
Moorning meeting manajer dan koordinator baru saja selesai, di tutup oleh doa yang dipimpin oleh manajer HRD. Sebelum peserta meeting beranjak dari duduk mereka, Rafael buru-buru menginterupsi agar seluruh yang hadir tidak meninggalkan dulu ruangan.
"Mohon perhatian, saya minta waktunya sebentar, mohon tidak meninggalkan ruangan dulu, ada sedikit kabar yang ingin saya sampaikan." Ujar Rafael buru-buru. Ia terlihat tenang, padahal sebenarnya jantungnya terasa berdetak lebih cepat dan tangannya terasa dingin. Walau bagaimana pun mengumumkan pernikahannya dengan wanita yang selama ini dikenal bukan sebagai tunangannya pasti akan menimbulkan tanda tanya besar dan akan menjadi berita yang menghebohkan di lingkungan rumah sakit Setya Medika. Semantara wanita yang dikenal sebagai tunangannya hadir pula di ruangan itu karena jabatannnya sebagai koordinator di salah satu bagian keuangan.
Peserta yang sudah berdiri pun kembali duduk, tentu tidak ada yang berani keluar ruangan.
"Saya mengundang rekan-rekan semuanya dan seluruh karyawan rumah sakit untuk hadir di acara resepsi pernikahan saya yang akan dilaksanakan minggu depan. Adapun undangannya sudah saya sampaikan ke bagian masing-masing." Baru kali ini ada karyawan rumah sakit yang mengumumkan undangan pernikahannya di acara meeting, mungkin kesannya terlalu berlebihan kalau ia hanya karyawan biasa, tapi yang berbicara di sini adalah Rafael, putra dari pemilik rumah sakit. Tentu tidak ada yang berani protes.
Tampak rekan Vania yang duduk di sebelahnya membisikan sesuatu. " Kenapa kamu gak bilang-bilang kalau mau ke pelaminan, mau bikin kejutan?" Bisiknya.
"Sssttt......" Vania hanya merespon rekannya dengan memberikan kode menempelkan telunjuk di bibirnya. Ia sudah menyiapkan diri menghadapi pertanyaan rekan-rekannya, ia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan mereka, pastinya mereka akan mengasihaninya, menganggap ia wanita yang disakiti setelah tahu siapa pengantin wanitanya.
Semalam Rafael menghubunginya, memberitahu kalau hari ini akan membagikan surat undangan resepsi, juga mengumumkannya setelah morning meeting. Dengan berlapang dada ia mendukungnya dan siap membantu meluruskan kesan negatif terhadap Rafael dan Kharisa.
"Mungkin rekan-rekan nanti akan kaget melihat di dalam undangannya ternyata pengantin wanitanya bukan Vania yang selama ini rekan-rekan mengetahuinya sebagai tunangan saya." Otomatis yang mendengar ucapan Rafael terkejut mendengar ucapan Rafael, kecuali Andre, direktur dan Vania yang berusaha bersikap tenang. Pandangan mereka langsung tertuju pada Vania yang terlihat tenang dan menyunggingkan senyumnya. Tidak terlihat kesedihan di wajahnya.
"Saya dengan Vania memang telah memutuskan pertunangan kami secara baik-baik sejak beberapa bulan yang lalu, dan hubungan kami sebagai teman dan saudara sampai saat ini terjalin dengan baik. Saya tidak ingin setelah ini ada berita miring tentang kami."
"Adapun mengenai istri saya.....oh ya saya telah resmi menikah dengan istri saya, kami melaksanakan akad nikah dua minggu yang lalu." Lanjut Rafael. Dan yang hadir di ruangan itu kembali terkejut, mereka saling berbisik, rupanya penasaran dengan sosok siapa pengantin wanita yang sudah resmi menjadi istri dokter Rafael, manajer Yanmed yang juga putra pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja.
"Saya kenal dengan istri saya sejak masa sekolah SMA, dan kami menjalin hubungan, kami saling mencintai, namun karena sesuatu hal kami berpisah dan di rumah sakit ini kami bertemu kembali hingga akhirnya kami memutuskan untuk menikah." Sepertinya Rafael serius dengan ucapannya pada Kharisa semalam kalau akan melakukan semacam konfrensi pers, sudah pasti Rafael tidak ingin nama baik Kharisa menjadi jelek, apalagi di cap sebagai pelakor. Ia tidak peduli kalau orang lain menilai ia hanya mencari pembelaan, yang pasti ia hanya ingin menjaga nama baik Kharisa.
"Kami sangat mengharapkan kehadiran rekan-rekan semuanya, jadi saya tunggu kedatangannya. Itu saja yang ingin saya sampaikan, terima kasih atas waktu dan perhatiannya." Rafael mengakhiri dengan mengucapkan salam, menyisakan rasa penasaran dari semua yang hadir akan sosok pengantin wanitanya.
"Oh ya bagi yang bisa hadir di acara resepsi kami, rumah sakit menyediakan kendaraan gratis untuk mengantar ke tempat resepsi, saya minta bantuan dari koordinator untuk mendata di bagiannya masing-masing siapa saja yang bisa menghadiri resepsi." Kini direktur yang juga paman Rafael ikut bicara, rupanya ia sudah merencanakan memfasilitasi karyawannya agar bisa hadir di resepsi keponakannya, ia sudah memikirkan kalau tidak semua karyawan memiliki kendaraan dan hapal lokasi acara resepsi. Hingga ia mengambil keputusan menyediakan kendaraan, toh ini untuk mendukung acara pemegang saham rumah sakit juga.
"Baik, karena tidak ada yang akan disampaikan lagi, silahkan kembali menjalankan tugasnya masing-masimg." Ujar direktur mengakhiri meeting pagi yang berjalan cukup lancar. Ia pun beranjak meninggalkan ruang meeting diikuti oleh sekretarisnya juga jajaran manajer. Beberapa koordinator masih enggan meninggalkan ruangan, tentunya yang penasaran dengan kabar yang baru disampaikan Rafael. Mereka yang hampir semuanya wanita menyerbu Vania yang masih duduk merapihkan alat tulisnya.
Mereka menyerbu dengan berbagai pertanyaan.
"Bu Vania baik-baik saja kan?"
"Bu Vania tidak apa-apa?"
"Mbak siapa istrinya dokter Rafael? Katanya tadi bertemu di rumah sakit, apa dia karyawan di sini?"
"Bu Vania, aku benar-benar tidak percaya, siapa istri dokter Rafael?"
__ADS_1
Vania langsung menanggapi satu persatu pertanyaan mereka namun tidak menyebutkan siapa istrinya Rafael.
"Kalau ingin tahu siapa istri dokter Rafael buruan lihat saja undangannya, kayanya udah nyampe deh di ruangan masing-masing. Biar gak penasaran cepetan lihat di sana, namanya kalian pasti kenal. Yang pasti dia wanita hebat, luar biasa, dan dokter Rafael beruntung mendapatkannya." Mereka pun terhenyak mendengar kata-kata terakhir Vania, kagum juga karena Vania malah terkesan mengagumi wanita yang menjadi istri mantan tunangannya.
Akhirnya mereka pun meninggalkan ruang meeting menuju ruangannya masing-masing, tidak sabar menghilangkan rasa penasarannya, ingin segera mengetahui siapa wanita yang berhasil menaklukan dokter Rafael.
Siapa pun yang melihat undangan pernikahan dokter Rafael terlihat terkejut, melihat nama pengantin wanita yang tertera di sana bukan nama yang mereka kenal sebagai tunangan dokter Rafael yaitu Vania, tapi nama lain.
'Kharisa Maura Pradita' nama itu yang tertulis dengan tinta emas sebagai pengantin wanitanya. Beberapa karyawan merasa tidak asing dengan nama itu, dan langsung menduga-duga, walaupun merasa ragu kalau itu adalah Kharisa karyawan, staf marketing rumah sakit.
Di ruang marketing terdengar kehebohan dari stafnya yang tentu saja mengenal nama yang tertera sebagai pengantin wanita.
"Ini Kharisa kita kan?" Teriak Meli, kaget saat membaca undangan resepsi yang diantar oleh OB ke ruangan marketing.
"Dari namanya sih sama dengan Kharisa, iya kan nama panjangnya sama, Maura Pradita?" Ujar Ahmad ragu.
"Mana coba lihat?" Siska yang tadinya cuek terlihat penasaran, ia mengambil undangan yang ada di tangan Meli. Ia mengerutkan keningnya. "Masa sih, bukan kali ah, masa dokter Rafael sama Kharisa, gak mungkin." ujarnya.
"Kenapa gak mungkin, aku pernah melihat beberapa kali dokter Rafael ada di ruangan ini, alasannya sih mencari Pak Andre, tapi sepertinya dia menemui Kharisa deh, soalnya Kharisa terlihat gugup saat aku masuk ke sini."
"Kalau benar, Kharisa memang bener-bener yah wanita pengganggu, bisa-bisanya merebut tunangan orang, dia mengenalnya lagi. Eh bukankah akhir-akhir ini Kharisa terlihat dekat dengan Bu Vania? Hmm...rupanya itu trik dia untuk menutupi keburukannya merebut tunangan Bu Vania. Dan terbukti dia takut disalahkan hingga keluar kerja, dia pasti malu bertemu kita-kita." Ujar Siska dengan sinis.
"Aku tanyain langsung saja sama Kharisa." Ujar Meli sambil mengambil HP di atas meja kerjanya.
Sementara di ruang rawat inap, tepatnya di nurse station dimana dokter Arjuna sedang mengisi catatan medik pasien, terdengar bisik-bisik obrolan beberapa perawat yang membicarakan undangan resepsi pernikahan dokter Rafael.
"Ini Kharisa yang staf marketing bukan, namanya kaya gak asing."
"Ada fotonya gak? Biasanya ada foto preweddingnya."
"Gak ada fotonya."
"Akhirnya dokter Rafael menikah, tapi kasihan Bu Vania yah, kok bukan sama dia sih, padahal mereka juga serasi, Bu Vania juga baik, ramah, tidak sombong walau sebagai anak pemegang saham rumah sakit."
"Kalau benar itu Kharisa staf marketing, gimana ceritanya bisa nikah dengan dokter Rafael?"
"Tapi aku gak percaya, Kharisa gak mungkin tega ngerebut dokter Rafael dari Bu Vania, Kharisa juga orangnya baik. Tapi kalau iya, masa sih?"
__ADS_1
"Sudah nanti kita tanayain saja sama yang lebih tau, kita tanya Meli kalau dia ke sini."
"Kalian ngobrolin apa sih? Bisik-bisik gitu?" Rupanya Arjuna kepo juga melihat perawat ngobrol berbisik-bisik.
"Dokter Arjuna belum lihat undangan resepsi pernikahan dokter Rafael?"
"Dokter Rafael menikah? Mana coba lihat?" Arjuna terlihat terkejut mendengar atasannya akan menikah karena ia sama sekali tidak mendengar desas desus kalau dokter Rafael akan menikah, dan lebih terkejut lagi setelah membaca isinya karena disana tercantum dokter Rafael telah menikah dua minggu yang lalu dimana dicantumkan tanggal akad nikahnya dengan wanita yang namanya sangat dikenalnya, bahkan tanpa sadar ia sering menuliskan nama itu di buku catatan kecilnya.
Hari pun beranjak sore, saatnya jam pulang kerja bagi karyawan non shift rumah sakit Setya Medika. Tepat jam empat lebih lima belas menit, Vania keluar dari ruangannya. Ia memutuskan pulang lebih awal dari biasanya. Ternyata hari ini adalah hari yang cukup melelahkan baginya, bukan lelah karena pekerjaannya, tapi lelah menjawab pertanyaan dari beberapa karyawan yang dikenal dekat dengannya. Tentu saja pertanyaan seputar pernikahan Rafael dengan Kharisa, mereka pun menanyakan putusnya hubungan pertunangannya dengan Rafael
"Aku dan Rafael tidak saling mencintai, kami dijodohkan tapi tidak cocok, ya sudah lebih baik tidak dilanjutkan kan?"
"Aku ra popo." Ujarnya sambil bercanda.
"Aku mendukung dokter Rafael dengan Kharisa, mereka cocok, serasi dan saling mencintai, jangan salah loh mereka itu ternyata menjalin hubungan dari sejak SMA, jadi kalau aku meneruskan menikah dengan dokter Rafael, akulah yang jadi pelakornya." Begitulah jawaban Vania kepada rekan-rekannya, termasuk kepada Meita yang dengan terang-terangan mencaci maki Kharisa, menyebutnya pelakor, tidak tau malu, tidak punya hati dengan wajah kesal, tidak rela Kharisa menjadi istri dokter Rafael, padahal Vania yang pernah menjadi tunangan Rafael malah santai saja, ikhlas melepas Rafael untuk Kharisa.
Saat Vania tengah berjalan menuju messnya, terdengar seseorang memanggilnya.
"Vania, tunggu...." Vania menghentikan langkahnya, ia diam tidak menoleh, tapi jatungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ia kenal dengan suara laki-laki yang memanggil namanya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya laki-laki itu lagi. Vania pun membalikan badannya, dan tatapan mereka saling bertemu, tatapan yang sama-sama memancarkan kerinduan, tatapan penuh cinta bisa terlihat di keduanya.
"Ada perlu apa?" Tanya Vania dengan suara sedikit bergetar, ia menautkan kedua jemari tangannya, mengusir rasa gugup di hatinya.
"Aku sudah tahu semuanya."
"Aku tahu apa yang ada di hatimu, perasaanmu untukku masih sama seperti dulu kan?"
"Aku ingin memberitahu aku pun memiliki perasaan yang sama denganmu, sejak dulu." Ujar laki-laki itu tanpa memberi kesempatan Vania menjawab pertanyaannya seolah ia telah yakin ucapannya benar kalau Vania masih mencintainya seperti yang disampaikan Kharisa padanya.
"Aku mencintaimu."
"Jadilah kekasihku."
Vania hanya bisa membulatkan matanya, menunjukan ia terkejut dengan ucapan laki-laki yang sejak dulu telah merebut hatinya.
bersambung
__ADS_1
Bagi yang menunggu acara resepsi Kharisa dan Rafael, sabar yah, sekarang othor sampaikan undangannya dulu, semua diundang, silahkan hadir, dresscode warna peach untuk wanita, batik coklat untuk priaπ
Jangan lupa ngado, yang masih punya vote boleh dikirim dari sekarang sebagai kadonya.π€π