
Rafael masih menggendong Rakha dan belum mau menidurkan putra kesayangannya ke tempat tidur, walaupun mama Kharisa sudah berkali-kali mengingatkannya, alasannya Rakha masih belum nyenyak tidurnya. Badannya memang masih anget, tapi suhunya sudah turun dibandingkan saat Rafael datang bertemu putranya. Tadi Rafael sempat menanyakan riwayat demam Rakha pada mama Kharisa. Sementara dugaannya penyebab demam Rakha karena Viral Infection. Sempat menduga karena demam Tifoid, karena di Indonesia kasus ini sering terjadi dan dianggap sebagai penyakit yang biasa saja, tapi siklus demamnya ternyata tidak mengarah ke tifoid. Dan Rafael pun tidak memberikan tambahan obat pada putranya, cukup obat penurun panas, demamnya juga baru satu hari. Untungnya Rakha masih mau minum air putih dan susu rasa vanila kesukaannya walaupun tidak sebanyak biasanya.
"Sini biar aku tidurkan Rakha di kamar." Kharisa datang dari ruang tengah, ia terlihat lebih segar dan sudah berganti pakaian, setelah Faisal pergi ia langsung mandi dan melaksanakan shalat Ashar.
"Sudah nyenyak sepertinya, aku langsung tidurkan saja di kamar yah." Rafael langsung berjalan ke kamar Kharisa seolah sudah terbiasa masuk ke kamar putranya yang juga kamar wanita yang dicintainya itu, Kharisa pun mengikutinya.
Dengan hati-hati Rafael membaringkan Rakha di tempat tidur dan benar saja tidurnya nyenyak tidak terganggu saat tubuhnya dibaringkan. Ia mencium kening putranya dengan penuh rasa sayang dan pemandangan ini tak luput dari perhatian Kharisa, ada rasa haru dalam hatinya melihat bagaimana Rafael begitu menyayangi putra kesayangan mereka. Namun dalam hatinya ada rasa perih saat mengingat sikap dan ucapan mami Rafael, hingga tadi ia mengambil keputusan untuk mengalah tidak akan memperjuangkan untuk bersama Rafael, bahkan meminta Faisal menjadi ayah Rakha. Bagaimana perasaan Rafael kalau mengetahui keputusannya untuk menyerah. Tak terasa bening kristal menggenangi kedua matanya dan hampir saja jatuh di pipinya, namun ia segera menyeka kedua matanya saat terdengar suara Rafael menyebut namanya.
" Sa....Risa, are you ok? "Tanya Rafael dengan wajah penuh kekhawatiran. " Apa mami menyakitimu?" Sepertinya Rafael belum tau apa yang terjadi diantara maminya dengan Kharisa. Tadi saat ia datang ke rumah makan tempat bertemu Kharisa dengan maminya, ia tidak menemukan keduanya, ia memang datang terlambat. Ia langsung menghubungi Kharisa namun tidak diangkat, lalu menghubungi maminya, maminya bilang pertemuan dengan Kharisa sudah selesai.
"Mami dalam pejalanan menuju rumah sakit, mami mau ketemu Vania di messnya, mami tunggu kamu juga." Ujar mami di telpon tadi. Saat itu Rafael merasa heran, kenapa pertemuan maminya dengan Kharisa begitu singkat? Padahal ia sudah berusaha secepat mungkin untuk datang menemui keduanya, tapi ternyata sudah tidak ada. Ia pun berkali-kali menghubungi Kharisa namun tidak diangkat juga, tentu saja membuatnya khawatir dan timbul kecurigaan kalau Kharisa tidak baik-baik saja, dan maminya masih tidak mau menerima Kharisa.
"Sa, bagaimana pertemuan dengan mami tadi? Mami bicara apa sama kamu? Kenapa kamu gak jawab telponku? Kamu baik-baik saja kan?"
Serentetan pertanyaan keluar dari mulut Rafael karena kepenasarannya, ditambah mata Kharisa yang basah membuatnya tambah yakin sesuatu terjadi antara maminya dengan Kharisa, pasti maminya menyakiti Kharisa lagi. Ingin rasanya ia memeluk Kharisa untuk menunjukan apapun yang maminya ucapkan maminya, ia akan selalu ada di sisi Kharisa, tapi pasti Kharisa akan menolaknya.
"Dady......euh....." Terdengar Rakha memanggil dadynya dengan tangan terulur, namun matanya terpejam. Rupanya Rakha mengigau, sepertinya ia sedang bermimpi bersama dadynya. Rafael segera mendekati tubuh kecil yang terbaring di tempat tidur lalu mendekapnya.
"Dady disini sayang." ucapnya sambil mengusap-usap kening putranya. Kharisa pun ikut mendekat, sejak datang ia belum sempat memeluk putranya karena sejak tadi berada dalam gendongan dadynya.
"Tubuhnya masih demam, tadi suhunya masih 38, dua jam lagi kalau belum turun bisa dikasih obat penurun panas lagi. Kalau demamnya tidak turun sampai tiga hari, kita cek darahnya, khawatir tifoid atau demam dengue (demam berdarah), sekarang kasusnya mulai tinggi." Ujar Rafael,masih mendekap putranya. Kharisa hanya menganggukan kepalanya, ia percaya pada Rafael sebagai dokter. Yang ia dengar selentingan dari pasien dan keluarga pasien yang pernah berobat ke poliklinik dokter umum, katanya ada dokter baru, baik, perhatian dan care dengan pasien, cakep lagi, namanya dokter Rafael, ngasih obatnya gak banyak, hanya penurun panas dan vitamin, malah lebih banyak ngasih penjelasan cara penanganan di rumah.
__ADS_1
Memang begitulah dokter Rafael, ia sangat care dengan pasiennya, tidak asal memberikan obat apalagi pada anak-anak. Di negara tempat ia menuntut ilmu kedokteran memang seperti itu, tidak sembarangan nemberikan obat, seperti antibiotik, harus jelas dulu melalui pemeriksaan penunjang bahwa benar pasiennya mengalami infeksi bakteri. Tidak seperti di negara tempatnya sekarang, kadang dokter dengan mudah memberikan antibiotik pada pasien yang mengalami demam, padahal belum jelas penyebabnya apa, mungkin iya pasiennya cepat sembuh tapi biasanya akan mudah terkena sakit lagi. Dan Rafael tetap konsisten dengan prinsip ilmunya, walau pernah ada pasien kembali lagi meminta obat paten, karena demam anaknya belum juga turun, ia tetap memberikan obat sesuai kebutuhan dan memberikan penjelasan lagi sampai pasiennya paham.
Dan kini putranya sendiri yang sedang sakit, tentu yang terbaiklah yang ia lakukan, dan ia tidak mau melewatkan waktu sebentar pun untuk selalu berada di sisi putranya, walaupun putranya tengah tertidur lelap. Kharisa pun berada di sisi Rakha, duduk bersandar di tembok, sementara Rafael duduk bersandar di sandaran tempat tidur, namun mereka saling diam, tidak ingin mengganggu Rakha, takut ia terbangun, padahal Rafael sudah penasaran ingin bertanya dan mendapatkan penjelasan dari Kharisa, namun ia menahan dirinya.
"Momy...." Bertepatan dengan adzan maghrib, Rakha terbangun.
"Ya sayang...." Kharisa yang tengah memainkan HPnya langsung menyimpan HPnya dan menghampiri Rakha, duduk di tempat tidur di sebelah Rakha.
"Hey...my boy, sudah bangun, nyenyak sekali tidurnya." Rafael mengecup kening Rakha.
"Dady tidul sama aku?" Wajah Rakha terlihat senang melihat dadynya masih berada di dekatnya. Rafael tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Tadi aku mimpi dady pelgi gak ngajak aku, aku panggil dady, tlus aku nangis, aku masuk kamar, eh dady ada di kamal aku." Rupanya Rakha tadi bermimpi sampai mengigau memanggil dadynya.
"Plomise?"
" Of course, I promise." Rafael mengangkat kedua jarinya lalu mengecup lagi kening putranya.
"Momy kenapa lama pulangnya, aku sama dady telpon momy tapi gak diangkat." Ujar Rakha merajuk.
"Maafkan momy, tadi momy lagi di jalan, trus ketemu Om Isal."
__ADS_1
"Ada Om Isal? Aku mau ketemu Om Isal Momy" Rakha beranjak duduk, sepertinya ia sudah membaik, terlihat bersemangat, tidak terlihat lemas seperti sebelumnya.
" Om Isal lagi di Wa Dini, nanti momy suruh ke sini, Rakha udah enakan kan? Sudah gak demam lagi kan?" Kharisa menempelkan punggung tangannya di dahi Rakha, memang terasa tidak panas lagi
"Aku sudah sembuh momy, gak panas lagi, ya kan Dady?"
"Kita cek dulu yah." Rafael mengambil thermometer digital di atas meja, menjepitkannya di ketiak Rakha.
"Ya suhunya sudah turun, 37,4°C sudah termasuk normal tapi masih harus diobservasi." Ujar Rafael. "Tapi Rakha gak boleh turun dari tempat tidur dulu yah."
"Sa, aku mau nyeka Rakha dan mengganti bajunya, ini basah oleh keringat." Ujar Rafael pada Kharisa.
"Biar aku saja yang menyekanya, kamu sholat saja dulu."
"Biar aku saja, minta tolong ambilkan air hangatnya saja, handuk dan bajunya juga." Rafael tidak mau melewatkan merawat putranya, Kharisa pun tidak membantahnya, ia pergi ke dapur untuk menyiapkan air hangat untuk menyeka Rakha. Ternyata Rafael sedang berusaha menjadi The Best Father untuk Rakha.
"Rakha diseka sama Dady yah, yuk kita buka bajunya." Dengan perlahan Rafael membuka baju Rakha yang basah oleh keringat.
"Tapi habis diseka aku mau ketemu Om Isal ya Dady, aku mau mau dengal celita Uwais Al Qolni lagi, nanti kalau udah besal, aku mau sepelti Uwais Al Qolni." Kini sudah mulai terdengar celotehan Rakha, berarti ia sudah membaik, ada perasaan lega di hati Rafael, namun ternyata dadanya bergemuruh menahan rasa cemburu yang selalu datang saat mendengar nama Faisal disebut Kharisa dan putranya, apalagi tadi ia melihat Kharisa pulang dengan Faisal.
"Iya nanti habis di seka, Rakha boleh ketemu Om Isal."
__ADS_1
bersambung.