
POV Kharisa
Deg
Jantungku terasa berdetak keras saat mendengar ucapan pak Andre.
"Hari ini rumah sakit akan kedatangan salah satu Owner pemegang saham terbesar rumah sakit ini. Sepertinya beliau ingin sidak, dan pukul sembilan ingin bertemu dengan karyawan yang memungkinkan untuk meninggalkan pekerjaannya, tidak mengganggu pelayanan. Dan bagian marketing bisa semuanya hadir di aula."
Aku tau siapa owner rumah sakit ini, pemilik saham terbesarnya adalah keluarga Rafael, menguasai 60% saham, 30% milik keluarga Vania dan 10 % milik dokter Burhan ahli bedah saraf, salah satu relasi ayahnya Rafael. Itu yang dijelaskan Pak Andre saat mengisi obrolan di mobil setelah kunjungan pertamaku ke perusahaan.
Jadi sudah terbayang hari ini aku akan bertemu dengan ayahnya Rafael, mungkin juga dengan ibunya . Ah tidak bukan bertemu....mungkin aku hanya akan melihat mereka dari kejauhan, siapa aku yang bisa bertemu dengan owner rumah sakit, dan aku juga memang tidak ingin bertemu dengan mereka. Hati ini masih terasa sakit kalau mengingat sikap perlakuan mereka padaku, juga pada Rakha. Mereka tidak menginginkan Rakha sebagai cucunya, malah ibu Rafael akan mengadopsi Rakha untuk kakaknya yang belum mendapat keturunan. Berarti bukan menganggap Rakha sebagai cucu kan? Tapi sebagai orang lain yang ingin dijadikan anak adopsi. Ah...hati ini terasa sakit lagi, padahal aku sudah berusaha memaafkan, melupakan perlakuan dan kesalahan keluarga Rafael, seperti yang selalu diingatkan oleh A Isal saat aku mengeluh mengingat kejadian masa lalu. " Ingat MLM, Maklumi, Lupakan, Maafkan, siapapun yang pernah bersalah pada kita atau menyakiti kita, kalau mau hati kita tenang MLM." Selalu itu yang A Isal ingatkan.
Ah...aku jadi kangen sama dia, kemarin malam aku tidak menghubunginya, tidak memberi kabar tentang hasil pertemuan Rakha dengan dadynya. Kalau dihubungi sekarang takut mengganggunya. Kalau hati sedang tidak tenang seperti ini selalu ingin mendengar nasehatnya.
"Sekarang kalian langsung saja ke aula, jangan sampai keduluan owner, beliau orangnya disiplin tepat waktu." Aku mengerjap saat mendengar lagi ucapan Pak Andre yang suaranya terdengar lebih kencang di telingaku. Sepertinya aku melamun dan melewatkan beberapa informasi yang dia sampaikan. Aku pun beranjak dari meja rapat seperti yang lain.
"Kharisa ayo bareng ke aula." Ujar Mila yang sudah berdiri di dekat pintu.
"Sok duluan saja, aku mau ke toilet dulu." Jawabku. Tentu saja ke toilet hanya alasan agar aku tidak terlalu awal datang ke aula. Malas rasanya harus duduk di barisan depan, lebih baik datang di akhir agar kebagian tempat di belakang. Siska sudah lebih dulu ke aula karena ia mendapat tugas sebagai pengatur acara.
"Aku tempatin kursinya yah biar kita duduk barengan. Ayo Mas Ahmad, Zaki sepuluh menit lagi jam sembilan." Ujar Mila, aku hanya menganggukan kepala, Mas Ahmad dan Zaki pun berlalu bersama Mila.
Aku masih duduk di tempat kerjaku karena memang sebenarnya aku tidak ingin ke toilet. Aku akan masuk ke aula nanti saja pas pukul sembilan. Sepertinya aku tidak akan bisa ijin pulang cepat, laporan mingguan belum kuselesaikan. Sekarang harus berkumpul di aula entah akan menghabiskan waktu berapa lama. Bagaimana Rakha dan Rafael yah di sekolah, semoga mereka bisa mengikuti kegiatan dengan lancar.
Aku membuka layar HPku yang sejak tadi banyak notif yang masuk. Ternyata dari group class parent Rakha, banyak sekali pesan yang masuknya, banyak kiriman foto kegiatan, ada foto Rakha dan Rafael juga sedang menyusun puzle.
"Lomba Puzel done, juara 1 Rakha, juara 2 Janeta, juara 3 Ibrahim."
"Selamat Rakha dah ayahnya."
"Pendatang baru langsung raih juara nih, ayahnya Rakha."
"Lomba masak sedang berlangsung."
"Momy Rakha ayo dong ke sini, jangan kerja terus."
"Nex lomba mirip ayah, ayo kita merapat."
__ADS_1
"Kayanya Rakha lagi deh yang bakal menang."
"Mom Rakha itu kok bisa Rakha jiplak banget ayahnya, kayanya mom Rakha yang cinta banget yah sama ayahnya Rakha."ππ
"Mom Rakha, kalau Rakha juara ditunggu traktirannya, baso Mang Endin."π€
Aku senyum-senyum sendiri baca chat group kelas Rakha, aku yang paling muda di group itu group Macan Ternak, he...he...itu nama groupnya, Mama Cantik Anter Anak.
"Siap nanti ditraktir baso Mang Endin." Aku jawab juga komen mereka.
Pasti acaranya seru, sayang aku gak bisa datang. Hatiku berdesir melihat foto Rakha yang terlihat bahagia bersama dadynya. Semoga kebahagiaan itu terus membersamainya. Apa pun akan kulakukan agar bisa membuatnya bahagia karena kebahagiaan Rakha adalah kebahagiaanku juga.
"Kharisa, kamu masih di sini?" Ku dengar suara Pak Andre, ternyata tadi dia masih di ruangannya.
"Eh...iya Pak, saya habis rapihin ini sebentar." Jawabku gugup, tentu saja karena berbohong.
"Kalau kamu gak mau ke aula gak apa-apa, kamu bisa kerjakan laporan kamu." Ujar Pak Andre, sepertinya dia memahami kondisiku. Pasti Rafael cerita semuanya ke Pak Andre.
"A..aku mau ke sana kok Pak." Ujarku sambil berdiri.
"Ya sudah ayo kita bareng ke sana." Pak Andre berhenti di depan pintu.
"Kamu sudah coba lagi hubungi HPnya? Telpon biasa saja jangan WA?"
"Sudah tante, gak diangkat juga."
"Kemana sih tuh anak, padahal dari malam tante sudah ngasih tau kalau kami mau datang." Kharisa menghentikan langkahnya sejenak tidak jadi keluar dari toilet saat mendengar obrolan dua wanita beda usia melewatinya, dan Kharisa mengenal keduanya, calon mertua dan menantu, Vania dan seseorang yang masih ia ingat wajahnya walaupun tidak pernah bertemu lagi setelah sekitar tiga tahun yang lalu , siapa lagi kalau bukan mamanya Rafael. Ternyata mama Rafael hadir juga, membuatku ragu untuk masuk ke dalam aula.
Setelah berpikir sejenak akhirnya aku putuskan untuk masuk aula, aku ingin tau juga apa yang disampaikan oleh owner tempatku bekerja. Aku masuk pelan-pelan dan langsung duduk di kursi kosong di barisan paling belakang, hanya ada dua karyawan yang duduk di samping kiriku. Di depan terlihat Siska baru membuka acaranya, dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur rumah sakit. Kulihat ayah Rafael dan ibunya duduk di sofa menghadap ke tempat duduk karyawan, didampingi para pejabat dari jajaran manajer dan wakil direktur.
Ibunya Rafael duduk dengan tegak, ia mengedarkan pandangan seperti sedang mencari seseorang di antara barisan tempat duduk karyawan. Tidak mungkin kan ia mencari anaknya, karena kalau ada Rafael akan duduk di barisan para pejabat. Apa dia mencariku? Pasti Rafael sudah bercerita bertemu denganku di rumah sakit ini. Bisa jadi ibunya Rafael mencariku. Aku jadi parno jangan-jangan ia datang ke sini memang sengaja ingin mencari dan menemuiku, seperti di drama korea atau di cerita novel, ia akan memintaku untuk menjauhi putranya yang sudah dijodohkan dengan wanita pilihan keluarganya. Mereka pasti menganggap aku dan anakku akan menjadi penghalang perjodohan putranya .
Mereka salah kalau punya pikiran seperti itu. Aku sendiri sudah merelakan Rafael kalau memang tidak berjodoh denganku dan tidak ada keinginan untuk merusak pertunangannya dengan Vania, walaupun di dasar hatiku yang paling dalam aku mengharapkan bisa bersama menjadi orang tua untuk Rakha. Tapi aku tidak seegois itu yang tega menyakiti hati perempuan lain. Aku harus menguatkan hati lagi membuang jauh harapanku itu.
Untunglah aku duduk di kursi belakang, aku yakin ibunya Rafael tidal akan melihatku karena aku terus menunduk tidak memperlihatkan wajahku.
Saat ini ayahnya Rafael yang tengah berbicara di depan. Ia memperkenalkan istrinya dan menyebutkan putra putrinya walau tidak ada satupun yang hadir. Ya iyalah Rafael saat ini sedang mendampingi putranya di sekolah. Ternyata Rafael lebih memilih mendampingi Rakha dari pada mendampingi orsng tuanya.
__ADS_1
"Kami memiliki tiga anak, satu perempuan dan dua laki-laki Yang pertama perempuan, ia menjabat sebagai wadir keuangan di RS Setya Medika pusat, yang kedua laki-laki, ia lebih memilih untuk tinggal dan bekerja di Amerika. Dan yang ketiga laki-laki, satu bulan ini dia telah bergabung di rumah sakit ini, ya dokter Rafael, pasti anda sudah mengenalnya. Oh ya sekalian saya sampaikan juga, putra bungsu saya ini statusnya baru saja bertunangan dengan seseorang yang juga bagian dari rumah sakit ini, anda juga pasti sudah mengenalnya, saya mohon calon menantu saya silahkan berdiri." Kudengar ruangan sedikit riuh, ada yang bersorak dan bertepuk tangan , sambil mengucapkan selamat.
"Selamat bu Vania."
"Wah diam-diam ternyata calon Ibu dokter."
"Cocoklah, serasi Bu." Beberapa karyawan memberikan tanggapan.
"Sengaja saya umumkan agar kalau ada diantara anda yang naksir salah satunya lebih baik mundur dari sekarang dari pada patah hati....ha...ha...ha...lebih baik cari yang single saja, seperti direktur kita yang masih betah dengan status jomblonya." Ujar ayah Rafael sambil tertawa. Tapi hatiku merasa teriris, aku merasa ucapannya ditujukan kepadaku, entahlah, atau aku yang merasa sensitif hingga ucapannya terasa nenyakitkan untukku, hingga tak terasa mataku menghangat, pandanganku memburam, dan dadaku terasa sesak. Rasanya aku ingin keluar dari ruangan ini tapi aku pasti akan terlihat , jadi aku terus menundukan kepalaku sambil melihat pesan WA yang masuk yang ternyata dari Rafael. Ia mengirim foto saat mereka mengikuti lomba. Dadaku semakin sesak saat melihat foto mereka berdua dengan senyum di bibir mereka. Tak kudengar lagi ucapan dari ayah Rafael, terakhir yang kudengar ucapan terima kasih kepada karyawan yang telah bekerja keras hingga rumah sakit ini mulai terlihat maju.
Aku buru-buru mengusap air mata yang lolos jatuh dipipiku agar tidak terlihat oleh yang duduk di sebelah kiriku yang terhalang satu kursi kosong, untunglah di sebelah kananku juga kosong. Tapi tidak lama kemudian ada seseorang yang duduk di sebelah kananku, saat ku menoleh ke arahnya ia menyodorkan sapu tangan, tampak senyum di bibirnya, kulihat masih bersih dan baru.
"Pakai ini, bersih kok, belum dipakai." ujarnya. Kemudian ia mengambil sesuatu di saku jasnya,
"Makan ini biar gak sedih lagi." Ia menyodokan coklatnya, kali ini ukurannya tidak terlalu besar. Ini yang kedua kalinya aku kepergok menangis oleh dokter muda ini.
*****
Dengan wajah penuh kebahagiaan, Rafael dan Rakha berjalan menuju mobilnya, menenteng kantong yang berisi tiga buah piala dan piagam . Sebelumnya Rafael telang mengirim pesan WA pada Kharisa.
"Sa, acaranya sudah selesai, aku ajak Rakha makan siang ya."
"Oke..." Balas Kharisa.
Mereka sudah sampai di sebuah restoran sunda yang lumayan luas, dengan pemandangan danau di sekitarnya. Rafael mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang tadi menghubunginya, menyuruhnya datang ke restoran ini. Ya Andre menghubunginya berkali-kali hingga terakhir pukul setengah dua belas baru Rafael mengangkat telpon dari Andre.
Andre melambaikan tangannya, dan Rafael pun menuju ke tempat sepupunya itu, sebuah privat room. Ternyata dia tidak sendiri, ada dua orang tengah duduk memilih menu makanan yang akan mereka pesan.
"Ma ...Pa...."Ujar Rafael sedikit terkejut. Dua orang yang tak lain adalah mama papanya juga terkejut melihat anak kecil dengan wajah yang mirip dengan putranya, tangannya tak mau lepas dari genggaman Rafael.
"Sayang ayo salam dulu sama Oma dan Opa." Ujar Rafael sambil membungkukan badannya agar sejajar dengan Rakha.
"Oma...Opa?" Rakha pun mengernyit keheranan.
bersambung.......
Haii readers ku, ayo dukung Othor dengan like dan koment yah.
__ADS_1
Terima kasih semuannyaππ€π