
Sejak mendengar kedua saksi mengucapkan kata SAH, diikuti hamdalah yang diucapkan oleh tamu undangan yang hadir, Kharisa tidak bisa menahan bening kristal yang sejak tadi menggenang di kelopak matanya untuk jatuh di pipinya yang putih sebening pualam. Ia langsung mengeringkannya dengan menepukan tisu di pipinya dengan pelan dan lembut karena takut merusak make upnya. Kalau rusak, MUA yang meriasnya pasti akan mengomel, karena sejak tadi ia berpesan jangan menangis berlebihan, walaupun water proof tetap saja bisa rusak make up nya.
Kharisa berjalan menuju tempat akad dimana Rafael berada di sana, diapit oleh Wa Dewi dan Fakhira. Ia tidak berani mengangkat kepalanya hingga tidak tahu siapa saja yang berada di sana menyaksikan ijab qobul yang diucapkan Rafael dan Papanya.
Rafael begitu terpana melihat Kharisa yang sekarang telah sah menjadi istrinya. Wajah yang selama ini polos tanpa make up kini terlihat semakin mempesona dengan riasan make up yang terlalu sederhana bagi seorang pengantin, itu permintaan Kharisa tidak ingin make up nya terlalu tebal, tapi justru malah memperlihatkan kecantikan alaminya.
Rafael mengulurkan tangannya sambil menatap istrinya penuh cinta. Dengan malu-malu Kharisa menyambutnya, seulas senyum menghiasi bibirnya, kemudian menundukan kepalanya, tangan kanannya yang dingin kini terasa hangat , namun debaran jantungnya masih belum bisa dikondisikan.
Ditambah kata-kata candaan dari petugas KUA yang sengaja membuat wajah pengantin wanita merona, hingga pengantin pria diperkenankan untuk mengecup kening pengantin wanita, sungguh membuat Kharisa merasa malu dan membuat jantungnya semakin berdebat saja.
"Om Isal momy aku cantik yah." Terdengar lagi suara berbisik dari bocah yang duduk di pangkuan Faisal, siapa lagi kalau bukan Rakha, saat melihat Faisal datang ia langsung nempel tidak mau jauh dari Faisal, mungkin karena ia tidak bisa bersama dadynya, Mama Kharisa sudah mewanti-wanti, kalau acara sudah berlangsung Rakha harus duduk sendiri, tidak boleh bersama Dady, ia pun mengerti, apalagi saat melihat Rafael duduk di depan petugas KUA yang merupakan orang asing bagi Rakha.
"Om Isal, itu lihat momy dicium dady hi....hi...hi..." Rakha tertawa sambil menutup mulutnya melihat adegan yang membuatnya lucu, karena yang lain pun tertawa melihat sikap Kharisa yang malu-malu.
Sejak acara berlangsung Rakha terus saja banyak bertanya pada Faisal walau dengan suara berbisik pelan.
"Om Isal, Daddy aku lagi apa disana?"
"Kenapa Daddy pegangan tangan sama Opa?"
Kenapa Momy di kamal telus?"
"OM isal Daddy aku kaya mau nangis, kenapa?" Rupanya rakha memperhatikan terus daddynya. Rafael memang meneteskan air mata setelah ia mengucapkan ijab kabul, tentu saja air mata bahagia, air mata kelegaan akhirnya ia bisa bersama Kharisa dan putranya. Sementara Faisal harus terus berpikir memberikan jawaban yang tepat dari setiap pertanyaan Rakha.
Setelah rangkaian akad nikah selesai dilaksanakan, kedua pengantin melakukan sungkeman kepada kedua orang tuanya. Acara sungkeman ini membuat tamu undangan yang menyaksikan ikut meneteskan air mata, apalagi yang mengetahui perjalanan hidup Kharisa, seperti Wa Dini, ibunya Faisal, Bi Nani mereka menjadi saksi bagaimana perjuangan Kharisa bersama mamanya mempertahankan Rakha yang lahir dah tumbuh tanpa seorang ayah, hingga saat ini mereka merasa pengorbanan Kharisa telah terbayar, dan mulai sekarang dan seterusnya kebahagiaanlah yang akan menyertai Kharisa, begitu harapan mereka.
Para tamu undangan semakin terharu saat melihat Kharisa sungkem dihadapan ibu mertuanya. Mereka saling menyampaikan permohonan maaf, tulus dari dasar hatinya.
" Maafkan Mami Nak, maafkan mami yang banyak salah sama kamu, mami terlalu banyak nyakitin kamu, maafin mami yah."
"Kharisa sudah memaafkan mami, Kharisa juga minta maaf......."
"Tidak kamu tidak ada salah sami mami." Potong mami Rafael sambil terisak memeluk erat menantunya.
"Sekarang Kharisa mohon restu dari mami, mohon doanya juga agar kami bisa menjalani kehidupan rumah tangga kami dengan baik." Ucap Kharisa dengan tulus.
"Tentu...tentu mami merestui kalian, mami akan selalu mendoakan kamu bersama Rafael dan Rakha. Mami titip Rafael yah, kalau ada apa-apa bilang ke mami."
Bagi yang tahu kisah Kharisa dangan ibu mertuanya pasti merasa lega melihat mereka berpelukan begitu lama, terlihat mereka telah saling memaafkan dan menerima. Bagi yang tidak mengetahui kisah mereka, mereka akan kagum melihat kedekatan ibu mertua dan menantunya, betapa bahagianya sang menantu, begitu disayangi ibu mertua.
Keluarga besar dan tamu undangan mulai memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, sementara Faisal membawa Rakha ke luar ke tempat aneka makanan tersaji untuk menjamu para tamu. Langsung saja Rakha menyerbu es krim kesukaannya, namun ia ingat kalau ia baru sembuh dari sakit.
__ADS_1
"Om aku sudah boleh makan es klim gak?" Tanya Rakha pada Faisal. Faisal pun tertegun, kagum pada Rakha yang bisa dikatakan sebagai anak penurut, pasti Kharisa memberi nasehat agar tidak boleh makan eskrim dulu.
"Ah ya...Rakha kan baru sembuh, nanti kita tanya dulu momy yah, kita makan saja dulu yah." Rakha pun menurut mengikuti Faisal ke tempat prasmanan. Faisal memang sudah seperti ayah bagi Rakha, walaupun sudah ada Rafael sebagai daddynya, rasa sayang kepada om nya itu tak sedikit pun berubah.
Selesai makan dan menikmati hidangan yang lainnya Faisal mengajak Rakha menuju Daddy dan Momy nya, terlihat tamu dan kerabat pun sudah mulai memenuhi tempat makan setelah mengucapkan selamat pada kedua mempelai.
"Momy.....Daddy...." Rakha berlari menuju momy dan daddynya, disambut oleh Rafael dengan mengangkat tubuhnya.
"Hai boy, kamu kemana saja." Rafael menciumi putranya, sejak datang sebelum akad nikah tadi ia hanya sebentar menyapa putranya.
"Aku habis makan sama Om Isal, aku makan banyak sampe kenyang." Celotehnya sambil menepuk nepuk perutnya, kemudian minta turun dari gendongan Rafael, kemudian beralih kepada momynya.
"Momy cantik, momy kenapa pake ini? Ini bunga?" Tanya Rakha menunjuk rangkaian melati menghiasi hijabnya, ia heran melihat penampilan momynya yang beda dari biasanya.
"Ini bunga melati sayang." jawab Kharisa, ia mencium putranya yang menggemaskan banyak bertanya.
"Selamat yah...." Kharisa langsung berdiri tegak saat terdengar ucapan dari seseorang yang suaranya sangat tidak asing di telinganya.
Di hadapannya berdiri Faisal yang tengah berjabatan tangan dengan Rafael kemudian mereka berpelukan. "Semoga kalian bahagia." Ujar Faisal sambil menepuk-nepuk punggung Rafael.
"Terima kasih, terima kasih selama ini sudah menjaga Kharisa dan Rakha." Balas Rafael.
Jantung Kharisa tiba-tiba berdebar-debar, pandangannya mulai memburam, terlihat ada genangan air di matanya. Sejak kepulangan Faisal dari Singapura satu minggu yang lalu, sekarang ini ia baru melihat lagi laki-laki yang begitu berjasa dalam kehidupannya. Bahkan tentang pernikahannya hari ini pun, Kharisa tidak mengatakannya pada Faisal, namun Kharisa tau dari Fakhira kalau Faisal akan datang ke acara akad nikahnya.
"Selamat ya Neng."
"Baarakallaahu laka atau baarakallaahu 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khair."
"Semoga keberkahan Allah untukmu, dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan."
Kharisa tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh di pipinya. Dadanya terasa sesak, kalau saja bisa ia ingin sekali menumpahkan perasaannya yang campur aduk, bahagia, sedih, haru, itu yang ia rasakan. Memori empat, lima tahun yang lalu seolah muncul kembali dalam benaknya, saat ia rapuh, frustasi, terpuruk, hidup dalam penuh penyesalan, dan Faisal ada di dekatnya, memberikan support, membantunya bangun dari keterpurukan. Kalau boleh ingin rasanya ia memeluk laki-laki yang selama ini selalu ada untuknya, tapi tentu saja itu tidak mungkin, ia pun tahu batasannya.
"Terima kasih A.....terima kasih." Hanya itu yang keluar dari bibirnya, sambil sibuk mengeringkan pipinya yang basah dengan tisu yang sudah lecek di tangannya. Walaupun rasanya belum cukup kalau hanya ucapan terima kasih saja, tapi apa lagi yang bisa ia berikan untuk Faisal, tidak ada, selain doa yang tulus untuknya, semoga Allah membalas segala kebaikannya.
"Jangan nangis Neng, sekarang saatnya bahagia, tidak boleh sedih lagi. Neng harus bahagia, A Isal pun akan bahagia kalau melihat Neng bahagia." Ujar Faisal lagi, ia tidak ingin melihat lagi ada air mata membasahi pipi Kharisa. Kharisa hanya bisa menganggukan kepalanya. Sementara Rafael meraih bahu istrinya, mengingatkan kalau sekarang ada dia di sisinya.
"Sal....kamu harus segera nyusul Kharisa dan Rafael." Tiba-tiba Rendi datang menepuk bahu Faisal.
"Mas.....he...he....perjalanan saya masih panjang Mas."
"Yakin? Nanti nyesel loh. Eh tapi justru menikah itu membuat orang menyesal, kaya aku ini, menyesal juga." Ucapan Rendi membuat Faisal dan Rafael mengernyit.
__ADS_1
"Sungguh aku menyesal, kenapa gak menikah dari dulu..he..he..." kekeh Rendi, Kharisa pun ikut tersenyum, melupakan perasaannya yang sedang campur aduk. Mereka pun bercengkrama sambil sesekali menggoda Rakha hingga keluar kelucuannya.
Adzan dhuhur pun berkumandang, beberapa tamu mulai meninggalkan acara yang memang telah usai, hanya beberapa kerabat dekat yang masih asyik berkumpul. Andre dan keluarganya juga masih terlihat di sana.
Para kaum pria beranjak pergi ke masjid untuk shalat dhuhur berjamaah yang tidak jauh dari rumah Kharisa termasuk Rafael dan Rakha. Sementara Kharisa masuk ke kamarnya untuk mengganti baju kebayanya dengan baju yang lebih simple, ia memilih menggunakan gamis berwarna peach.
Baru saja ia akan keluar kamar setelah shalat dhuhur, seseorang membuka pintu.
"El....."
"Sa....." Rafael mendekat ke arah Kharisa.
"Kamu mau apa? Mau ke toilet?" Tanya Kharisa gugup.
"Aku mau ganti baju, katanya koperku ada di sini."
" Oh......" Kharisa pun mencari keberadaan koper Rafael. " Oh itu bukan?" Ada koper berwarna silver di samping meja nakas.
"Ya itu punyaku." Ujar Rafael sambil menatap Kharisa.
"Mmm.....ya sudah aku keluar dulu." Karisa membalikan badannya namun Rafael segera menarik tangannya. " Tunggu Sa."
"Eeh.....kamu mau apa El." Karisa tersentak saat Rafael memeluk tubuhnya. Ia pun berusaha melepaskan diri.
"Lepas El....di luar masih banyak tamu." Pikiran Kharisa sudah melayang kemana-mana. Tidak mungkin kan Rafael meminta haknya siang-siang begini.
"Sebentar saja Sa, hanya begini."Rafael memeluk Kharisa erat, mencurahkan rasa rindunya pada wanita yang ia perjuangkan untuk menjadi istrinya.
"Sejak kita bertemu lagi aku sangat ingin memelukmu Sa, tapi kamu selalu menjauh."
" Itu...itu karena kita bukan mahram."
"Dan sekarang aku suamimu, aku mahrammu ijinkan aku memelukmu." Rafael mengeratkan pelukannya seolah tidak ingin melepas Kharisa lagi. Kharisa tidak bisa menolaknya, dalam hati kecilnya ia pun merindukan suasana seperti ini, berada dalam pekukan orang yang dicintainya, akhirnya ia pun membalas pelukan laki-laki yang telah menjadi suaminya, tentu saja dengan jantung berdebar. Dan mereka bisa merasakan debaran jantung masing-masing.
Biarlah mereka saling melepas rindu, semoga tidak ada yang mengganggu. Kecuali readers mau ngasih vote, bolehlah ketuk pintunya dulu. Mereka akan senang mendapat kado 'vote' dari para reader semuanya.🤗😘
bersambung
Mohon maaf belum bisa up tiap hari, selalu mengusahakan tapi apa daya tangan tak sampai. Semoga selalu setia mendampingi perjalanan Kharisa dan Rakha.
Pendukung Faisal mana, masih ada kan? Siap-siap jodohnya mendekat.
__ADS_1
Thanks atas dukungan semuanya🙏🤗