
Sabtu pagi cuaca di luar terlihat mendung, disaat para penghuni bumi mulai dengan aktifitasnya, sang surya tampaknya enggan menampakan dirinya. Namun cuaca mendung itu tidak menyurutkan semangat bocah kecil buah hati Kharisa untuk berangkat ke sekolah. Sebelum subuh ia telah membuka matanya, seolah ada alarm alami yang membangunkannya, melihat momynya menggunakan mukena duduk di atas sajadah, ia langsung beringsut duduk di tempat tidur dengan mata mengerjap.
"Momy aku telambat bangun? Momy sudah sholat subuh?" Tanyanya sambil turun dari tempat tidur.
"Nggak sayang, belum adzan subuh kok, masih lima menit lagi, Momy habis shalat tahajud." Setelah mendapatkan pekerjaan, Kharisa mulai membiasakan diri melakukan Qiyamul Lail setiap hari, pukul setengah empat ia bangun untuk shalat tahajud, kalau waktu leluasa biasanya ia tambah dengan shalat taubat dan shalat hajat, ditutup dengan shalat witir, kemudian berdzikir sampai waktu subuh tiba. Kalau saat kuliah biasanya ia mengerjakannya saat menghadapi ujian atau saat hatinya sedang gundah. Kini ia belajar mengerjakannya tiap hari, menurut Faisal itu bentuk wujud syukur kita kepada Allah yang telah memberikan banyak kenikmatan dan kemudahan atas segala urusan.
"Aku mau langsung mandi Mom." Rakha berjalan menuju pintu kamar
"Minta dibantu nenek yah, Momy tunggu di sini." Ujar Kharisa, Rakha pun menganggukan kepalanya dan keluar kamar. Kharisa tersenyum melihat sikap putranya yang memang jarang menyusahkannya, ia bersyukur di usianya yang masih dini Rakha sudah bersikap mandiri, kadang terkesan sok dewasa berusaha melindungi momynya.
Kharisa pun sangat bersyukur ternyata Rakha begitu mudah menerima Rafael sebagai dadynya. Entah karena sosok Rafael yang sudah dikenalnya sebagai sosok Om Dokter yang kesannya baik, atau mungkin karena Rakha begitu mengharapkan sosok dadynya hadir di dekatnya, hingga tidak ada kendala sedikit pun, saat diberitau kalau Om Dokter yang kemarin sore datang ke rumahnya adalah dadynya, ia hanya terlihat sedikit bingung. Mungkin dalam hatinya ia bertanya kenapa sosok dadynya tidak dikenalkan saat pertama datang ke rumah, tapi itu pun tidak terucap dari mulutnya. Kemarin Rakha terlalu bahagia bisa bertemu dadynya. Hingga saat adzan magrib berkumandang ia ingin shalat maghrib di masjid bersama dadynya.
"Momy aku mau sholat maghlibnya di masjid sama dady, aku mau kenalin dady ke Danu sama Ladit. Om doktel....eh Dady....." Rakha menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena memanggil dadynya dengan panggilan lamanya, membuat Kharisa dan Rafael terkekeh saat itu.
"Dady ....ayo kita sholat di masjid." Ujarnya sambil menarik tangan dadynya. Mau tidak mau, Rafael pun menuruti keinginan putranya, dengan perasaan malu pada dirinya sendiri, harusnya dia yang mengajak putranya shalat di masjid, ini malah terbalik. Bahkan harusnya dia mengajarkan shalat pada putranya.
Hari ini Rakha terlihat lebih bersemangat dari biasanya, pukul enam pagi sudah siap di meja makan untuk sarapan sereal plus susu kesukaannya.
"Momy kenapa Dady belum jemput. Benel kan Dady bisa ke sekolah." Rupanya Rakha khawatir kalau dadynya tidak bisa mendampinginya ke sekolah. Tadi malam saat Rafael pamit akan pulang, Rakha sempat bertanya.
"Dady mau kemana? Kenapa Dady gak tidul di lumah sama aku, katanya Dady sudah pulang." Tanyanya heran, terlihat kekhawatiran di wajahnya, ia takut Dadynya pergi jauh lagi.
"Dady tidak bisa tinggal di sini, karena dady harus tinggal di dekat rumah sakit, biar mudah dan dekat kalau ada pasien yang memerlukan pertolongan dady." Jelas Kharisa, inilah pertanyaan yang dikhawatirkan Kharisa, Rakha akan menanyakan itu, ia sudah paham kalau ayah, ibu dan anak akan tinggal bersama dalam satu rumah, seperti keluarga temannya yang lain. Dan Kharisa pun sudah menyiapkan jawaban tadi sejak beberapa hari yang lalu. Syukurlah Rakha bisa menerima jawaban Kharisa, tidak banyak bertanya lagi, kekhawatiran Kharisa rupanya tidak terjadi, ia memang khawatir Rakha akan kecewa dan sedih tidak bisa tinggal bersama dadynya.
Tepat pukul tujuh Rafael datang menenteng paper bag berlogo merk fashion branded anak laki-laki.
"Pulang dari sini aku hunting baju yang cocok untuk couple ayah dan anak, dapat kemeja yang motif dan warnanya mirip." Ujar Rafael sambil menyerahkan paper bagnya pada Kharisa. Rupanya pulang dari rumah Kharisa ia langsung pergi ke mall, walaupun mallnya tidak begitu besar tapi lumayan lengkap menyediakan fashion dengan kualitas bagus. Setelah berkeliling hingga mallnya hampir tutup, akhirnya ia mendapatkan yang diinginkannya.
"Punyaku sudah kupakai, bagus gak?" Rafael terlihat keren dengan celana jeans dipadukan dengan kemeja kotak-kotak berwarna dasar biru muda, kancingnya dibiarkan terbuka memperlihatkan t shirt di dalamnya yang berwarna putih. Kharisa melirik ke arahnya, dalam hatinya mengakui kalau Rafael memang terlihat keren, membuat jantungnya berdebar saat tatapan mereka bertemu. Kharisa pun segera memalingkan wajahnya tidak ingin membuat jantungnya berdetak lebih cepat lagi.
"Rakha kita pakai baju kembaran yah, coba deh langsung dipakai saja, cukup gak ukurannya?" Rafael menarik tubuh Rakha dan mendudukannya di atas pahanya. Kharisa pun mengambil baju baru Rakha dari dalam paper bag yang dipegangnya. Ada kaos berwarna putih dan kemeja yang mirip seperti yang dipakai Rafael. Rafael pun membantu mengganti baju Rakha, ini pertama kalinya ia memakaikan baju pada putranya, ada perasaan bahagia di hatinya, menatap wajah putranya begitu dekat serasa melihat dirinya sendiri versi Rafael junior
"Tinggal rambutnya nanti Dady sisir di mobil, pake pomade ada di mobil, biar gak kusut." Ujar Rafael sambil mengusap kepala putranya.
"Seperti kembaran kan?" Terlihat senyum puas di bibir Rafael, saat melihat Rakha menggunakan baju barunya. Sempurna . Batinnya.
__ADS_1
Rafael sengaja membeli baju kembaran karena ia dan Rakha akan mengikuti lomba 'mirip ayah'. Kemarin setelah shalat magrib Kharisa memperlihatkan surat edaran 'Father's Day', sesuai permintaan Rakha mereka akan mengikuti lomba mirip ayah, ayah menggendong anak dan memasang puzle. Masing-masing siswa dibatasi mengikuti tiga jenis lomba.
Dan kini mereka telah siap berangkat ke sekolah mengikuti kegiatan 'Father's Day'. Rakha berangkat dengan dadynya menggunakan mobil, sementara Kharisa menggunakan motor, karena setelah dari sekolah Rakha ia langsung ke rumah sakit untuk masuk kerja, ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, karena sebagai karyawan ia masih terbilang baru, merasa tidak enak untuk meminta ijin, tapi kalau kondisinya memungkinkan dan ia bisa cepat menyelesaikan tugasnya ia akan minta ijin pulang lebih awal, semoga saja Bosnya memberi ijin.
Ia sengaja ikut mengantar ke sekolah putranya untuk mengenalkan Rafael sebagai ayah Rakha kepada guru wali kelas dan kepala sekolah. Wali kelas dan kepala sekolah sudah tau status Rakha sebagai anak di luar nikah, Kharisa memang menjelaskannya saat mendaftar Rakha sekolah, dan pihak sekolah bisa menjaga informasi itu tidak bocor ke pihak luar sekolah, orang tua siswa lain taunya ayah Rakha sedang sekolah di luar negri. Dan sampai usia Rakha empat tahun lebih belum pernah Kharisa maupun Rakha mendapat hinaan atau bulian karena status Rakha sebagai anak di luar nikah.
Kedatangan mereka ternyata menjadi pusat perhatian orang tua murid juga guru yang telah lebih dulu hadir.
"Eh bukankah itu dokter yang pernah datang ke sini ngasih penyuluhan dari rumah sakir Setya Medika?"
"Loh dia bersama Rakha dan Momynya."
"Apa itu ayahnya Rakha?"
"Pantesan waktu ke sini ngedekatin Rakha."
"Waktu itu aku sempet kepikiran, kok wajahnya mirip Rakha."
"Iya sepertinya itu ayahnya Rakha, coba nanti kita tanya ke momynya Rakha."
"Kok momynya Rakha gak cerita kalau ayahnya Rakha sudah pulang ke Indo?"
Kharisa langsung mengajak Rafael menuju ruang kepala sekolah, sebelumnya menyapa dan menghampiri ibu-ibu dari temannya Rakha yang dilewatinya.
"Assalamualaikum Mom.....aku nitip ini untuk dimakan bareng teman-temannya Rakha." Kharisa menyerahkan dua kantong yang ditentengnya berisi donat yang dibawa Rafael tadi malam. "Aku ke ruangan guru dulu yah ." ujarnya sambil melambaikan tangan, tentu saja dengan jantung berdebar. Sebisa mungkin ia akan menghindari untuk berinteraksi dengan ibu-ibu teman sekelas Rakha, bukan karena sombong tapi untuk menghindari pertanyaan mereka tentang ayah Rakha yang sekarang muncul mendampingi Rakha.
Setelah mengenalkan Rafael kepada Wali kelas dan kepala sekolah, ia langsung pamit, karena harus segera menuju tempat kerjanya.
"Rakha, Momy gak bisa nemanin Rakha di sekolah karena Momy harus kerja, maafin Momy yah, jadi Rakha sama Dady yah, semangat ikut lombanya oke." Ucap Kharisa dengan rasa menyesal tidak bisa mendampingi Rakha mengikuti lomba, namun ia merasa tenang karena ada Rafael mendampinginya.
"Ya Mom...." jawab Rakha dengan sedikit kecewa, namun rasa kecewanya tergantikan dengan kehadiran dadynya.
"Momy pergi dulu yah....semangat." Karisa mencium kedua pipi Rakha dan keningnya.
"El...titip Rakha yah, terima kasih sudah bisa dampingi Rakha." Ujar Kharisa sebelum pergi meninggalkan putranya dan Dadynya.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, aku akan menjaganya, his my boy." Ujar Rafael sambil mengalungkan tangannya di bahu Rakha.
"Kabari jika acaranya telah selesai, kalau memungkinkan aku akan ijin pulang cepat, aku pergi dulu." Kharisa pun pamit.
"Ok, take care." ujar Rafael, ia tidak beranjak sampai Kharisa melajukan motornya meninggalkan sekolah.
"Oke Boy, sekarang kita nunggu di mana?" Tanya Rafael pada Rakha, masih ada waktu dua puluh menit lagi sampai acara dimulai pukul delapan.
"Dady aku mau kenalin Dady ke temen aku, meleka di situ." Raka menunjuk anak seusianya tengah berkumpul di arena bermain, ada juga yang didampingi ayahnya.
"Oke, let's go." Dengan wajah sumringah Rafael mengikuti Rakha menuju teman-temanya. Ia benar-benar merasakan menjadi seorang ayah, dan moment ini tidak akan ia lupakan, acara Father's Day seolah-olah menjadi acara yang dikhususkan untuknya, merayakan hari dimana ia diakui sabagai ayah oleh putranya yang selama ini terabaikan olehnya.
Father's Day. Mulai hari ini aku aka menjalankan peranku sebagai ayah, ayah untuk putraku Rakha Athaillah Prasetya. Aku berjanji akan selalu menjagamu hingga kamu bisa menjaga dirimu sendiri, menyayangimu, melindungimu, memenuhi kebutuhanmu, membimbingmu... becuse I am your Father.
Pukul depalan acara Father's Day pun dibuka oleh kepala sekolah, dilanjutkan dengan dimulainya perlombaan yang sudah dijadwalkan. Lomba pertama yang diikuti Rakha dan dadynya adalah lomba menyusun Puzle, dan Rakha tidak mengalami kesulitan yang berarti karena puzle merupakan salah satu permainan yang disukainya, ia berhasil menyusun puzle dalam waktu cepat, ditambah bantuan dadynya membuat kepingan puzle itu tersusun rapi hingga menampilkan gambar yang utuh, dan Rakha pun masuk ke babak final dan menjadi juara pertama. Rafael terlihat fokus mendampingi putranya mengikuti kegiatan, memperhatikan bagaimana putranya berinteraksi dengan temannya, juga dengan gurunya. Rafael bisa menilai kalau Rakha adalah anak yang cerdas dan mandiri. Beberapa panggilan telepon masuk dari rumah sakit, juga dari Andre ia abaikan. Ia sudah mengajukan ijin dan sudah mendelegasikan sebagian tugasnya kepada dokter Arjuna yang kebagian jaga shift pagi di bangsal rawat inap, juga kepada stafnya. Jadi untuk apa ia dihubungi urusan rumah sakit lagi, kalau pun ada kebijakan yang harus diambil segera, kan ada direktur yang bisa menentukan kebijakan dengan cepat. Batinnya.
Perlombaan berikutnya adalah lomba mirip ayah. Di lomba ini, peserta ayah dan anak harus berjalan dan bergaya di atas panggung yang telah disediakan. Dari tiga kelas ada sekitar tiga puluhan peserta yang mengikuti lomba ini termasuk Rakha dan dadynya. Saat di bawah panggung Rafael membisikan sesuatu di telinga Rakha.
"Pegang terus tangan Dady dan senyum yang lebar saat berjalan di panggung, oke." Rakha pun menganggukan kepala tanda mengerti. Dengan penuh percaya diri Rakha berjalan di atas panggung yang tidak terlalu tinggi. Senyumnya terlihat lebar, jari kecilnya tidak pernah lepas menggenggam tangan dadynya. Sayangnya pemenang lomba ini tidak diumumkan langsung, akan diumumkan saat pembagian hadiah setelah acara selesai.
Dan lomba terakhir yang diikuti Rakha dan Dadynya adalah lomba menggendong anak. Ayah harus menggendong anaknya di punggungnya, kemudian berlari di arena yang sudah ditentukan, yang paling cepat sampai di finish itulah yang juara, dan Rakha mendapat juara dua untuk lomba ini.
Pukul sebelas seluruh acara lomba telah selesai dilaksanakan, dilanjutkan dengan pengumuman juara lomba dan pembagian hadiah. Dan Rakha kembali mendapat juara untuk lomba mirip ayah, juara pertama. Tentu saja membuatnya senang, dan bangga pada Dadynya, dengan bantuan dadynya ia bisa meraih juara. Ia sudah tidak sabar ingin menunjukan tiga buah piala kepada momynya. Sampai acara selesai Kharisa tidak terlihat ada tanda-tandanya akan menyusul ke sekolah, sepertinya ia sibuk di rumah sakit.
Tadi pagi Kharisa tiba di rumah sakit pukul delapan kurang lima menit, tadi ia mengencangkan laju motornya agar tidak terlambat datang untuk bekerja.
"Huuuuff.....alhamdulilah, kurang tiga menit" Gumamnya sambil bernafaa lega, ia tidak terlambat.
Tiba di ruangannya, rekan kerjanya telah siap duduk di tempat meeting. Tidak lama kemudian Andre pun datang langsung memimpim morning meeting.
"Hari ini rumah sakit akan kedatangan salah satu Owner pemegang saham terbesar rumah sakit ini. Sepertinya beliau ingin sidak, dan pukul sembilan ingin bertemu dengan karyawan yang memungkinkan untuk meninggalkan pekerjaannya, tidak mengganggu pelayanan. Dan bagian marketing biasa semuanya hadir di aula." Ujar Andre sebelum ia menutup morning meeting.
Deg....
Kharisa tertegun mendengar yang disampaikan atasannya. Siapakah pemilik saham terbesar yang akan datang ke rumah sakit ini
__ADS_1
Apakah seseorang yang dulu pernah membuatnya kecewa dan sakit hati? Membuat ia merasa tidak dihargai dan tidak dianggap? Apakah ia kakek dari putranya?
bersambung.