Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Rakha Athaillah Prasetya


__ADS_3

"Assalamualaikum Neng....jangan ngelamun aja atuh Neng." Faisal yang baru pulang sekolah dan masih menggunakan seragamnya menghampiri Kharisa yang tengah duduk di teras. Seperti biasa Kharisa lebih suka berada di teras sambil memperhatikan beberapa santriwati yang lalu lalang ke asrama pondok.


"Eh A Isal udah pulang?" Kharisa menoleh pada Faisal yang kini duduk di bangku di depannya.


"Gimana hasil pemeriksaan kandungannya? sehat semuanya kan?" tanya Faisal penuh selidik, ia memperhatikan reaksi Kharisa yang tanpa ekspresi.


"Iya." jawabnya datar. Kharisa baru saja diantar Mamanya periksa kehamilannya, mungkin ini pemeriksaan yang terakhir sebelum waktu persalinan. Taksiran persalinannya sekitar dua minggu lagi. Dari hasil pemeriksaan USG dokter menjelaskan kalau posisi janin sudah bagus, kepala di bawah, sudah masuk PAP, denyut jantung janin pun normal.


"Neng kok keringetan gitu? sakit?" Kharisa sepertinya sedang kegerahan, terlihat butiran keringat menghiasi kening, pelipis dah hidung Kharisa. Kharisa merasakan akhir-akhir ini udara terasa lebih panas, termasuk di malam hari, hingga ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, belum lagi dadanya sering terasa sesak, mungkin karena perutnya yang makin membesar.


"Nggak...gerah aja, sekarang aku kegerahan terus, emang A Isal gak kegerahan?"


"Nggak, biasa aja. Mungkin karena Neng hamilnya udah besar jadi sering kegerahan."


"Iya kayaknya, pinggang dan punggung juga sering sakit sekarang, tidur juga gak enak, kaki juga tambah bengkak." Kharisa memijat-mijat punggung bawahnya sendiri. Seperti itulah keluhan yang dirasakan ibu hamil di trimester ketiga, apalagi saat mendekati waktu persalinan. Dan Kharisa merasakannya, menikmati keluhan yang dirasakannya seorang diri, kalau ibu hamil yang lainnya saat mengeluh sakit dan tidak nyaman, ada suami yang mendampinginya bahkan meringankan sakit dengan mengelus, memijat dan memberi perhatian, sementara Kharisa tidak ada suami yang mendampinginya. Faisal bisa merasakan apa yang Kharisa rasakan, ia merasa kasihan melihat keadaan Kharisa, makanya kalau ada waktu kosong ia berusaha untuk mendampingi Kharisa, mendengar keluh kesahnya dan menghiburnya.


"Itulah pengorbanan seorang ibu, makanya kenapa kita harus menghormati ibu kita. Neng hebat, bisa melewati itu semua, pasti berat membawa janin di perut sampai sembilan bulan, belum merasakan mual muntah, sakit punggung, tidak nyenyak tidur, tapi insya Allah ini akan jadi amal kebaikan Neng, pengorbanan Neng pasti Allah ganti dengan pahala dan kebaikan lainnya." hibur Faisal


"A Isal gimana yah, kita masih belum bisa menghubungi Rafael, apa berarti dia tidak mau bertanggung jawab? Sebentar lagi aku melahirkan, bayi ini benar-benar lahir tanpa ayah, aku takut bagaimana nasibnya nanti, aku takut anaku akan jadi hinaan orang karena anak haram, tidak punya ayah. Ah....ini memang salah aku...hiks...hiks....." Kharisa mulai terisak, bening kristal mulai jatuh di pipinya.


"Neng jangan dulu berfikir negatif, mungkin saja Rafael mau bertanggung jawab, hanya kesulitan saja menghubungi Neng, atau dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk mendatangi Neng, Amerika kan tempatnya jauh. Neng sabar aja, jangan banyak khawatir juga dengan yang belum terjadi, A Isal yakin akan banyak orang yang sayang sama anak neng. A Isal juga akan ikut jagain dan akan menyayangi anak Neng."


"Tapi A kalau nanti anak Neng udah ngerti nanya ayahnya gimana?"


"Sstt...udah gak usah mikirin itu dulu, sekarang fokus dulu Neng bisa melahirkan lancar, bayinya lahir sehat, Neng nya juga sehat."


"Ah aku takut A, katanya melahirkan itu sakit banget, kalau aku gak kuat gimana yah, kalau aku meninggal pas melahirkan gimana ya A, nanti bayi aku gimana? Aku takut A, aku banyak dosa, aku belum siap kalau meninggal nanti."

__ADS_1


"Ish.....kenapa jadi mikir gitu, positif thinking atuh Neng, banyak kok yang melahirkan di usia muda, ibu dan bayinya selamat. Dari sekarang Neng berdoa minta dimudahkan, dilancarkan saat melahirkan nanti, yang ngasih rasa sakit itu Allah, Neng berdoa minta diringankan rasa sakitnya, dan meninggal itu pasti bagi tiap yang bernyawa, gak usah takut, Neng inget kan Abah pernah bilang, setiap orang memiliki dosa, tapi seberat apapun dosa kita, sebanyak apapun dosa kita kalau kita bertaubat dengan sungguh-sungguh pasti Allah ampuni. Neng kan sudah bertaubat, disaksikan Abah juga, Insya Allah Allah sudah mengampuni dosa dimasa lalu, yang penting ke depan jangan mengulagi lagi dan terus memperbaiki diri, menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Eh ini A Isal jadi nasehatin Neng lagi...pokonya Neng positif thingking yah, pasti bisa melewati proses melahirkan."


"Iya....makasih A Isal. A Isal memang selalu jadi penyemangat aku."


Kenapa dia bisa berpikir sedewasa itu...? Batin Kharisa.


"Eh Neng udah ada nama buat bayinya belum? Masih belum tau yah laki-laki atau perempuan?" Sampai hari kemarin mereka memang belum tahu jenis kelamin bayi yang dikandung Kharisa. Baru tadi Kharisa dan mamanya mengetahui saat pemeriksaan USG, dokter menyebutkan kalau janinnya laki-laki, sebelumnya tiap di USG selalu saja tertutup oleh posisi tangan dan kaki.


"Kata dokter tadi bayinya laki-laki."


"Wah...jagoan euy, bisa jadi temen main A Isal dong. Trus namanya sudah disiapkan belum?" tanya Faisal bersemangat. Kharisa menggelengkan kepalanya.


"Tadinya aku ingin Rafael yang ngasih nama, tapi sepertinya tidak mungkin." Wajah Kharisa terlihat sendu.


"Udah jangan sedih....gimana kalau kita siapkan namanya, di rumah ada buku kumpulan nama-nama anak Islami, punya A Farhan ketinggalan, mau lihat gak?"


"Pasti A Isal bantuin, A Isal ganti baju dulu, makan dulu bentar yah, lapar.....nanti langsung ke sini lagi sekalian bawa bukunya"


"Iya, sana makan yang banyak, biar gak kurus." Kharisa pun mengiyakan, Faisal beranjak dari duduknya dan berjalan menuju rumahnya.


Setengah jam kemudian Faisal kembali menemui Kharisa menenteng buku yang dijanjikannya.


"Ayo kita cari nama yang bagus.....nih daftar nama untuk anak laki-laki." Faisal dan Kharisa pun mulai membaca nama-nama dan artinya.


"Neng harapannya apa dari anak Neng, nama itu ibarat doa, kita memberi nama sesuai harapan kita ingin anaknya menjadi seperti apa nantinya. Misalnya orang tua memberi nama Hafiz, Hafizah karena berharap anaknya menjadi penghapal Quran."


"Yang pasti ingin jadi anak yang sholeh kuat menghadapi hidup di masa depannya." Pasti semua harapan orang tua seperti itu, anaknya menjadi anak yang sholeh. Mereka masih mencari nama yang pas untuk bayi Kharisa.

__ADS_1


"Bisa juga ngasih nama anak dari perpaduan nama ayah dan ibunya. Coba kita padukan nama Neng dengan nama Rafael. Kharisa.....Rafael.....Khara.....eh kaya merk santan he....he....." Faisal terkekeh.


"Ih jangan nama itulah...." Kharisa mengerucutkan bibirnya.


"Iya...itu kan percobaan...kalau ditukar, Rafael....Kharisa, jadi Rakha......nah bagus nih, coba kita cari Rakha ada artinya gak, kalau di Sunda Rakha itu berarti kakak, cocok jadi nanti akan jadi kakak buat adik-adiknya, coba di buku ada nama Rakha gak?" Kharisa mencari lagi di buku daftar nama yang disebutkan Faisal.


"Nih ada Rakha, artinya bahagia, kaya." Karina menunjukan daftar nama yang tertulis di buku.


"Bagus tuh, jadi doa juga semoga nanti jadi orang yang selalu bahagia, kaya, bukan hanya kaya harta, tapi kaya hati, kaya ilmu, kaya amal. Gimana Neng suka gak dengan nama itu?"


"Boleh A bagus juga." terlihat bibir Kharisa melebar terenyum bahagia.


"Iya bagus, pas juga kan perpaduan nama Neng sama nama ayahnya, biar Neng sama anak Neng juga selalu ingat sama ayahnya, pasti ayahnya juga akan senang ada namanya terpaut di nama jagoannya." ujar Faisal tulus, membuat Kharisa menitikan air mata. Dalam hatinya ia berjanji tidak akan melupakan Faisal yang sudah sangat berjasa, dan akan membalas segala kebaikannya semampu yang ia bisa.


"Jadi fix yah Rakha, tinggal nama panjangnya mau apa?" Mereka pun membaca lagi daftar nama, membolak balikan lembaran buku, mencari nama yang bagus yang mereka inginkan


"Rakha Alfarizi......Rakha Thahara.....Rakha Maulana.....Rakha Athaillah......." Faisal mencocokan beberapa nama yang mungkin pas bersanding dengan nama Rakha.


"Athaillah artinya karunia Allah......bagus gak kalau Athaillah, dia adalah karunia Allah yang hidupnya kaya dan bahagia, gimana...?" Faisal terlihat bersemangat seolah dia adalah seorang ayah yang berkewajiban memberikan nama pada putranya.


"Rakha Athaillah......bagus....aku ingin menambahkan nama belakang Rafael boleh?" Kharisa sepertinya tidak ingin menghilangkan jejak siapa ayah kandung putranya, walau bagaimanapun Rafael adalah ayah kandung putranya.


"Boleh banget Neng..."


"Jadi namanya Rakha Athaillah Prasetya."


bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2