
Rafael melajukan mobilnya di jalan tol dengan kecepatan sesuai yang dianjurkan, tidak melebihi dari 100 KM/Jam walaupun jalanan terlihat lengang. Wajahnya terlihat berseri, sesekali senyum dikulum terbit di bibirnya. Tentu saja Kharisa yang duduk disampingnya melihat senyum itu merasa Rafael sedang menertawakannya.
"Kenapa senyum-senyum terus?" Tanyanya penuh selidik.
"Siapa yang senyum-senyum?" Rafael menetralkan wajahnya seolah sedang serius menyetir menatap jalanan.
"Kamu dari tadi senyum-senyum gitu, ngetawain aku yah?"
"Kamu merhatiin aku terus yah? Kenapa? Kangen yah mandangin wajah aku?" Rafael malah balik bertanya sekaligus menggodanya.
"Siapa yang mandangin kamu? Pas aku nengok kamu lagi senyum-senyum." Bantah Kharisa, memang dia tidak memandangi Rafael tapi beberapa kali menengok ke arahnya, karena merasa heran suasana di dalam mobil begitu senyap, biasanya Rafael akan banyak bicara,
ternyata suaminya malah tengah senyum-senyum sendiri entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas Kharisa merasa senyuman Rafael ada hubungan dengannya.
"Aku lagi bahagia, makanya senyum-senyum dari tadi."
"Awas saja kalau ngetawain aku." Gerutu Kharisa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu gak nanya apa yang membuatku bahagia sampai senyum-senyum?" Tanya Rafael sambil menoleh ke arah istrinya.
"Sudah tau." Jawab Kharisa datar.
"He...he...sejak kapan jadi cenayang, bisa tau gitu. Apa coba yang bikin aku bahagia?"
"Pasti karena pernikahan kita kan?"
"Itu udah pasti, tapi ada lagi yang membuatku bahagia, pokoknya membuatku hari ini jadi bersemangat, jadi mood booster banget buatku." Rafael mengembangkan senyum di bibirnya sambil melirik istrinya.
"Apaan?" Tanya Kharisa penasaran, apalagi yang membut Rafael sebahagia itu, bukankah impian untuk bersamanya dan Rakha itulah impian besarnya yang pasti membuatnya sangat bahagia.
"Yang tadi di kamar, sebelum kita keluar kamar." Jawab Rafael sambil nyengir. Langsung saja Kharisa membulatkan matanya, tangannya reflek memukul lengan Rafael yang tengah memegang setir membuat Rafael kaget.
"Iiihhh.....sebel......" Teriak Kharisa sambi terus memukuli lengan Rafael.
"Aduh....aduuuh....ampun, ampun." Ucap Rafael sambil terkekeh.
" Ampun deh, baru satu hari menikah sudah dapet KDRT." kekehnya lagi. Kharisa menghentikan pukulannya, memasang wajah cemberut.
"Kamu nyebelin." Ujarnya.
"Memangnya kamu gak seneng dengan apa yang kita lakukan tadi, bukannya kamu juga menikmatinya?" Goda Rafael, wajah Kharisa tampak merona, ia memalingkan wajahnya ke jendela di sebelah kirinya.
Mengingat kejadian tadi membuatnya malu, entah kenapa padahal mereka sudah sah menjadi suami istri, tapi Kharisa seperti gadis lugu yang baru pertama kali disentuh oleh laki-laki. Padahal dulu saat pacaran jaman SMA, saat ia belum paham batas pergaulan laki-laki dan perempuan, ia tidak menolak dan tidak malu-malu berciuman dengan Rafael, hingga ia terjerumus menyerahkan kehormatannya.
Tapi tadi sebelum mereka keluar kamar, saat Rakha asyik menonton film kartun kesukaannya di ruang tengah, Rafael menahannya untuk tidak keluar, bahkan mengunci pintu kamar tanpa sepengetahuan Kharisa.
Rafael langsung memagut bibirnya tanpa ijin terlebih dahulu, rupanya ia sudah tidak bisa menahan hasratnya untuk menyentuh bibir istrinya yang sejak kemarin begitu menggodanya, hingga saat ada kesempatan , Rafael tidak mau menyia-nyiakannya.
__ADS_1
Kharisa yang sempat menolak dengan mendorong tubuh Rafael tidak bisa berkutik karena tubuh Rafael lebih kokoh dan kedua tangannya mengunci kepala Kharisa.
Kharisa sadar ia tidak bisa menolak keinginan suaminya, bahkan jika Rafael meminta lebih dari sekedar berciuman ia tidak boleh menolak, tapi ia takut kalau tiba-tiba Rakha atau orang tuanya masuk ke kamarnya, lagi pula waktu mereka juga mepet, harus segera berangkat ke kota tempat kerja mereka agar tidak terlambat. Tidak lucu rasanya kalau Kharisa terlambat datang, sudah tidak masuk kerja dua mingguan pas masuk datang terlambat.
Tapi lama kelamaan Kharisa menikmati sentuhan Rafael bahkan membalasnya hingga mereka sama-sama kehabisan nafas. Kalau Kharisa tidak mengingatkan mungkin Rafael akan menuntut lebih.
"El, nanti kita terlambat." Ucap Kharisa mengingatkan, mereka saling menyatukan kening dengan nafas terengah, wajah Rafael memerah, menahan gejolaknya yang membara.
"El please jangan sekarang, kita harus berangkat." Kharisa menjauhkan wajahnya dan berusaha melepas tangan Rafael yang malah menyentuh beberapa bagian belakang tubuh Kharisa, wajahnya merona menahan malu mengingat apa yang telah ia lakukan tadi, ia malah menikmati dan membalas Rafael.
Akhirnya Rafael mengalah, memendam hasratnya yang tadi sudah bergelora. Lumayan untuk pemanasan, batinnya.
"Thank's Sa, I love you." Ucap Rafael sambil menatap Kharisa yang wajahnya terlihat merona, kemudian Rafael kembali mengecup bibir Kharisa lalu menuju kamar mandi. Kharisa sendiri merapihkan lagi penampilannya, merapihkan hijabnya yang mencong ke kanan ke kiri, lalu memoles lagi bibirnya yang terasa tebal dengan liptin agar tidak terasa kering.
Sungguh mengingat kejadian itu membuat wajahnya merona, ia terus menatap ke jendela mobil hingga membuat Rafael terus menggodanya. Suasana di mobil kini menjadi hangat dengan suara Rafael yang banyak bicara mengungkapkan perasaannya, akhirnya Kharisa pun menanggapinya. Bahkan saat Rafael mengeluh lapar, Kharisa menyodorkan makanan yang sudah disiapkan mamanya, sandwich isi tuna dan beberapa cake yang disimpan dalam kotak makan. Dengan manja Rafael minta disuapi oleh Kharisa dengan alasan tangannya memegang setir, Kharisa pun tidak bisa menolak. Perjalanan mereka sangat lancar karena jalanan begitu lengang, berbeda dengan jalanan menuju arah kota Jakarta yang terlihat padat, tak terasa mereka sudah memasuki perumahan tempat Kharisa tinggal.
Setelah turun dari mobil Kharisa langsung menuju rumah Wa Dewi untuk mengambil kunci rumahnya, kemarin mama menitipkan kunci sekalian minta PRT yang di rumah Wa Dewi membersihkan rumahnya yang ditinggalkan selama dua minggu.
Saat Kharisa menginjakan teras terlihat lantai sudah bersih mengkilat, kursi teras pun terlihat bersih tidak berdebu, begitu pun saat masuk ke dalam rumah juga kamarnya, semuanya terlihat bersih dan rapih. Kharisa pun merasa lega, ia tinggal bersiap untuk berangkat kerja.
Ia mengganti bajunya dengan baju formal yang biasa dipakai untuk bekerja, sementara Rafael mengangkut barang-barang yang dibawa Kharisa yang lumayan banyak, ada oleh-oleh dari Singapura untuk rekan kerjanya juga.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan saat Kharisa keluar kamar yang sudah siap dengan tampilan kerjanya.
"Kamu mau berangkat pake motor saja?" Tanya Rafael saat melihat Kharisa sudah siap memegang kunci motornya.
"Iyalah, aku gak mau yang lain tahu dulu pernikahan kita, aku belum siap, biar mereka tau lewat undangan saja, setelah aku resign." Jawab Kharisa yakin.
"Barangnya sudah semua diturunin?"
"Sudah, yang mau dibawa aku simpan di teras, sini motornya aku keluarin dulu." Rafael meminta kunci motor yang dipegang Kharisa, kemudian menuju ruang tamu mengeluarkan motor dan memanaskan motornya, Kharisa mengikutinya lalu mengunci pintu rumah.
"Bisa bawa sebanyak ini pakai motor?" Ternyata barang yang akan di bawa ke rumah sakit lumayan banyak, tidak berat sih tapi lumayan sampai tiga kantung ukuran besar, isinya aneka snack dan coklat, ada satu box aneka cake juga dari seserahan kemarin sengaja ia bawa.
"Bisa." Karisa menata tiga kantung di bagasi depan, di bawah kakinya, lumayan penuh, sedikit mengganggu posisi kakinya jadi harus melebar, untung ia memakai kulot jadi lebih leluasa.
"Aku berangkat duluan, nanti tolong pagarnya tutup yah." Karisa mulai melajukan motornya pelan.
"Sa, tunggu, masa gitu pamit sama suami."
"Eh...." Kharisa menghentikan laju motornya sebelum keluar pagar, mengulurkan tangan kanannya ke arah Rafael yang sudah berada di sisi kanannya. Rafael pun menyambutnya, diciumnya punggung tangan suaminya dengan tergesa-gesa.
"Helm nya buka dulu." Maksud Rafael ingin mengecup kening istrinya.
"Kenapa? Aku buru-buru El, nanti aku terlambat. Udah ah aku berangkat yah." Kharisa segera melajukan motornya, ia tidak boleh terlambat, sementara waktu sudah menunjukan pukul delapan kurang dua puluh menit, benar-benar waktu yang mepet, ia harus mengencangkan laju motornya. Kalau Rafael terlambat sepertinya tidak masalah, orang sudah tau dia pemilik rumah sakitnya.
"Jangan ngebut Sa." Ujar Rafael sedikit berteriak agar terdengar oleh Kharisa. Ia pun buru-buru berangkat mengikuti Kharisa dengan sedikit khawatir melihat Kharisa melajukan motornya agak kencang.
__ADS_1
Kharisa masuk ke gedung rumah sakit dengan setengah berlari, sambil menenteng tiga buah kantung membuatnya sedikit kerepotan. Syukurlah ia tidak terlambat, pas absent waktu menunjukan pukul 07.56 WIB. Beberapa karyawan yang mengenalnya menyapanya, menanyakan kabarnya karena dua minggu kemarin tidak terlihat di rumah sakit. Kharisa hanya menjawabnya dengan dua kata sambil melebarkan senyumnya. " Aku ijin."
Sampai di ruangannya, Meli yang sudah duduk di meja meeting langsung berteriak.
"Kharisaaaa......akhirnya kamu masuk juga." Meli langsung beranjak menghampiri lalu memeluk Kharisa. Ahmad, Siska dan Zaki yang berada di meja kerjanya masing-masing langsung menoleh ke arah Kharisa. Wajah Ahmad dan Zaki terlihat lega akhirnya Kharisa masuk juga. Berbeda dengan Siska yang terlihat sinis, pasti di dalam hatinya ia menggerutu.
"Kamu tega yah bikin aku babak belur, pokonya hari ini kamu harus lembur bantuin PR yang numpuk. Kata Pak Andre tugas kamu mengerjakan administrasi dan bantu marketing internal, bareng aku. Banyak banget tau PRnya. Laporan bulanan kemarin belum lengkap, belum ada rekap dan analisa angket kepuasan pasien. Rekap rujukan bidan, klinik dan perusahaan juga keteteran. Kamu tahu nggak, dua minggu ini pasien rujukan meningkat drastis, aku sampai pusing nerima telpon dari perujuk yang nanyain ini itu. Mana pengganti kamu belum dapet, kata Pak Andre yang sudah tes belum ada yang cocok. Kamu gak usah resign aja yah, please Kharis. Kamu gak kasihan sama kita-kita yang babak belur." Meli langsung nyerocos mengeluatkan unek-uneknya. Kerjaannya memang keteteran, karena sejak Siska mengerjakan marketing eksternal ia tidak mau membantu pekerjaan Meli dengan alasan sibuk mengerjakan laporan kunjungannya. Padahal saat Kharisa bertugas sebagai marketing eksternal, Kharisa masih bisa membantu pekerjaan administrasi, apalagi di hari Sabtu full tidak ada jadwal keluar.
"Iya pasti aku bantu, yang menjadi tugasku pasti aku selesaikan." Ujar Kharisa dengan perasaan merasa bersalah telah membuat rekan kerjanya keteteran. Tapi itu bukan kesengajaannya, tidak mungkin ia lebih mementingkan pekerjaannya saat Rakha terbaring sakit. Baginya Rakha segalanya dan yang paling penting.
"Nih aku bawakan oleh-oleh, yang mau ambil saja, aku bawa banyak, dibawa pulang juga boleh. Aku simpan di meja pantry yah." Kharisa memisahkn sebagian untuk ia bagikan ke teman divisi lain yang dikenalnya. Ia pun jadi teringat Vania, kangen juga ingin ketemu sahabat barunya, ia jadi merasa bersalah tidak memberitahu dan mengundang Vania ke acara akad nikahnya kemarin. Ia pun berniat memberitahunya kalau bertemu nanti. Ia pun teringat ada misi yang harus ia selesai sebelum ia meninggalkan rumah sakit, menyatukan dua hati yang terpisah yang kini bertemu kembali.
Tidak lama kemudian Andre pun datang, langsung menuju meja meeting, diikuti oleh seluruh staffnya duduk untuk melaksanakan morning meeting. Ia memberikan pengarahan terutama kepada Kharisa akan tugasnya yang tinggal dua minggu lagi.
Tidak ada sikap yang berubah dari Andre terhadap Kharisa walau sekarang statusnya sebagai istri Rafael, ini membuat Kharisa lega karena tentu saja ia tidak ingin ada yang tahu dengan status barunya itu.
Morning meeting pun selesai dalam waktu sepuluh menit, karena Andre harus lanjut meeting mingguan dengan direktur rumah sakit dan jajaran struktural lainnya.
Kharisa mulai mengerjakan tugasnya yang diberikan oleh Meli, kini ia sendiri di ruangannya. Zaki, Ahmad dan Siska langsung melaksanakan tugas marketing eksternal, sementara Meli melakukan kunjungan pasien rawat inap. Kharisa terlihat fokus dan konsentrasi dengan pekerjaannya. Ia hanya melihat sekilas ke layar HPnya saat ada notifikasi pesan masuk. Rupanya Rafael mengirim beberapa pesan, tapi ia enggan membukanya.
Sementara di tempat yang berbeda di sebuah kampus yang masih terlihat sepi, karena memang mahasiswa belum kembali aktif kuliah, masih suasana libur akhir semester, Faisal memarkirkan motornya di tempat parkir, kemudian melangkahkan kakinya menuju gedung kantor dimana ruang kantor Prof. Apandi Sumadipraja berada.
Tadi malam guru besarnya itu menghubunginya, memintanya datang ke kantornya pukul sembilan pagi. Faisal pun mengiyakan untuk datang dan pagi ini pukul sembilan kurang lima belas menit ia sudah berada di depan ruang kantor Prof. Apandi. Ia duduk di kursi tunggu sambil membuka galeri fotonya, tampak wajah bocah kecil menggemaskan di layar HPnya, siapa lagi kalau bukan Rakha anak asuhannya. Tangannya terus menggeser layar yang menampilkan gambar Rakha saat masih bayi, saat sudah mulai bisa duduk, berdiri hingga Rakha menggunakan seragam TKnya. Sepertinya ia tidak pernah bosan melihat gambar yang ia simpan dengan nama khusus di HPnya.
"Kang Faisal....." Terdengar suara perempuan memanggil namanya. Faisal mengangkat kepalanya, menoleh ke sumber suara. Ternyata seorang gadis yang dikenalnya yang tak lain adalah putri dari guru besarnya. Gadis itu berjalan mendekatinya dengan senyum merekah di bibirnya, wajahnya pun terlihat ceria.
"Kang Faisal mau ketemu ayah kan? Ayah sedang ketemu Pak Dekan dulu, kata ayah tunggu sebentar." Ujarnya, kemudian ia duduk di kursi sebelah Faisal.
"Ini buat Kang Faisal, ini aku yang buat loh, masih anget juga kayanya." Gadis itu mengeluarkan sebuah paper box berukuran 11 x 20 cm dari paper bagnya, menyodorkannya pada Faisal yang terpaku belum sempat menjawab pertanyaan gadis itu. Faisal pun menerimanya. Tercium aroma khas coklat, sepertinya kue atau bolu coklat, tebak Faisal.
"Cobain deh, mumpung masih hangat."
"Tenang aku bawa minumnya kalau nanti jadi haus." Ucap gadis itu lagi sambil mengambil satu botol air mineral lalu menyodorkan ke Faisal, lagi-lagi Faisal menerimanya.
"Sini aku bukain." Kini gadis itu membuka box di tangan Faisal, ternyata brownies dengan aneka toping membuat tampilannya begitu menarik.
"Ini brownies potong, masih anget kan, ayo cobaik Kang, sambil nunggu ayah."
"Eh iya....makasih yah Aini." Faisal terlihat canggung, sudah lama ia tidak berinteraksi dengan gadis itu, namun gadis itu bersikap seolah mereka sudah akrab. Faisal pun mengambil satu potong brownies dengan toping coklat chip lalu mencicipinya. Kue coklat itu terlihat kering di luarnya tapi ternyata lembut di dalamnya, dan Faisal mengakui kalau brownies yang baru dimakannya itu rasanya enak tidak kalah dengan rasa di toko kue terkenal.
"Enak gak?"
"Enak....asli ini enak." Jawab Faisal jujur. Wajah Aini terlihat berseri mendengar jawaban Faisal, ia tersenyum puas. Sepertinya ia sedang berpikir akan membuat sesuatu lagi untuk laki-laki yang sudah lama dikaguminya.
bersambung
Hai readerku tersayang🤗
__ADS_1
Dikit-dikit dulu yah ketemu A Isalnya ini udah kepanjangan dah lebih dari 2200 kata. Sewoga besok bisa up lagi.
Kasih semangat dong, dengan like komen aja Othor udah semangat dan seneng🤗