Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Cemburumu Salah Tempat


__ADS_3

Satu bulan lagi adalah batas waktu yang ditentukan Kharisa sebagai masa pendekatan antara Kharisa dan Rafael, termasuk untuk mendapatkan restu dari orang tua kedua belah pihak. Satu restu sudah didapatkan yaitu dari pihak Kharisa, sementara dari pihak Rafael masih belum sepenuhnya merestui karena baru papi Rafael yang metestui, dan maminya sendiri masih belum mau merestui, masih bersikeras ingin Rafael menikah dengan Vania. Padahal pihak keluarga Vania sendiri sudah merelakan pertunangan putri kesayangan mereka harus putus di tengah jalan.


Papi Rafael pernah membahas dengan istrinya, membujuknya juga agar menerima Kharisa menjadi pendamping hidup Rafael, ternyata Mami Rafael mempunyai alasan tersendiri kenapa tidak mau menerima Kharisa, yang sebenarnya tidak masuk akal juga untuk dijadikan alasan.


"Aku tidak mau menerimanya karena latar belakang keluarganya, papi sudah tau kan dia terlahir dari istri kedua." Itu alasan mami Rafael saat dibujuk suaminya untuk menerima Kharisa. Ia memang telah menyelidiki lebih jauh tentang keluarga Kharisa, hingga diketahui mama Kharisa adalah istri kedua, dengan istri pertama masih ada, sayangnya Mami Rafael tidak meyelidiki lebih jauh lagi bagaimana ceritanya mama Kharisa bisa menjadi istri kedua dan bagaimana hubungannya dengan istri pertamanya.


"Memangnya kenapa kalau lahir dari istri kedua? Mami bisa lihat sendiri bagaimana Kharisa mendidik cucu kita, jadi tanp kita melihat langsung pun kita bisa tau seperti apa Kharisa, ia ibu yang baik untuk cucu kita, dan akan menjadi istri yang baik untuk anak kita."


"Ibunya itu pasti wanita penggoda Pih, bisa jadi dia juga yang menggoda anak kita dulu hingga berani melakukan hal terlarang, sudahlah Pih pokoknya Mami tidak setuju Rafael denga wanita itu, Mami akan membujuk Vania lagi agar mau bersabar menunggu Rafael, lama-lama juga Rafael pasti akan luluh" Begitulah sikap mami sampai saat ini.


Rafael sendiri tidak bosan membujuk maminya, bail melalui telfon atau bertenu langsung, sudah dua kali bertemu saat pulang ia bicara baik-baik sambil memijit maminya.


"Mam aku mencintai Kharisa, dari dulu sampai sekarang tidak berubah, malah aku semakin mencintainya, apalagi sekarang ada Rakha, apa mami tidak kasihan sama cucu mami, Rakha sangat butuh kehadiran momy sama dadynya, please Mam terima Kharisa yah." Rafael bicara dengan memelas di depan maminya, sayangnya hati maminya begitu keras, entah terbuat dari apa, hingga permintaan putranya sama sekali tidak ia gubris, selalu alasannya hanya Vania yang pantas menjadi menantunya.


"Pokoknya aku tidak akan menikah kalau tidak dengan Kharisa." Rafael pun mengeluarkan senjata pamungkasnya berharap maminya akan luluh. Tapi sepertinya maminya masih berkeras hati, ia malah sering menghubungi Vania memintanya untuk mendekati Rafael lagi.


"Maaf tante saya tidak bisa, saya tidak bisa hidup dengan laki-laki yang tidak mencintai saya, dan saya sangat tau kalau Rafael itu sangat mencintai Kharisa, biarkan mereka bahagia tante." Vania kini sudah bulat tidak ingin memaksakan hubungan karena keterpaksaan, sekarang ia berani menolak permintaan mami Rafael karena keluarganya mendukungnya. Tentu saja mami Rafael sangat kecewa, tidak ada pihak yang mendukungnya lagi. Entah apa yang akan ia lakukan untuk mencegah agar putranya meninggalkan Kharisa, apa ia akan luluh dan mengalah?


Hubungan Kharisa dengan Rafael pun dalam keadaan baik, walau akhir-akhir ini Rafael terlihat sibuk dengan pekerjaannya, hingga tidak setiap hari mengunjungi putranya. Selain karena mendekati penilaian akreditasi rumah sakit, ia pun harus membantu di pelayanan di IGD atau poliklinik dokter umum, karena peningkatan kunjungan pasien. Rupanya kinerja tim marketing yang jor-joran mempromosikan rumah sakit membuahkan hasil, kunjungan pasien rawat jalan maupun rawat inap meningkat tajam. Penambahan dokter pun sudah diajukan, bahkan sudah melewati tahap seleksi, jika tidak ada halangan, besok dua dokter baru akan bergabung dengan Rumah sakit Setya Medika.


Diantara kesibukannya, Rafael masih menyempatkan diri menyapa putra kesayangannya lewat vidio call di sore hari, tentu saja setelah Kharisa pulang ke rumah, dan dilakukan di tempat sepi. Saat berada di ruang IGD, ia akan keluar ke taman sebentar, atau saat di ruang praktek poliklinik sore setelah jadwal praktek selesai.


Setelah dua dokter baru bergabung dua hari yang lalu, barulah waktu Rafael lebih luang hingga ia bisa menyempatkan mengunjungi putranya, seperti sore ini sepulang kerja ia langsung menuju rumah Kharisa membawa dua kotak pizza.

__ADS_1


"Dady....I miss you." Rakha langsung menyambut kedatangan dadynya dengan merentangkan kedua tangannya. Rafael pun langsung memeluk dan mengecup kening putranya.


"Momy mana?" Tanya Rafael pada putranya setelah beberapa lama tidak melihat Kharisa.


"Tadi Momy lagi nelfon sama Om Isal di kamal, aku kasih tau dulu Momy kalau Dady datang." Rakha beranjak dari sofa ruang tamu menuju kamarnya yang juga kamar momynya. Tidak berapa lama Kharisa pun keluar bersama Rakha menuju ruang tamu.


"Udah gak sibuk lagi di rumah sakit?" Tanya Kharisa, ia sangat tau kalau Rafael beberapa hari ini membatu pelayanan di rumah sakit di luar jam kerjanya.


"Sudah ada dokter baru langsung bisa terjun di lapangan, lumayan cukup punya pengalaman." Jawabnya. "Sudah selesai ngobrol dengan Faisalnya?" Kini Rafael balik bertanya, dengan nada dan ekspresi yang terkesan tidak suka.


"Hah...?" Kharisa mengerutkan keningnya.


"Faisal masih sering ngehubungi kamu?"


"Kenapa memangnya?" Kharisa malah balik bertanya dengan nada yang juga tidak suka dengan pertanyaan Rafael.


"Dady...dady pizzanya boleh dibuka? aku mau." suara Rakha mengejutkan Rafael, ia baru sadar kalau ada Rakha di dekatnya.


"Sure..." Jawabnya sambil membuka kotak pizza.


"Rakha makannya di dalam gih, ajak nenek makan bareng, Momy mau bicara dulu dengan Dady." ujar Kharisa, sepertinya Kharisa ingin bicara melanjutkan obrolan tadi dengan Rafael.


"Tapi nanti Dady ke dalam juga yah temenin aku makan."

__ADS_1


"Iya, nanti kalau sudah selesai Dady ke dalam." Rafael mengusap kepala putranya. Rakha pun masuk ke ruang tengah menenteng dua box pizza.


"El tadi maksudnya apa? Kenapa kamu bicara seperti tadi?"


"Sa...aku tuh ngerasa kamu itu seperti yang tergantung dengan Faisal, entah ini hanya perasaanku saja atau kamu sendiri memang merasakan juga kalau kamu memang tergantung sama dia, terus terang aku cemburu" ujar Rafael jujur.


"El...aku sudah pernah menjelaskan hubunganku dengan Faisal seperti apa, begitu juga dengan Rakha. Kami memang dekat, dia sangat dekat malah, sudah seperti keluarga sendiri, jadi kamu tidak perlu berpikir yang aneh-aneh."


"Aku gak berpikir yang aneh-aneh Sa, aku hanya minta kamu ngerti perasaan aku. Kalau dulu saat aku gak ada mungkin okelah ada apa-apa kamu menghubungi atau minta bantuan Faisal, tapi sekarang ada aku Sa."


"Maksud kamu aku gak boleh menghubungi Faisal? Setelah dulu dia selalu ada disampingku saat aku terpuruk, ia yang menyemangatiku disaat aku frustasi, dia dulu yang membantuku agar bisa menghubungimu, mensupport agar aku sabar menunggu kamu, sekarang setelah kamu ada, aku tidak boleh menghubunginya? Tidak boleh dekat dengannya?" Kharisa menghela nafasnya.


"Sory El, jangan pernah meminta aku untuk menjauhi Faisal, begitu pun dengan Rakha jangan pernah berusaha menjauhkannya dari Faisal." Entah kenapa Kharisa merasa sakit saat membayangkan kalau Rafael berniat menjauhkannya dan Rakha dari Faisal.


"Bukan begitu Sa, aku hanya tidak suka saja kamu terlalu dekat dengan Faisal, sudah kubilang aku cemburu Sa."


"Dan cemburumu itu salah tempat El, kalau aku ada apa-apa dengan Faisal aku tidak akan nerima kamu kembali. Harusnya kamu deketin Faisal dan berterima kasih sama Faisal yang telah ikut menjaga, mengasuh dan mendidik Rakha." Kharisa memasang wajah cemberut.


"Kalau kamu masih cemburu sama Faisal, berarti kamu belum mengenal aku, kamu tidak percaya sama aku, padahal kita sudah melewati masa pendekatan dua bulan, jangan sampai kamu membuatku ragu El, saling percaya itu penting dalam sebuah hubungan."


"Sory Sa, aku hanya cemburu, aku percaya sama kamu, sudah terbukti sampai lima tahun kita berpisah kamu tetap setia menungguku. Sudah jangan cemberut terus dong, nanti aku gak bisa tidur."


"Momy...Dady...kenapa lama, ayo makan pizza baleng nanti kebulu dingin." Tiba-tiba Rakha sudah ada di ruang tamu.

__ADS_1


"Oh iya .....sampai lupa Dady, ayo makan pizza bareng." Rafael pun bediri lalu menggandeng Rakha ke ruang tamu, diikuti Kharisa.


bersambung


__ADS_2