Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Dady


__ADS_3

"A Isal....Aku diterima kerja di rumah sakit, fix di bagian marketing, Senin besok mulai masuk." Suara Kharisa terdengar riang saat memberi kabar Faisal lewat panggilan WA. Baru saja ia dihubungi pihak HRD rumah sakit kalau ia diterima sebagai staf Marketing. Dua hari setelah pindahan, ia memasukan lamaran sebagai staf marketing ke rumah sakit Setya Medika, sesuai info lowongan kerja rumah sakit itu membutuhkan staf marketing selain perawat, dokter dan staf penunjang lainnya. Satu minggu kemudian ia mendapat panggilan untuk tes, tiga hari yang lalu ia datang ke rumah sakit mengikuti psiko tes, dan tes tulis, kemudian ia langsung lolos masuk tes interview pada hari itu juga. Dan mulai hari Senin besok ia akan memulai harinya sebagai karyawan rumah sakit swasta.


"Alhamdulillah.....selamat ya Neng, jadi karyawan dong." Suara Faisal pun terdengar riang. " Rakha sudah dikasih tau? Harus dikasih pengertian, takutnya nanti nyariin, sampai sore kan kerjanya?"


"Pasti nanti aku ajak bicara, sekarang lagi main di rumah Wa Dini, tadi dijemput A Radit, seneng dia di sana diajarin main PS."


"Wah hati-hati bisa ketagihan dong, A Radit juga udah ketagihan tuh, udah mau lulus dari mahasiswa juga mainannya PS." Gerutu Faisal, Faisal sendiri tidak tertarik dengan permainan PS atau game semacamnya, sejak kecil memang tidak dikenalkan dengan permainan semacam itu.


"Rakha sudah dikasih tau boleh main game satu jam sehari , termasuk main game di PS dan HP, sudah perjanjian juga, kalau melanggar biasa dapat punishment." Ujar Kharisa, dia tau Faisal mengkhawatirkan Rakha.


"Harus diawasi Neng, jangan sampai nyuri-nyuri kesempatan." Sepertinya Faisal takut Rakha kecanduan main game.


"Iya, sudah minta bantuan Mama sama Bi Nani juga untuk ngawasin..."


"Trus jadi Rakha sekolahnya?"


"Jadi, udah di daftarin sama Mama, Senin depan mulai masuk, seneng banget dia mau sekolah."


"Iya, Rakha cerita sekolahnya sama A Isal, sekolahnya bagus katanya, A Isal jadi pengen lihat dia pakai baju seragamnya, nganter dia ke sekolahnya pasti seru." Suara Faisal terdengar menyimpan kesedihan. Tentu saja ia sedih tidak bisa mendampingi hari-hari Rakha seperti sebelumnya, hati Faisal sepertinya sudah tertambat pada bocah kecil asuhannya itu.


"Hari kerjaku hari Senin sampai Sabtu dari jam delapan sampai jam empat, kecuali Sabtu setengah hari. Jadi aku bisa nganter Rakha dulu ke sekolah, dia masuk jam setengah delapan. Dari sekolah Rakha ke tempat kerjaku paling lima belas menitan sudah sampai kalau pakai motor."


"Emang deket rumah sakitnya? Sebelah mana sih? A Isal belum pernah lewat daerah itu yah?" Tanya Faisal penasaran.


"Gak terlalu deket sih, yang mau ke arah jalan tol, kalau pakai motor bisa lewat jalan motong, dan enaknya lagi di sini tuh jalanannya gak terlalu padat, yah antri dikit pas di lampu merah." Sepertinya Kharisa mulai hapal dengan jalanan di tempat barunya setelah diajak keliling oleh Radit sepupunya, mama memang sengaja membelikan Kharisa motor matic untuk memperlancar aktivitasnya, jadi kalau bepergian dalam kota tidak selalu mengandalkan kendaraan umum. Tabungan mama masih cukup untuk membeli motor matic yang cocok untuk Kharisa, tabungan itu tadinya untuk biaya kuliah Kharisa, ternyata hanya digunakan sebagian kecilnya saja karena mulai semester tiga sampai lulus Kharisa mendapat beasiswa dari salah satu perusahaan BUMN. Beasiswa yang diberikan meliputi biaya kuliah/SPP, uang saku enam ratus lima puluh ribu rupiah per bulan, tentu saja beasiswa ini sangat membantu Kharisa dan mamanya. Waktu itu Faisal yang memberi info program beasiswa ini, mereka daftar bareng dan sama-sama lolos mendapatkan beasiswa.


"A Isal udah dulu yah, aku mau jemput Rakha, udah satu jam dia main, waktunya tidur siang."


"Ya Neng, semoga dilancarkan segala urusannya, salam buat Mama."


"Ya, A Isal juga semoga lancar urusannya, sehat-sehat di sana. Assalamualaikum." Kharisa pun menutup obrolan melalui HPnya.


Begitulah obrolan jarak jauh Kharisa dan Faisal. Mereka selalu menyempatkan untuk berkomunikasi tiap hari, walau hanya lewat chat di WA, walau hanya menanyakan kabar, menanyakan sedang apa? sudah makan belum? Itu sudah cukup membuat Kharisa merasa tetap dekat dengan Faisal walaupun raga mereka berjauhan.


Waktu pun terasa berputar begitu cepat, dua hari kemarin menjadi hari yang sibuk bagi Kharisa untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk memulai statusnya sebagai seorang karyawan. Tentu saja ia harus menyiapkan pakaian yang cocok digunakan di tempat kerjanya, termasuk sepatunya. Ia pun membeli beberapa stel baju kerja, blazer yang cocok dipadukan dengan kulot atau rok, kemeja, outer dan sepatu dengan hak tiga sentimeter, Kharisa tidak terbiasa menggunakan sepatu hak tinggi, tiga senti masih cukup nyaman untuk dibawa beraktifitas berjalan kesana kemari.

__ADS_1


Dan pagi ini, setelah shalat subuh dan membaca Al Quran, Kharisa tisak biaa bersantai-santai lagi, ia memandikan putranya yang sudah terbiasa bangun pagi, ya Rakha terbiasa bangun pukul lima pagi, shalat subuh sendiri walaupun hanya surat alfatihah yang dibacanya tapi tanpa disuruh Rakha dengan kesadaran sendiri mengerjakan gerakan shalatnya dengan benar.


"Rakha hari ini Momy mulai masuk kerja, Rakha nanti mainnya sama Oma, sama Nenek yah." Ujar Kharisa pada putranya, sambil mengancingkan kancing kemeja yang dipakai Rakha.


"Ya momy.......aku mau masukin kancingnya momy." Kharisa membiarkan putranya memasang kancingnya sendiri walaupun jadinya lama, tapi dengan sabar Kharisa memperhatikannya. Rakha pun tidak banyak bertanya lagi tentang pekerjaan momynya, tidak seperti kemarin saat dijelaskan kalau mominya akan mulai bekerja banyak sekali pertanyaannya.


"Momy keljanya dimana? Aku boleh main ke tempat kelja momy?"


Kharisa pun menjawab kalau ia bekerja di rumah sakit.


"Di rumah sakit itu banyak orang sakit, banyak kuman, jadi anak kecil tidak boleh ke rumah sakit, karena khawatir nanti kumannya nempel ke badan trus ikut kebawa pulang deh." Penjelasan sederhana yang bisa dimengerti oleh bocah yang baru akan masuk sekolah TK.


"Nanti yang sakitnya diobatin sama doktel ya momy? Jadi di tempat kelja Momy banyak doktelnya?" Tanyanya lagi


"Iya yang sakitnya diobatin sama dokter tapi disembuhkannya sama Allah." Jawab Kharisa, ia mulai menanamkan ajaran Tauhid pada putranya, sesuai arahan Faisal untuk mengenalkan Allah dan sifat-sifatnya pada Rakha sejak masih kecil.


"Nanti kalau Dady sekolahnya sudah selesai keljanya di lumah sakit juga ya Momy? Nanti baleng Momy keljanya, jadi teman Momy....he..he..he...." Rakha terkekeh sambil menutup mulutnya. Waktu itu Kharisa hanya bisa tertegun mendengar celotehan putranya yang mulai sering bertanya tentang dadynya. Akhirnya yang ditakutkan Kharisa terjadi juga, suatu saat Rakha pasti akan menanyakan ayahnya, namun Kharisa tidak menyangka akan secepat ini putranya menanyakan keberadaan ayahnya, disaat ia belum menyiapkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan putranya.


Bermula dari obrolan dua anak kecil di ruang bermain di rumah Kang Farhan dan Teh Moza saat syukuran acara wisuda , yang satu gadis kecil yang belum genap berumur lima tahun dan bocah laki-laki berumur empat tahun terdengar serius berbincang layaknya seperti dua orang dewasa yang tengah membicarakan sesuatu.


"Apa? Aku gak ngelti." Jawab Rakha polos.


"Om Isal ayah kamu bukan? Tapi kamu manggilnya Om yah, jadi Om Isal bukan ayah kamu...?" Tanya Khanza penasaran.


"Om Isal itu Om, aku suka belmain sama Om Isal, jadi Om Isal temen aku, Om Isal juga suka ngajalin aju ngaji, baca, nulis, jadi Om Isal gulu aku." Jawab Rakha sambil asik mewarnai gambar mobil kesayangannya Mcqueen.


"Jadi ayah kamu mana?" Rupanya Khanza termasuk anak yang kritis, akan terus bertanya kalau belum mendapatkan jawaban yang membuatnya puas.


"Ayah?" tanya Rakha bingung, ia belum paham apa yang dimaksud Khanza.


"Iya ayah, setiap anak pasti punya ayah dan ibu, seperti aku, Uma ibuku, Aba ayahku, kamu juga kan punya momy, itu ibumu, nah kalau ayah kamu mana?" Gadis kecil itu terlihat lebih dewasa dari usianya, bicaranya pun begitu jelas tidak cadel seperti Rakha.


Pulang dari rumah Kang Farhan, Rakha mulai menanyakan ayahnya pada Kharisa.


"Momy.....ayah aku mana?" Saat itu jantung Kharisa serasa berhenti berdetak mendengar pertanyaan putra kecilnya.

__ADS_1


"Kata Khanza aku pasti punya ayah dan ibu, Momy ibu aku, ayah aku siapa?" Kharisa betul-betul tidak siap mendapat pertanyaan Rakha.


"Rakha punya Dady...." Jawab Kharisa sambil terus berpikir mencari lagi jawaban yang tepat. Apa yang harus ia jelaskan tentang ayahnya pada Rakha sementara keberadaannya pun dimana ia tidak tau.


"Dady.....?"


"Ya Dady....ayah Rakha." Jawab Kharisa sambil mengelus rambut putranya.


"Kaya Abanya Khanza? "Tanya Rakha lagi, memastikan. Kharisa menganggukan kepalanya.


"Aku mau ketemu Dady." Kharisa melihat mata putranya bersinar, apa Rakha mulai mengerti maksudnya ayah, Dady. Saat itu hati Kharisa benar-benar perih.


"Dady Rakha jauh, jadi belum bisa ketemu Rakha."


"Kenapa jauh?" Ternyata Rakha kritis juga, dan Kharisa belum memiliki jawaban yang tepat yang bisa dipahami putra kecilnya.


"Dady Rakha sedang sekolah, kuliah di luar negri."


"Kuliah kaya Momy sama Om Isal? Kenapa sekolahnya jauh?" Tanyanya lagi, Rakha belum puas untuk mengetahui sosok ayahnya. Lagi-lagi Kharisa menganggukan kepalanya.


"Dady kuliahnya jauh karena ingin jadi dokter." Itulah jawaban Kharisa yang disampaikan kepada putranya.


"Momy.....Momy ....aku sudah selesai masang kancingnya." Kharisa tersentak mendengar suara putranya.


"Oh.. sudah yah, anak pintar, sini Momy rapihin lagi bajunya."


"Sekarang kita sarapan yuk, setelah sarapan Momy berangkat kerja ya sayang."


"Ya Momy." Rakha ikut beranjak mengikuti momynya menuju ruang makan.


Setelah meminta restu mamanya sambil mencium punggung tangan mamanya, Kharisa melangkah dengan penuh percaya diri meninggalkan rumahnya menuju tempat kerjanya Rumah Sakit Setya Medika.


bersambung.......


Di episode berikutnya beneran muncul Rafael, ikuti terus yah. Jangan lupa like komennya.🤗

__ADS_1


__ADS_2