Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Bertemu Rival


__ADS_3

Seminggu telah berlalu setelah pertemuan Kharisa dengan kakaknya Rendi. Hubungan mereka semakin dekat walau berjauhan. Mereka sering kontak lewat chat WA, kadang lewat vidio call kalau Rendi kangen dengan keponakannya. Rakha pun lumayan akrab dengan om barunya.


Dengan semangat ia memberitahu om kesayangannya kalau ia memiliki om baru.


"Aku senang punya Om lagi, Om Lendi baik, kemalin ajak aku beli es klim." Lapor Rakha pada Faisal saat mereka vidio call lima hari yang lalu. Weekend kemarin Faisal sedang berada di luar kota, di Semarang tepatnya, ia mendampingi guru besarnya menghadiri seminar internasional yang tampil sebagai pembicara yang diselanggarakan di universitas negri di sana.


"Coba kemarin A Isal bisa ke sini, pasti ketemu sama kakak aku, Mas Rendi titip salam buat A Isal, katanya terima kasih sudah jagain aku dan Rakha." Rendi memang menitip pesan seperti itu untuk Faisal, dan ia berjanji akan mengucapkan terima kasih langsung pada Faisal karena telah menjaga adiknya. Kharisa sendiri sebenarnya kecewa saat tau Faisal tidak akan mengunjunginya, tapi mau gimana lagi, ia harus memaklumi dengan kesibukan Faisal sekarang, justru ia harus mendukung untuk kemajuan karirnya. Dan kenapa juga dia jarus kecewa, Faisal bukan siapa-siapanya, tidak ada kewajiban juga dari Faisal untuk terus menjaganya dan Rakha. Tapi kenapa ia mengharap Faisal akan selalu memberi perhatian, tidak terbayang bagaimana rasanya kalau tidak berkomunikasi dengan Faisal lebih dari dua hari, yang ada ia merasa ada yang kurang dan membuatnya malas untuk beraktifitas. Selama ini Faisalah tempat ia curhat, tempat menyampaikan keluh kesahnya.


"Nyantai atuh Neng, insya Allah nanti ada kesempatan lagi untuk bertemu Mas Rendi, Sabtu besok kalau tidak ada kegiatan A Isal kesana, kangen juga sama Rakha, vidio call dengan ketemu langsung rasanya beda"


"'Kangennya hanya sama Rakha aja yah? Sama aku gak kangen ?" Entah ada keberanian dari mana Kharisa bertanya seperti itu, namun ia segera tersadar betapa bodohnya ia bertanya seperti itu, walaupun hanya bercanda, bagaimana kalau Faisal nanti berpersepsi ia ingin dirindukan oleh Faisal? Ah malu rasanya.


"Kalau sama momynya gak boleh kangen, nanti ada yang marah, A Isal gak berani..he...he.." Kekeh Faisal.


"Siapa yang marah? Aku mah wanita bebas, gak ada yang akan marah." Kharisa malah menanggapi ucapan Faisal.


"Oh..... jadi momynya ingin dikangenin juga, ya udaah A Isal juga kangen sama momynya Rakha."ujar Faisal terkekeh.


"Kelihatan banget terpaksanya." Kharisa malah merengut, ia tau Faisal hanya menggodanya.


Dan Faisal menepati janjinya, weekend kali ini dia datang mengunjungi Kharisa dan Rakha, sayangnya ia sampai di rumah Wa Dewi pukul sembilan malam, jadi tidak sempat menemui Kharisa dan Rakha karena takut mengganggu istirahat mereka.


Setelah shalat subuh di masjid ia langsung ke rumah Kharisa, masih menggunakan sarung, baju koko dan peci, persis gaya santri yang biasa mondok di pesantren Abah. Pintu rumah Kharisa terbuka dan terlihat Bi Nani sedang menyapu ruang tamu menuju teras.


"Assalamualaikum...." Faisal melepas sendal jepit milik sepupunya yang dipinjamnya, langsung menuju pintu ruang tamu.


"Waalaikumsalam, eh...A Isal, kapan datang? ayo masuk." dengan ramah Bi Nani menyambut Faisal.


"Tadi malam Bi, langsung ke rumah Wa Dewi." Faisal pun masuk, langsung di sambut bocah kecil yang baru keluar dari kamar, ia terlihat kegirangan melihat om kesayangannya datang.


"Yeeaahh Om Isal datang." serunya sambil berlari menubruk tubuh lelaki di depannya. Faisal merangkulnya, mengusap-usap kepala kemudian mengecup pucuk kepalanya.


"Sudah shalat subuh belum?"

__ADS_1


"Sudah dong Om, balu aja selesai, Momy masih ngaji di kamal, aku kangen Om Isal" ujar Rakha manja masih memeluk Faisal.


"Om juga kangen sama Rakha, Om gak di suruh duduk nih?"


"He..he.. eh iya, ayo Om duduk." Rakha menarik tangan Faisal menuju sofa ruang tengah. Mereka saling melepas rindu saling bercerita, tepatnya Faisal mendengarkan celotehan Rakha menceritakan Om barunya, juga pengalamannya saat ke Jakarta menjemput Momynya, menginap di rumah Dadynya.


"Aku nginep di lumah Dady, lumahnya besaaal, ada kolam lenangnya, tapi aku gak lenang kalena jalan-jalan ke monas, selu Om aku main scootel dibeliin Dady, aku udah bisa, nanti Om liatin aku main scootel yah." Faisal mendengarkan cerita Rakha dengan sesekali menanggapinya. Entah kenapa saat Rakha menceritakan dadynya hatinya mencelos, seperti ada perasaan merasa tersaingi, rasa Khawatir kalau Rakha tidak menyayanginya lagi. Ia segera membuang jauh-jauh perasaan itu, ia menyayangi Rakha dengan tulus, ia yakin Rakha yang masih kecil dan polos, tulus juga menyayanginya.


Obrolan mereka terhenti saat Kharisa dan Mama keluar kamar bersamaan dan ikut bergabung mendengar Rakha yang kembali bercerita saat main di monas.


Faisal mengajak Kharisa dan Rakha olah raga joging, lebih tepatnya jalan-jalan di alun-alun pusat kota yang biasa ramai dikunjungi saat hari libur. Mereka berangkat menggunakan motor Kharisa, Rakha duduk di jok belakang diapit Faisal dan Kharisa, tidak lupa membawa scooternya. Alun-alun kota merupakan wilayah car free day disaat hari Minggu, tempatnya berbeda dengan alun-alun di kota lain yang identik dengan lapangan luas, alun-alun di kota ini lebih mirip sebuah taman, berhadapan dengan kantor pemerintah daerah yang memiliki bangunan khas pendopo. Di tengah alun-alun terdapat air mancur, ada kolam ikan koi yang menjadi perhatian anak kecil yang tertarik untuk memberi makan ikannya. Banyak spot menarik untuk foto, ada juga area yang cocok untuk bermain sepatu roda atau scooter, dan Rakha pun bermain scooternya di sana didampingi Faisal. Mereka menikmati sarapan di tempat khusus tempat mangkal penjual aneka makanan yang cocok untuk jadi menu sarapan.


Pukul sembilan mereka baru kembali ke rumah, di teras tampak Rafael tengah duduk di kursi sambil memainkan HPnya. Sudah setengah jam ia menunggu di teras, mama sudah mempersilahkan masuk tapi Rafael lebih memilih menunggu di luar, ia datang untuk mengajak Rakha dan Kharisa jalan-jalan, memang ia belum memberitahu Kharisa, Rafael mengira Kharisa dan Rakha tidak akan kemana-mana, jadi dengan percaya dirinya ia datang ke rumah Kharisa, tapi ternyata yang dituju tidak ada di rumah, ia juga tidak mengira kalau ternyata ada Faisal juga, malah telah lebih duluan pergi bersama Kharisa dan Rakha. Sungguh Rafael tidak mengira akan bertemu dengan Faisal yang dianggap sebagai rivalnya.


"Dady......." Rakha langsung turun dari motor saat motor berhenti di depan pagar dan berlari menuju dadynya setelah pintu pagar dibuka momynya, lalu mencium tangan dadynya, Rafael membalas dengan mencium kening putranya. "Aku habis olah laga, tlus main scootel sama Om Isal." ujar Rakha.


"Wah, seru dong, kok Dady gak diajak." Tanya Rafael dengan suara keras, agar Kharisa mendengarnya.


"El kenapa gak masuk? Ada mama kok sama Bi Nani." Kharisa segera mengalihkan pembicaraan Rakha dan Dadynya.


"Sudah ketemu tadi, aku sengaja pengen nunggu di luar aja."ujar Rafael


"Aku ke dalam dulu yah." Kharisa masuk dengan menenteng kantung plastik berisi jajanan pasar.


"Neng.... A Isal ke rumah Wa Dini dulu yah, mau mandi." Faisal buru-buru pamit sebelum Kharisa masuk, ia menghampiri Rafael dan Rakha.


" Apa kabar?" Faisal mengulurkan tangannya mengajak Rafael bersalaman, tampak senyum ramah di bibirnya.


"Mmm....baik." Jawab Rafael sambil menyambut uluran tangan Faisal. Samar terlihat senyum di bibirnya, ia duduk dengan Rakha dipangkuannya, sikapnya menunjukan enggan untuk ngobrol dengan Faisal.


"Rakha, Om Isal ke rumah Wa Dini dulu yah, mau mandi, Rakha juga mandi dulu biar gak bau acem." ujar Faisal sambil mengacak rambut Rakha.


"Iya Om, tapi nanti Om Isal ke sini lagi yah." Ujar Rakha penuh harap

__ADS_1


"Iya nanti Om ke sini lagi."


"Saya permisi dulu." pamit Faisal pada Rafael sambil menganggukan kepalanya. Rafael pun menganggukan kepalanya, kemudian mengajak Rakha mandi, ia ingin memandikan putranya. Kali ini tidak ada penolakan dari Rakha.


"Sa kita jalan yuk...." Ajak Rafael setelah selesai membantu memakaikan baju Rakha.


"Mas Rendi katanya mau ke sini, tapi gak bilang jam berapa, gak enak kalau nanti dia ke sini, aku sama Rakha gak ada." Kharisa dengan halus menolak ajakan Rafael, lagi pula ada Faisal juga gak mungkin ditinggal, ia yang minta Faisal datang ke sini.


"Bukan karena ada dia?" Tanya Rafael dengan sedikit kecewa karena rencananya mengajak Rakha jalan-jalan sepertinya akan batal.


"Siapa? Faisal?" Kharisa balik bertanya memastikan. " Oh iya, aku yang memintanya datang ke sini, jadi gak mungkin aku meninggalkannya." Jawaban Kharisa membuat wajah Rafael menjadi masam.


Beberapa menit kemudian Rendi datang dengan tunangannya, namanya Alya, cantik, berkulit putih, rambutnya lurus sebahu, terlihat serasi menjadi pasangan Rendi yang juga memiliki wajah tampan. Sepertinya dia gadis yang baik. Rendi mengenalkan Alya pada mama dan adiknya, mama menyambut dengan ramah, mama terlihat senang melihat Rendi yang ternyata telah memiliki calon istri dan akan meresmikan hubungan mereka ke jenjang pernikahan akhir bulan depan, berarti waktunya satu bulan setengah lagi.


"Mah Uwi, ini ada kain kebaya untuk seragaman resepsiku nanti, untuk Mah Uwi dan Kharisa, jadi tolong segera dijahit, modelnya bebas. Ya kan sayang?" Alya yang berada di sampingnya menganggukan kepala. " Iya bebas, lebih ke arah kebaya modern." Jawab Alya.


"Untuk Mama...?" Mama terlihat ragu menerimanya. Kalau ia mendapat seragam, berarti nanti harus hadir dan pasti akan bertemu dengan suaminya.


"Mama, Kharisa dan Rakha harus datang dan menjadi bagian keluarga mempelai pria. Janji ya Mah Uwi akan datang, aku akan sedih kalau Mah Uwi, dan adikku tidak datang." Mama tidak mengucapkan apa pun lagi, akhirnya ia menerima bingkisan berisi kain untuk kebaya.


Rendi mengajak mereka makan bersama di luar, sekalian jalan-jalan. Rafael dan Faisal pun diajak, termasuk Bi Nani.


"Anggap saja ini acara syukuran bertemunya kembali seorang kakak dengan adiknya, jadi kalian semua harus ikut" Rendi tidak menerima penolakan.


Mereka pun berangkat ke rumah makan dengan menggunakan dua mobil, mobil Rendi dan mobil Rafael. Mama dan bi Nani bersama Rafael dan Alya tunangannya, sementara di mobil Rafael, ada Kharisa, Faisal dan Rakha. Selama di perjalanan, suasana di monil Rafael begitu sunyi, Rakha pun mendadak menjadi pendiam. Mereka seperti tidak saling mengenal, terlihat begitu canggung untuk memulai percakapan, entah akan sampai kapan mereka saling diam, karena perjalanan ke tempat makan ternyata lumayan jauh.


bersambung....


Hai readerku tercinta, terima kasih atas dukungannya sampai saat ini. Jangan lupa tinggalkan Like dan komennya biar othor tetap semangat menuangkan kehaluan ini. 🤗


Maafkan belum bisa Up tiap hari.🙏


Sun jauh dari Umi Haifa😘😘

__ADS_1


__ADS_2