Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Tidak Ingin Mengecewakanmu


__ADS_3

Suasana kampus tempat Faisal mengabdi beberapa hari ini sudah kembali ramai dengan mahasiswa yang kembali aktif mengikuti kegiatan kampus memasuki awal semester genap. Kelas pun mulai terisi oleh aktifitas perkuliahan.


Faisal baru saja keluar dari ruangan kantornya, saat seorang gadis mengetuk pintu kantor yang sedikit terbuka.


"Masuk." Terdengar suara dari dalam ruangan. Gadis itu pun membuka pintu, mengedarkan pandangan, namun orang yang dicarinya tidak kelihatan.


"Cari siapa Aini." Ternyata gadis itu cukup di kenal di lingkungan dosen di kampus ini. Siapa yang tidak kenal dengan Aini, mahasiswi tingkat tiga, terkenal smart, menguasai bahasa Inggris dan Jerman, supel dan dia juga putri dari salah satu guru besar di kampus itu.


"Eh....Kang Faisal gak ada ya Pak? Maksudnya Pak Faisal Pak." Jawabnya gugup karena kebiasaan memanggil orang yang dulu kakak tingkatnya dengan panggilan Kang yang berarti kakak.


"Oh...Pak Faisal baru saja ke ruang dekan." Jawab rekan dosen yang lebih senior dari Faisal. "Tunggu saja, sebentar kayanya." Sambungnya.


" Baik Pak, saya nunggu di luar." Aini menganggukan kepala memberi hormat.


"Ok."


Aini pun keluar ruangan, ia memutuskan ke gedung tempat dekan, biar bisa cepat bertemu Faisal.


Langkahnya terhenti saat ia memasuki lobi gedung dekanat. Orang yang dicarinya ada di sana, tapi tidak sendiri, tampak sedang berbincang di sofa ruang tunggu tamu dengan seorang wanita, rekan dosennya, sama-sama masih muda, dulunya senior Faisal, beda satu tingkat di atasnya, Bu Fani biasa dipanggilnya.


Aini tidak melanjutkan langkahnya, ia keluar lobi, berdiri bersandar pada pilar di teras gedung. Dari tempat itu ia bisa melihat dengan jelas lewat dinding kaca interaksi Faisal dengan rekan dosennya. Entah apa yang mereka obrolkan, tapi Aini bisa melihat jelas bagaimana Bu Fani menatap Faisal dengan mata berbinar. Tiba-tiba hatinya bergemuruh, ia tidak suka melihat Faisal terlihat akrab dengan gadis lain. Entah kenapa hatinya terasa perih bila melihatnya. Ia menghela nafasnya, namun tetap berada di sana. Hingga akhirnya ia melihat mereka berdua berjalan ke luar lobi ke arahnya. Aini pun merapihkan baju dan hijabnya yang sebenarnya dalam keadaan rapi.


"Kang Faisal...eh Pak Faisal." Aini menyapa Faisal dengan senyum manis di bibirnya.


"Eh Aini....ada di sini?" Faisal menghentikan langkahnya, diikuti Fani yang ada di sampingnya.


"Eh iya....mau ketemu Pak Faisal, mau ngasihin yang kemarin aku janjikan, tadi ke ruangan kantor gak ada, aku susul saja ke sini, hmm....soalnya mau langsung pulang." Ujarnya sedikit berbohong, padahal ia tidak berniat untuk langsung pulang, rencananya nongkrong di perpus tempat yang paking ia sukai di kampus ini. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas gendongnya. Sebuah goodie bag entah apa isinya, namun terlihat tebal. Faisal menerimanya dengan senyum menghiasi bibirnya.


"Makasih ya Aini, jadi ngerepotin, padahal aku nanti bisa ngambil ke rumah. Oke aku akan mempelajarinya. Kalau aku sudah bisa sediki-sedikit, nanti aku kembalikan."

__ADS_1


Aini menganggulan kepalanya, tak kupa senyum manisnya masih ia pasang di wajahnya. Tapi ada rasa sesal mendengar ucapan Faisal. Harusnya ia tidak perlu menemui Faisal kalau benar Faisal akan mengambilnya ke rumah, bertemu di rumah lebih leluasa, bisa ngobrol lama, kalau di kampus ya seperti ini, sering tidak sesuai harapan karena kesibukan Faisal. Tapi tadi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menemui Faisal, rasanya tidak tenang kalau tidak bertemu dengan orang yang dikaguminya itu, mungkin juga sebenarnya ia mencintainya.


"Di dalamnya ada titipan ibu juga." Ucapnya bohong lagi, bawa-bawa ibunya.


"Sampaikan makasih sama ibu yah." Ujar Faisal sambil mengintip isi pemberian Aini.


"Ya sudah, saya permisi." Aini pun pamit meninggalkan Faisal dan Fani yang masih bergeming menatap kepergian Aini. Faisal dan Fani pun berpisah di teras lobi, Faisal berjalan ke sebelah kiri ke arah mushola untuk shalat dhuhur, sedangkan Fani ke ruang kantornya.


Selesai shalat dhuhur Faisal menuju ruangan kerjanya, tidak ada siapapun di sana, sepertinya rekannya tengah makan siang di kantin. Faisal sendiri tengah berpuasa sunah hari Kamis.


Ia duduk di kursinya, membuka goodie bag pemberian Aini, ternyata dua buah buku percakapan dalam bahasa Jerman dan ada satu kotak plastik transparan, bisa terlihat isinya ternyata kue putri salju, terlihat tepung berwarna putih membalut kuenya yang berbentuk bulan sabit, bisa dipastikan kalau tepung berwarna putih itu adalah gula halus yang akan menambah rasa manis pada kue putri salju itu. Ini makanan kedua pemberian Aini, batin Faisal. Entah kenapa kalau Faisal semakin merasa kalau Aini menyukainya.


Apa aku harus menjauhinya? Aku tidak mau dia kecewa. Ya ....aku tidak ingin mengecewakanmu Aini. Batinnya lagi.


Sementara sepasang pengantin baru, baru saja landing di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid Lombok. Akhirnya mereka memutuskan untuk honeymoon di Lombok, memanfaatkan kado pernikahan dari sahabatnya Mario dan istrinya Dita. Saat datang ke acara resepsi Mario memberikan sebuah amplop putih panjang bersegel.


"Ini kado dari Gue dan Dita, Lo harus gunakannya, kalau nggak, Gue gak mau jadi temen Lo lagi." Ujar Mario waktu itu. Dan saat dibuka esok harinya oleh Rafael, ternyata sebuah voucher perjalanan Honey moon ke Lombok, empat hari tiga malam.


Dan setelah merayu Rakha agar mengijinkan mommy dan daddynya bisa pergi berdua, akhirnya mereka berangkat dengan rasa lega. Rakha mau ditinggal karena omanya mengajak ia pergi ke tempat abah. Ia pun terlihat bersemangat untuk ikut omanya, sepertinya ia merindukan tempat dimana ia dilahirkan, membayangkan akan bertemu abah, aki, enin akan melihat tempat yang membuatnya senang bermain di sama.


Rakha pun langsung meminta mommynya menghibungi Om Isalnya. Ternyata ia meminta Faisal juga untuk pulang, katanya agar bisa mancing dan jalan-jalan berkeliling di sekitar pondok menggunakan motor.


Di bandara Kharisa dan Rafael disambut oleh seorang tour guide yang akan memandu mereka selama ada di sana. Suasana bandara terlihat begitu ramai, tampak para tourist asing berdatangan. Ternyata mereka datang selain untuk berwisata juga untuk menyaksikan event Moto GP yang akan berlangsung di sirkuit baru yang ada di Mandalika dua hari lagi. Begitu penjelasan tour guide nya.


Tour guide langsung membawa pasangan yang terlihat mesra itu menuju hotel yang ada di kawasan Senggigi. Hotel yang sama yang ditempati Mario dan Dita saat mereka berlibur ke sana atas rekomendasi kakak ipar Dita yang tak lain adalah mantan pacar Mario.


"Ini indah sekali El." Kharisa tengah berada di balkon kamarnya, memandangi laut lepas yang terlihat seperti sebuah lukisan alam, angin laut berhembus menerpa wajahnya, membuatnya menejamkan matanya menikmati sentuhan anginbyag sudah lama tidak ia rasakan. Lebih dari lima tahun ia tidak pernah menikmati laut. Terakhir saat kelas dua SMA ia beribur ke Bali bersama papa mamanya juga kakak sambungnya Rendi. Setelah itu tidak ada liburan bersama keluarga, ia sibuk dengan kehamilan Rakha, membesarkannya sambil fokus dengan kuliahnya. Tidak pernah terpikir untuk berlibur ke tempat wisata, lebih baik uang yang ada digunakan untuk kebutuhan kuliah dan kebutuhan sehari-harinya.


Kini ia bisa menikmati kembali masa-masa dulu berlibur ke tempat wisata, bahkan kini ia bisa menikmatinya bersama seseorang yang dicintai dan juga mencintainya.

__ADS_1


"Kamu suka tempat ini?" Tiba-tiba Rafael memeluk Kharisa dari belakang.


"Sangat suka....kamu harus berterima kasih sama Mario dan istrinya, mereka pintar memilih tempat ini."


"Ya pulang dari sini kita temuin mereka, sekalian bawain oleh-oleh. Beberapa bulan yang lalu mereka liburan ke sini, katanya cocok untuk honey moon, makanya mereka memilih ini untuk kita." Rafael mengeratkan pelukannya saat angin terasa berhembus menerpa tubuh mereka.


"Kamu gak kedinginan? kita masuk ke dalam."


"Sebentar lagi, aku masih ingin melihat laut itu, dari sini terlihat tenang, padahal kalau dilihat dari dekat pasti ada riak ombak karena tertempa angin." Mata Kharisa terlohat beebinst


"Sudah lama aku tidak melihat laut, kemarin-kemarin aku seringnya lihat sawah, tapi aku suka keduanya, sama-sama memberikan suasana berbeda." Sambung Kharisa lagi.


"Kalau ada waktu luang, aku mau mengajak kamu ke tempat-tempat yang kamu suka, tinggal kamu bilang saja kamu mau kemana. Aku ingin mengganti waktu yang kemarin aku lewatkan tanpa kamu." Ujar Rafael. Ia jadi teringat masa lima tahun ke belakang saat mereka berjauhan bahkan tidak mengetahui kabar masing-masing.


"Sa....." Rafael membalikan tubuh Kharisa hingga kini mereka berhadapan.


"Mulai saat ini aku hanya ingin membuatmu bahagia, jadi Ingatkan aku jika aku membuatmu kecewa, marah, sedih atau ada hal apa pun yang membuatmu tidak suka."


"Aku sangat bersyukur akhirnya kita bisa bersama, aku gak tau apa jadinya kalau aku gak ketemu kamu lagi, atau kamu tidak menerima aku lagi, sepertinya aku akan menjalani hidup tanpa semangat."


"Gak usah lebay El, kalau kita tidak bersama berarti kita tidak berjodoh, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, mungkin kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih cantik dari aku, lebih pintar, lebih......" Rafael menutup mulut Kharisa dengan jarinya.


"Sssttt.....kamu ngomong apa? Bagiku gak ada yang lebih baik selain kamu. Kamu segalanya untukku."


"Iiihh......kan seandainya." Kharisa menarik tangan Rafael yang menutupi mulutnya.


"Iya....dan ternyata kamulah yang terbaik untukku." Rafael mengecup bibir Kharisa.


Aku tidak ingin mengecewakanmu lagi Sa. Aku janji akan selalu berada disampingmu, membahagiakanmu dan anak-anak kita *nanti.

__ADS_1


bersambung*


__ADS_2