Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Tidak Ada Lamaran


__ADS_3

Sarapan pagi kali ini terasa hangat, enam kursi makan terisi penuh. Nasi goreng di pinggan besar tersisa sedikit lagi, begitu pun sosis goreng dan salad sayur nasibnya sama.


"Momy....aku mau lagi." Ujar Rakha malu-malu, mungkin karena ada opanya dan Fakhira. Piringnya sudah kosong, tersisa butiran nasi di pinggiran piring.


"Owh...boleh dong, tambah nasi goreng sama sosis?" Tanya Kharisa memastikan, lalu mengisi piring Rakha dengan nasi goreng dan sosis yang masih tersisa.


"Cucu Oma lagi mamayu nih." Mama Kharisa terlihat senang melihat cucunya sudah mau makan banyak. Ia sengaja masak nasi goreng kesukaan Rakha dengan nasi yang lebih lunak dan sedikit minyak, benar saja cucunya makan dengan lahap.


"Mamayu apa Tan?" Tanya Rafael penasaran dengan kata yang baru ia dengar, ia duduk di sebelah putranya, piringnya sudah kosong. Ia pun senang melihat putranya makan dengan lahap, perkembangan kesehatannya pun semakin baik. Pukul enam pagi ia sudah berada di sana, telat sih karena Rakha sudah bangun saat subuh dan langsung menanyakan Daddynya. Kharisa yang menjelaskan kalau Daddynya ngambil baju dan barang yang akan dibawa pulang. Rakha pun percaya, karena sebelum ia terlelap daddynya masih ada di sampingnya.


"Mamayu itu apa yah bahada Indonesianya? Pengen makan terus gitu." Jawab mama.


"Mamayu itu nafsu makan yang meningkat pada orang yang baru sembuh dari sakit, jadi bawaannya itu lapar, pengen makan terus. Balas dendam kayanya karena pas sakit kan gak nafsu makan." Fakhira menambahkan sambil terkekeh.


"Wah bagus dong, bisa cepat sehat lagi jadinya jagoan Daddy." Sambung Rafael.


Sarapan pagi pun berakhir dengan kandasnya makanan di atas meja makan. Kharisa dan Fakhira merapihkan piring kotor, mencucinya di dapur. Mama dan papa masuk ke kamarnya untuk membereskan batang-barang yang akan dibawa ke Jakarta. Sementara Rafael dan Rakha duduk di sofa panjang ruang tengah, memainkan mainan lego yang kemarin dibelikan Kharisa, masih ada waktu sekitar dua jam sebelum mereka berangkat ke bandara.


Selesai mencuci piring dan membersihkan meja makan Kharisa duduk di sofa disamping Rakha membuka layar HPnya, sementara Fakhira masuk ke kamar. Diam-diam Rafael pindah duduk memutar ke belakang di sofa tunggal disebelah Kharisa. Wajahnya terlihat sumringah, senyum-senyum sendiri duduk bersandar dengan kaki terjulur di lantai.


Rafael memang tengah bahagia, setelah kemarin bicara berdua dengan papa Kharisa hatinya merasa plong, ia meminta restu langsung kepada papa Kharisa, dan papa Kharisa mendukung niatnya untuk segera melamar Kharisa secara resmi, bahkan lebih dari sekedar melamar.


"Kalau Om mengijinkan hari Minggu besok saya bersama orang tua saya akan datang untuk melamar Kharisa." Ujar Rafael saat itu.


"Om sudah memikirkan ini sejak kemarin-kemarin, tapi belum sempat membicarakannya dengan Kharisa. Yang menjadi pertimbangan Om adalah Rakha, dia butuh keluarga yang utuh, mengingat usianya akan terus bertambah dan akan banyak pertanyaan saat merasakan keganjilan pada orang tuanya, dan Om tidak mau membuat kesalahan untuk kedua kalinya, Om tahu kalian saling mencintai, kalian layak bahagia, jadi Om merestui kalian." Ucapan papa Kharisa seolah menjadi angin segar buat Rafael, ia semakin yakin bisa segera menikahi Kharisa.


"Iya Om, Rakha termasuk anak yang kritis, sekarang pun ia menuntut untuk selalu bersama momy dan daddynya, makanya selama di sini sy pulang setelah Rakha tidur dan pagi-pagi sudah di sini lagi agar Rakha mengira saya tidur bersamanya. Gak tau nanti kedepannya, alasan apa yang bisa Rakha terima kalau saya tidak full bersamanya, karena gak mungkin saya tinggal di tempatnya Kharisa."

__ADS_1


"Setelah lamaran, memangnya kapan rencana kalian menikah?" Tanya papa Kharisa.


"Untuk waktunya kapan saya belum ada gambaran, harapannya tidak terlalu lama, mungkin satu bulan kemudian, sepertinya cukup untuk persiapannya, tapi tergantung kesiapan Kharisa juga Om, saya belum sempat membahas hari pernikahan dengan Kharisa." karena Kharisa pun masih belum memberikan jawaban yang pasti untuknya. Ini pun ia nekat langsung bicara dengan papa Kharisa. Papa Kharisa manggut-manggut mendengar jawaban Rafael, seperti ada yang sedang dipikirkannya.


"Hmm satu bulan yah? Apa tidak terlalu lama? Om kira kamu akan cepat-cepat nikahin putri Om." Ucapan papa Kharisa sedikit membuat Rafael terkejut, ia pun merasa tertantang, sebenarnya ia pun ingin segera menikahi Kharisa.


"Inginnya cepat-cepat sih Om, tapi belum membicarakannya juga dengan Kharisa, belum ada persiapan juga."


"Ini pendapat Om yah, gumana kalau minggu besok itu langsung akad nikah saja, gak perlu ada acara lamaran, toh Om sudah merestui kalian, nanti bulan depannya baru resepsi. Om juga tentu ingin mengumumkan pernikahan putri Om pada keluarga dan relasi Om. Gimana?"


"Menikah minggu besok Om?" Antara kaget bercampur bahagia Rafael memastikan lagi ucapan Papa Kharisa.


"Iya kalau kamu siap."


"Iya siap Om, saya siap."


"Kenapa senyum-senyum sendiri? Ada yang lucu?" Rafael langsung menoleh ke sumber suara, kini senyumnya makin melebar.


"Nggak, aku lagi gak sabar aja pengen cepet-cepet hari minggu."


"Sampe senyum-senyum gitu kaya orang yang lagi berkhayal?" Tanya Kharisa heran dengan jawaban Rafael.


"Emang aku juga lagi khayalin kamu."


"Ish....ngapain khayalin aku, tolong yah, aku gak mau masuk ke dunia khayalmu."


"Oke bos, kamu gak akan lagi ada di dunia khayalku, karena kamu akan selalu ada di dunia nyataku, mengisi hari-hariku. Dan itu tidak akan lama lagi, tapi aku jadi tidak sabar, empat hari lagi yah." Kharisa yang mengerti maksud Rafael terlihat gugup, wajahnya merona, antara percaya dan tidak empat hari lagi ia akan menikah dengan Rafael. Sempat terkejut saat tadi malam ia dipanggil papanya ke ruang tengah dan papa menjelaskan rencana pernikahannya dengan Rafael. Akhirnya ia pun menyetujui karena alasan yang disampaikan papanya memang masuk akal. Sekarang atau nanti toh sama saja ia sudah membuat keputusan untuk menerima Rafael.

__ADS_1


"Kalau kamu gimana Sa? Degdegan gak?" Tanya Rafael antusias. Ia ingin tau perasaan Kharisa bagaimana, bahagia? Atau biasa saja, karena mungkin saja alasan terbesar Kharisa menerimanya karena Rakha, bukan lagi karena perasaan cintanya.


"Aku? Biasa aja, tinggal dijalanin kan?" Jawab Kharisa dengan wajah datar, padahal hatinya bergemuruh dan jantungnya berdebar-debar, membayangkan tidak lama lagi ia akan menjadi istri Rafael, impiannya dulu menjadi orang tua yang utuh untuk Rakha akan segera terwujud.


"Hmm biasa aja yah? Ya gak papa, aku ngerti, mungkin cintamu sedikit luntur, tidak seperti dulu." Nada suara Rafael terdengar kecewa.


"Tapi aku janji akan buat kamu jatuh cinta lagi sama aku. Yang harus kamu tau, cintaku masih sama seperti dulu, malah sekarang lebih besar."


Kata-kata Rafael membuat jantung Kharisa semakin berdebar, ternyata ia pun masih merasakan cinta itu, cinta yang selalu ia jaga saat harus terpisah.


"Momy cinta itu apa?" Tiba-tiba Rakha tengah berdiri di depannya sambil memegang lego yang sudah membentuk sebuah pesawat. Tentu saja membuat Kharisa terkejut. Ia lupa kalau di dekatnya ada Rakha yang bisa menguping pembicaraannya.


"E eh......apa yah?" Kharisa terlihat gugup. "El...kamu sih." sambungnya sambil mengerucutkan bibirnya., sementara Rafael malah terkekeh melihat kegugupan Kharisa.


"Cinta itu rasa sayang ." Akhirnya Kharisa menjawab pertanyaan Rakha. "Seperti momy yang sangat sayang sama Rakha." Kini Kharisa menarik Rakha dalam pelukannya.


"Jadi daddy sayang sama momy dan momy sayang sama Daddy, begitu Mom?" Rupanya Rakha mencerna obrolan Kharisa dengan Rafael.


"Iya." Kharisa mengaggukan kepalanya.


"Rakha main sama Daddy yah, Momy ke kamar dulu." Kharisa beranjak dari duduknya.


"Mau ngapain Sa?" Sepertinya Rafael masih mengharapkan Kharisa duduk di sampingnya.


"Mau duha dulu, masih ada waktu sebelum berangkat ke bandara." Jawab Kharisa sambil berjalan menuju kamarnya.


Dan tepat pukul sepuluh mereka keluar dari apartemen, menuju bandara Changi, dan terbang kembali ke tanah air.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2