Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Cemburu


__ADS_3

" Om Isaaal......" Rakha kembali memanggil Om kesayangannya dengan suara kencangnya, namun sepertinya Om nya itu sama sekali tidak mendengar panggilan Rakha, suasana di ballroom itu memang didominasi oleh suara alunan musik dan suara penyanyi wanita yang tengah membawakan lagu 'Akad' milik Payung Teduh. Rakha pun melangkahkan kakinya berusaha mengejar Faisal yang berjalan menuju pelaminan sambil mengedarkan pandangannya seperti mencari-cari seseorang, pasti Faisal mencari Kharisa dan Rakha.


"Eh...Rakha mau kemana?" Rafael yang melihat putranya berjalan meninggalkan area VIP langsung mengejarnya.


"Om Isaaal." Rakha menubruk Faisal dari belakang, sontak saja membuat Faisal kaget dan langsung membalikan tubuhnya.


"Rakha....." Faisal langsung meraih tubuh kecil itu membawanya ke pinggir agar tidak menghalangi jalanan lalu memeluknya.


"Om dari tadi nyari-nyari Rakha." Faisal mengusap pucuk kepala Rakha dengan wajah terlihat bahagia, rasa rindunya pada bocah itu akhirnya tercurahkan. Dua minggu tidak bertemu langsung membuat Faisal merindukan bocah itu, begitu pun dengan Rakha, wajah ceria tampak di wajahnya.


"Aku tadi manggil-manggil Om, Omnya gak dengal, malah jalan telus." Ucap Rakha dengan bibir mengerucut.


"Iya maaf...habis di sini bising, jadi Om gak dengar." Masih belum puas Faisal memandangi anak asuhnya, kini ia mensejajarkan tubuhnya.


"Rakha....." Rafael menghentikan langkahnya saat melihat Rakha ternyata bersama seseorang yang dianggap rivalnya. Ia menghembuskan nafas berat. Kenapa laki-laki itu harus datang, padahal mendengar obrolan Kharisa dan Rakha dua hari yang lalu Faisal tidak akan datang ke acara ini karena ada kegiatan di kampusnya, sekarang malah tiba-tiba nongol, dan Rakha terlihat bahagia dengan kedatangan Faisal.


Faisal awalnya memang tidak bisa datang, karena diminta untuk mendampingi kegiatan mahasiswa di kampusnya, tapi ternyata, setelah di cek rundown acaranya, tugasnya mendampingi mahasiswa dari jam delapan tadi malam sampai tadi subuh, ia pun memutuskan untuk berangkat ke Jakarta dengan menggunakan travel karena merasa tidak enak kalau tidak datang, apalagi Rendi mengundangnya langsung lewat telpon, selain menyampaikannya lewat Kharisa.


"Dady...ada Om Isal datang." Ujar Rakha sambil bergelayut manja di tangan Faisal. Dengan terpaksa Rafael menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Assalamualaikum, apa kabar?" Faisal mengulurkan tangannya mengajak Rafael bersalaman.


" Waalaikumsalam, baik...." Jawa Rafael, ia menjabat tangan Faisal.


"Om Isal Momy lagi di sana, ayo ke tempat Momy." Rakha menunjuk ke tempat area VIP, lalu menarik tangan Faisal.


"Oh....ya..." Faisal mengikuti langkah anak asuhnya. Dengan perasaan diabaikan Rafael pun mengikuti menuju tempat Kharisa. Jangan ditanya hatinya yang dongkol melihat putranya yang malah bersemangat mengajak Faisal bertemu momynya. Tapi ia tidak bisa marah, wajar Rakha begitu dekat dengan Faisal, karena Faisal selalu berada di dekat Rakha sejak masih bayi, bahkan sejak saat lahir, itu yang ia tau dari cerita Kharisa. Sabar....sabar.....yang penting Rakha mengakui ia sebagai dadynya.


"Rakha kamu dari mana?" Tanya Kharisa saat melihat putranya mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"A Isal....?" Kharisa terlihat kaget, tapi wajahnya langsung berubah dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.


"Momy....ada Om Isal." Tangan Rakha masih memegang tangan Faisal kemudian melepaskannya, dan duduk di kursi yang tadi ditempatinya


"A Isal katanya gak bisa datang? Syukurlah kalau bisa datang." Senyum sumringah masih menghiasi wajah Kharisa.


"Tugasnya hanya sampai subuh, jadi bisa ke sini. A Isal belum ngucapin selamat ke Mas Rendi, A Isal ke sana dulu yah." Ujar Faisal sambil menunjuk ke pelaminan.


"Mendingan A Isal makan dulu deh, itu antriannya masih panjang. Mau makan nasi atau makanan ringan dulu. Eh A ada Zupa soup loh, ini rasanya enak banget, creamy banget, tadi aku udah nyoba, jadi ingat jaman kuliah, sampe antri beli zupa soup, trus gak kebagian..he..he.." Kharisa terkekeh mengingat masa itu. Begitu pun dengan Faisal, teringat dia bela-belain nemenin Kharisa yag keukeuh antri untuk mendapatkan Zupa Soup padahal sudah diberitau kemungkinan gak kebagian.


Ayo aku antar, tempatnya di sana." Kharisa terlihat bersemangat.


"Eh bentar...Bi Dewi gak kelihatan?" Faisal mencari-cari keberadaan mama Kharisa di area VIP.


"Mama lagi dipelaminan, dampingi Papa.....Ah A Isal nanti aku mau cerita, pokoknya hari ini aku seneeeng banget, tadinya nanti malam aku mau telfon A Isal, eh ternyata orangnya malah datang, ya udah habis makan aku mau cerita yah." Kharisa terlihat sangat bahagia, tentu saja karena Mama dan Papanya telah saling memaafkan dan tadi malam fix Kharisa bisa memastikan kalau papanya menginap di kamar mamanya, karena sebelum subuh, setelah ia shalat tahajud, ia mendengar ada suara laki-laki dari kamar mamanya. Kharisa sengaja menguping dari pintu penghubung kamar, ia mendengar papanya pamit pulang, lalu Kharisa memastikan kalau papanya memang keluar dari kamar mamanya.


"Bi Dewi di sana? Kok bisa?" Tanya Faisal heran, namun senyumya langsung terbit di bibirnya.


"Iya....udah ah nanti ceritanya, sekarang kita hunting makanan dulu. Rakha mau ikut Momy sama Om Isal gak?"


"Hmmm....aku di sini aja sama Dady, tapi Momy aku mau esklim lagi." pinta Rakha manja.


"Ya udah, nanti momy bawain. Ayo A...." Kharisa mengajak Faisal dengan melambaikan tangannya, mereka pun meninggalkan area VIP.


Sikap Kharisa terhadap Faisal tak luput dari perhatian Rafael yang tengah duduk di kursi yang tadi ditempatinya bersama Andre dan tunangannya. Rahangnya mengeras, hatinya bergemuruh. Bohong kalau dia tidak cemburu melihat keakraban Kharisa dan Faisal, jelas ia sangat cemburu, apalagi saat mendengar Kharisa mengajak Faisal dan akan mengantarnya mengambil makanan, ia saja dari tadi tidak ditawarin oleh Kharisa atau ditanya sudah makan atau belum, dan yang membuat hatinya geram ia melihat wajah Kharisa begitu ceria dan bersemangat berada di dekat Faisal. Ibu dan anak ini sepertinya tidak bisa lepas dari Faisal. Batin Rafael.


Dan ternyata Andre yang duduk di depan Rafael malah senyum-senyum melihat sepupu yang duduk didepannya kepanasan terbakar api cemburu.


Ternyata antrian tamu undangan yang akan mengucapkan selamat kepada mempelai masih saja mengular. Akhirnya Faisal memutuskan untuk mencicipi aneka makanan lagi, sekaligus makan siang.

__ADS_1


Faisal telah selesai mencicipi beberapa makanan yang tersedia, dari mulai yang rasanya asin, manis dan makanan utamanya yaitu nasi sudah ia cicipi, dengan porsi sedikit-sedikit agar ia bisa mencicipi banyak jenis makanan. Dan Kharisa dengan setia menemaninya.


"Sudah selesai kelilingnya?" Tanya Rafael dengan ekspresi dingin. "Rakha tadi menunggu ekrimnya gak datang-datang." Tambahnya.


"Ya ampun....aku lupa." Karena keasikan hunting makanan dengan Faisal ia sampai lupa pesanan putranya. Ia juga melupakan keberadaan Rafael yang sejak tadi menemani putranya.


"Rakha maafkan momy, tadi momy lupa." Kharisa duduk di kursi Rakha yang tersisa setengahnya. Faisal pun ikut duduk di kursi yang kosong.


" Iya momy, tadi Dady yang ambilin." Kharisa menoleh pada Rafael. " Makasih ya El." Rafael tidak menjawab hanya menganggukan kepalanya.


"Rakha mau makan lagi gak? Kalau nggak kita sholat dhuhur aja dulu yuk! A kita shlat aja dulu yah, habis shalat baru salaman sama pengantin." Faisal pun setuju, mungkin setelah shalat antrian tidak terlalu panjang lagi.


"Dady, ayo kita shalat beljamaah dulu." Ajak Rakha pada Dadynya. Tentu saja Rafael senang diajak putranya, ia jadi bisa bersama putranya dan Kharisa, walaupun ada Faisal, minimal ia bisa bersama mereka. Dan kini senyum tipis terbit di bibirnya saat Rakha lebih memilih menuntunnya dari pada menuntun Faisal.


Selesai shalat mereka mengantri bersama tamu undangan lain untuk memberikan ucapan selamat kepada mempelai, benar saja sekarang antriannya tidak terlalu panjang. Kharisa pun ikut dalam barisan, walaupun secara khusus ia telah mengucapkan selamat kepada kakaknya setelah akad nikah tadi. Kharisa berdiri di belakang Faisal, di belakangnya ada Rafael, sementara Rakha di depan Faisal.


"El.....nanti jangan bicara apa-apa dulu sama papaku, cukup salaman saja." Kharisa mengingatkan kalau-kalau nanti Rafael berbuat nekat, bicara pada papanya kakau dia adalah ayah Rakha. Ia tidak ingin suasana yang bahagia ini menjadi rusak karena ucapan Rafael. Rafael hanya bisa mengiyakan dengan menganggukan kepalanya, walaupun hatinya sedikit kecewa, tapi ia berusaha memahami kondisi, kalau saat ini memang tidak pas untuk bicara dengan papanya Kharisa.


"Faisal....alhamdulillah kamu bisa datang." Mama Kharisa menepuk bahu Faisal setelah bersalaman. "Nanti pulangnya kita bareng saja, tunggu sampai acara selesai yah."


"Iya Bi." Faisal menganggukan kepalanya. Kemudian beralih menyalami papa Kharisa dengan senyum di bibirnya.


"Pah ini Faisal, yang dulu pernah nganter Kharis ke rumah papa, waktu rakha masih bayi." Kharisa mengingatkan papanya dan Daya ingat papa memang masih kuat.


"Maafkan sikap Om dulu, Om terbawa emosi." Ujar Papa sambil menepuk bahu Faisal. "Nanti om ingin bicara sama kamu, setelah ini selesai, bisa?"


"Bisa Om."


Rafael yang mendengar percakapan Faisal dan papa Kharisa berusaha menahan diri untuk tetap diam, tidak bicara apapun sesuai pesan Kharisa. Namun hatinya kembali bergemuruh, ia yang ingin sekali menemui papa Kharisa, bicara baik-baik dengannya, tapi kenapa malah Faisal yang mendapat kesempatan itu. Ia jadi khawatir kalau papa Kharisa justru yang tidak mau menerimanya, mungkin ia akan marah atau bahkan membencinya, tapi ia harus siap meghadapi itu semua dan terus memperjuangkan agar bisa bersama Kharisa dan putranya.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2