Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Mencarimu


__ADS_3

Waktu masih menunjukan pukul setengah tujuh pagi, tapi Rakha sudah terlihat siap dengan baju seragam sekolah TKnya, lengkap dengan sepatu, topi dan tas gendong karakter mobil balap kesukaannya, Mcqueen yang sudah menempel di punggungnya. Hari ini adalah hari pertama Rakha mulai masuk sekolah TK. Sejak tadi malam ia terus mengingatkan momynya untuk mengantarnya ke sekolah.


"Pokoknya besok aku mau diantal Momy, gak mau sama Oma, kan pulangnya sama Oma."


"Momy besok bisa antal aku dulu ke sekolah kan?"


"Momy ayo tidul, bial besok gak kesiangan, Mony halus antel aku dulu ke sekolah." Begitu cerewetnya bocah menggemaskan itu saking bersemangatnya untuk mulai sekolah.


Dan pagi ini cerewetnya keluar lagi, bukan minta diantar momynya ke sekolah tapi ingin vidio call dengan om kesayangannya.


"Momy cepet mana HP momy, aku mau vidio call Om Isal, kata Om Isal sebelum belangkat sekolah, vidio call dulu." cicit Rakha, sambil mencari HP di tas momynya.


"Sebentar sayang Momy rapihin kerudung Momy dulu." Kharisa masing memasang hijabnya, setelah selesai merias wajahnya dengan make up yang baru dibelinya satu minggu yang lalu, riasannya tidak terlalu tebal, sangat minimalis malah, tapi Kharisa terlihat berubah, terlihat lebih cantik tentunya, lebih segar dengan pipi merona karena sentuhan blush on di kulit pipinya yang putih.


"Vidio call nya sambil sarapan yah, biar gak terlambat berangkat sekolahnya." Kharisa menuntun putranya ke ruang makan sambil menenteng tas kerjanya.


"Minum dulu susunya, Momy sambungin dulu ke Om Isal."


Tidak berapa lama vidio call pun tersambung. terlihat wajah Faisal di layar HP sudah rapi dengan kemejanya, sepertinya Faisal juga tengah bersiap-siap hendak berangkat ke kampus.


"Assalamualaikum." Sapa Faisal lebih dulu mengucapkan salam, ia terlihat mengernyit.


"Waalaikumsalam." jawab Kharisa, senyumnya mengembang menghiasi bibirnya yang terlihat lebih cerah dari biasanya, tapi masih terlihat natural.


"Mana Om Isal, Momy sini HPnya." Rakha terlihat senang sambil melompat ingin meraih HP yang sedang dipegang Mominya.


"Sebentar Momy mau bicara dulu sama Om Isal." Kharisa menjauhkan HPnya dari Rakha.


"Momy cepet, aku kan mau sekolah."


"Sebentar, Rakha habisin dulu roti sama susunya."


"Sarapan dulu Nak, nanti bu Guru pasti bilang sebelum berangkat sekolah harus sarapan dulu." Ujar Omanya yang baru saja menyiapkan bekal sekolah Rakha. Rakha pun menuruti ucapan Omanya, sebetulnya karena disebut 'Bu Gurunya' ia jadi nurut. Anak kecil memang lebih menurut sama gurunya dari pada orang tuanya.


"Aduuuhh... A ni Rakha meni gak sabar ingin liatin baju seragamnya." ujar Kharisa sambil terkekeh.


"Neng kok beda....." Faisal begitu memperhatikan wajah Kharisa.


"Beda apanya?"


"Tumben pake make up." ucap Faisal, baru kali ini Faisal melihat penampilan Kharisa dengan make up, walaupun tipis tapi jelas terlihat beda. Baru kali ini juga mereka vidio call saat menggunakan pakaian kerja, biasanya mereka ngobrol di sambungan telpon, atau kalau vidio call dengan Rakha biasanya sore atau malam hari.


"He....he...iya nih standarnya harus begini katanya, aneh ya A, jadi tambah jelek yah?" Kharisa jadi tidak percaya diri dengan hasil riasan di wajahnya.

__ADS_1


"Siapa yang bilang jelek?" Di dalam hatinya Faisal mengatakan Kharisa malah terlihat lebih cantik, tapi tentu saja Faisal tidak berani mengungkapkannya.


"Aku belum cerita yah, kalau ada standar make up untuk bekerja, aku jadi beli alat make upnya, gak apa-apa kan A? Ini tipis kok aku pakenya." Kharisa tau Faisal tidak terlalu suka dengan wanita yang bermake up untuk mempercantik diri. " Wanita itu tidak boleh bertabaruj, berdandan berlebihan seperti wanita jahiliyah." Ujar Faisal dulu saat mereka jalan-jalan dengan Rakha ke arena bermain, kemudian melihat seorang wanita berdandan dengan make up tebal.


"Gak apa-apa kan A?" Tanya ulang Kharisa.


"Yang penting jangan berlebihan dan niatnya bukan untuk mencari perhatian apalagi menggoda lawan jenis." ujar Faisal santai.


"Ih amit-amit, gak kepikiran aku ke sana A." Kharisa juga sebenarnya lebih suka berdandan tanpa make up, cukup bedak dan liptin, memakai make up memang terasa jadi menarik perhatian orang lain. Tapi bagaimana lagi, rumah sakit tempatnya bekerja sangat memperhatikan penampilan apalagi pekerjaan Kharisa berhubungan langsung dengan customer.


"Momy....cepet mana Om Isal, aku udah habis lotinya."


"Duuuhhh, nih anak Om Isal udah gak sabaran, A ni Rakha nih....." Kharisa memberikan HPnya pada putranya yang tidak sabar ingin bertatap muka dengan Omnya.


"Om Isal liat aku pakai selagam sekolah, cakep kan? Ini tas sekolah dali Om Isal udah aku pakai" Rakha memperlihatkan tas di punggungnya dengan sedikit memutar badannya. Faisal memang berjanji kalau Rakha sekolah akan membelikan tas berkarakter mobil balap Mcqueen. Rakha terlihat bahagia, terus berceloteh dengan mimik yang menggemaskan. Kharisa membiarkan putranya melakukan vidio call berdua dengan Faisal. Interaksi dua laki-laki beda usia ini lebih mirip interaksi antara seorang ayah dan anak. Sang anak bercerita tentang pengalaman bermainnya , dan Sang ayah berbicara penuh dengan nasehat, harus rajin shalat dan ngaji, rajin belajar, harus sayang sama Ibu, Oma dan Nenek. Kharisa mendengarkan sambil menikmati sarapannya. Pukul tujuh lebih sepuluh menit Kharisa berangkat mengantar Rakha menggunakan motor maticnya. Tidak sampai lima menit untuk sampai di sekolahan Rakha yang lokasinya tidak jauh dari gerbang kompleks perumahannya. Setelah Rakha berbaris dan masuk kelas Kharisa pun berangkat menuju Rumah Sakit Setya Medika tempat kerjanya.


Sementara di rumah sakit dengan nama yang sama tapi di kota yang berbeda, seorang dokter muda keluar dari ruang istirahat dokter jaga IGD dengan penampilan yang rapih dengan jas putihnya, terlihat segar karena baru saja mandi setelah semalaman bergelut dengan pasien yang datang silih berganti untuk mendapat penanganan medik, dari mulai kasus ringan sampai kasus berat.


"Weis, tumben dokter Rafael sudah rapih nih, mau kemana Dok?" Tanya Andi perawat IGD yang juga satu shiff dengan Rafael. Ia heran melihat Rafael yang sudah terlihat rapi di jam sebelum operan jaga. Biasanya ia bersantai-santai dulu di rumah sakit, sepertinya lebih betsh berada di rumah sakit dari pada di rumahnya sendiri. Sebenarnya Rafael memiliki ruang khusus untuk dirinya dengan fasilitas lengkap seperti kamar di rumahnya yang berada di lantai dua, tapi ia jarang menggunakannya, ia lebih senang berkumpul dengan teman sejawatnya di ruang dokter jaga di IGD.


"Aku ada perlu Ndi, aku pulang on time yah, tapi nunggu dr. Bima dulu. Pasien tuan Rofi gimana, stabil kan, keluarganya dah acc pasang untuk pasang ring?" Rafael termasuk dokter yang sangat bertanggung jawab, ia selalu mengutamakan kepentingan pasien. Tidak pernah ia meninggalkan tugasnya atau pulang sebelum melimpahkan wewenangnya kepada dokter pengganti shiffnya.


"Dokter Bima sudah datang kok Dok, ada di nurse station." Ujar Andi.


"Wow bos kita sudah rapih aja nih, tumben mau kemana nih?" Sepertinya semua yang ada di IGD akan heran melihat Rafael pulang twpat waktu.


"Aku ada perlu, penting, kita operan sekarang. Rafael duduk di depan layar komputer yang ada di nurse station, melaporkan data pasien yang datang ke IGD, jumlah pasien yang masuk rawat inap, termasuk kasus yang perlu penanganan khusus.


"Aku titip pasien satu lagi. Tuan Rofi 58 tahun dengan AMI (Acut Miocard Infark), kondisi terakhir sesak dan nyeri dada berkurang, blood pressure 130/90, saturasi stabil diatas 96. Sudah dikonsulkan ke Babe (sebutan untuk ayah Rafael yang kebetulan dokter bedah jantung yang on call tadi malam), rencana Angioplasti, hasil penunjang sudah lengkap, sudah konsul internis, ACC operasi, tadi nunggu ACC kekuarga, barusan kata Andi keluarganya sudah ACC. Lo tindak lajuti yah. Itu ada dua pasien baru datang masuk pasien Lo yah. Aku cabut dulu."


"Ok Bos, hati-hati." Mereka berdua beranjak dari Nurse station, dokter Bima langsung menangani pasien yang baru datang, yang sedang dioeriksa oleh perawat, sementara Rafael, menenteng tasnya berjalan menuju mobilnya di tempat parkir khusus dokter.


Mobil sedan tipe terbaru keluaran Jerman mulai menyusuri padatnya jalanan ibu kota. Sinar mentari yang mulai memancarkan sinarnya seolah menjadi penyemangat para pencari nafkah untuk menjemput rejeki mereka. Antrian kendaraan di lampu merah yang memanjang menjadi alasan pengemudi untuk membunyikan klaksonnya disaat lampu sudah berganti hijau tapi kendaraan mereka tidak bisa melaju, menimbulkan kebisingan, suasana seperti ini sudah menjadi hal biasa di ibu kota.


Kini mobil yag dikemudikan Rafael sudah berada di pelataran parkir sebuah sekolah menengah atas yang ternyata sekolah Rafael dulu saat SMA. Ini yang kedua kalinya ia datang ke tempat ini setelah ia lulus SMA. Empat tahun yang lalu, saat tahun pertama liburan kuliahnya, ia datang ke tempat ini untuk mencari informasi Kharisa, gadis yang masih diakuinya sebagai kekasihnya, namun sayang ia tidak mendapatkan informasi dimana keberadaan kekasihnya itu, sempat menemui beberapa teman sekelas Kharisa, namun mereka sama sekali tidak mengetahui keberadaan Kharisa.


"Setelah libur kenaikan kelas, ia tidak pernah masuk lagi." Kata Wina, teman terdekat di kelas Kharisa. Guru BP pun tidak mengetahui kabarnya, sayangnya waktu itu, wali kelas Kharisa sedang cuti melahirkan, dan selama cuti tinggal di kampung halamannya di Jawa Tengah dan HPnya tidak bisa dihubungi.


Dan saat ini Rafael bermaksud menemui wali kelas Kharisa dulu, namanya Bu Amelia. Rafael menemui guru piket yang standby di lobi. Ternyata mereka masih mengenali Rafael, tentu saja murid kebanggaan sekolah dan juga idola yang selalu menjadi bahan perbincangan siswa putri pasti akan diingat.


"Bu Amel ada di ruang guru, kebetulan jam ngajarnya lagi kosong, bersedia menemui di sini." Ujar Bu Kinan salah satu guru piket.


Tidak berapa lama kemudian, Bi Amelia menghampiri Rafael yang tengah duduk di sofa tamu.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bu Amelia, membuat Rafael mendongakan kepalanya dan segera berdiri, mencium tangan gurunya.


"Apa kabar Bu, masih ingat saya?" Rafael malah balik bertanya.


"Tentu saja, masa sama siswa berprestasi lupa, tambah ganteng ganteng ternyata, gimana kuliahnya lancar? Ibu dengar lanjut kedokteran di Amerika."


"Sudah selesai Bu, sudah mulai kerja di rumah sakit." Jawab Faisal.


"Wow, hebat sekali, belum enam tahun kan?"


"Pas lima tahun Bu."


"Wah selamat yah Pak Dokter. Lalu ada perlu apa sama Ibu?" Tanya Bu Amelia penasaran. Rafael pun menjelaskan kedatangannya untuk mencari informasi tentang Kharisa.


"Ibu juga tidak tau sebenarnya apa yang terjadi dengan Kharisa. Beberapa hari sebelum pembagian raport, mamanya menghubungi ibu, menyampaikan tidak akan meneruskan sekolah di sini dan meminta berkas fortofolio dan raport Kharisa dikirim lewat ekspedisi. Mamanya ataupun Kharisa sama sekali tidak ada datang ke sekolah. Akhirnya ibu kirimkan semua berkas milik Kharisa, itu pun alamat kirimnya bukan di Jakarta." Jelas Bu Amelia.


"Ibu masih ingat alamat kirimnya?" Tanya Rafael bersemangat, semoga ini bisa menjadi petunjuk keberadaan Kharisa, batin Rafael.


"Waduh ibu sudah lupa alamatnya, gak Ibu simpan juga, tapi kotanya kayanya Ibu masih ingat deh." Lalu Bu Amelia menyebutkan sebuah kota di Jawa Barat. Waktu itu mama Kharisa memberikan alamat rumah kakaknya, Wa Dini, minta Bu Amelia untuk mengirim berkas Kharisa ke alamat itu.


Info dari Bu Amelia, walaupun sangat minim membuat Rafael bersemangat untuk mencari keberadaan Kharisa. Ia tidak menyangka kalau kota yang disebutkan Bu Amelia adalah kota dimana Rumah Sakit milik keluarganya berada. Ada secercah harapan kalau ia akan menemukan Kharisa.


*Aku pastikan akan menemukanmu.


Akan terus kucari sampai kumelihatmu.


Mencarimu....ya terus mencarimu


Sampai kupastikan apakah kau masih setia denganku atau telah bahagia walau tak bersamaku.


bersambung*....


Hai All Readers.


Terima kasih sudah mampir di novel keduaku. Mohon maaf kalau belum bisa memenuhi keinginan reader semua untuk sering-sering Upgrade. Setelah menyelesaikan novel pertama insya Allah bisa lebih fokus di cerita ini.


Jangan lupa like dan komennya yah, Othor sangat butuh masukan, kritik dan saran agar bisa memberiman yang terbaik di novel ini.


Terima kasih atas dukungannya🙏


Salam hangat🤗


Umi Haifa

__ADS_1


__ADS_2