Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Awal Perjuangan untuk Masa Depan


__ADS_3

"Rakha ....... ciluk.....baaaa." Faisal menutup mukanya dengan kedua tangannya kemudian membukanya.


"Keck.....kekkk.....keeekkkk" bayi berusia empat bulan yang berada di pangkuan ibunya itu tergelak melihat apa yang dilakukan Faisal yang wajahnya sangat dikenalnya. Sesekali kedua tangannya digerakan ke arah Faisal seolah ingin digendong oleh laki-laki yang menyebut dirinya Om Isal. Paham Rakha ingin digendongnya, Faisal pun meraih tubuh kecil itu, menggendongnya sambil berdiri. Rakha mencoba meraih opak (makanan khas Jawa Barat yang terbuat dari beras ketan) yang dipegang Faisal, Faisal pun membiarkannya, langsung saja opak yang sudah di tangan Rakha dimasukannya ke dalam mulutnya, memang anak usia empat bulan lagi masanya fase oral, apapun benda yang dipegangnya pasti dimasukan ke dalam mulutnya. Lama kelamaan sebagian opaknya menjadi lembek dan berhasil dikunyah di mulut bayi Rakha, pantas saja dia anteng karena asik menikmati opak yang menjadi sesuatu yang baru baginya.


"Eh....jangan dulu dikasih makanan....."Kharisa yang tadi asyik ngobrol dengan Faisal terkejut saat melihat Rakha asik menikmati opak yang tinggal setengahnya. Tadi ia mengira yang dipegang Rakha adalah mainannya. Langsung saja Kharisa mengambilnya membuat Rakha kaget, langsung saja ia mencebikan bibirnya dan...." Eeaa....eeeaaa...." Rakha langsung menangis karena sedang asik-asik merasa terganggu, bahkan benda yang dipegangnya raib diambil momynya.


"Eh....kenapa...kenapa ....sayang" Faisal langsung mengoyang-goyangkan tubuh Rakha, namun bayi itu masih menangis.


"Kenapa diambil opaknya, lagi anteng juga, jadi nangis kan." Baru sadar kalau Rakha nangis karena opaknya diambil Kharisa.


"Iiihhh....A Isal, Rakha jangan dulu dikasih makanan, nanti tunggu dua bulan lagi." Kharisa membersihkan mulut Rakha yang basah.


"Rakha sudah empat bulan kan? Udah boleh lah dikasih makanan, opak jd lembek kok kalau bercampur air liurnya, gak akan membuat tersedak....cup...cup... cup....." Faisal masih berusaha menghentikan Rakha dari tangisnya.


"Eh itu ada ayam.....ayam...sini ayam, lihat ini ada jagoan nangis..." ujarnya mengalihkan perhatian Rakha dan tangisnya pun berhenti saat melihat ayam di depannya, ia langsung menggerak-gerakan tangan dan kakinya.


"Nanti setelah enam bulan baru dikasih makan Aa, sekarang masih ASI ekslusif." Kharisa mengikuti Faisal yang terus mendekati ayam sambil menjelaskan kalau Rakha masih diberikan ASI ekskusif, beruntung ASI nya berlimpah walau usia Kharisa masih sangat muda, sekarang usianya sudah 17 tahun lebih. Abah mewanti-wanti kepada Kharisa untuk memberikan ASinya sampai usia Rakha dua tahun, sesuai yang diajarkan dalam Al Quran. Abah menyampaikan langsung ayatnya dalam surat Al Baqarah ayat 233 :


“Dan bagi para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

__ADS_1


Saat itu Abah datang menengok Kharisa dan bayinya bertepatan dengan acara aqiqah saat Rakha berusia tujuh hari. Mama mengusahakan Aqiqah cucunya dengan menjual perhiasannya untuk membeli dua ekor kambing, mama benar-benar sangat menyayangi cucunya. Bangga mendapat amanat dari Abah, Kharisa bertekad akan memberikan ASInya sampai Rakha berusia dua tahun. Tentu saja Kharisa mendapat dukungan dari Mama, Bi Nani juga ibu Faisal yang rajin mengirim makanan yang bisa meningkatkan produksi ASI. Ibu Faisal hampir tiap hari mengirim sayur daun katuk, sayur pepaya muda, dan jenis sayuran lainnya yang memang sengaja ditanam di kebun belakang rumahnya.


"Kata Ibu, A Isal dulu waktu empat bulan udah dikasih makan, gak apa-apa." Rupanya Faisal masih lanjut membahas soal memberi makan Rakha.


"Itu kan dulu A, sekarang beda, dari hasil penelitian usia enam bulan pencernaan bayi sudah lebih siap untuk menerima dan bekerja mencerna makanan, sehingga fungsi alat pencernaan akan lebih baik kedepannya juga untuk menghindari gangguan pada alat pencernaan itu sendiri."


"Tapi kasian, Rakha udah pengen makan kayanya, kalau lihat kita makan pasti mulutnya ikut ngecap-ngecap."


"Iya tapi harus sabar, dua bulan lagi baru boleh makan, awas aja kalau A Isal nanti ketahuan ngasih makanan sebelum waktunya, aku hukum gak boleh ketemu Rakha dua bulan." Ancam Kharisa membuat Faisal tergelak.


"He..he...ampun..ampun...gak kuat kalau sampai gak ketemu si gembul ini." Faisal mencium kedua pipi Rakha bergantian, kemudian mengangkatnya ke atas dan mencium perutnya membuat Rakha tergelak kegelian.


"A besok jadi kita berangkat habis subuh?" Kharisa dan Faisal lusa akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negri, rencananya besok berangkat ke Bandung diantar bapaknya Faisal dan akan menginap di rumah kakanya Faisal Kang Farhan.


"Jadi besok sebelum subuh harus bangunin si ganteng dulu yah.... Rakha mau ikut ke Bandung nganter Momy...iya...." Karisa menjembel pelan pipi gembul Rakha.


"Momy.....Momy....Ambu ah, kan Rakha mah orang Garut nya, manggilnya Ambu aja yah, nih gengong sama Ambu, Om Isal mau ke masjid dulu, bentar lagi waktu Ashar."


"Ish...gak mau Ambu, kaya udah tua banget, Momy aja ya sayang, Momy....Momy....tuh kan lucu kedengernya juga." Kharisa mengambil Rakha dari gendongan Faisal sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Iya....Momud...." ejek Faisal membuat Kharisa mengerutkan dahinya, apaan Momud?


"Momy muda......" ujarnya sambil berlalu meninggalkan Kharisa dengan terkekeh. Kharisa hanya bisa mencebikan bibirnya dan masuk ke dalam rumah.


*****


Hari pelaksanaan tes masuk perguruan tinggi negri akhirnya tiba, setelah shalat subuh Kharisa memompa ASInya untuk bekal Rakha karena akan ditinggal kemungkinan sampai sore hari, kemarin sore dan tadi malam ia juga sudah memompa ASInya hingga terkumpul empat botol, ditambah pagi ini dua botol sepertinya cukup untuk bekal Rakha selama ditinggal Kharisa.


Kemarin Kharisa dan Faisal diantar bapaknya Faisal, mama dan Ibunya Faisal, ingin sekalian nengok cucu katanya, Kang Farhan dan istrinya Teh Moza sudah dukaruniai satu anak perempuan berusia delapan bulan. Bapak Faisal, Ibunya dan Mama tidak ikut menginap karena bapaknya tidak bisa meninggalkan kegiatan di sekolahannya, selain itu rumah Kang Farhan tidak terlalu besar, rumahnya masuk gang tapi tidak terlalu jauh dari jalan raya, memiliki tiga kamar ukuran kecil, ruang tamu yang menyatu dengan ruang tengah, dapur dan kamar mandi. Ia mengontrak rumah di daerah taman sari, lumayan dekat ke kampus Kang Farhan dan Teh Moza, mereka masih kuliah tapi berani mengambil keputusan untuk menikah dan punya anak, sungguh keputusan yang hebat bukan? Dan hebatnya lagi mereka berdua terlihat enjoy menjalaninya.


Tok.....tok.....tok.....


"Neng....kita berangkat pukul setengan enam yah." Ujar Faisal sedikit teriak di balik pintu kamar yang ditempati Kharisa


"Ya bentar A , aku lagi mompa ASI dulu." Payu**** sebelah kirinya masih terasa bengkak karena Rakha semalam hanya terbangun satu kali. Selesai memompa ASI ia menyimpannya di kulkas, Bi Nani sudah paham nanti cara memberikan ASInya pada Rakha, ada teh Moza juga yang lebih berpepangalaman. Sebelum keluar kamar ia pamit kepada putra kecilnya yang maasih terlelap tidur, Bi Nani berada di dapur membantu Teh Moza yang sedang membuat sesuatu untuk sarapan


"Sayang....momy pergi dulu yah, Rakha harus jadi anak baik dan pinter, jangan rewel dan ngerepotin nenek yah. Doakan Momy dilancarkan ujiannya, dimudahkan bisa lulus jadi mahasiswa." Ujarnya pelan kepada Rakha sambil memegang tangan mungilnya. "Ini awal perjuangan untuk masa depan kita sayang, doakan momy yah."


Berat rasanya harus meninggalkan Rakha walaupun ada Bi Nani, ini pertama kalinya Kharisa meninggalkan Rakha, selama ini Kharisa selalu bersama putranya, Tapi demi masa depannya nanti ia harus tega, toh ada Bi Nani yang menjaganya. Kharisa pun meninggalkan Rakha di kamar seorang diri.

__ADS_1


Bismillah semoga perjuangannya membuahkan hasil yang bermanfaat untuk masa depannya bersama Rakha.


bersammbung


__ADS_2