
Matahari mulai beranjak naik memancarkan sinar yang terasa hangat di tubuh yang diterpa angin yang berhembus sedikit kencang. Dua insan yang baru dipertemukan kembali setelah berpisah selama lima tahun kini berada di tepi danau buatan yang begitu luas yang letaknya berada di dataran tinggi. Danau itu dikenal dengan waduk terbesar di Indonesia, selain fungsinya sebagai bendungan penampung air yang dimanfaatkan sebagai PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air), juga dimanfaatkan untuk irigasi, bahan baku air minum, budi daya perikanan, pengendali banjir, dan dimanfaatkan menjadi tempat wisata karena keindahan alamnya.
Dua insan itu tengah duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon kersen yang begitu rindang, memandang danau yang terhampar luas dengan riaknya karena terpaan angin. Mereka saling diam, belum ada yang memulai membuka pembicaraan, mungkin mereka tengah menata hatinya masing-masing. Bertemu kembali setelah berpisah sekian lama membuat mereka seperti orang asing yang baru saling kenal, walaupun di dalam hati mereka masih tersimpan rasa cinta yang mendalam juga kerinduan yang membuncah, namun kecanggungan dirasakan mereka berdua terutama dirasakan oleh Kharisa. Apalagi kini ia mulai memasang dinding penghalang setelah mengetahui laki-laki yang dinantinya telah bertunangan dengan wanita lain.
"Jadi untuk apa mengajaku ke tempat ini?" Terdengar suara lembut Kharisa memecah kesunyian. Rafael menoleh ke arahnya, kemudian menghela nafasnya.
"Aku ingin mendengar penjelasanmu tentang semuanya yang terjadi setelah aku berangkat ke Amerika." Ujar Rafael.
"Bukankah aku sudah bilang, tanyakan pada orang tuamu, terutama ibumu, mereka tau semuanya." Jawab Kharisa mengingatkan perkataannya beberapa hari yang lalu.
"Aku ingin mendengar penjelasan darimu." Ujar Rafael sambil melihat Kharisa yang tengah memandangi seseorang yang tengah memancing di atas rakit di tepi danau.
"Kenapa? Apa kamu tidak percaya dengan orang tuamu, apa kamu tidak yakin dengan yang diceritakan oleh mereka?" Tanya Kharisa , kini hatinya terasa perih, ingatannya akan perlakuan orang tua Rafael terutama ibunya kembali hadir, namun ia mencoba menghilangkan bayangan-bayangan itu.
"Aku ingin mendengar cerita menurut versimu."
"Apa menurutmu cerita versiku akan berbeda dengan versi orang tuamu?" Kharisa masih terua saja bertanya seolah menguji Rafael, terus terang Kharisa pun sebenarnya ingin tau apa yang dijelaskan oleh orang tuanya kepada Rafael, apa mereka tidak menceritakan yang sebenarnya?
"Please Risa aku ingin mendengar langsung penjelasan darimu." Rafael berusaha menahan diri agar tidak emosi, melihat Kharisa yang masih enggan untuk memberikan penjelasannya. Namun Kharisa masih diam seribu bahasa, entah apa yang dipikirkannya.
"Siapa Rakha? Siapa ayah kandungnya?" Tanya Rafael, rupanya ia tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya.
Sontak saja Kharisa terkejut mendengar Rafael menyebut Rakha. Ia menoleh dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Aku bertemu dengannya kemarin, di sekolahnya, bukankah ia sangat mirip denganku?" Kharisa masih diam, tak percaya kalau Rafael telah bertemu putranya.
"Dadynya sekolah kedokteran, jauh, sekolahnya lama, tidak bisa pulang. Itu yang dijelaskan momynya pada anak laki-laki yang saat melihat wajahnya mengingatkanku saat masa kecilku dulu."
Kharisa masih bergeming, terlihat kilatan cahaya di matanya yang makin lama kilatan itu menjadi genangan air yang coba ia tahan dengan mengerjapkan matanya sambil menengadahkan kepalanya.
"Kenapa aku merasa yang dimaksud Dadynya Rakha adalah aku? Apa dugaanku salah?" Tanya Rafael yang berharap Kharisa mau mengungkap kalau dugaannya adalah benar.
"Aku tidak tau apa yang dijelaskan oleh kedua orang tuamu, apakah yang sebenarnya atau entah orang tuamu mengarang cerita seperti apa." Ujar Karisa, ia semakin yakin kalau orang tua Rafael selama ini menyembunyikan kehamilannya dulu dan Rakha setelah dia lahir hingga Rafael tidak mengetahui tentang anaknya.
"Aku akan menceritakan semuanya, terserah nanti kamu mau percaya atau tidak, aku mohon kamu jangan memotongnya sampai aku selesai menceritakan semuanya."
"Ya aku akan mendengarkan, dan aku percaya padamu." Ujar Rafael
"Risa......" Ucap Rafael saat mendengar dari mulut Kharisa sendiri kalau Kharisa benar hamil.
"Jangan dulu memotong." Ujar Kharisa sambil melihat ke arah Rafael yang tengah menatapnya.
"Saat itu aku tidak percaya kalau aku hamil, tapi di layar monitor jelas ada janin di dalam rahimku. Perasaanku campur aduk, sedih, marah, takut, dan aku tidak terima kalau aku hamil. Aku meng hubungimu, tapi HPmu tidak aktif, mungkin kamu belum sampai atau nomor lamamu memang tidak diaktifkan, yang jelas aku begitu takut kamu tidak mau bertanggung jawab. Hingga esok harinya saat Papaku pulang Mama memberitau kondisiku dan Papa sangat marah, ia mengajaku mendatangi rumahmu, dan aku tidak tau dimana rumahmu. Beruntung aku masih ingat nama ayahmu, sahabat Mama yang dokter itu juga mengenal ayahmu, dan memberitahu alamat rumahmu." Kharisa menghela nafasnya, kemudian melanjutkan lagi ceritanya.
"Sore itu aku Mama dan Papa mendatangi rumahmu, dan kami bertemu dengan ayah ibumu. Ppa menjelaskan kehamilanku dan meminta pertanggungjawaban atas apa yang terjadi padaku. Aku ingat, waktu itu ayahmu begitu tenang, ia tidak banyak bertanya, ia hanya bilang sebagai bentuk tanggung jawabnya ia memintaku untuk datang ke rumah sakit untuk menggugurkan janin di rahimku. Ia bilang aku dan kamu masih terlalu muda kalau sampai harus menikah. Aku harus melanjutkan sekolahku, begitu juga kamu. Akhirnya Papaku setuju dengan saran ayahmu. untuk menggugurkan janinku, tapibtidak dengan Mamaku, ia tidak setuju bahkan menentangnya." Kharisa diam sejenak, pikirannya menerawang ke masa itu, dimana ia pun setuju untuk menggugurkan janinya, ia tidak mau hamil, ia belum siap untuk punya anak, ia masih ingin sekolah, melanjutkan kuliah, meraih mimpinya yang mungkin tidak akan terwujud kalau ia mempertahankan kehamilannya, itu yang ada di pikirannya saat itu. Sementara Rafael diam membeku dengan wajah merah memendam kemarahan, entah marah kepada siapa, mungkin kepada orang tuanya atau kepada dirinya sendiri yang begitu bodohnya sampai tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Kharisa karena ulahnya.
"Papa meminta Mama membawaku ke rumah sakit untuk mengikuti saran ayah kamu, tapi mama tidak melakukannya. Mama tidak ingin aku menjadi pembunuh, pembunuh darah dagingku sendiri, Mama juga tidak ingin aku melakukan kesalahan, dosa besar untuk kedua kalinya dan Mama juga tidak ingin kami hidup dalam penyesalan, hingga Mama membawaku pergi meninggalkan Papa." Kharisa menjeda sesaat, matanya mulai berkaca-kaca, dadanya terasa sakit. Ya berpisah dengan papanya adalah hal yang sangat menyakitkan, walaupun papanya marah, kecewa tapi ia yakin Papanya sangat menyayanginya dan ia sangat menyayangi papanya. Ia pun merasa bersalah karenanya Mamanya harus berpisah dengan suami yang dicintainya. Tak terasa pipinya pun basah dengan air mata yang tidak bisa dibendungnya.
__ADS_1
"Risa......." Rafael tidak tahan melihat Kharisa yang berlinang air mata, ia merasakan bagaimana kesedihan, penderitaan yang dirasakan Kharisa karena ulahnya. Ya itu karena ulahnya dan karena perlakuan kedua orang tuanya. Hatinya pun ikut merasakan sakit. Ia mengulurkan tangannya untuk mengeringkan pipi Kharisa yang basah, namun Kharisa lebih dulu menepisnya.
"Risa....maafkan aku." Rafael sudah tidak tahan melihat kesedihan wanita yang dicintainya, ia benar-benar merasa bersalah. Dan kini ia sangat yakin kalau Rakha adalah putranya, darah dagingnya, ya dia adalah dadynya Rakha.
"Biarkan aku selesaikan dulu ceritaku." Ujar Kharisa sambil menyeka air matanya.
"Aku, Mama dan Bi Nani tinggal di sebuah desa di Garut perbatasan dengan Bandung, kami tinggal di rumah kakak ipar Mama di lingkungan pondok pesantren. Rumah itu kosong, hanya ditempati saat berlibur. Aku tidak melanjutkan sekolah SMAku, waktu itu aku sudah tidak berniat meraih impianku. Dengan kehamilanku saja aku sudah merasa hancur, tapi Mama dengan sabar menguatkanku hingga akhirnya aku menerima kehamilanku. Mama bilang setelah lahir anaku akan menjadi penyemangatku, menjadi penghiburku, lambat laun aku pun menyayangi janin di dalam kandunganku." Kini wajah Kharisa terlihat berseri, mengingat masa-masa saat ia hamil, bersyukur ia tidak mengikuti keinginan papanya untuk menggugurkan janinnya. Benar kata mamanya kalau ia melakukan itu, mungkin sekarang ia hidup dalam penyesalan, dan dalam lumuran dosa tentunya, dosa seorang pembunuh.
"Kamu tau, di desa yang jauh dari keramaian itu, aku terus berharap bisa menghubungimu, walaupun aku sendiri tidak tau bagaimana caranya bisa menghubungimu. Oh ya HP lamaku tertinggal di rumah saat aku pergi meninggalkan Papa, dan disana jaringan internet sangat terbatas."
"Aku berharap bisa menemuimu atau kamu datang menemuiku sebelum janin di rahimku lahir, aku tidak ingin dia lahir tanpa seorang ayah, tapi sampai waktu mendekati hari persalinanku aku masih belum bisa menghubungimu. Aku sedih, kecewa, menyesali diriku sendiri, bagaimana jadinya kalau anaku lahir tanpa seorang ayah. Beruntung saat itu ada seseorang yang selalu, menguatkanku, menyemangatiku, hingga aku bisa tegar melahirkan anakku walaupun tanpa ayahnya di sisi kami." Kharisa tersenyum mengingat seseorang yang selama ini selalu ada di sampingnya, memberi dukungan di saat ia terpuruk, memberi semangat disaat ia lemah, memberi kekuatan hingga ia bisa berdiri kuat menjalani pahitnya hidup namun kini terasa manis dengan kehadirannya dan putranya.
Ddrrtt....ddrrrttt....
Terdengar nada sambung telpon dan terasa getaran HP dari dalam tas Kharisa yang ada di pangkuannya. Ia mengambilnya dan terlihat panggilan telpon di layar HPnya, senyumnya pun mengembang saat membaca nama seseorang yang menghubunginya.
Sepertinya nyambung, seperti ada hubungan batin yang kuat antara ia dan dia.
bersambung
Gpp pendek yah, yang penting up biar gak pada penasaran. Jangan bilang gantung lagi yah, ini bukan jemuranπππ
Jangan lupa like, komennya, hadiahnya jg dongπ€
__ADS_1
Makasih yah.πππ