Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
It's Just a Surprise


__ADS_3

"Dady.....bangun." Rakha menggoyang-goyangkan tubuh dadynya berharap dadynya segera bangun.


"Dady bangun, sudah subuh." Rakha memang terbiasa bangun subuh, kadang dibangunkan momynya, kadang bangun sendiri. Tadi ia terbangun karena suara adzan yang begitu keras terdengar, rumah Rafael memang dekat masjid besar milik sebuah yayasan pendidikan yang hanya terhalang oleh dua rumah.


Rafael membuka matanya dan melihat putranya tengah duduk dihadapannya.


"Sudah bangun?" Ujarnya dengan suara seraknya khas bangun tidur.


Ia meraih HP yang disimpan di atas nakas di samping tempat tidurnya. Ia memicingkan matanya melihat jam yang menunjukan pukul 04.35


"Ini masih pagi Boy." Rafael malah meraih tubuh Rakha ke dalam dekapannya dan menejamkan matanya kembali.


"Dady ayo bangun, kita solat subuh, antel aku ke kamal mandi, aku mau pipis." Rakha menggerakan tubuhny melepaskan diri dari dekapan dadynya. Rupanya Rakha tidak berani ke kamar mandi sendiri, padahal kamar mandinya ada di dalam kamar, mungkin karena ia masih merasa asing di kamar dadynya itu.


Rafael membuka matanya kembali dan beranjak turun dari tempat tidur, ia memaksakan diri untuk bangun, mendengar ucapan putranya mau pipis dan mengajak sholat subuh, seolah diingatkan kalau ia harus memberikan contoh yang baik untuk putranya. Rakha telah dididik oleh Kharisa taat menjalankan ibadah, jangan sampai ia malah merusaknya, sejujurnya ia pun malu pada durinya sendiri yang belum memiliki kesadaran untuk taat menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, sampai saat ini sholatnya masih bolong-bolong, padahal ia sudah bertekad untuk memperbaiki shalatnya, namun rasa malas dan kesibukan membuatnya lupa akan kewajiban, membuatnya lalai melaksanakannya. Saat bersama Rakha mau tidak mau ia rajin melaksanakan shalat, dan Rakha yang sering mengingatkan saat waktu shalat tiba, tentu saja malu kalau ia tidak shalat sementara jagoan kecilnya dengan kesadaran sendiri melaksanakan shalat.


"Dady ayo ketemu Momy, aku kangen Momy." Rakha mulai merengek lagi setelah selesai shalat subuh. Sejak kemarin ia sama sekali tidak melihat wajah momynya, tentu saja membuatnya merindukan momy yang tidak pernah jauh darinya. Biasanya kalau berjauhan mereka pasti vidio call, tapi sejak kemarin Dadynya tidak mengijinkannya dengan alasan inging memberikan kejutan pada monynya saat nanti menjemputnya.


"Momy masih ada kegiatan sampai nanti siang, jadi kita ketemu Momynya nanti siang sekalian jemput Momy pulang, pasti Momy kaget dijemput sama Rakha, tapi pasti seneng juga. Makanya kita jangan telpon Momy dulu biar Momy gak tau kalau Rakha akan menjemputnya, kita buat kejutan untuk Momy, okey." Akhirnya Rakha menganggukan kepalanya, mulai paham misi yang akan dijalankan dengan Dadynya, memberi kejutan buat momynya saat nanti menjemputnya. Ya anak kecil memang polos, Rakha dengan mudah percaya dengan ucapan dadynya, walaupun sebenarnya ada alasan lain ia tidak diijinkan menghubungi Momynya.


"Dady mau ngajak Rakha jalan-jalan ke Monas sambil olah raga, mau ikut gak?"


"Monas yang di atasnya ada emasnya ya Dady?" Tanya Rakha dengan mata berbinar.


"Rakha sudah pernah lihat monas?" Tanya Rafael, ia berharap Rakha belum pernah kesana, dan ia yang pertama kali mengajaknya melihat monas.


"Aku udah pelnah ke Monas sama Momy, sama Om Isal, Aki, sama Enin. Naik ke atas, naik apa namanya....aku lupa."


"Naik lift?" Wajah Rafael terlihat kecewa mendengar ternyata putranya pernah ke Monas, bersama laki-laki yang dianggap rivalnya lagi.


"Ya itu, naik lifff." Jawab Rakha senang, rupanya ia teringat saat ia berada di Monas, bisa naik ke tempat tinggi merupakan pengalaman yang menyenangkan baginya, walaupun tidak ada permainan anak-anak di dalamnya.


"Sekarang kita jalan-jalan di luarnya saja, Rakha bisa main scooter sambil temani Dady joging, okey."


"Yeeeahh...mau Dady, aku mau main scootel." Sorak Rakha gembira, kemarin ia dibelikan scooter oleh dadynya, dan sekarang jadi tidak sabar ingin mencobanya.


"Ayo Dady kita pelgi sekalang." Rakha menarik tangan Dadynya.


"Hey...ganti baju dulu, masa pakai baju tidur." Rafael mengambil satu stel baju yang kemarin dibelinya, tak apa-apa belum dicuci juga.


"Belum mandi aja udah cakep gini jagoan Dady, pakai topi yah." Rafael memasangkan topi di kepala putranya


"Cakep kaya Dady yah? Kata Bu gulu sama temen aku, aku milip sama Dady, makanya lombanya jadi juala satu." Rakha jadi ingat ia mendapat juara lomba mirip ayah. Rafael mengembangkan senyumnya, bangga disebut cakep oleh putranya. Anak kecil pasti jujur gak mungkin bohong kan?


Setelah siap, Rafael membawa Rakha menuju Monas, sebelumnya mereka hanya sarapan roti oles cream cheese kesukaan mereka dan segelas susu, ayah dan anak itu memiliki selera yang sama, sama-sama penggemar keju. Opa dan omanya belum terlihat keluar kamar, hari libur seperti ini mereka biasa bangun lewat pukul enam, melewatkan shalat subuh tentunya, kalah oleh cucunya yang dengan sadar sendiri melaksanakan ibadah shalat walau usianya jauh dari baligh.

__ADS_1


*****


Di kamar hotel Kharisa terlihat gelisah, setelah shalat subuh ia menghubungi Rafael tapi panggilannya tidak dijawab, seperti kemarin. Apa ia masih tidur? Tapi Rakha pasti sudah bangun. Setengah jam kemudian setelah mandi ia menghubungi Rafael lagi, tapi masih saja panggilannya diabaikan. Kemana sebenarnya Rafael, bagaimana kabar Rakha? Apa ia tidak merindukan momynya? Wajah Kharisa terlihat sedih, begini rasanya berjauhan dengan putranya walau hanya satu hari tanpa tau kabarnya. Ia jadi kesal dengan Rafael, kenapa dia seenaknya saja membawa Rakha menginap tanpa ijinnya, ia jadi berpikiran negatif, bagaimana kalau ternyata Rafael membawa Rakha pergi jauh, karena Rafael ingin terus bersama Rakha, ke luar negri misalnya agar ia tidak bisa menemukanya? Tidak mungkin Rafael berbuat seperti itu, apalagi membawa Rakha ke luar negri, Rakha belum punya paspor, jadi tidak mungkin. Kharisa menggelengkan kepalanya. Tapi pikirannya terus menerawang membayangkan kalau ia tidak bisa bertemu lagi dengan Rakha, bisa saja Rafael dengan bantuan keluarganya membawa Rakha pergi jauh karena ingin memiliki Rakha seutuhnya, hingga terpikirkan bagaimana kalau Rafael meminta hak asuh terhadap Rakha, Rafael bisa saja nekat dengan alasan Kharisa menolak hidup bersama lalu ia menuntut hak asuh Rakha. Ia menggelengkan kepalanya, kini dengan genangan air di kedua matanya.


Sikap Kharisa tak luput dari perhatian Mila, teman sekamarnya yang sejak tadi memperhatikannya.


"Kharisa , kamu kenapa?"


"Ada sesuatu terjadi dengan keluargamu?" Mila menduga Kharisa mendapat berita yang kurang baik dari kekuarganya yang membuatnya sedih, sejak tadi memegang HPnya.


"E..eh....aku gak apa-apa..." Kharisa tersadar dari lamunannya. "A Aku sedang menunggu kabar dari saudaraku, belum bisa dihubungi." ujarnya sedikit berbohong, tidak mungkin ia jujur mengatakan menunggu kabar putranya, atau menunggu kabar dari Rafael. Ah jangan-jangan Mila kenal dengan Rafael, yang Kharisa dengar Rafael pernah beberapa bulan di rumah sakit pusat, mila pasti tau Rafael.


"Syukurlah, aku pikir terjadi sesuatu dengan keluargamu, kamu terlihat sedih gitu." Mila memang tipe teman yang perhatian, sejak check in kamar kemarin siang ia bersikap ramah dan menyapa lebih dulu kepada Kharisa. Kharisa pun merasa nyaman sekamar dengan Mila, begitu pun Mila nyaman dengan Kharisa, mereka terlihat akrab walau baru saling mengenal.


"Mau sarapan sekarang atau nanti sekalian turun? Aku sudah buatkan teh manis hangat untuk kamu, kamu suka teh manis gak?" ujar Mila sambil membereskan baju kotornya ke dalam travel bagnya. Kharisa sendiri sudah merapihkan baju dan barang-barangnya. Pukul satu siang nanti mereka harus check out kamar.


"Aduh Mil makasih banyak, jadi kamu yang repot." Mila mengambil tehnya di cangkir lalu duduk di sofa sambil menyesap teh buatan Mila.


" Gak repot lah, sekalian, aku biasa minum teh tiap pagi." Ujar Mila. "Kamu kelihatannya dekat dengan Pak Andre, Pak Andre pun kelihatan perhatian sama kamu." ujarnya lagi.


"Yah memang dekat, Pa Andre tuh dekat dan perhatian sama semua stafnya, emang baik orangnya, asal jangan buat dia kesal saja, dia paling gak suka sama yang lelet, dan cari muka." Jawab Kharisa jujur. Tapi kemarin Kharisa juga merasa Andre begitu perhatian padanya, setelah Kharisa ketemu papanya, mungkin karena ia melihat langsung Kharisa menangis, atau mungkin karena Kharisa ibu dari anak sepupunya.


"Tapi kamu gak ada hubungan khusus dengan Pak Andre kan?" Selidik Mila, ia terlihat seperti yang penasaran.


"Gak lah, kenapa kamu sampai berpikir seperti itu? Hubunganku dengan Pak Andre hanya sebatas atasan dan bawahan." Jelas Kharisa, walaupun sebenarnya Andre sering menunjukan perhatian lebih pada Kharisa dibanding kepada yang lain, apalagi kalau di depan Meita, seolah menunjukan ada sesuatu di antara mereka, tapi Kharisa yakin itu hanya iseng saja, agar Meita tidak mendekatinya.


"Benarkah? Pak Andre gak pernah bilang, sepertinya di tempat kami taunya Pa Andre itu single belum punya pacar." Ini baru hot news, pikir Kharisa. "Pasti banyak yang kecewa nih kalau dikasih tau Pak Andre sudah punya pacar." Kharisa terkekeh membanyangkan siapa saja yang akan kecewa kalau tau berita ini.


"Pak Andre pasti banyak yang suka, selain ganteng dia orangnya humble, beda banget sama sepupunya, anaknya owner rumah sakit, kamu pasti tau dokter Rafael kan? Dia orangnya cool, susah dideketin, jaim banget, tapi gak sombong sih. Eh tapi itu hanya berlaku bagi cewek, kalau sama cowok dia mudah akrab. Isu yang beredar dokter Rafael cinta mati sama pacar pertamanya, makanya susah dideketin cewek, tapi sayang pacarnya malah pergi ninggalin, gak kuat LDRan kali. Hadeeuuuh bodoh banget tu pacarnya ninggalin dokter secakep itu, udah kaya, pinter, setia lagi, nyesel tuh pasti cewek udah ninggalin dokter Rafael. Kalau aku jadi ceweknya pasti aku tempelin terus biar gak direbut cewek lain....."


"Uhk.....uhk....uhk." Kharisa sampai tersedak teh yang disesapnya mendengar celotehan Mila.


"Eh...pelan-pelan Kharisa minumnya, sampai tersedak gitu." Mila menepuk-nepuk punggung Kharisa yang duduk di sebelahnya.


"Eh..jangan-jangan kamu naksir dokter Rafael yah, sampai tersedak gitu dengar aku cerita dokter Rafael." Selidik Mila. Gimana tidak tersedak, yang sedang diceritakan Mila itu adalah laki-laki yang sangat dikenalnya yang telah menitipkan buah cintanya, dan cewek yang dimaksud Mila cinta pertama Rafael, itu pasti dirinya.


" Ish nggak lah...." Jawab Kharisa buru-buru. Entah kenapa hatinya berdesir, bukan naksir lagi, tapi perasaan cinta dihatinya masih cukup besar untuk Rafael, ayah dari putranya, tapi sayangnya ia harus memendamnya.


"Tapi kamu pantas kok kalau jadi pacar dokter Rafael, kamu cantik, menarik, cocok bersanding dengan dokter cool itu. Oh...atau jangan-jangan dokter Rafael naksir kamu yah. Kalian pasti sering ketemu dan saling kenal kan?" Cecar Mila dengan semangatnya.


"Gak lah Mil, Rafael...mmmm maksudnya dokter Rafael itu sudah bertunangan." Ujar Kharisa, ada perasaan sakit di hatinya saat mengucapkan kalimat itu.


"Haaah....sudah bertunangan, yang benar?" Mila terlihat kaget mendengarnya.


"Namanya Vania, ia staff keuangan di rumah sakit tempat kami, putrinya salah satu pemegang saham juga" Jelas Kharisa dengan perasaan kecewa di hatinya. Rasa kecewa pasti dirasakan olehnya, namun ia selalu menguatkan hatinya, untuk menerima takdirnya kalau ia tidak bisa bersama Rafael. Ingat Rafael sudah bertunangan dengan Vania, jangan kau hancurkan hubungan mereka. Itu yang kini ditanamkan dihatinya.

__ADS_1


"Yaaahh....penonton kecewa." Terlihat kekecewaan di wajah Mila, jangan-jangan Mila yang naksir Rafael, diam-diam mencintai Rafael, bisa jadi, cinta yang terpendam.


"Eh kita ke bawah sekarang, keenakan ngobrol jadi sampai lupa sudah jam tujuh, sudah waktunya untuk sarapan." Ujar Kharisa. Mereka berdua pun turun ke resto untuk sarapan dan melanjutkan sesi selanjutnya yang tak kalah menarik bagi Kharisa.


Tepat pukul setengah dua belas acara Meet and Great telah selesai. Di hari terakhir banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan dari sharing antar staf marketing yang sangat berarti bagi Kharisa yang baru saja masuk dunia marketing. Setelah acara makan siang, seluruh peserta kembali ke kamar untuk membawa barang-barangnya, jam satu siang mereka barus sudah check out.


" Kharisa nanti kamu tunggu di lobi yah." Kharisa mendapatkan pesan WA dari Andre. Rencananya Kharisa akan ikut pulang dengan Andre, tentu saja dengan Zaki juga. Ia pun menunggu Andre dan Zaki di lobi, duduk di sofa yang mengarah ke pintu masuk hotel, satu persatu para peserta dan panitia meninggalkan hotel, ada yang pulang sendiri, ada yang dijemput keluarganya. Kharisa mengedarkan pandangan di lobi, mencari keberadaan Andre dan Zaki yang belum terlihat juga, padahal waktu sudah menunjukan pukul setengah dua.


Kharisa mulai gelisah, tidak mungkin kan ia ditinggal, jelas-jelas tadi pesan Andre dia disuruh nunggu di lobi, tapi kenapa Andre malah tidak kelihatan, apa ia lupa. Peserta lain dan panitia sudah tidak ada seorang pun di hotel itu. Ia menghubungi Andre tapi nomornya tidak aktif, ia menghubungi Zaki, sama tidak aktif juga, masa iya HP keduanya lowbath.


Kemana bosnya dan temannya itu, kenapa sama-sama tidak bisa dihubungi? Ia jadi kesal, perasaan dari kemarin ia dibuat kesal karena tidak bisa menghubungi seseorang, sekarang juga begitu. Kelewatan kalau ia benar-benar ditinggal, ia tidak tau harus pulang naik apa? Di Jakarta dulu ia tidak pernah menggunakan kendaraan umum. Ia pun mulai googling mencari info jalur kendaraan umum yang bisa membawanya pulang ke rumah. Saat ia fokus mencari info, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tidak asing baginya memanggilnya.


"Momy......." Seorang anak kecil berlari menghampirinya.


"Rakha......" Tentu saja Kharisa terkejut melihat putranya ada di hadapannya, ini benar Rakha kan? Tidak jauh di belakang Rakha berdiri seirang laki-laki menggunakan kaos polo warna putih dipadukan dengan celana panjang bluejeans, tengah menatapnya dengan senyum di bibirnya. Laki-laki itu yang membuatnya kesal daei kemarin karena tidak bisa dihubungi.


"Momy...I miss you." Rakha berhambur memeluk momynya, Kharisa pun berjongkok membalas pelukan Rakha, menciumnya, lalu memeluknya lagi dengan erat seolah tak ingin melepaskan, ia takut berpisah dengan Rakha, tak terasa air matanya pun menetes di pipinya.


Setelah puas memeluk putranya, ia mengajak Rakha duduk di sofa.


"Kenapa Rakha bisa ada di sini hmm?"


"Aku sama Dady mau jemput Momy, mau ngasih kejutan sama Momy." Rakha terlihat girang, rupanya ia tau kalau momynya memang terkejut melihatnya ada di sini, berarti misinya berhasil.


"Ah Momy dari kemarin inget Rakha terus, Rakha gak kenapa-kenapa kan?"


"Aku gak apa-apa momy, aku gak nakal, aku gak rewel." Jawab Rakha membuat Kharisa ingin memeluknya lagi. Rafael duduk di sofa di depan Kharisa masih dengan senyum di bibirnya, sepertinya ia puas bisa ngerjain Kharisa dari kemarin tidak menjawab panggilan telponya.


"El, please jangan lakukan ini sama aku, aku gak bisa jauh dari Rakha, aku sangat mengkhawatirkan Rakha." Kharisa menunjukan wajah kecewa di depan Rafael.


"Jangan jauhkan aku dari Rakha, kenapa kamu susah dihubungi? kamu membuatku khawatir, kamu ingin aku jauh dari Rakha gitu?" Nada Kharisa terdengar tinggi, Rafael pun segera mengklarifikasi.


"Aku gak bermaksud seperti itu Sa, aku dan Rakha hanya ingin ngasih kejutan buat kamu, dengan menjemputmu." Jelas Rafael


"It's just a surprise."


" Tapi gak perlu seperti ini, kamu gak ngerasain gimana khawatirnya aku sama Rakha." Kini mata Kharisa mulai basah, ia benar-benar kesal dengan Rafael, pasti ia juga yang meminta Andre meninggalkannya tanpa memberitahu dulu.


"Ok, I'm sorry."


"Momy, jangan malah sama Dady, Dady sama aku cuma mau ngasih kejutan buat Momy." Rupanya Rakha tau kalau Kharisa kesal sama dadynya.


"Iya , momy gak marah." Kharisa mengecup pucuk kepala putranya.


"Ya udah ayo kita pulang, atau mau nginap semalam lagi di sini?" Canda Rafael. Namun Kharisa malah memasang wajah cemberut tanpa memperdulikan Rafael. Ia mengambil travel bagnya, menuntun Rakha menuju pintu keluar hotel. Rafael pun mengikutinya dengan perasaan was was, ia tau Kharisa sedang marah padanya.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2