Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Kejutan Tiba-tiba


__ADS_3

"Mama akan kembali ke rumah kalau Papa menyesali sikapnya dulu dan mau menerima Rakha sebagai cucunya." Mama memang masih mencintai Papa, tapi ia juga mempunyai prinsip yang tidak mudah goyah. Seorang istri memang harus patuh pada perintah suami, tapi tentu saja perintah dalam hal kebaikan. Lima tahun yang lalu ia mengabaikan perintah suaminya, tapi ia yakin dengan ksputusannya, karena jelas perintah suaminya bisa menjerumuskannya ke lubang neraka, bukan hanya dia tapi suami juga putrinya. Di sisi lainnya Papa Kharisa adalah orang yang keras, selama ini segala keputusan ada di tangannya, dan ia paling tidak suka dibantah, jadi saat istrinya tidak mengikuti apa yang ia perintahkan apalagi malah pergi meninggalkannya, ia benar-benar marah, hingga ia mengabaikan dan tidak berusaha mencarinya, namun sampai saat ini tak pernah keluar dari mulutnya kata talak. Dalam hatinya ia mengharapkan istrinya kembali dan meminta maaf padanya.


"Mah, Papanya sepertinya sudah menyesal, ia meminta maaf juga sama Kharis, sepertinya papa juga berharap kita kembali." Kharisa berusaha meyakinkan Mamanya, pasti ia berharap mamanya bisa bersatu lagi dwngan papanya.


"Trus apa Papa menanyakan kabar cucunya?" Kharisa diam tidak menjawab, kemarin papa memang sama sekali tidak menanyakan Rakha.


"Nggak sih, mungkin karena waktunya mepet, jadi Papa gak sempat bertanya." Kharisa berusaha berpikiran positif, semoga saja papanya bisa menerima Rakha sebagai cucunya. Orang tua Farael saja mau menerima Rakha sebagai cucunya (kalau mendengar dari cerita Rafael, juga Rakha), masa papanya tidak mau menerima cucunya.


"Berarti kita belum tau apa Papa menerima cucunya atau tidak, kita lihat saja nanti." Ujar Mama santai. Kini mama menjadi wanita yang tegar, seperti apa jalan hidupnya nanti akan ia jalani dengan ikhlas. "Sudah malam, sebaiknya kamu tidur, istirahat." Kharisa menganggukan kepalanya tanda mengiyakan lalu kembali ke kamarnya setelah sebelumnya memeluk mamanya.


Di dalam kamarnya ia tidak langsung tidur, ia duduk menyandar di tempat tidur sambil memandangi putranya yang tidur lelap, sesekali ia mengecup keningnya lalu berucap dengan lembut sambil mengusap kepalanya.


"Jadilah anak yang sholeh ya Nak."


"Ya Allah, penuhilah hatinya dengan cahaya dan hikmah, dan jadikan ia hamba-Mu yang pantas menerima nikmat dan kebahagiaan. Jadikanlah ia penyejuk hati kami. Aamiin." Kharisa mengecup lagi kening Rakha yang sama sekali tidak terganggu dengan sentuhan momynya.


Seperti itu yang dilajukan Kharisa bila tidak bisa tidur, tidak pernah bosan memandangi putranya, kadang sambil mengucapkan kata-kata positif, nasehat dan doa untuk putranya.


Rasa bersalah karena Rakha lahir di luar pernikahan selalu menyelimuti hatinya, entah apa yang akan ia jelaskan nanti kalau Rakha mulai mengerti statusnya, saat melihat akte kelahirannya yang hanya tercantum namanya dan nama momynya, tidak ada nama dadynya tercantum di sana. Semoga saja saat itu Rakha bisa memahami dan menerima, tidak kecewa atau bahkan membencinya. Mengingat itu membuat dadanya sesak.


Kharisa hanya bisa menarik nafas panjang, untuk melegakan sesak dadanya. Ia jadi teringat pembicaraannya dengan Rafael saat di cafe sore tadi. Rupanya Rafael tau kalau Kharisa bertemu papanya, dari siapa lagi kalau bukan Andre yang memberitaunya.


"Sa, kata Bang Andre kemarin kamu ketemu papamu di hotel?" Tanya Rafael setelah ia menghabiskan makanannya.

__ADS_1


"Pa Andre cerita sama kamu?"


"Bang Andre khawatir sama kamu, tapi papamu gak ngapa-ngapain kamu kan? Papamu masih marah?" Rafael juga terlihat khawatir.


"Nggak, papa sudah maafin aku, bahkan ingin aku pulang, dia tanya kapan aku akan kembali ke rumah." Senyum tipis terbit di bibir Kharisa, terlihat kelegaan di wajahnya.


"Trus kamu akan kembali ke Jakarta bersama papa kamu lagi?"


"Aku akan kembali ke rumah, kalau mama juga kembali bersama papa."


"Sa, antar aku ketemu Papamu." Saat itu sontak saja kharisa terkejut mendengar ucapan Rafael.


"Untuk apa?" tanya Kharisa sambil mengernyitkan keningnya.


"Aku gak mau, aku gak bisa." Ucapnya segera.


"Kenapa Sa? Bukankah papamu sudah memaafkanmu? Mumpung kita masih di sini Sa."


"Sory El, aku gak bisa." Tentu saja bukan tanpa alasan Kharisa menolak ajakan Rafael, selain tidak ingin merusak suasana hati papanya dan hubungan dengan papanya yang baru saja membaik juga ia ingin menghindar dari tujuan Rafael yang ingin bertanggung jawab terhadapnya dan Rakha, apalagi kalau bukan dengan menikahinya, jelas hatinya masih belum bisa menerima kembali Rafael untuk menjadi bagian dalam hidupnya. Ya tekadnya sudah bulat, ikhlas melepas Rafael, hanya menerimanya sebagai ayahnya Rakha.


Malampun semakin larut saat kantuk mulai menyerangnya, ia pun memejamkan matanya, berbaring disamping putranya dengan merangkulnya.


Keesokan harinya, pukul enam pagi, Rakha sudah siap menggunakan baju seragamnya.

__ADS_1


"Momy aku mau telpon Om Isal." Rupanya ia kangen sama Omnya itu, sudah dua hari ini ia tidak kontak dengan Om kesayangannya. Fsisal memang tau dua hari kemarin Rakha bersama ayahnya, Kharisa yang memberitahu lewat chat WA sekalian curhat, mengungkapkan kekhawatirannya saat Rafael tidak menjawab telponnya.


Kharisa mengijinkan Rakha menghubungi Faisal, langsung saja bocah itu mengambil HP momynya, mencari kontak Faisal dan menyambungkan vidio call. Akhirnya Rakha bisa melepas kerinduannya pada Om yang selalu dinantikan kedatangannya.


Setelah Rakha selesai vidio call dengan Faisal, HP Kharisa kembali berdering, tanda panggilan telpon masuk.


"Momy ada telepon." Teriak Rakha daribruang tengah, Khsrisa sendiri tengah berada di kamarnya.


" Dari siapa sayang?" Kharisa mendekati putranya.


"Gak ada namanya." Rakha menyerahkan HP momynya. Terlihat nomor tidak dikenal di layar HP Kharisa. Biasanya Khsrisa mendapat telpon dari nomor tak dikenal dari klien, dokter atau bidan yang akan merujuk pasien ke rumah sakit, atau ingin menanyakan jadwal praktek dokter spesialis dan fasilitas rumah sakit. Ia pun segera menekan tombol hijau di layar HPnya.


"Halo..." terdengar suara berat menyapanya. "Benar ini Kharisa?"


"Ya, saya Kharisa, ada yang bisa saya bantu?" Ucapan standar yang diucapkan saat berkomunikasi dengan klien tak pernah ia lewatkan.


"Ya Tuhan.....akhirnya....Mas tutup dulu, kita vidio call." Sambungan pun terputus, membuat Kharisa heran, siapa yang barusan menelponnya, mengapa mau mengganti dengan sambungan vidio call? Tapi tunggu, kenapa mendengar suaranya seperti tidak asing, dan ia menyebut dirinya dengan panggilan Mas, apa ia mengenalnya. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak semakin cepat, mungkinkah?


HPnya kembali berdering, kini muncul panggilan vidio call dari nomor yang sama. Dengan ragu ia menekan tombol hijau dan muncul wajah seseorang di layar HPnya. Ia diam terpaku menatap wajah yang tengah tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca.


"Maaaasssss......."


bersambung

__ADS_1


__ADS_2