Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Aku Tetap Disampingmu


__ADS_3

Mobil sedan keluaran Jerman yang dikemudikan Rafael mulai memasuki jalan tol setelah melewati kepadatan jalanan Pasteur yang sudah biasa terjadi di setiap akhir weekend. Sikap Rafael terlihat berbeda dibandingkan saat berangkat yang terlihat lebih ceria, bahkan sepanjang perjalanan ikut menyanyikan lagu yang didengarnya dari tape mobilnya, yang katanya lagunya adalah ungkapan perasaannya. Sekarang ia lebih banyak diam seolah sedang berkonsentrasi mengemudikan mobilnya dan fokus dengan jalanan di depannya. Padahal benaknya dipenuhi dengan bayangan pertemuannya dengan papa Kharisa yang mungkin tidak lama lagi akan terjadi. Ia membayangkan apa yang akan terjadi saat ia bertemu papa Kharisa, apa yang akan papa Kharisa lakukan terhadapnya? Apakah sama seperti Rendi kakaknya Kharisa yang langsung menghajarnya, atau ia akan langsung diberondong pertanyaan? Kemana saja selama ini? Kenapa meninggalkan Kharisa? Kenapa tidak pernah mencari Kharisa? Mungkin juga akan keluar kata-kata makian yang memang pantas ia dapatkan. Apapun yang akan dilakukan Papa Kharisa terhadapnya ia harus siap menghadapinya, walau sampai babak belur sekali pun ia harus siap.


Kharisa yang duduk di sebelah Rafael merasakan perubahan sikap Rafael, ia pun jadi sedikit khawatir, apa Rafael sedang tidak enak badan, atau kecapean? Atau karena akan bertemu papanya ia jadi seperti ini? Apa Rafael tidak siap bertemu papanya? Mama memang memberitau tujuan papa datang ke rumah selain untuk menjemput mama, juga ingin bertemu dengan Rafael. Tiga minggu yang lalu mama menyampaikan keinginan Rafael untuk bertemu papa Kharisa dan baru hari ini papa Kharisa meluangkan waktunya.


"El...kalau belum siap untuk ketemu Papa gak papa diundur saja." Ujar Kharisa memecah kesunyian.


"Eh apa Sa?" Rafael malah balik bertanya, rupanya ia sedang tidak fokus mendengar pertanyaan Kharisa.


"Kamu melamun El? Kamu lagi nyetir loh, hati-hati ah."


"Nggak...justru aku lagi fokus nyetir makanya gak jelas dengerin pertanyaan kamu, tadi kamu tanya apa?" Sanggahnya walaupun terlihat jelas ngelesnya.


"Ck, fokus nyetir sampai gak denger orang ngomong apa, jangan ngelamun ah." Kharisa kembali mengingatkan. Ia menoleh ke belakang, memastikan putranya yang tidak terdengar suaranya, ternyata Rakha sudah tumbang di kursi penumpang belakang dengan posisi terlentang dan terlelap dalam tidurnya, rupanya ia kelelahan setelah jalan-jalan di mall dan bermain bersama Khansa dan adiknya di cafe tadi.


"Tadi kamu ngomong apa?" Rafael mengulang pertanyaannya.


"Kalau belum siap ketemu papa diundur saja, kedatangan papa untuk jemput Mama kok." Jawab Kharisa.


"Aku siap kok, lebih cepat lebih baik, aku tidak ingin dianggap pecundang dan tidak bertanggung jawab. Aku siap apapun yang akan aku terima nanti."


"Walau Papa menghajarmu?" Kharisa jadi teringat bagaimana dulu Papa memperlakukan Faisal, tanpa bertanya dulu langsung menghajarnya, bisa jadi sekarang pun Papa akan menghajar Rafael.


"Apapun yang Papa kamu lakukan aku akan terima, walau menghajarku sampai babak belur aku tidak akan lari, aku memang pantas mendapatkannya, semoga saja setelah itu papa kamu merestui kita." Ucapan Rafael membuat hati Kharisa terenyuh, ia merasakan Rafael sungguh-sungguh mencintainya dan ingin membayar apa telah ia lewatkan selama lima tahun yang lalu.


"Aku gak akan membiarkanmu babak belur dihajar Papa, sudah cukup Mas Rendi yang memberikan hadiah untukkmu El." Kharisa tersenyum getir mengingat wajah Rafael yang memar, dan bibir berdarah karena dihajar kakaknya.

__ADS_1


"Ah aku jadi terharu, ternyata kamu mengkhawatirkanku." Ada rasa bahagia di hati Rafael mendengar ucapan Kharisa.


"Jangan geer, aku hanya takut saja jadi panjang urusannya, nanti orang tua kamu melaporkan papaku ke polisi karena tindakan penganiayaan." Ujar Kharisa yang sebenarnya adalah candaan belaka.


"Kamu tuh yah, gak bisa sedikit saja bikin aku senang, padahal aku sangat senang kalau kamu mengkhawatirkanku."


"He...he....iyalah aku juga gak mau kamu babak belur, nanti hilang kegantenganmu." Kekeh Kharisa.


"Ah...senengnya dibilang ganteng sama pujaan hati." Senyum sumringah menghiasi wajah Rafael, melupakan sejenak kegundahannya yang akan bertemu papa Kharisa.


"Ihh...siapa yang bilang ganteng." Kharisa memalingkan wajahnya ke jendela di sebelah kirinya. Rafael hanya senyum-senyum, ia tau Kharisa tidak akan mengakuinya.


"Eh Sa, kamu kok bisa kenal dekat dengan Kang Farhan? Kenal dimana?" Rafael baru ingat sejak di kafe tadi ia begitu penasaran melihat kedekatan Kharisa dan putranya dengan keluarga Kang Farhan, namun belum sempat menanyakannya.


"Kang Farhan itu kakaknya Faisal." Jawaban Kharisa sontak saja membuat Rafael tertegun, namun ia berusaha fokus dengan setir mobil dan jalanan di depannya. Kenapa dunia ini begitu sempit, ia yang ingin menghindari Faisal bahkan kalau bisa menjauhkan Faisal dari Kharisa dan putranya, sekarang malah ia dipertemukan dengan kakaknya Faisal. Namun ia teringat dengan ucapan Kang Farhan tadi.


"Aku sering main ke rumah Kang Farhan, eh kamu juga kan pernah waktu jemput Rakha sama aku, tapi kamu gak masuk, nah itu rumahnya Kang Farhan."


"Dulu waktu aku ikut tes masuk perguruan tinggi, aku nginep di rumah Kang Farhan, tapi waktu itu rumahnya masih ngontrak di dekat kampusnya Kang Farhan dan Teh Moza. Rakha waktu itu masih berapa bulan yah, empat bulan gituh, Rakha aku ajak, aku tinggalin dia sama Bi Nani saat aku ujian, untungnya ada Teh Moza, aku jadi tenang ninggalinnya seharian." Kharisa jadi mengenang masa lalunya, saat masa perjuangan meraih impian masuk perguruan tinggi negri.


"Aku kagum sama Kang Farhan dan Teh Moza, mereka berjuang dari nol, menikah saat mereka masih kuliah, merintis usaha bersama, hingga berkembang seperti sekarang. Aku banyak belajar dari teh Moza bagaimana sambil kuliah bisa mengasuh anak, aku juga jadi reseller produk busana muslim teh Moza, hasil dari penjualan baju muslim aku gunakan untuk pergi ke Jakarta, berharap bisa bertemu kamu, tapi ternyata kamu tidak pulang saat liburan akhir tahun, aku hanya bertemu ibu kamu dan aku menitipkan nomor telponku berharap kamu menghubungiku, tapi......" Rupanya Kharisa masih ingin mengenang masa lalu yang membuat bening embun menghalangi pandangannya.


"Sa....?" Rafael menoleh ke sebelah kirinya, bertepatan dengan bening kristal yang jatuh di pipi Kharisa. Reflek tangan kiri Rafael bergerak untuk mengusap pipi Kharisa yang basah, namun Kharisa segera menepisnya. "Jangan sentuh." ujarnya. Rafael pun menurunkan tangannya.


"Sa...maafkan aku yah, maafkan mamiku."

__ADS_1


"Sekarang aku ada di sini, disampingmu, dan akan selalu ada disampingmu." Ingin rasanya Rafael menggenggam tangan Kharisa untuk menguatkan kalau ucapannya sungguh-sungguh.


"Apapun yang terjadi, walaupun ada halangan rintangan aku akan tetap disampingmu, bersamamu."


"Kalau mami kamu tidak merestui kita?" Ini yang menjadi ganjalan Kharisa selama ini, ia ingin saat mereka hidup bersama, membangun sebuah keluarga, mendapat restu dari orang tua kedua belah pihak. Sementara sampai saat ini yang ia tau mami Rafael masih belum menerimanya, entah apa alasanya.


"Aku hanya butuh restu papa kamu untuk bisa menghalalkanmu menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku." Ujar Rafael tegas.


"Tapi aku tidak ingin merusak hubunganmu dengan mami kamu, walau bagai manapun ia adalah ibu yang melahirkan kamu El, akan lebih baik kalau orang tua kita merestui." Suara Kharisa terdengar sendu, terdengar pesimis.


"Memang benar, tapi kalau mami tetap keras kepala tidak merestui, aku pun akan tetap membangun impian bersamamu, aku yakin lama-lama mami akan luluh."


"Aku akan bersikap baik pada mami, seburuk apapun sikap mami, aku akan menyayanginya. Itu yang dinasehatkan Kang Farhan tadi. Tapi bukan berarti aku akan mengikuti keinginannya."


"Sa, sekarang yang penting kita mendapat restu papamu, doakan pertemuanku dengan papamu berjalan lancar yah, dan papamu memaafkan aku dan nerima aku." Saat ini fokus Rafael adalah mendapat restu papa Kharisa, ia yakin suatu saat maminya pun akan luluh merestuinya.


" Sa, pokonya kamu harus ingat, apapun yang terjadi aku akan disampingmu, kita akan bersama, aku, kamu dan Rakha." Ucap Rafael penuh keyakinan.


Dan tak terasa mobil yang membawa mereka akan memasuki pintu keluar tol, dua puluh menit lagi kalau jalanan lancar mereka akan tiba di rumah Kharisa.


Detak jantung Rafael terasa lebih cepat saat mereka memasuki gerbang perumahan yang sering dikunjunginya, tangannya pun terasa dingin, padahal sejak tadi ia telah menyiapkan diri, tapi tetap saja respon tubuhnya tidak bisa dikondisikan, apalagi saat melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir di depan rumah Kharisa. Ia menghentikan mobilnya persis di belakang mobil mewah itu. Menarik nafas panjang sebelum mematikan mesin mobilnya.


"El....yakin mau ketemu Papa sekarang?" Kini malah Kharisa yang ragu.


"Bismillah Sa....." Jawabnya dengan yakin.

__ADS_1


"Ayo kita turun, biar aku yang gendong Rakha." Mereka pun turun dari mobil, Rafael menggendong Rakha yang masih tertidur pulas, dengan langkah pasti ia memasuki halaman rumah Kharisa dengan jantung berdebar yang tidak bisa dikondisikan. Namun hatinya penuh keyakinan ia akan mendapatkan restu papa Kharisa walau harus melewati proses yang menyakitkan.


bersambung


__ADS_2