
Kharisa hanya bisa menangis membayangkan keadaan putranya yang belum ia lihat seperti apa kondisinya. Ia bersama Rafael dan papinya sedang berada di ruang dokter, baru saja mendapat penjelasan dari dokter yang menangani Rakha tentang kondisi terakhir putra kesayangannya.
"Kami harus melakukan intubasi karena tadi sempat mengalami henti nafas, cairan yang masuk ke paru-parunya yang menyebabkannya mengalami gagal nafas, beruntung tadi keluarga dengan cepat memberitahu saat terjadi aspirasi jadi kami bisa segera menanganinya. Respon jantungnya bagus, hanya suplai oksigen ke otak yang kurang hingga sekarang kondisinya masih koma. Kami memasang ventilator untuk membantu pernafasannya, nafas spontannya ada tapi sangat lemah." Dokter berwajah oriental yang bernama Daniel itu menjelaskan dengan detail dengan bahasa melayu, mungkin karena tahu pasiennya ini berasal dari Indonesia.
"Untuk diagnosa utamanya masih kami pantau, trombositnya sudah mulai naik walaupun belum normal, hematokritnya sudah normal. Hanya saja sekarang perdarahan lambungnya yang sedang kita pantau, sementara dipuasakan tapi jangan khawatir nutrisinya akan kita berikan melalui infus." jelasnya lagi.
"Apa anak saya bisa sembuh lagi dok?" Kharisa memberanikan diri bertanya dengan air mata berderai. Tentu saja ia berharap Rakha bisa sembuh seperti semula, walaupun mendengar penjelasan dari dokter, ia berpersepsi kalau sakit Rakha lumayan parah.
"Harapan sembuh akan selalu ada, tapi saya tidak bisa menjanjikan, hanya bisa berusaha semaksimal mungkin. Untuk saat ini progresnya lima puluh persen, semoga keadaannya terus membaik. Kami akan memantaunya terus." Tubuh Kharisa terasa lemas, harapan Rakha kembali normal lima puluh persen, ia tidak kuat membayangkan lima puluh persennya lagi.
Ya Allah....Jangan ambil anakku....jangan ambil anakku....... Gumamnya dalam hati. Dadanya terasa sesak, ia membuang jauh-jauh pikiran negatifnya. Rakha pasti sembuh, Rakha pasti sehat kembali.
"Boleh saya melihatnya dok? Ijinkan saya melihat anak saya." Pinta Kharisa lirih.
"Saat ini Rakha masih ditangani dokter anestesi, setelah kondisinya stabil, anda pasti bisa masuk untuk melihatnya."
__ADS_1
Kharisa menganggukan kepalanya tanda mengerti ia harus menunggu sampai Rakha selesai ditangani dan kondisinya stabil. Ia mengusap pipinya yang basah. Rafael hanya bisa memperhatikan Kharisa dengan perasaan bersalah dan penuh penyesalan, ia bisa merasakan bagaimana kesedihan Kharisa, ia pun merasakan hal yang sama.
"Dokter Daniel, the patient ia stable, oksygen saturation increase to 93, GCS 6, I hope getting better." Seorang laki-laki berwajah bule datang menghampiri, ternyata ia dokter anestesi yang baru selesai menangani Rakha. Informasi tersebut membuat Rafael dan papinya sedikit lebih lega. Rafael pun menjelaskan kondisi Rakha kepada Kharisa.
Baru saja Kharisa, Rafael dan papinya keluar dari ruangan dokter seorang petugas memanggil keluarga dari pasien Rakha. Kharisa langsung menghampiri petugas diikuti Rafael. Ternyata Rakha sudah boleh dilihat oleh keluarga, tapi hanya dua orang yang diijinkan masuk. Mereka berdua pun langsung masuk.
Dengan menggunakan baju khusus pengunjung pasien, Kharisa berjalan menuju tempat yang ditunjukan petugas, kakinya terasa lemas, jantungnya berdetak kencang saat dari kejauhan terlihat seorang anak berbaring di tempat tidur pasien dengan peralatan medis di sekitarnya. Ia semakin mendekat dengan air mata yang kembali menggenang di kedua matanya, dengan menguatkan diri akhirnya ia berada di samping putranya, dan isak tangispun tak bisa ditahannya saat dengan jelas melihat putranya terbaring tak berdaya dengan beberapa selang terpasang di tubuhnya, dua selang infus terpasang di tangan kanannya, di hidungnya terpasang selang yang tersambung dengan sebuah kantung di bawah tempat tidur berisi cairan berwarna kecoklatan, di mulutnya terpasang selang yang disambungkan dengan selang bergerigi berukuran lebih besar yang tersambung dengan alat yang berada di sebelah kanan tempat tidur, sepertinya itu ventilator, alat batu nafas. Betapa pilu hatinya melihat semua itu.
"Rakha.....ini momy sayang, I miss you so much." Kharisa berkata dengan lirih menahan tangisnya, ia membungkuk di sebelah kiri putranya, mencium keningnya lama, hingga air matanya ikut membasahi kening putranya.
"Maafkan momy........maafkan momy tidak berada di samping Rakha, maafkan momy tidak menemani Rakha liburan, Rakha ingin momy ke sini kan, sekarang momy ada di sini." Kata-kata penuh penyesalan keluar dari bibirnya, ya ia menyesal kenapa tidak menemani Rakha berlibur di Singapura, karena keegoisannya ia melupakan kebahagiaan putranya, padahal Rakha ingin sekali bersama momynya. Menyesal saat Rafael memintanya menyusul kenapa ia menolaknya, coba ia berangkat menyusul, mungkin Rakha tidak akan mengalami hal seperti ini. Benarkah? Bukankan daun yang gugur pun tak luput dari rencana Allah, sudah Allah catat ketentuannya, termasuk yang dialami Rakha saat ini, bukankah atas rencana dan ketetapan Allah? bahkan sudah Allah catat di lauhul mahfudz sebelum Rakha lahir ke dunia. Itulah takdir.
"Apa yang sudah terjadi itu adalah kehendak Allah, ketetapan Allah, tidak ada yang bisa mencegah atau menghalanginya, jadi tidak perlu berandai-andai, andai begini, andai begitu, pasti tidak akan terjadi, itu hanya akan melemahkan keimanan kita akan takdir Allah, yang harus kita lakukan adalah menjalaninya dengan ikhlas dan hanya bergantung padaNya." Kharisa jadi teringat ucapan Faisal yang selalu menguatkannya saat ia lemah.
Ya Allah apakah ini ujian lagi dariMu? Masih kurangkah ujian yang Engkau berikan untukku? Tapi kenapa harus Rakha? Rakha masih suci tidak berdosa. Bukankah Engkau akan memberikan ujian sesuai kemampuan hambaMu. Aku mohon jangan ambil Rakha dariku, jangan ambil anakku ya Allah, aku tidak akan sanggup, sembuhkah ia.
__ADS_1
Kharisa menenggelamkan wajahnya di punggung tangan putranya yang terus digenggamnya, namun Rakha masih saja lelap dalam tidurnya. Punggungnya bergetar karena isak tangisnya, membuat Rafael yang berada di sebelah kanan Rakha mendekatinya.
"Sa...Rakha pasti akan sembuh, kita harus yakin." Rafael mencoba menenangkan Kharisa, sayangnya ia tak bisa menyentuh Kharisa, apalagi memeluknya untuk memberikan kekuatan padanya, tadi saja saat di ruang tunggu, saat Kharisa terkulai lemas di lantai, ia mendorong Rafael saat sadar Rafael memeluknya. Kharisa pun masih mendiamkannya, sepertinya masih kesal dan kecewa pada Rafael. Dan saat ini pun Kharisa masih mendiamkan Rafael tidak menanggapinya.
Sementara di tempat yang berbeda di sebuah kamar kontrakan, Faisal tengah menyiapkan dokumen untuk persyaratan membuat paspor yang sebenarnya sudah dia siapkan satu bulan yang lalu tapi belum diajukan pembuatan paspornya. Setelah tadi ia menghubungi Kharisa sampai lebih dari sepuluh kali, namun tidak ada respon sedikitpun, ia menghubungi mama Kharisa, dan mendapatkan kabar tentang Rakha yang mengejutkannya, ia langsung mengambil keputusan, kalau besok siang atau sore ia akan berangkat ke Singapura setelah selesai membuat paspor. Untung saja ia mencari tahu info tentang pembuatan paspor, ternyata ada program pembuatan paspor yang langsung jadi, tanpa menunggu behari-hari, asal daftar dari pagi, karena kuotanya terbatas, dan biayanya lebih mahal sampai tiga kali lipat dari harga paspor biasa, dan itu tak masalah bagi Faisal asal ia bisa segera ke Singapura melihat anak asuhannya yang tengah terbaring tidak sadarkan diri.
Pantas saja sejak kemarin ia ingat Rakha terus, namun ia tau Rakha sedang berada di T berpikiran mungkin karena ia kangen pada Rakha.
Keesokan harinya, setelah paspornya jadi, ia langsung mencari tiket pesawat dan ia langsung berangkat ke bandara Soeta menggunakan bis tujuan bandara mengejar jadwal penerbangan pukul empat sore.
Pukul setengah lima sore waktu Singapura Faisal tiba di bandara, ia berjalan keluar bandara dengan tas ransel di punggungnya, memesan taksi menuju rumah sakit tempat Rakha dirawat, ia sempat menghubungi Mas Rendi menanyakan transportasi umum menuju rumah sakit, Mas Rendi menyarankan naik taksi saja, tapi ongkosnya lumayan mahal. Mas Rendi sempat megatakan kalau ia akan menjemputnya tapi Faisal menolak tak mau merepotkan. Ternyata Mas Rendi juga sedang berada di rumah sakit, setelah menemani mama Lisna melakukan terapi, ia mampir dulu ke ruang PICU menengok keponakannya.
Taksi yang ditumpanginya berhenti di depan lobi, dengan langkah lebar ia masuk ke gedung rumah sakit yang terlihat megah, lebih terlihat seperti hotel, ia masuk lift menuju lantai dimana ruang PICU berada.
Tiba di ruang PICU ia mengedarkan pandangan, mencari Kharisa dan keluarganya, dan Kharisa tidak terlihat di sana, namun ia mengenali sosok wanita setengah baya, yang terlihat lebih muda dari usianya tengah duduk di kursi tunggu bersama seorang laki-laki yang usianya lebih tua darinya beberapa tahun. Faisal tidak berani mendekat, ia mencoba menghubungi Kharisa atau mamanya. Belum sempat ia mengambil HPnya yang disimpan di saku celananya, ia melihat Rafael keluar dari ruangan perawatan yang terlihat terkejut melihat kedatangannya.
__ADS_1
bersambung