
Kharisa baru saja selesai shalat Isya saat phonselnya berdering. Ia langsung menerima panggilan telphone setelah melihat nama A Isal terpampang di layar phoneselnya, sambil berjalan ke luar kamarnya.
"Assalamualaikum A, A Isal sehat? Kemana saja gak ada kabar?"
"Waalaikumsalam Neng, alhamdulillah A Isal sehat, tadi gak keangkat HPnya gak di bawa di kost an." Rupanya Kharisa tadi menghubungi Faisal setelah shalat maghrib, sesuai permintaan Rakha yang kangen sama omnya.
"Tadi Rakha pengen ngobrol sama A Isal, kangen katanya sama Omnya, sekarang belum pulang dari masjid sama Daddynya, gak tau kemana dulu, tumben belum nyampe rumah." Entah kemana Rakha dan Daddynya, harusnya sudah nyampe rumah.
"A Isal nanti bisa datang ke acara resepsi kan? Ibu, bapak A Isal dan Teh Ira katanya bisa datang, malah mau nginap dari hari Sabtu, pokoknya A Isal juga harus datang, nginep juga yah." Pinta Kharisa
"Insya Allah, A Isal usahakan bisa datang, tapi belum tau nginap atau tidaknya, pokoknya pas acaranya diusahakan datang." Tentu saja Faisal tidak ingin melewatkan kehadirannya di hari bahagia Kharisa. Ia ingin menjadi saksi bagaimana akhir perjuangan Kharisa yang akhirnya bisa bersama dengan Rafael, laki-laki yang sejak lebih dari lima tahun yang lalu ditunggu kedatangannya.
"Yeeeehh...makasih ya A." Entah kenapa ada kelegaan yang dirasakan Kharisa setelah mendengar Faisal akan menghadiri resepsi pernikahannya. Yang pasti ia ingin berbagi kebahagiaan dengan laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai saudara, kakak, bahkan lebih dari saudara entah apa namanya, yang pasti bagi Kharisa, Faisal begitu berarti karena begitu berjasa dalam hidupnya.
Sambil menunggu kedatangan Rakha, Kharisa dan Faisal pun tampak asyik berbincang walau jarak jauh, untuk pertama kalinya setelah Kharisa menikah. Kharisa menceritakan rencana bekerja di perusahaan papanya sementara dipending, karena lebih memilih mendampingi suaminya. Tentu saja Faisal mendukung apa yang akan dilakukan Kharisa.
"Memang harusnya seperti itu, sebaik-baik istri berada di sisi suaminya." Ucap Faisal
"Toh bekerja mencari nafkah bukan kewajiban seorang istri, kewajiban seorang istri adalah melayani suaminya." Sambung Faisal.
"Iya A, tapi kok sayang yah kalau sekolah tinggi tapi gak diamalkan ilmunya." Ujar Kharisa yang masih ragu kalau ia hanya menjadi ibu rumah tangga.
"Siapa bilang ilmunya tidak diamalkan? Mengamalkan ilmu yang di dapat itu tidak harus di tempat kerja, di rumah dan di lingkungan sekitar rumah juga bisa. Ilmu yang kita dapat sampai kuliah itu kan bukan hanya ilmu tentang jurusan yang kita ambil, tapi pola berpikir, komunikasi, bagaimana bersikap itu justru menjadi hal yang lebih penting dari sekedar ilmu pengetahuan. Dan itu bisa diamalkan di lingkungan keluarga untuk mendidik Rakha."
"Bayangkan Rakha diasuh dan dididik oleh seorang ibu yang seorang sarjana dengan nilai cumlaude pasti dia akan bangga."
"He...he...iya bener juga yah." Kharisa terkekeh mendengar ucapan Faisal, namun iya membenarkan, selama ini pikirannya begitu sempit, kuliah dan mendapat gelar tujuannya hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan karir yang bagus.
"A Isal sepertinya istrinya nanti bukan wanita karir yah?" Kharisa jadi penasaran wanita seperti apa yang disukai Faisal, ia tentu berharap Faisal mendapatkan wanita yang baik, lebih baik darinya.
"Suami yang baik pasti ingin menyenangkan istrinya, tidak mau istrinya cape-cape bekerja mencari nafkah, karena itu tugas suami. Ia lebih suka istrinya berada di rumah tapi bukan berarti tidak berkarya. Neng juga saat menjadi ibu rumah tangga masih bisa tetap berkarya."
"Rencanaku juga begitu A, sambil nunggu Rakha sekolah aku mau bantu di yayasan Wa Dini, gantiin Mama, udah dibicarakan juga sama Wa Dini dan Wa Rahmat." Jelas Kharisa.
"Syukur atuh, pokonya sekarang tambahin cita-citanya jadi istri sholehah dan ibu yang melahirkan generasi yaang hebat."
__ADS_1
"Assalamualaikum......" terdengar suara cempreng Rakha dari ruang tamu. Kharisa menjeda obrolannya dengan Faisal.
"Waalaikumsalam." Jawab Kharisa, ia menyambut uluran tangan Rakha yang menyalaminya.
"Dari mana dulu, kenapa lama, baru pulang?" Tanya Kharisa sambil memperhatikan tentengan yang dibawa putranya.
"Beli maltabak dulu Momy, Daddy ingin maltabak." Jawab Rakha sambil menunjukan bawaannya, lalu menyimpannya di atas meja.
"Nih, momy lagi nelfon sama Om Isal."
"Mana...mana....aku mau bicala sama Om Isal." Rakha langsung meraih phonsel di tangan Kharisa. Bocah begitu bersemangat sampai tak terasa sudah setengah jam ia ngobrol dengan om kesayangannya, sampai lupa dengan martabak yang dibawanya dan kini tinggal tersisa beberapa potong lagi setelah dinikmati oleh momy dan daddynya.
*****
Tak terasa hari ini adalah hari terakhir Kharisa bekerja di rumah sakit. Genap sudah tujuh bulan ia bekerja di tempat itu, banyak suka dan duka juga pengalaman berharga yang ia dapatkan di sana.
Saat makan siang di kantin ia mulai pamit pada beberapa karyawan rumah sakit yang dikenalnya. Tidak ada pekerjaan lagi yang harus ia kerjakan, hari terakhir itu benar-benar dimanfaatkan untuk berpamitan, karena waktu kerja di akhir pekan begitu singkat, hanya setengah hari sampai pukul satu siang. Namun ia merasa enggan untuk beranjak dari tempat duduknya, masih ingin berbincang dengan dokter Arjuna yang baru saja datang untuk makan siang.
Di saat yang lain beranjak untuk pulang, dokter muda yang begitu akrab dengan Kharisa ini malah baru akan makan siang, tentu karena ia begitu sibuk dengan pasiennya di ruang rawat inap. Kharisa pun menemani dokter Arjuna makan sambil berbincang.
Kali ini dokter Arjuna terlihat serius, tidak ada kata-kata rayuan menggoda, lebih banyak ucapan pesan dan doa agar Kharisa sukses di luar sana, tetap menjalin silaturahim walau hanya melalui kontak seluler.
"Boleh gabung di sini kan?" Ujarnya sambil duduk dengan ekspresi wajah datarnya.
"Oh silahkan dok." Ujar Kharisa ramah. Kharisa tetap menunjukan sikap ramahnya walaupun tiga hari yang lalu ia pernah diperlakukan tidak nyaman oleh dojter Keanu. Kharisa tidak bisa menyalahkan sikap dokter Keanu yang pasti karena salah persepsi terhadapnya.
Maksud hati ingin berbicara dari hati ke hati, menyadarkan perasaan dokter Keanu yang memendam perasaannya dan memberi kabar kalau ada seseorang yang masih setia menantinya, malah ia dituduh sebagai pagar makan tanaman.
Saat itu Kharisa mengajak dokter Keanu yang akan pulang shift pagi berbincang di taman dekat IGD, Kharisa memang sengaja menunggu dokter Keanu keluar ruangan IGD demi menjalankan misinya, kebetulan pekerjaannya juga sudsh selesai ia kerjakan, tinggal menunggu waktu pulang.
Kharisa akhirnya membongkar kalau sahabatnya yaitu Vania masih menyimpan perasaan cintanya untuk dokter Keanu dan dalam hati kecilnya berharap bisa menjalin hubungan dengan dokter Keanu.
"Vania tidak pernah berpaling dari anda dokter, ia masih menyimpan rasa cinta untuk cinta pertamanya. Apa dokter juga sama seperti Vania? Aku hanya menduga kalau anda pun masih mencintai Vania."
"Kenapa anda tidak mengejar Vania? Padahal ia sedang menunggu anda dokter." Ujar Kharisa tanpa ragu lagi mengungkap yang ia ketahui tentang sahabatnya itu. Misi harus berhasil, batinnya.
__ADS_1
"Apa maksud kamu? Dan kenapa kamu membicarakan yang bukan urusanmu." Dokter Keanu malah seperti tidak suka dengan bahasan yang disampaikan Kharisa, entah karena malu kalau rahasianya menyimpan rasa pada gadis cinta pertamanya diketahui Kharisa atau karena ada alasan lain.
"Saya hanya ingin membantu sahabat saya menemukan cintanya, dokter." Ujar Kharisa.
"Membantu sahabat? Bukan menusuknya dari belakang?" Pertanyaan dokter Keanu membuat Kharisa mengernyit.
"Apa maksud dokter menusuk dari belakang?" Tanya Kharisa heran.
"Kamu sahabatnya Vania kan? Tspi malah menusuknya dari belakang, kamu tak ubahnya seperti pagar makan tanaman. Kamu mencoba mengalihkan Vania daribtunangannya agar kamu dengan mudah bisa mendapatkan dokter Rafael kan?"
Deg.....
Kharisa tersadar dengan ucapan dokter Keanu. Ya selama ini dokter Keanu dan yang lain tahunya Vania adalah tunangan Rafael, pasti dokter Keanu tidak akan berani mendekati Vania. Kharisa sadar harus meluruskan dulu hal ini, tapi akankah dokter Keanu percaya kalau ia menyampaikan Vania sudah tidak bertunangan lagi dengan Rafael? Percaya atau tidak ia harus memberitahunya.
Tunggu....tapi kenapa dokter Keanu menuduhnya sebagai pagar makan tanaman, apakah ia tahu hubungannya dengan Rafael? Baguslah kalau dokter Keanu mengetahuinya, ia tidak akan menyangkalnya, toh sebwntar lagi juga semua akan tahu setelah surat undangan resepsi nanti disebar.
"Dengar....aku tidak akan pernah mau bekerja sama dengan kamu untuk menghancurkan pertunangan Vania dengan dokter Rafael. Bagiku mencintai seseorang tidak selamanya harus memiliki, tapi rela melepas agar ia bahagia, itu yang dikatakan cinta." Kharisa hanya bergeming mendengar ucapan dokter Keanu, ia bingung harus mulai dari mana menjelaskan yang sebenarnya.
"Dokter, maaf, anda salah paham, biar saya jelaskan."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, aku sudah cukup tahu siapa kamu, dan jangan pernah memintaku membantumu mencapai tujuanmu."
"Dokter, ijinkan saya menjelaskannya dulu." Ujar Kharisa lagi, tidak ingin dokter Keanu larut dalam kesalah pamahamannya.
"Saya rasa cukup, saya harus istirahat." Dokter Keanu hendak meninggalkan Kharisa namun Kharisa masih mencoba menahannya.
"Dokter sebentar, jangan sampai anda menyesal."
Dojter Keanu tidak mengindahkan Kharisa, ia tetap berlalu meninggalkan Kharisa dengan kesalah pahaman yang masih disimpannya.
Kharisa tidak tersinggung dengan ucapan dokter Keanu, wajar dikter Keanu bersikap seperti itu karena tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya. Saat itu ia hanya berharap bisa ada kesempatan lagi bicara dengan dokter Keanu untuk menjelaskan lagi. Dan kini sepertinya kesempatan itu ada, ia tidak ingin melewatkannya.
Setelah kepergian dokter Arjuna yang kembali ke ruang rawat inap, Kharisa tetap duduk di tempatnya menunggu dokter Keanu menyelesaikan makan siangnya.
"Dokter saya minta waktunya sebentar, ijinkan saya menjelaskan sesuatu yang selama ini membuat anda salah paham. Saya mohon jangan menolak, demi masa depan anda dan sahabat saya. Karena hari ini adalah hari terakhir saya bekerja di sini, belum tentu ada kesempatan lain lagi untuk bertemu." Dan Kharisa tidak memberikan kesempatan dokter Keanu untuk menolak. Ia mulai bercerita dari awal kisahnya dengan Rafael hingga pernikahannya yang membuat dokter Keanu tercengang, pastinya tidak percaya. Tapi terserah percaya atau tidak yang penting Kharisa sudah menjelaskannya.
__ADS_1
"Jadi dokter, sekarang saatnya ada mengejar cinta anda. Aku sangat tau perasaan Vania, aku mohon bahagiakan ia, maaf kalau kesannya aku ikut campur dengan perasaan anda dan Vania, karena hanya dengan ini aku bisa membalas segala kebaikannya."
bersambung