Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Berita Bahagia


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu setelah Kharisa diduga hamil tapi ternyata hasil pemeriksaan testpacknya negatif. Kharisa menolak untuk dilakukan pemeriksaan di rumah sakit karena masih terlalu dini kalau menduga ia hamil, toh terlambat menstruasinya juga baru beberapa hari, dan keluhan mualnya juga tidak dirasakan lagi, hanya kadang-kadang pusingnya masih dirasakan, mungkin karena kurang istirahat pikirnya.


Bagaimana tidak kurang istirahat, hampir setiap malam Rafael selalu minta jatah seolah tidak ada kata lelah dan bosan, hingga datang tamu bulanan Kharisa walau hanya tiga hari mau tidak mau Rafael harus berpuasa.


Dan pagi ini saat tengah menyiapkan sarapan, Kharisa merasakan sepertinya tamu bulanannya datang lagi, padahal baru dua minggu yang lalu tamu bulanannya datang. Setelah menyiapkan sandwich untuk suami dan putranya ia menuju kamar mandi, dan benar saja tamu bulanannya datang lagi, bukan lagi flek tapi darah yang lumayan banyak, pantas saja ia merasa tidak nyaman. Ia segera ke kamarnya mengambil pembalut, kemudian masuk lagi ke kamar mandi.


Rupanya Rafael yang tengah menemani Rakha memasang lego di ruang tengah melihat Kharisa yang bulak balik masuk kamar mandi.


"Mommy kenapa bulak balik ke kamar mandi? Sakit perut ?" Tanya Rafael saat Kharisa keluar dari kamar mandi. Kharisa menggelengkan kepalanya.


"Nggak.....tamu bulananku datang lagi." Ujar Kharisa sambil berlalu menuju meja makan.


"Daddy, Rakha....sarapannya sudah siap." Sekarang Kharisa memanggil Rafael dengan panggilan Daddy, sesuai permintaan Rafael tidak mau dipanggil dengan panggilan namanya. Panggilan 'daddy' lebih baik menurut Kharisa dari pada ia harus memanggil Rafael 'honey', 'hubby', sesuai permintaan Rafael rasanya terlalu lebay bagi Kharisa. Rafael pun tidak membantah, toh ia juga memanggil Kharisa 'mommy' ditambah panggilan 'sayang'.


Rafael dan Rakha menuju meja makan, mereka menikmati sarapan mereka dengan tenang. Selesai sarapan Rafael langsung bersiap untuk berangkat kerja, sebelumnya mengantar Rakha ke sekolah. Seperti biasa Rafael akan meminta bantuan Kharisa untuk memasang dasinya, yang sebenarnya malas ia pakai, karena hari ini ada meeting dengan tim pembimbing akreditasi rumah sakit, Rafael harus memakainya, kalau tidak Om direktur akan menegurnya.


"Untung tadi malam aku sudah ngecharge dulu." Ujar Rafael tiba-tiba saat Kharisa memasangkan dasinya. Kharisa mengernyit, bukankah biasanya juga Rafael selalu mencharge HPnya setiap malam? Tanya Kharisa dalam hatinya.


"Kalau tidak aku bakalan pusing, harus puasa lagi, menunggu tiga hari saja rasanya gak kuat." Ujar Rafael lagi.


"Daddy ngomong apa sih?" Kharisa terlihat bingung mendengar ucapan Rafael.


"Tamu bulananmu sayang, kenapa cepat sekali datangnya, bukankah baru minggu kemarin?" Jawab Rafael sambil merapihkan rambut Kharisa ke belakang telinga. Kharisa mulai paham dengan ucapan Rafael tadi, ternyata bukan ngecharge HP, tapi semalam Rafael meminta jatahnya, katanya biar semangat menjalani meeting yang pasti akan berjalan sampai sore hari. Kharisa jadi senyum sendiri, dasar Rafael, batinnya.


"Kenapa mommy senyum-senyum begitu?"


"Nggak.....tadi aku pikir Daddy ngecharge HP, ternyata....." Kharisa terkekeh sendiri.


"Sudah." Kharisa selesai memasangkan dasi Rafael.


"Dan mommy suka kan yang tadi malam? Sampai berapa kali men.....aww" Belum selesai ucapan Rafael, Kharisa langsung mencubit pinggang Rafael.


"Gak usah di bahas....udah sana berangkat." Kharisa membalikan tubuhnya, tidak ingin wajahnya yang merona karena malu dilihat suaminya. Namun Rafael malah menarik pinggangnya.


"Tapi kita harus puasa lagi yah?" ujarnya.


"Iya Daddy harus puasa satu minggu. Gak tau kenapa sekarang menstruasinya jadi gak beraturan begini, kemarin telatnya hampir satu minggu, sekarang lebih cepat dua minggu, mana banyak lagi darahnya sampai ada gumpalan kecil-kecil, biasanya hari pertama ngeflek dulu, baru hari ke dua ke tiga banyak." Jelas Kharisa yang merasa menstruasinya kali ini berbeda dari biasanya.


"Darahnya banyak...?" Tanya Rafael mulai curiga. Kharisa menganggukan kepalanya.


"Harusnya sekarang bukan jadwal menstruasi kan?" Tanyanya lagi, Kharisa pun menganggukan kepalanya lagi sebagai jawaban.


"Jangan-jangan Mommy hamil dan......" Rafael tidak melanjutkan ucapannya, tidak ingin membuat Kharisa khawatir. Dugaannya Kharisa mengalami perdarahan, bisa jadi karena aktifitas tadi malam yang terlalu bersemangat membuat rahim Kharisa terguncang. Wajahnya kini terlihat cemas.


"Aku hamil? Dan....kenapa?" Tanya Kharisa heran melihat perubahan ekspresi Rafael yang berubah.


"Mommy ikut ke rumah sakit yah, kita periksa ke dokter obgyn."


"Tapi....masa aku hamil? Aku kan...."


"Udah mommy siap-siap, pokoknya ikut ke rumah sakit. Eh biar aku yang ambil baju gantinya, Mommy duduk saja di sini." Kharisa menuruti perintah Rafael walau merasa heran dengan sikap suaminya. Apa benar ia hamil? Tapi kenapa menstruasi juga?


"Daddy....ayo belangkat, kenapa lama sekali?" Rakha yang sudah siap untuk berangkat sekolah kini masuk ke kamar orang tuanya. Rupanya ia bosan menunggu di teras, karena merasa sudah lama menunggu daddynya, akhirnya ia menyusulnya ke kamar.


"Wait a minute Boy.....Kita tunggu Mommy sebentar, lagi siap-siap."

__ADS_1


"Mommy ikut antal aku sekolah? Yeaaahh...aku diantal Mommy dan Daddy." Sorak Rakha riang, Kharisa yang tengah memasang hijabnya tersenyum melihat tingkah putranya dari cermin.


"Ayo kita tunggu di luar." Rafael mengajak putranya ke luar kamar.


Setelah mengantar Rakha ke sekolah, Rafael langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Di dalam mobil Kharisa hanya diam memandangi jalanan di depannya. Ternyata ada yang dipikirkannya, selain dugaan Rafael kalau ia hamil, ia juga memikirkan bagaimana saat ia berada di rumah sakit, Ada kekhawatiran saat bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya, apakah mereka berpikiran negatif tentangnya?


Setelah ia resign ia belum pernah menginjakan kaki lagi di rumah sakit, dan terakhir bertemu dengan beberapa karyawan rumah sakit adalah saat resepsi pernikahannya. Dan sekarang ia menginjakan kakinya kembali di tempat yang memberikan pengalaman yang berharga untuknya. Beberapa karyawan yang bertemu dengannya menyapanya dengan ramah, tentu saja ini di luar perkiraannya. Mungkin saja karena di sisinya ada Rafael, batinnya. Tapi ia tidak mau berpikiran negatif, semoga saja senyum mereka tulus. Sayangnya ia tidak bertemu dengan temannya dari divisi marketing.


Rafael langsung mengajak Kharisa ke ruang poliklinik Obgyn, ternyata sudah ada dokter Rika di sana, dokter spesialis kandungan yang bergabung sejak rumah sakit berdiri, ditemani seorang bidan sebagai asistennya. Rupanya Rafael sudah menghubungi dokter Rika untuk memintanya memeriksa istrinya. Tentu saja dokter Rikha tidak bisa menolak permintaan bosnya. Untung saja dokter Rika terbiasa datang pagi untuk mengecek kondisi pasien rawat inap sebelum praktek di poliklinik.


"Wah mbak Kharisa apa kabar? Silahkan duduk" Sapa dokter Rika yang memang sudah mengenal Kharisa, dulu Kharisa sering mendatangi dokter Rika untuk konfirmasi pasien rujukan dari bidan luar.


"Alhamdulillah baik dok." Jawab Kharisa ramah.


Dokter Rika pun mulai melakukan anamnesa, menanyakan keluhan juga alasan Kharisa mendatanginya. Kharisa pun menjelaskannya hingga menstruasinya yang kemarin tidak sesuai dengan biasanya.


" Pada beberapa wanita hamil kadang mengalami flek atau bercak darah saat awal kehamilan,  biasa juga disebut sebagai pendarahan implantasi. Kondisi ini terjadi ketika telur yang dibuahi menempel pada lapisan rahim. Pembuahan akan bergerak menuju rahim menyebabkan gesekan pada dinding rahim sehingga menyebabkan perdarahan, hingga sering dipersepsikan sebagai menstruasi tapi biasanya tidak terlalu banyak. Nah bisa saja ini terjadi pada Mbak Kharisa." Jelas dokter Rika.


"Tapi waktu itu hasil testpacknya negatif dok dan saya pun tidak ada mengalami muntah-muntah seperti ibu hamil." Kharisa masih merasa belum yakin kalau ia hamil.


"Ya, pada awal kehamilan, kadar hormon HCG dalam urin belum terlalu banyak jadi mungkin tidak terdeteksi, tapi kalau di cek melalui pemeriksaan darah biasanya kadarnya sudah bisa terlihat lebih banyak dari pada saat kondisi tidak hamil." Jelas dokter Rika lagi.


"Waktu itu kan Mommy tidak mau ke rumah sakit untuk cek darah." Rafael mengingatkan saat Kharisa menolak di periksa ke rumah sakit, padahal ia menduga kalau Kharisa hamil.


"Ya karena waktu itu aku merasa terlambat menstruasinya baru beberapa hari, trus malah keluar walau cuma tiga hari." Jawab Kharisa membela diri.


"Trus ini gimana dok kalau aku ternyata hamil, jadi sekarang bukan menstruasi? Aku mengalami perdarahan?" Kini Kharisa terlihat cemas, tangannya tiba-tiba menjadi dingin. Bagaimana kalau benar ia mengalami perdarahan dan janinnya tidak bisa dipertahankan, ia akan merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya bahkan tidak bisa merasakan kalau di dalam rahimnya ada janin, Rafael yang melihat perubahan istrinya, langsung menggenggam tangan Kharisa, menenangkannya.


"Untuk memastikannya kita lihat melalui pemeriksaan USG. Silahkan Mbak Kharisa berbaring di sini." Dokter Rika menunjukan tempat berbaring Kharisa yang tidak jauh dari posisinya, disampingnya terdapat alat USG empat dimensi yang tergolong canggih yang sengaja disediakan oleh pihak rumah sakit.


Begitu pun dengan Kharisa, jantungnya berdebar lebih cepat, kedua matanya tidak ingin berkedip saat dokter Rika mulai menggerakan probe atau tranducer di area perutnya, dan dilayar TV mulai terlihat gambar yang belum terlalu jelas.


"Ini ada kantung kehamilannya."


Deg, jantung Kharisa berdenyut keras mendengar ucapan dokter Rika, benar dia hamil. Matanya mulai berkabut, genangan air mulai memenuhi kelopak matanya.


Ya Allah semoga janinku baik-baik saja. Doanya dalam hati.


Netranya tidak beralih dari gambar di layar TV yang ditunjukan dokter Rika dengan crusor yang digerakan melalui keyboard alat USG.


"Ini janinnya.......alhamdulillah masih bagus, ini jantungnya terlihat berdenyut, saya ukur dulu biar tau usia kehamilannya." Dokter Rika mulai mengukur janin melalui alat USG.


Sementara Rafael dan Kharisa saling berpandangan dengan mata berkaca-kaca. Lalu Rafael mengecup kening Kharisa begitu dalam. Beginikah rasanya mengetahui ada buah cinta di rahim wanita yang dicintainya, melihat langsung denyut jantung calon anaknya, ibarat melihat keajaiban untuk pertama kalinya, padahal bagi Rafael tentu ini bukan untuk yang pertama kalinya.


Tiba-tiba terdengar isakan Kharisa, sebuah tangisan kebahagiaan, ternyata tanpa disadarinya telah tumbuh janin di rahimnya. Dalam hatinya ia berjanji akan menjaganya dengan baik anugrah yang Allah berikan.


Berita kehamilan Kharisa langsung menyebar di lingkungan rumah sakit Setya Medika, begitu pun di keluarga besar Kharisa, karena Rafael langsung menghubungi maminya juga mama Kharisa untuk mengabarkan berita bahagia ini.


Sementara di sebuah ruang kantor dosen, Faisal ditemani dua rekan satu ruangannya tengah berkumpul di depan laptop milik Faisal. Rupanya mereka sedang menunggu email yag masuk. Hari ini adalah pengumuman hasil test masuk program S2 di salah satu perguruan tinggi di Jerman berikut program beasiswanya.


"Ini emailnya sudah ada." Dengan jantung berdebar Faisal membukanya.


"Bismillah....kamu pasti lulus Sal, aku ikut degdegan nih." Ujar salah satu rekan Faisal.


" Benar kamu lulus Sal, itu 'congratulation' tulisannya." Rekan Faisal langsung melihat tulisan ucapan selamat, sementara Faisal masih membaca informasi berbahasa Inggris itu dari atas.

__ADS_1


"Alhamdulillah.....ya Allah....Alhamdulillah." Faisal mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sambil terus mengucap rasa syukurnya setelah membaca kalimat kalau ia dinyatakan lulus.


"Selamat Sal....hebat kamu."


"Selamat Sal.....aku sudah menduga kalau kamu akan lulus." Kedua rekannya yang lebih senior mengucapkan selamat sambil merangkul bahu Faisal.


"Saya mau ngabarin ibu dan bapak dulu." Ujar Faisal sambil beranjak dari duduknya. Yang diingat pertama kali untuk diberi tahu kabar bahagia ini adalah orang tuanya. Faisal yakin keberhasilan yang diraihnya ini tak luput dari doa dan restu ibu dan bapaknya.


Setelah mengabari orang tuanya ia bergegas menuju ruang kantor guru besarnya yang selama ini banyak membantunya, siapa lagi kalau bukan Profesor Apandi. Profesor Apandi lah yang mengarahkan Faisal untuk mengajukan beasiswa S2 di Jerman, beliau benar-benar mensupport Faisal, sampai meminta putrinya untuk mengajarkan bahasa Jerman kepada Faisal.


Tentu saja Aini dengan senang hati mengajarkan Faisal bahasa Jerman, dengan begitu ia akan sering bertemu Faisal bahkan sering berinteraksi berdua walaupun di tempat umum.


Saat Faisal ke ruangan Profesor Apandi, ternyata Aini ada di sana. Aini memang menunggu ayahnya di ruang kerjanya karena janjian akan pulang bersama sekalian mau mampir menengok saudaranya yang sedang dirawat di rumah sakit.


"Assalamualaikum, maaf Prof saya minta waktunya sebentar, saya ingin menyampaikan kabar bahagia." Ujar Faisal dengan wajah berseri.


"Duduk dulu Sal." Ujar Prof. Apandi.


"Tidak usah Prof, saya hanya sebentar." Faisal tetap berdiri di depan meja Prof Apandi.


"Apa yang mau kamu sampaikan?"


"Saya lulus Prof, saya lulus dapat beasiswa ke Jerman." Jawab Faisal, senyumnya mengembang di bibirnya. Profesor Apandi yang tengah duduk di depan meja kerjanya langsung berdiri lalu menghampiri Faisal.


"Sudah kuduga kamu pasti lulus Sal, selamat." Prof Apandi menyalami Faisal lalu memeluk Faisal seperti memeluk putranya. Faisal memang dianggap seperti keluarganya, entah kenapa ia merasa cocok dengan Faisal, selain cerdas, rajin dan disiplin, Faisal juga sangat menghormatinya, dan terlihat tulus saat membantunya.


Aini yang tengah duduk di sofa di belakang Faisal ikut tersenyum bahagia mendengar kabar yang disampaikan laki-laki yang selama ini dikaguminya, namun tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sendu, saat ia membayangkan akan berjauhan dengan Faisal, mungkin tidak akan bertemu Faisal dalam waktu lama, mungkin juga tidak akan bertemu lagi, membayangkan itu hatinya terasa perih.


Malam harinya di kamarnya yang bernuansa warna putih dan abu, Aini berbaring di tempat tidurnya, namun tidak bisa tidur walau malam sudah semakin larut, hampir tengah malam. Ia berusaha memejamkan matanya, tapi pikirannya terus melayang memikirkan seseorang yang beberapa bulan lagi akan jauh darinya.


Akhirnya Aini bangun dari pembaringannya, menuju meja belajarnya. Ia mengambil sebuah kertas surat yang tersimpan di laci meja, kertas surat koleksinya yang masih tersimpan rapi bertahun-tahun lamanya.


Ia membulatkan hati untuk menuliskan ungkapan perasaannya dalam surat yang akan ia sampaikan kepada laki-laki yang selama ini bersemayam di hatinya.


bersambung


Assalamualaikum....


Hai readerku tersayang🤗


Maafkan ternyata cerita ini molor lagi dari waktu yang diperkirakan, Insya Allah dua episode lagi kisah Kharisa dan Rafael akan tamat. Setelah itu lanjut dengan kisah Fakhira dan Richan. Ini judul novelnya "Akhirnya Menikah"


Tapi belum Othor upgrade di NT/MT, mau dikumpulkan dulu sampai beberapa episode biar enak bacanya.


Sambil nunggu boleh dong mampir dulu di novel perdana Othor, judulnya "Akhirnya Cinta Itu Hadir", ada kisah Andika dan Karina, juga Mario dan Dita yang tak kalah menariknya dengan kisah Kharisa dan Rafael. Ditunggu yah.🤗


Oh ya Othor juga mau mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan, semoga diberikan kemudahan. Tadarus, taraweh dan ibadah lainnya bisa berjalan lancar hingga kita bisa meraih derajat takwa.


Sekian dari Othor.


Wassalam


Umi Haifa🤗😘😘


__ADS_1


__ADS_2