Rafael istiqomah, Kang Rio nanti akan ikut mendampingi, jangan sungkan kalau ada hal yang ingin ditanyakan atau menemukan kendala, pasti nanti banyak godaannya, tapi ingat, ada kami yang akan membantu Kang Rafael, jadi jangan sungkan, dan tetap semangat."


Rafael kini merasa punya saudara yang mendukungnya, ternyata benar curhat dengan Kang Farhan itu cukup nyaman, membuatnya merasa lega dan hati lebih tenang, dalam hatinya ia akan hijrah, memulai memperbaiki diri dari saat ini juga, memperbaiki shalatnya, belajar membaca al quran dan memperbaiki hal-hal lain dari mulai yang kecil-kecil sesuai arahan Kang Farhan.


Obrolan pun diakhiri saat jam menunjukkan pukul tiga sore, adzan Ashar akan berkumandang sekitar lima menit lagi. Mereka kembali ke ruangan dimana para wanita masih asik berbincang.


"Sudah selesai?" Tanya Teh Moza pada suaminya.


"Sudah, kita pulang sekarang?" Kang Farhan mengambil alih baby Arkhan yang tidur pulas dalam pangkuan istrinya. Khansa tampak enggan berpisah dengan Rakha, ia masih ingin bermain bersama.


"Rakha nanti kita main lagi yah, kamu main ke rumahku yah sama Om Isal." Ujar Khansa dengan wajah masih merengut.


"Iya nanti aku main ke lumah kamu sama Om Isal sama Dady aku juga yah." Dua bocah itu saling melambaikan tangan saat berpisah.

__ADS_1


"El kita juga pulang sekarang yah, Mama ngirim pesan, katanya Papa mau datang sekarang masih di jalan di darah Pondok Gede." Ucapan Kharisa membuat jantung Rafael berdetak lebih cepat, mendengar papa Kharisa akan datang, apakah ini saatnya ia menemui papa Kharisa? Untuk meminta maaf dan menyampaikan maksudnya untuk menjalani hidup bersama Kharisa dan putra mereka. Kalau memang ini waktunya semoga ia diberikan kemudahan dan Allah melembutkan hati Papa Kharisa.


bersambung


__ADS_2