Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Nafkah Lahir Batin


__ADS_3

"Mas...." Mama mendorong dada suaminya yang begitu dekat dengan tubuhnya.


"Kenapa Wi, kamu menolakku?" Tampak kekecewaan di wajah papa.


"Bu...bukan begitu Mas, a..aku hanya ragu dengan status pernikahan kita." Ucapan mama membuat papa mengernyit.


"Apa yang kamu ragukan? Kita sudah saling memaafkan, dan aku menginginkanmu kembali, kita bersama lagi seperti dulu."


"Tapi Mas kita berpisah cukup lama, dan aku....tidak mendapatkan nafkah lahir batin labih dari lima tahun, apakah pernikahan kita masih sah?" Terlihat wajah mama penuh kekhawatiran, hatinya sudah memutuskan akan kembali pada suaminya, jadi apa tidak lebih baik jika mereka bertanya dulu pada yang lebih paham tentang status pernikahan mereka, pikir mama.


"Hei siapa bilang aku tidak memenuhi nafkah lahir, kalau nafkah batin iya, tapi itu karena kamu yang pergi, bukan aku yang meninggalkanmu. Tiap bulan aku transfer seperti biasa ke rekeningmu, memangnya kamu tidak pernah mengeceknya?" Ujar papa dengan nada sedikit meninggi, jelas ia protes dikatakan tidak memenuhi nafkah lahir, padahal setiap bulan ia selalu mentransfer sejumlah uang dengan nilai yang sama seperti sebelum istrinya pergi meninggalkannya. Hanya dua bulan pertama setelah kepergian istrinya, ia tidak mentransfer karena masih marah dan kecewa, bulan berikutnya ia selalu mentransfernya. Walau bagaimana pun juga ia masih menganggap Dewi sebagai istrinya dan Kharisa sebagai putrinya, tentu ia tidak akan membiarkan istri dan putrinya hidup susah dsn menderita. Hanya egonya saja yang sulit untuk diturunkan, merasa dirinya paling benar dan apa yang dilakukan istri dan putrinya adalah kesalahan besar.


"Haaah....." Jelas mama terkejut tidak menyangka kalau suaminya selama ini selalu mentransfer uang ke rekeningnya. Mama memang tidak pernah mengecek lagi rekening tabungannya setelah menguras habis semua tabungannya. Setelah satu bulan ia tinggal di Garut, ia datang ke bank untuk mengambil semua uang yang ada di rekeningnya, ia pikir tempat tinggalnya berada dipedesaan, dan agak jauh ke Bank, jadi supaya nanti tidak bolak balik mengambil uang untuk kebutuhannya bersama putrinya, ia ambil saja semua uangnya. Saat itu saldonya tidak bertambah, ia pun berasumsi kalau suaminya tidak akan mensupport dana untuk biaya hidupnya dan putrinya, pasti karena suaminya kecewa ia telah meninggalkannya. Sejak itu ia tidak pernah lagi mengecek rekening tabungannya, ia pun memang tidak mengaktifkan SMS Banking, jadi tidak ada informasi kalau ada dana masuk tiap bulan ke rekeningnya.


Berarti dua puluh juta, nilai yang selalu masuk ke rekeningnya yang ditransfer oleh suaminya setiap bulannya, tidak pernah ia gunakan sama sekali karena memang tidak tau. Kalau dihitung selama lebih dari lima tahun saldonya bisa mencapai lebih dari 1,2 milyar. Wooww rekening tabungannya gendut dong.


"Kenapa kamu kaget gitu Wi? Kamu tidak percaya aku selalu transfer tiap bulannya? Memangnya kamu tidak pernah ngecek? Jadi kamu tidak pernah menggunakan uang yang ku transfer? Lalu bagaimana kalian menjalani hidup sehari- hari kalian?" Papa terlihat keheranan, ia jadi ingat obrolannya dengan Rendi, Rendi menceritakan bagaimana Kharisa menjalani hidupnya bersama mamanya dengan sederhana, tinggal di rumah sederhana, tidak memiliki kendaraan mobil, bahkan Kharisa saat kuliah berjuang untuk mendapatkan beasiswa agar tidak menyusahkan mamanya. Saat mendengar cerita Rendi papa sempat tidak percaya, tapi kini ia percaya karena ternyata istrinya tidak pernah menggunakan uang dari rekeningnya.


"A aku kira Mas tidak pernah transfer, a aku tidak pernah mengeceknya." Jawab mama gugup, masih tidak percaya sepertinya.

__ADS_1


"Ya ampun Wi.....lalu bagaimana selama ini kalian menjalani hidup?" Papa meraih mama ke dalam pelukannya dan mama tak bisa menolaknya, bahkan tangannya malah membalas memeluk punggung papa.


" Maafkan aku Wi, semua karena aku, kalian pasti hidup susah dan menderita." Ujar Papa dengan penuh penyesalan.


"Kami hidup dengan baik, tak kurang satu apapun walau hidup sederhana Mas." Lirih Mama, ia tidak ingin membuat suaminya sedih dan berada dalam penyesalan.


"Ya, aku tau, Rwndi sudah cerita."


"Jadi Wi kita masih dalam ikatan pernikahan yang sah, aku tidak pernah sedikitpun mengucapkan kata talak, aku pun tidak pernah bermaksud menelantarkan kalian, aku tetap memenuhi nafkah lahir, walaupun kenyataannya kamu tidak pernah menggunakannya, itu salahmu sendiri."


"Anggap saja aku seorang TKI yang baru pulang setelah bekerja di luar negeri selama lima tahun lebih, dan sekarang aku ingin memberikan nafkah batin sekaligus meminta hakku sebagai suami. Tidak ada yang salah kan? Penikahan kita masih sah." Mama masih bergeming mendengar ucapan suaminya, mencerna dan hatinya membenarkan ucapan suaminya. Ya tidak pernah terucap kata talak dan ternyata suaminya selama ini memberikan materi untuk menafkahi, memenuhi kebutuhan istri dan putrinya. Sepertinya itu cukup untuk meyakinkan mama kalau pernikahan mereka masih sah.


"Jadi....?" Papa menjeda ucapannya.


"Ah Wi aku sangat merindukanmu...." Papa mengecup bibir istrinya yang selama ini dirindukannya. Melalui istri keduanyalah ia bisa menyalurkan hasratnya sebagai lelaki. Di usianya yang baru saja melewati lima puluh enam tahun dengan kondisi tubuh yang fit, tentu saja hasrat lelakinya masih begitu kuat dan malam ini ia tidak ingin menyia-nyiakan kehadiran istri keduanya.


" Mas...." tubuh mama meremang, sudah lama ia tidak merasakan hal seperti ini. Mama mendorong lagi tubuh suaminya yang semakin menempel di tubuhnya.


"Aku belum mandi, tubuhku lengket." ujar Mama berusaha menghindar, entah kenapa ia merasa malu, canggung mendapat perlakuan dari suaminya.

__ADS_1


"Nanti juga kita akan mandi keringat Wi." Sepertinya papa tidak bisa menerima penolakan istrinya, ia tidak bisa menunda lagi, dan seperti dulu, mama tidsk akan bisa menolak keinginan suaminya. Bukankah memang seperti itu laki-laki, bisa pusing dan sakit kepala kalau harus menunggu mama mandi.


"Kamu tambah anggun dengan kerudungmu Wi." Jari papa menelusuri wajah istrinya dengan tatapan merindu. " Buka yah." Mama tidak bisa menolak lagi keinginan suaminya, ia membuka hijab dan ciputnya hingga rambutnya tergerai. Sementara papa membuka jaket kulitnya lalu melemparnya ke atas sofa.


"Kamu masih cantik seperti dulu Wi." Papa menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya, rasa rindu yang mereka berdua rasakan begitu membuncah. Papa mulai kembali menyentuh istrinya yang terlihat pasrah. Mereka pun saling mencurahkan rindu dan hasrat yang telah terpendam bertahun-tahun. Malam yang sepi menjadi saksi suami istri yang bersatu kembali.


Sementara Kharisa dan Bi Nani di kamarnya tidak berani mengetuk pintu yang menyambungkan kamarnya dengan kamar mamanya. Kharisa yakin di kamar mama masih ada papa, entah sampai kapan papanya akan berada di sana.


"Bi, Bi Nani tidur di sini saja, biar aku tidur sama Rakha, kasurnya muat kok untuk berdua." Kharisa melihat Bi Nani sudah terlihat lelah, kamar mereka memiliki dua tempat tidur single.


"Momy kasian dong Oma tidul sendilian." Rakha taunya Bi Nani yang akan menemani di kamar yang ditempati omanya.


"Di kamar Oma lagi ada Opa." ujar Kharisa


"Oma tidulnya sama Opa?" Tanya Rakha heran, ia masih belum mengerti hubungan omanya dengan opa yang baru dikenalnya.


"Oma lagi ngobrol sama Opa, udah ayo Rakha tidur, besok kita lihat Om Rendi menikah." Kharisa menepuk bantal di dekatnya agar putranya yang masih terlihat segar segera merebahkan tubuhnya, tentu saja Rakha belum mengantuk, karena tadi selama perjalanan ia tidur pulas.


"Momy, kenapa kita tidak tidul di lumah Dady saja, lumah Dady besal, banyak kamalnya, kamal Dady juga besal kaya kamal ini. Nanti aku mau tidul sama Momy sama Dady." Kharisa hanya diam mendengarkan celotehan putranya. Dan Rakha masih terus saja berceloteh bercerita saat minggu kemarin menginap di rumah dadynya. Kharisa hanya diam mendengarkan sambil mengusap-usap kening putranya agar cepat tertidur, dan benar saja tidak lama kemudian Rakha pun tertidur. Ia kecup keningnya, melihat Bi Nani yang sudah terlelap di balik selimut yang tebal. Tapi ia sendiri sulit untuk memejamkan matanya, setelah hatinya dipenuhi rasa bahagia melihat mama dan papanya yang sepertinya memutuskan untuk kembali bersama, kini hatinya diselimuti kelabu. Masih berat untuk memutuskan kembali bersama Rafael. Kenapa hatinya begitu berat menerima kembali Rafael? Padahal hal yang membuat ia bahagia adalah melihat mama dan papanya kembali bersama. Rakha pun pasti akan merasakan bahagia saat melihatnya bersama Rafael, menjadi orang tua yang utuh, tinggal dan hidup bersama menjadi keluarga. Apakah ia tidak ingin memberikan kebahagiaan untuk putra yang sangat disayanginya? Tentu saja Kharisa ingin Rakha bahagia. Sekarang saatnya ia memutuskan masa depan untuk kebahagiaan putranya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2