Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Resign


__ADS_3

"Kharisa, kamu serius mengajukan resign?" Andre menatap Kharisa yang duduk di depannya, ia baru saja membaca surat yang diserahkan Kharisa, tepatnya surat pengunduran diri. Tentu Andre sangat menyayangkan kalau Kharisa benar-benar mengundurkan diri, ia salah satu karyawan terbaik khususnya di divisi marketing, walaupun kerjanya baru beberapa bulan, namun Kharisa sudah menguasai pekerjaannya.


" Saya serius Pak, Insya Allah sudah dipikirkan matang-matang." Jawab Kharisa penuh keyakinan. Sebenarnya dalam hati kecilnya ia merasa berat harus meninggalkan pekerjaan yang mulai disukainya. Tapi tekadnya sudah bulat untuk menjauh dari Rafael, dan inilah cara yang harus ia lakukan. Pindah ke Jakarta, kembali ke rumah mama dan papanya, memulai hidup baru di sana.


"Sayang loh Sa, harus bayar finalti, apa gak nunggu sampai habis kontrak saja?" Rupanya Andre sedang berusaha membujuk Kharisa agar membatalkan pengunduran dirinya.


"Gak apa-apa Pak, saya bersedia membayar finalty, saya akan memulai hidup baru di Jakarta." Sepertinya Andre lupa kalau sekarang Kharisa sudah kembali bersama papanya yang akan mensuport putrinya, termasuk menyediakan dana untuk membayar finalty karena mengakhiri kontrak kerja sebelum waktunya, yang nilainya dianggap kecil bagi papa Kharisa.


"Apa ini ada hubungannya dengan Rafael dan Tante Sarah?"


"Maaf kalau kesannya saya tidak profesional Pak, tapi memang seperti ini keadaannya, Pak Andre mungkin sudah tau kondisi saya."


"Huuuuufff....." Andre membuang nafas panjangnya, ia tahu apa yang sedang dihadapi oleh Kharisa dan sepupunya. Jelas terlihat Andre berat melepas Kharisa, tapi mau bagaimana lagi, Kharisa sepertinya sudah tidak bisa dirayu lagi.


"Aku akan kehilangan kamu Sa, padahal aku sudah senang ada kamu yang bisa diandalkan, kamu lihat kan pencapaian kita, naik drastis, itu sejak kamu datang bergabung di sini." Masih berusaha membuat Kharisa merasa berat untuk resign.


"Nggaklah Pak, itu hasil kerja keras bersama, saya di sini masih baru, masih harus banyak belajar." Ini yang disuka Andre dari Kharisa, selalu merendah, tidak pernah menonjolkan diri, tidak sombong, padahal kinerjanya sudah bisa melebih seniornya.


"Hhhh....Sa, aku kok berat yah, yang lain juga pasti kehilangan kamu."


"Kita masih bisa komunikasi lewat HP Pak."


"Iya sih."


"Ah...ya sudah, sepertinya kamu tidak bisa saya rayu lagi, nanti saya sampaikan ke HRD, tapi ini nunggu satu bulan yah, atau setelah saya dapat penggantinya baru kamu bisa resign."

__ADS_1


" Ya Pak." Kharisa memang sudah paham prosedur pengunduran diri. Yang penting suratnya sudah ia ajukan.


Ia pun meninggalkan ruangan bosnya setelah urusannya selesai. Waktu sudah menunjukan waktu untuk pulang. Ia merapihkan meja kerjanya, mematikan komputernya, lalu mengambil tasnya.


"Mas Ahmad aku duluan pulang yah." Tinggal Ahmad yang berada di ruangannya, yang lainnya sudah duluan pulang on time. Ia berjalan ke tempat parkir dengan gontai, rasanya malas pulang ke rumah, tidak ada Rakha yang selalu menunggunya. Seperti ini rasanya berjauhan dengan putranya yang sangat disayanginya, dan sekarang ia harus mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini, memutuskan untuk tidak bersama Rafael berarti ia harus siap berbagi kesempatan bersama Rakha, Rafael pun pasti ingin menikmati hari-harinya bersama putranya.


Ah andai saja mereka hidup bersama menjadi keluarga, tentu akan bisa terus bersama-sama Rakha tanpa harus berbagi diantara keduanya. Tapi hatinya sudah bulat memilih hidup masing-masing, karena tidak ingin berurusan lagi dengan maminya Rafael.


Ia memutuskan untuk tetap pulang ke rumah, kalau saja ada Vania, ingin rasanya ia berbagi cerita lagi dengan sahabat barunya itu, namun sayang Vania sudah mengambil cuti, mungkin sekarang ia sedang bersenang-senang berlibur di Eropa bersama keluarganya.


Tiba di rumah ia langsung mandi lalu menemani mamanya di ruang tamu.


"Kharis, sepertinya kita tidak jadi liburan di Garut, Fakhira batal menikah."


"Lebih jelasnya mama juga gak tau pasti, Wa Dewi hanya bilang calon suaminya yang membatalkannya dua minggu yang lalu."


"Ya Allah.....kok tega sih batalin disaat waktunya sudah dekat, kasihan Teh Ira, pasti sangat sedih. A Isal waktu ke sini kok gak cerita yah? Pasti di sana kan sudah persiapan untuk pernikahan." Kharisa membayangkan bagaimana sedihnya Fakhira yang dikenalnya sebagai wanita sholehah, cantik, cerdas, dan baik hati. Dan bukan hanya sedih, Fakhira dan keluarganya rrpasti menanggung malu juga, karena rencana pernikahannya pasti sudah diketahui banyak orang, tiba-tiba batal. Mungkin juga sudah mencetak undangan dan menyiapkan untuk acara akad nikah dan resepsi.


"Ya itulah takdir, kalau bukan jodohnya, pasti ada saja jalan untuk berpisah. Tapi mama yakin Ira bisa menerima dengan ikhlas."


"Kaya aku ya Mah, mungkin Rafael bukan jodohku, selalu saja ada jalan penghalangnya, aku juga akan ikhlas dengan takdir jodohku. Aku hanya minta sama Allah diberikan jodoh terbaik, yang bisa menerima kekuranganku, juga menerima Rakha." Entah kenapa Kharisa jadi teringat Faisal, yang belum memberikan jawaban atas permintaannya menjadi ayah Rakha. Kalau nanti Faisal menolaknya, ia pun harus ikhlas, yakin saja Allah akan memberikan jodoh yang terbaik untuknya.


" Kharis pasti akan mendapatkan jodoh yang tebaik, mama selalu mendoakan yang terbaik untuk Kharis." Mama meraih bahu putrinya, lalu mendekapnya.


"Papa ngajak kita liburan tahun baru di Singapura, Kharis bisa kan? Rakha jadi kan pulang lusa? Jadi minggu depan Rakha balik lagi ke Singapura, pasti senang dia naik pesawat lagi. Besok sore kita ke Jakarta, sekalian jemput Rakha di bandara saja."

__ADS_1


"Beneran papa ngajak kita liburan?" Tanya Kharisa tidak percaya. Rasanya sudah lama ia tidak berlibur dengan papanya.


"Iya, sekalian kita nengok mama Lisna di sana. Kemarin mama Lisna sudah berangkat untuk terapi di sana, ditemani Rendi dan istrinya."


"Tapi kondisi mama Lisna baik-baik saja kan Mah?"


"Kondisinya membaik, hanya harus melakukan terapi berapa kali lagi gitu." Waktu mama ke Jakarta sempat bertemu dengan istri pertama suaminya, kondisinya memang lebih baik, terlihat lebih segar dibandingkan saat di acara pernikahan Rendi.


"Ah, syukurlah." Kharisa merasa lega, ia juga menyayangi mama Lisna walaupun statusnya sebagai mama tirinya.


"Kaya ada suara panggilan telpon, itu di kamarmu sepertinya." Ujar Mami pada Kharisa. HP Kharisa memang disimpan di kamarnya. Kharisa pun beranjak ke kamarnya, dan benar saja ada panggilan telpon dari Rafael.


"Rakha mana?" Kharisa langsung menanyakan keberadaan putranya.


"Dia lagi tidur, kecapean kayanya habis berenang."


"Oh....." Kharisa kira Rafael menghubunginya karena Rakha yang ingin bicara dengannya, ternyata salah.


"Sa... besok kamu ke sini bisa kan? Nanti aku siapkan tiketnya, ambil jadwal sore saja, atau mau berangkat pagi, nanti aku bilang sama Bang Andre kamu ijin gak masuk, yah?" Kharisa malah terdiam mendengar ucapan Rafael.


"Sa...bisa yah?"


bersambung.....


.

__ADS_1


__ADS_2