
Entah kenapa sejak berangkat kerja jantung Kharisa terasa berdebar cepat, hatinya pun terasa gusar saat mengingat kalau hari ini ia akan bertemu dengan maminya Rafael. Ditambah semalam kurang tidur karena tiba-tiba Rakha demam, suhu tubuhnya mencapai 39 derajat celcius, baru turun setelah subuh setelah dua kali diberikan obat penurun panas. Mungkin ini juga yang membuat Kharisa tidak tenang berangkat kerja, padahal di rumah Rakha ditemani oleh mama dan Bi Nani. Kebetulan mama tidak sedang menemani papa, karena papa sedang mendampingi Mama Lisna berobat ke Singapura. Setelah mama kembali bersama papa, mama Lisna kembali bersemangat melakukan terapi, mungkin karena melihat papa yang tidak bersedih lagi dan lebih bersemangat menjalani hari-harinya, Mama Lisna pun kembali bersemangat untuk sembuh.
Selama di menuju tempat kerjanya, Kharisa melajukan motornya dengan kecepatan sedang, berusaha fokus dengan jalanan yang mulai terlihat ramai dengan kendaraan baik mobil maupun motor. Bacaan sholawat pun ia lantunkan di dalam hatinya berharap hatinya bisa lebih tenang.
Tiba di rumah sakit ia mendapat kiriman pesan WA dari Rafael.
"Sa, mami jadi datang sekitar jam sebelasan, aku nanti ada kunjungan dulu dari tim pembimbing akreditasi rumah sakit, mudah-mudahan tidak lama, nanti aku kabari lagi." Baru saja detak jantungnya sudah kembali normal kini kembali berdetak cepat setelah membaca pesan itu.
Ada rasa khawatir kalau ternyata pertemuan dengan maminya Rafael tidak sesuai dengan ekspektasinya. Ia berjalan menuju ruang kerjanya yang berada di lantai enam dengan terus membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat pertemuan dengan mami Rafael. Benarkah mami Rafael akan menerimanya sebagai menantunya atau malah memintanya menjauhi Rafael? Kalau itu yang terjadi ia harus berbuat apa? Bersikap keras mempertahankan Rafael dan tetap bersamanya atau menyerah menuruti keinginan mami Rafael?
Kelebatan bayangan saat pertemuannya sekitar tiga tahun yang lalu muncul dalam benaknya. Pertemuan di sebuah rumah makan di daerah dekat kampusnya dulu. Saat mami Rafael meminta akan mengadopsi Rakha untuk kakaknya Rafael, sebagai gantinya ia akan mendapatkan sebuah apartemen dan tanggunan biaya kuliah dan biaya hidup. Tentu saja saat itu Kharisa menolaknya, mana ada seorang ibu yang akan rela menyerahkan anaknya pada orang lain, walaupun saat itu hidupnya paspasan dengan tegas ia menolaknya. Lalu bagaimana kalau sekarang mami Rafael memintanya untuk mendapatkan hak asuh Rakha? Ia menggelengkan kepalanya menghalau bayangan di benaknya hingga ia menghentikan langkahnya di depan lift, tampak beberapa orang juga sedang menunggu lift terbuka.
"Kenapa Sa?" Ternyata Vania sudah lebih dulu berada diantara beberapa orang di sana.
"Eh...Mbak, gak apa-apa." jawab Kharisa, namun tampak kecurigaan dari ekspresi wajah Vania
"Jangan melamun kalau lagi jalan atau sebaliknya jangan jalan sambil melamun." Bisik Vania, benar saja Vania tidak percaya pada jawaban Kharisa. Kharisa hanya nyengir, sadar ternyata Vania memperhatikannya. Mereka pun masuk ke dalam lift setelah yang berada di dalam lift keluar.
Ting..........pintu lift pun terbuka di lantai enam.
"Jadi gak mau cerita nih?" Vania berhenti sejenak di depan lift sambil melihat jam tangannya, masih ada waktu lima belas menit sebelum jam kerja dimulai.
"Mbak gak sibuk?" Sepertinya Kharisa ingin berbagi cerita kegalauan hatinya. Sejak mereka ngobrol di rumah mess Vania beberapa hari yang lalu, mereka merasa cocok satu sama lain untuk saling berbagi cerita.
"Masih ada waktu lima belas menit lagi, kita ngobrol di sana saja." Vania menunjuk sofa tamu di depannya.
__ADS_1
"Ada apa Sa? Kelihatan banget kamu tadi mikirin sesuatu, sampai geleng-geleng kepala segala."
"Hmm....aku mau ketemu maminya Rafael." dari nada suaranya terdengar Kharisa terlihat tidak bersemangat
" Tante Sarah mau ketemu kamu?" Tanya Vania memastikan lagi, pantesan tadi menghubunginya, mengajak ketemuan, ia kira hanya datang untuk menemui Rafael.
"Iya, kata Rafael dia mau ketemu aku."
"Bagus dong, berarti ada kemajuan, lalu apa yang kanu khawatirkan? Tante Sarah mau ketemu kamu berarti dia mulai ingin lebih mengenalmu atau mungkin sudah nerima kamu."
"Tapi aku takut kalau ternyata malah sebaliknya, dia meminta aku menjauhi Rafael, dan ingin meminta hak asuh Rakha?"
"Jangan berpikir negatif dulu, sebenarnya Tante Sarah orang yang baik, gak mungkin dia setega itu." Kharisa sendiri selalu berusaha positif thingking tapi tetap saja bayangan masa lalunya selalu muncul. Kharisa memang belum banyak cerita pada Vania, Vania belum tau perlakuan seperti apa yang didapatkan oleh Kharisa, jadi wajar kalau saat ini muncul kekhawatiran pada dirinya.
Tepat pukul delapan mereka masuk ke ruangan masing-masing. Rasa khawatir Kharisa sedikit berkurang, ia membuang jauh-jauh pikiran negatifnya. Dan di saat seperti ini ia jadi ingat Faisal, ia belum ngasih tau kalau ia akan bertemu mami Rafael. Ia pun mengirim pesan memberitau rencana pertemuannya dengan mami Rafael, dan langsung mendapat balasan berisi nasehat dan doa yang tulus untuk kebahagiaan Kharisa dan Rakha.
Pukul sebelas Rafael mengirim pesan memberitau kalau maminya sudah ada di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit, Rumah Makan Sari Sunda yang dipilih mami Rafael untuk bertemu Kharisa. Sayangnya Rafael memberi kabar kalau posisinya sedang berada di luar, rupanya direktur RS mengajaknya menjamu tamu mereka ke tempat makan yang tempatnya agak jauh dari rumah sakit.
"Sa sory aku masih di luar, kamu gak apa-apa kan berangkat duluan? Nanti aku langsung nyusul ke sana."
Tentu saja Kharisa kecewa mendapat pesan seperti itu. Ia jadi harus menemui mami Rafael seorang diri, ia pun menemui atasannya yang berada diruangannya untuk meminta ijin, ia tidak ingin membuat mami Rafael menunggu, Andre pun memberi ijin karena ia pun sudah mengetahui alasan ijinnya dari Rafael.
Kharisa melajukan motor maticnya dengan kecepatan sedang, sama seperti tadi pagi saat berangkat dengan jantung yang berdebar, dzikir tak lepas terucap dari bibirnya hingga tak terasa ia sudah sampai di Rumah Makan Sari Sunda, hanya sepuluh menit waktu tempuh dari rumah sakit karena jalanannya cukup lengang. Ia memarkirkan motornya di area parkir khusus motor.
Dengan jantung yang masih berdebar ia berjalan memasuki rumah makan. Entah kenapa ia merasa dejavu dengan situasi seperti ini, sebelum meniggalkan rumah sakit ia menghubungi mamanya menanyakan keadaan Rakha, ternyata suhunya tinggi lagi diatas 38 derajat celcius. Tiga tahun yang lalu saat ia menemui mami Rafael, Rakha juga sedang demam, bahkan malam harinya setelah ia menemui mami Rafael Rakha dibawa ke rumah sakit diantar Faisal dengan menggunakan motor karena suhunya yang terus tinggi.
__ADS_1
Ia melihat sorang wanita dengan penampilan yang terlihat elegan menggunakan setelan rok panjang motif flower, atasan polos berwarna soft green. Ya itu mami Rafael yang tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia melihatnya, masih terlihat cantik di usiana yang sudah memasuki setengah abad.
"Assalamualaikum....selamat siang tante." Dengan perasaan ragu Kharisa mengas Kharisa sedikit membungkukan badan dan kepalanya, disambut dengan senyuman tipis di bibirnya, sepertinya enggan untuk memberikan
senyum lebar kepada Kharisa.
"Siang.....duduklah." Ujarnya santai, Kharisa pun duduk berhadapan dengan mami Rafael.
"Bagaimana keadaan Rakha?"
"Alhamdulillah, Rakha sehat." Jawaban Kharisa tentu saja bohong, karena jelas-jelas Rakha sedang demam. Dan lagi-lagi ia merasa dejavu dengan keadaan seperti ini.
"Oke, langsung saja ke inti, karena saya tidak bisa berlama-lama di sini." Ternyata sikap dan gaya bicara mami Rafael masih sama seperti dulu, Kharisa jadi mulai yakin kalau dugaannya benar, mami Rafael tidak akan pernah menerimanya.
"Saya salut sama kamu, bisa membuat anak saya sampai dengan mudah memutuskan pertunangannya. Kamu pasti berguru sama ibu kamu yah?" Kharisa tentu saja terkejut mendengar ucapan mami Rafael, ia memicingkan matanya.
"Maksud tante apa?"
"Saya sudah tau status ibu kamu itu istri kedua. Sudah terbayang bagai mana dulu ibu kamu menggoda papa kamu hingga menikah."
" Tante saya mohon jangan bawa- bawa mama saya, sebenarnya mau tante apa ketemu dengan saya?"
"Saya minta kamu tinggalkan Rafel."
bersambung.....!
__ADS_1